Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Mba Susan Hamil


__ADS_3

Sejak hari itu hubungan antara mas Pur dan pak Tian semakin dekat, jangan tanya tentang Yola dan Pak Tian, sekarang pak Tian punya jadwal setiap hari buat laporan ke anak perempuan cerewet ini, jika tidak akan selalu ada drama, gak mau makan, gak mau mandi, gak mau bobok siang bahkan akan ada tangisan pilu selama pak Tian tak memberi kabar atau menemuinya, mamanya yang dipacari pak Tian eh Yola yang pingin ketemu terus, intinya jika pak Tian gak bisa ketemu harus ijin, siapaun yang melihat akan gemas dengan bocah dua tahun ini.


Sudah tiga hari mba Susan kurang sehat, katanya dia seperti terkena asam lambung, dan badannya serasa lemas, dan sudah berobat ke klinik namun masih sama aja seperti sebelumnya, dan sejak mba Susan sakit membuat pak Tian ikut sibuk karena urusan pacar kecilnya Yola, subuh sebelum jam lima sudah di jemput dan diantar ke Paviliun untuk di rawat bu Titik sementara Rosa saat ini sangat sibuk karena beberapa minggu lagi akan tutup buku tahunan.


Yola pastinya kegirangan setiap pak Tian menjemputnya, sebenarnya Rosa menolak namun seperti sebelumnya seorang Heru Kristian tak suka dibantah atau ditolak, sehingga Rosa menurut saja.


Asal disebut " Uncle " pasti akan bangun, dan ini hari ke empat mba susan sakit, Rosa yang baru sempat berkunjung merasa kasian karena mba Susan gak berhenti muntah-muntah, membuat Rosa kuatir dengan kondisinya.


" Mba harus ke dokter nih, gak baik nahan sakit lama-lama, mba juga gak mau makan, gimana mba gak lemas," Rosa sangat kuatir melihat mba Susan udah kelihatan pucat.


Saat ini Rosa sengaja ijin pulang mau khusus liatin kondisi mba Susan, mana mas Pur harus turun lapangan mencek keadaan produksi karena kondisi buah sawit yang banyak dan belum di kirim ke pabrik, dan terkendala karena cuaca yang tidak bersahabat membuatnya dilema antara istri dan juga pekerjaan yang mendesak.


" Mba gak tau ni Ros, tadi mas Pur berencana nganterin ke dokter, malah ditelpon sama itu bawahannya Sopian kalo Mobil terpuruk bermuatan sawit," Mba Susan hanya terpejam saat bercerita setelah muntah tadi.


Rosa meraih ponselnya di saku celana kerjanya, dan mencari kontak Heru Kristian.


Terdengar suara "hallo" dari seberang,


" Her,, bisa kesini tidak ke perumahan ?, mba Susan masih sakit".


Tak lama Rosa menutup ponselnya.


Pak Tian langsung berinisiatif untuk mengganti mobilnya dan singgah ke Paviliun sebelum melanjutkan ke rumah mba Susan.


Mas Pur dan Pak Tian hampir bersamaan sampai, dan langsung masuk ke dalam rumah, mungkin karena sudah terbiasa datang bermain dengan Yola sehingga tak lagi ada rasa canggung.


" Loh mba, ko gak ngomong kalo masih sakit?, mas Pur juga diam aja malah pergi kerja, " Terlihat pak Tian sangat kuatir tentang kondisi mba Susan.


" Udah kita ke dokter aja yang mba, mba harus di infus ni, takut dehidrasi loh mba, sayang tolong bantu mba siapan, mas Pur siapan juga ya," Pak Tian sepertinya paling gak sabar melihat kondisi mba Susan yang lemah.


" Iya yan,," Mas Pur bergegas mandi, pak Tian tak pernah mengijinkan lagi mas Pur memanggilnya "pak" mengingat Pak Tian sudah menganggapnya sodara sejak dekat dengan Ros, apalagi mas Pur sangat baik pada pak Tian sehingga mau tak mau mas Pur memanggil namanya karena usia mereka juga terpaut hampir tujuh tahun.


Pak Tian sudah menitipkan Yola dalam pengasuhan buk Titik, dipesankan hanya pokus untuk menjaga Yola aja selama mereka pergi mengantar mba Susan.


Hari masih terbilang pagi saat mereka berangkat, sekitar pukul sepuluh, sehingga tak banyak yang tau, karena pada jam itu biasanya kebanyakan ibu-ibu yang bukan karyawan berada di rumah masing-masih beberes.

__ADS_1


Mereka langsung menuju ke Rumah sakit, tak tanggung-tanggung pak Tian membawanya ke RS terbaik di kota ini.


Setibanya disana, mba Susan langsung di tangani di UGD, dokter yang menangani sementara adalah dokter umum dan sambil memberikan beberapa pertanyaan kepada mba Susan dan juga mas Pur, beberapa pemeriksaan juga di lakukan ke mba Susan, mas Pur dengan setia mendampingi, dan selama pemeriksaan Rosa dan Pak Tian hanya boleh menunggu du ruang tunggu.


Tak lama selesai seluruh pemeriksaan mas Pur berbicara dengan dokter di ruangan UGD tersebut tak jauh dari mba Susan.


" Pak Puwanto, langsung saja ya, sesuai dengan pemeriksaan yang tadi kami lakukan, keadaan bu Susan baik-baik saja"


" Loh,, gimana bisa baik-baik dok, sementara istri saya sakitnya sudah empat hari." Mas Pur dibuat bingung dengan statment dokter bernama Ilham ini.


