Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Rasa Rindu


__ADS_3

Setelah menjual kan perhiasannya Rosa dan Parulian langsung menuju showroom mobil bekas, dengan uang hasil penjualan perhiasannya ditambah keuntungan penjualan selama sebulan dan sisa sisa tabungan Rosa membuka toko kemaren terkumpul delapan puluh lima juta, tak ada lagi yang bisa dijual untuk menambah nya, Rosa tak begitu yakin mereka bisa membawa pulang mobil yang mereka butuhkan.


Parulian mengerti dengan kekuatiran kakanya, tapi bukan Parulian namanya jika apa yang dikuatirkan kakanya tak bisa diipatahkan nya, mobil pick up berhasil mereka beli dengan harga cuma depalan puluh tiga juta, dengan kondisi mesin mobil yang masih baik, dan senyum mengembang akhirnya terlihat dari bibir Rosa.


Setelah melakukan pelunasan dan menerima surat surat mobil, merekapun pulang dengan membawa mobil pick up segera mengingat hari sudah hampir sore, dan tokopun ditutup sejak siang tadi.


" Ka,, kita buat syukuran lah, mobil udah meluncur manis jadi milik kita" Ucap Lian saat menyetir setelah keluar dari showroom.


" Hmmm,, boleh, gini aja besok kita bagiin sembako aja senilai sisa duit yang dua juta gimana?"


" Yesss,,, ide cemerlang, kita bagi ke orang yang membutuhkan aja, jadi sepaket senilai seratus ribu gitu, jadi kita cukup buat paketnya dua puluh paket aja" Ujar Lian menanggapi.


Rosa mengangguk setuju dengan adik sepupunya ini, mereka berharap usaha yang mereka bangun saat ini bisa berjalan lancar.


Mereka tiba di kontrakan sudah hampir jam lima, setelah memarkir mobil dan merasa aman, Lian masuk ke Ruko mengikuti Rosa yang sudah lebih dulu masuk bersama Yola.


****


Pak Tian sudah enam bulan meninggalkan perkebunan, dia memilih bekerja di salah satu perusahaan tambang di satu provinsi di Sumatera yang terkenal dengan pertambangan timahnya, dan menutup komunikasi dengan orangtuanya, dan selama itu juga dia begitu kehilangan sosok Rosa dan merindukan Yola yang sangat disayanginya.


Penampilan nya sedikit kurang terawat, kumis dan cambang nya tumbuh seperti ilalang, dan rambutnya sudah mulai gondrong karena selama enam bulan tidak di potong samasekali, dan pak Tian tak lagi memperhatikan penampilannya bukti betapa hancurnya hatinya saat Rosa meninggalkan nya tanpa pesan apapun.


Sejak Parulian mengabarinya saat berada di bus tak pernah ada lagi Parulian memberi kabar setelahnya, membuat pak Tian sering Frustrasi setiap mengingat Rosa yang meninggalkan nya dan bingung harus mencari kemana.


Malam ini kembali Pak Tian memikirkan Rosa setelah melihat foto foto Rosa dan Yola di galeri ponselnya.


" Harus kemana Sa aku mencarimu?" Pak Tian melempar HP sembarang.

__ADS_1


Baru sepersekian detik terdengar bunyi notifikasi di aplikasi WA nya, dengan setengah hati pak Tian mengambil kembali ponselnya, dan kali ini pak Tian tak bisa menutupi perasaannya yang bercampur aduk, ada pesan dari Rosa di layar ponselnya, dan segera dibukanya mungkin Rosa baru membuka blokiran nya.


" Hai,,, apa kabar kamu Her? Nomornya masih aktif ternyata."


Tak ingin membuang kesempatan, pak Tian langsung menghubungi nomor Rosa, awalnya tak diangkat, namun di panggilan yang kedua kali terdengar sahutan suara yang dia kenal, yang dirindukan dan yang sudah berhasil memporak porandakan kehidupannya selama enam bulan terakhir, yang sudah membuatnya frustasi sepanjang waktu dan ingin mengakhiri hidupnya sendiri, antara marah namun Rindu pak Tian tak tau harus bersikap seperti apa, ternyata keputusannya tepat memutuskan tetap tinggal di Indonesia dan membatalkan tiket penerbangan nya ke Amsterdam walau harus menunggu lama dengan kabar dari Rosa.


