
" Kamu bang?" Rosa sungguh terkejut dengan keberadaan mantan suaminya di rumah orang tuanya.
Yang ditanya hanya diam dan menundukkan kepalanya,
" Ngapain kamu ada disini?" Rosa bertanya lagi, perasaan nya langsung tak enak, di tunggunya jawaban dari Ben hingga beberapa detik.
" Maaf ka,, kami hanya ingin bertahun baru, dan mengajak tulang dan nantulang ke rumah kaka besok, untuk memperbaiki hubungan klian sama abang yang katanya baru bertengkar," Saud yang berbicara.
Rosa yang mendengar merasa bingung, sementara mereka sudah lama berpisah dan tak pernah ada pertengkaran lagi sejak bertemu di kantor saat Yola menangis, dan pertemuan terakhir Rosa tak menanggapi perkataan ibu mertuanya saat di Resto, membuat Rosa bingung dengan perkataan mantan adik iparnya.
Mata Rosa seperti menyimpan kemarahan ditatap nya Ben, tak hanya rasa kesal yang ada, kebencian juga semakin menjadi-jadi kepada ayah dari putrinya.
" Fitnah apa lagi Ben yang kau ucapkan pada mereka?" Tak kuat rasanya untuk tidak menangis, tak ada lagi kata abang untuk Ben, amarahnya sudah menumpuk jadi satu, yang ditanya hanya diam tak ada jawaban.
Tak ada yang berbicara, hening.
Rosa terisak sepertinya dia harus flashback lagi ke masa sakit yang diciptakan Ben, dia terduduk di lantai bersandar kan sofa yang duduki pak Sagala.
" Jahat kamu Ben, " Saat ini hanya itu yang terucap dari bibir Rosa.
Mba susan yang melihat Rosa menangis seperti itu tak sabar dan ikut marah.
" Tega kamu Ben, fitnah apa lagi yang kau ucapkan dari mulutmu tentang Rosa?"
__ADS_1
" Hei diam kau, jangan kau sudutkan anakku dengan kata-katamu," Mama Ida menunjuk dengan jarinya ke arah mba Susan membuat mba Susan makin marah terlihat dari sorot matanya.
" Ohhh,, ibu membela anak ibu ya, seperti ibu merasa anak ibu yang paling benar seisi dunia ini, sepertinya Ben adalah suami yang bertanggung jawab yang sangat menyayangi istri dan anak,, cuiiiihhhh" Tak kalah mba Susan menjawab dengan galak.
" Dek, cukup, gak baik kamu lagi hamil, tolong jaga emosimu, tolong jauhkan Yola, dari sini" Mas Pur mengingatkan dengan lembut.
" Maaf mas" Mba Susan telihat menangis, menangisi Rosa yang sudah dianggap adiknya sendiri, mba Susan menggendong Yola mencoba menahan dirinya juga.
" Mak, pak tolong usir mereka dari sini, kita tak punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka." Ucapan Rosa membuat pak Sagala dan bu Rosni shock, dan tak mengerti arah tujuan dari ucapan Rosa.
" Ros,,," Sepertinya pak Sagala menginginkan penjelasan dari putrinya.
" Pak, tolong usir mereka, aku sudah bercerai dengannya delapan bulan lalu dan sudah ketuk palu sah di negara, kami tak lagi punya hubungan apa-apa, maafkan aku pak!" Ucap Ros masih terisak.
" Tak ada perselingkuhan bu," Mba Susan menimpali, " Ibu dan Bapak hanya mendapat cerita bohong dari dia ini yang gak punya otak" Dengan marah mba Susan menunjuk ke arah Ben.
" Hei kau perempuan kurang ajar, dari tadi kau yang sibuk dengan Anakku, memojokkan terus, pantaslah anakku menceraikannya karena dia tak mengurus mengurus anakku, sementara uang anakku...."
" Cukup buk," Rosa teriak membuat semua mata tertuju padanya, sementara bu Ida tak meneruskan kalimatnya karena suara Rosa yang membentak nya.
" Sharusnya kau sopan Ros sama mamaku" Ben baru mengeluarkan suaranya.
" Diam kamu Ben, semua fitnah tentang aku cukup!" Kemarahan Rosa kali ini tak terkendali, dia berdiri dengan tangan kirinya menarik baju Ben, tangan kanannya mencekik leher dan menekan lehernya kuat di sofa dan satu kaki Ros sudah menekan kedua kaki Ben, semua yang melihat Rosa tak menduga Rosa mendapat kekuatan dari mana dan bersikap tak terkendali, sementara Ben tak mampu berkutik, hanya bisa menahan tangan Rosa di lehernya.