" Ohhh,, maaf Pak, sebenarnya istri bapak sedang hamil dan untuk lebih menyakinkan Bapak bisa langsung melakukan USG dengan dokter kandungan, dan untuk saat ini, istri bapak harus dirawat, mengingat kondisinya yang lemah." Dokter Ilham menerangkan kondisi mba Susan yang membuat mas Pur shock tak percaya, di usianya yang sudah mendekati kepala empat dia baru menjadi calon ayah.


" Selamat ya pak, sebentar lagi akan jadi ayah" Mas pur tersadar saat melihat tangan dokter Ilham terulur kearahnya dan segera di terimanya ucapan selamat dari dokter tersebut.


" Saya menemui istri saya dulu dok."


" Silakan pak."


Mas Pur menghampiri mba Susan, terlihat mba Susan terbaring lemah namun terlihat sumringah, direntangkan kedua tangannya untuk memeluk suami yang selalu mencintainya dalam kondisi apapun.


" Mass,, buah kesabaran kita, Tuhan mengijinkan bayimu hadir di rahim ku," Dengan tangisan bahagia mereka berpelukan.


Semua petugas dan perawat yang ada di UGD itu ikut terharu, setelah tau jika kehamilan ini adalah kehamilan pertama mba Susan selama hampir delapan tahun menikah di usianya saat ini tiga puluh lima tahun.


Sempat pesimis tak memiliki anak, namun ada aja selalu orang baik yang memberi semangat dan tetap sabar, ternyata kesabarannya berbuah yang baik.


Rosa dan pak Tian hanya mendengar isak tangis mba Susan, mereka begitu kuatir tentang kondisinya apalagi mereka mendengar suara tangisan, namun kekuatiran mereka sedikit terobati saat mas Pur keluar dari ruangan UGD dan menghampiri mereka, yang membuat mereka sedikit bingung melihat senyuman di wajah mas Pur.


" Gimana mas mba Susan?" Tak sabar pak Tian ingin tau.


" Mba mu mau di pindahin ke Ruang rawat inap, mba mu baik-baik saja,".


" Mas,, sakitnya apa, tadi denger mba Susan nangis" Rosa masih dengan kekuatirannya.


" Mba mu hamil Ros." Sontak membuat pak Tian dan Rosa terkejut.

__ADS_1


" Hah,, benaran mas? "


" Iya, benaran, mas aja masih rasa tak percaya."


Entah tergerak dari mana, mereka berdua langsung memeluk mas Pur, Rosa menangis bahagia mengingat begitu sayang ya mba Susan dan mas Pur pada Yola putrinya, dan akhirnya hari ini mereka tau jika mba Susan hamil, rasanya sangat bahagia.


Mas Pur yang mendapat serangan pelukan dari kedua orang yang sudah dianggap adik ini sangat terharu, ternyata tak harus sedarah untuk menjadikan saudara dan keluarga, ternyata orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda telah jadi saudara dan teman terbaiknya di perantauan, bahkan rela mengorbankan waktu juga materinya untuk dirinya dan Susan.


Mereka berdua mulai melepaskan pelukannya.


" Tempatkan mba Susan di kamar VIP ya mas, aku mau mba mendapatkan perawatan yang terbaik di sini biar mba cepat pulih, gak usah pikirkan biayanya, semua akan ku tanggung, dan tak ada acara bantahan atau penolakan." Pak Tian menegaskan.


" Oke,," Mas Pur tersenyum dan mengarahkan jempolnya ke arah pak Tian.


Sesuai permintaan pak Tian, mba Susan ditempatkan di ruangan VIP, mereka bertiga mengantarkan mba Susan ke ruangan tersebut.


Mba Susan meminta duduk karena di capek tiduran, setelah dipasang infus tadi keadaan mba Susan memang sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Rosa menghampiri wanita yang selalu ada untuknya kapan saja dia mau, dipeluk nya dengan tangisan bahagia.


" Selamat ya mba," Hanya itu yang terucap, sepertinya mereka sudah tau apa arti dari pelukan yang mereka lakukan.


" Makasih sayang,,"


Pak Tian juga mendekat, memberikan selamat buat mba Susan.


" Yola benar membawa rejeki Ros, kemaren kami sangat ingin punya anak, sehingga kami meminta Yola untuk kami rawat, Yola kami rawat untuk pancingan, maafkan kami baru ngasih tau kamu Ros, kami terlalu malu kemaren," Ucap mas Pur.


" Iya Ros, entah banyak anak kecil tapi pilihan kami ke Yola," Lanjut mba Susan.


" Tapi gak usah cemas Ros, kami pastikan tetap sayang Yola, walau mba mu udah hamil gini" Mas Pur meyakinkan Rosa dan mendapat anggukan dari mba Susan.


" Iya mas, mba, ,gakan sangsi sama klian"


" Aku aja bisa jatuh cinta dan sayang sama Yola, apalagi mas sama mba yang benar-benar yang pingin kehadiran anak" Lanjut pak Tian

__ADS_1


" Yang diapelin tiap waktu Yola, lah aku dianggurin " Rosa menyahut membuat nya mendapatkan pelukan dari Heru Kristian.


Rosa mencebikkan bibirnya dan tersenyum manja di pelukan pak Tian.


__ADS_2