" Hallo Sa,,," Suaranya tercekat saat mendengar suara Rosa dari seberang telepon.


" Iya Her,," Terdengar suara Rosa bergetar mungkin menahan perasaan yang sama seperti pak Tian.


" Apa kabar kamu, Yola?" Saat ini hanya kata itu yang berhasil keluar dari bibirnya, sebenarnya banyak kata dan pertanyaan dalam dirinya, namun belum mampu di ucapkan disamping rasa amarah yang membuncah, dan pak Tian mencoba menahan perasaannya saja.


" Baik,, kamu apa kabar Her,,?"


" Tak terlalu baik setelah kau tinggal!" Heru menelan salivanya dengan susah.


" Boleh aku tau kamu dimana?"


Tak ada jawaban, yang ada hanya isakan pelan mungkin ponselnya dijauhkan agar tak terdengar ke pak Tian, tapi tetapi tetap kedengaran oleh pria yang merindukannya ini.


" Sa,, apa kamu tak tau sehancur apa aku saat ini? Aku juga pergi meninggalkan perkebunan papa, aku meninggalkan mba Susan dan mas Pur yang sudah kita anggap keluarga kita, karna aku tau Sa aku tak bisa apa apa tanpa kamu, kamu juga membawa Yola, terus gimana aku bisa memenuhi permintaan Bapak? Jika aku tak memintamu pada kedua orangtuamu kemaren mungkin aku tak se frustasi ini Sa,,"


" Maaf,," Yang terdengan hanya maaf dengan tangisan penyesalan di seberang.


" Untuk apa maaf jika aku tak bisa menemuimu, aku ingin maafmu jika aku bisa bertemu denganmu" Ucap pak Tian tegas.


Pak Tian memutuskan sambungan telepon nya bersama Rosa, dan segera mengirim pesan WA ke Rosa juga foto dirinya saat ini, seolah bertanya apa Rosa masih mengenalinya yang sudah enam bulan tanpa kabar.

__ADS_1


" Kamu masih kenal aku Sa?" Tanyanya disalah satu foto yang dikirim ke Rosa.


" Tolong kasih tau aku kamu tinggal dimana, kirim alamat!"


" Jika kamu benar cinta aku,"


" Jika kamu tak cinta, silakan blokir lagi, biar aku tau dan tak berharap lagi"


" I miss u Sa!"


Dengan ragu pak Tian masih menunggu balasan pesannya, dan disisi lain juga berharap mengingat Rosa yang begitu tulus juga mencintainya.


Sepuluh menit kemudian satu balasan WA dari Rosa.


" Aku ada di kota P Her,, nanti aku kirim alamat lengkapnya "


" Pangling sama kamu"


" Udah malam, besok mau kerja, waktunya istirahat "


" Miss u too "


Kali ini pak Tian bisa bernafas lega, setidaknya dia sudah bisa berkomunikasi dengan Rosa, pak Tian yakin Rosa pasti mengirimnya alamat tinggalnya sekarang.


Pak Tian membaringkan tubuhnya di bed mini yang cukup untuk dirinya sendiri, sejak dia memutuskan bekerja jauh dari perusahaan papanya diapun tak peduli dengan fasilitas yang diberikan perusahaan padanya, baginya bekerja sepanjang waktu akan bisa menghilangkan Rosa dari pikirannya, sehingga seperti apapun penampilan nya saat ini, dia cuek aja, tak ada yang perlu diperbaiki jika Rosa saja bisa pergi meninggalkannya.


Dulu banyak angan yang sudah di rencanakan untuk hidup bersama Rosa, namun begitu saja hancur karena papanya, dulu papanya begitu menginginkan Rosa bisa jadi menantunya, namun itu hanya keinginan kebohongan di anggap oleh pak Tian, karena pengaruh orang-orang yang tak punya hati papanya malah menuduh yang tidak benar. Rosa pun menanggung sendiri akibat dari keegoisan papanya.

__ADS_1


__ADS_2