__ADS_1
" Aku sudah cukup menderita sejak awal jadi istrimu, tak sekalipun aku menerima sepeserpun duitmu, bahkan kau memaksaku untuk berhenti bekerja, kau paksa berhenti tapi tak kau nafkahi, bahkan sisa-sisa gajiku kau sanggup hidup dari sana, sementara kau menghidupi seorang L o n t e menghidupi ibumu dan Saud, aku yang sengsara bersama Yola makan apa adanya setelah tabunganku habis, aku tak takut jika kau mati sekarang Ben karena tanganku ini, aku tak takut dipenjara, aku hanya ingin memperjuangkan harga diriku yang telah kau injak-injak" Ternyata kedua tangan Rosapun sudah berada di leher Ben dan mencekiknya, Rosa tak terkendali smentara bu Ida sudah menangis menjerit-jerit minta Rosa melepaskan Ben, semua panik melihat situasi mencekam.
Pak Tian dan mas Pur langsung menghampiri Rosa yang sudah kalap,, mereka berusaha melepaskan Ben dari cekikan Rosa, Saud yang mendengar pengakuan Rosa hanya diam melihat kekalapan Rosa, tak menyangka Abangnya sanggup melakukan itu sementara Rosa sangat baik selama ini padanya.
Kemarahan Rosa membuat dia lebih kuat dari mas Pur dan Pak Tian, sangat sulit melepaskan Ben yang sudah terjebak di cekikan Rosa, hingga suara tangisan Yola melemahkannya,
" Mama,,, mama,,, atut mama,," Rosa yang sudah seperti kesetanan memalingkan wajahnya ke arah putrinya, dilihatnya Yola menangis mengulurkan kedua tangannya, pak Tian mengambil kesempatan untuk menjauhkannya dari Ben, di peluknya Rosa tanpa ada rasa ragu,
" Lepaskan aku her, aku mau dia mati saja, Her,,, dia jahat, dia sangat jahat her,, jahat ke aku juga Yola, dia harusnya mati ditanganku,, dia menuduhku berselingkuh hanya untuk menutupi perselingkuhannya sendiri, sekarang dengan beraninya datang kemari dengan tujuan jahat lagi, dimanfaatkan keadaanku yang dibenci orangtuaku yang tak satupun dituduhkan benar" Rosa dengan emosi yang belum stabil meronta dari pelukan pak Tian, teriakannya melengking seolah ingin menerkam Ben hidup-hidup, sementara Yola masih menangis di pelukan mba Susan.
Keadaan yang kacau mengundang perhatian tetangga sekitar, pak Sagala shock mendengar tangisan anak perempuannya, sama dengan bu Rosni menagis menyesali telah percaya pada apa yang mereka dengar dari Ben, sementara Ben yang sudah terlepas dari cekikan Rosa terlihat memegangi lehernya yang terasa sakit, jika saja Rosa masih mencekiknya bisa jadi tamat hidupnya di tangan mantan istrinya, dan bu Ida hanya menangis panik saat Ben di cekik Rosa bahkan berbicara saja bu Ida takut mengingat keberanian Rosa, sementara Saud tak mampu berbuat banyak melihat kondisi abangnya.
" Usir mereka her dari sini, usir mereka, aku tak mau melihat mereka disini," Rosa masih menangis sesenggukan dipelukan pak Tian memohon agar mereka di usir.
" Sayang, dengar ya,,, bapak belum pulih, melihatmu seperti ini pasti bapak makin sakit hati melihat mereka,"
" Tapi dia sudah jahat her, membuatku terbuang dari keluargaku, bahkan sesudah bercerai seperti inipun masih berani berkata bohong, sakit hatiku, sakit her disini, sesak rasanya setiap mendengar fitnahan dia" Rosa yang terkungkung dalam pelukan pak Tian masih ingin menghajar Ben, jika saja pak Tian tidak kuat memeluknya tak bisa dibayangkan bagaimana Rosa akan menghajar Ben lagi.
" Jangankan aku, kamu lihat sendiri Yola anaknya sendiri tak pernah di nafkahi, itu yang disebut papa her?" Suaranya pelan tapi masih terdengar.
" Iya sa,, aku mengerti kamu tenanglah." Pak Tian dengan sabar menenangkannya.
Tiba-tiba tubuh Rosa lunglai dan pingsan dipelukan pak Tian, membuat pak Tian panik, dan berlutut karena tak kuat menahan tubuh Rosa yang menumpu padanya membuat semua pandangan mengarah ke mereka,,
__ADS_1
" Sa,,, Rosa,,, sa,, heiii sayang, sayang,,saa,, kamu kenapa" Pak tian menepuk-nepuk pipi Rosa berharap Rosa bangung, pak Tian benar-benar panik dibuatnya.