
Mba Susan yang tak tau apa-apa ikut bingung melihat Pak Tian yang terduduk lesu setelah tau Rosa pergi.
Dua jam sebelum Rosa pergi.
" Mba,, hari ini aku terakhir kerja,, aku dan Yola juga Parulian hari ini juga berangkat, Parulian dapat panggilan dari perusahaan batu bara yang ada di kota Y" Ucap Rosa saat menjemput Yola dari rumahnya.
" Kok tiba-tiba Ros? Apa sudah bicara dengan Tian?"
" Sudah mba, karena Lian sepertinya kurang cocok juga bekerja disini, jadi kebetulan aku tau lokasinya, jadi kuputuskan untuk mengantarnya, mungkin aku akan mengajukan lamaran juga disana mba"
Antara percaya dan tidak, mba Susan mengikuti Rosa ke rumahnya, dan benar adiknya Parulian yang ikut mereka kemaren sedang packing pakaian ke koper, dan sudah menunggu sebuah mobil Avanza silver di depan rumahnya Rosa yang setahu mba Susan itu milik tetangga mereka yang tak jauh dari rumah mereka, dan sangat sering di rental orang yang membutuhkan.
Rosa memilih barang yang akan dibawanya, karena kebanyakan adalah barang inventarisasi sehingga barang yang di packing hanya pakaian mereka, mainan dan boneka Yola yang masih layak dipakai, dan hanya ada empat koper, dan sisanya mba Susan diminta untuk mengamankan nya, takut jika nanti ada orang yang akan menempati rumah itu.
Selesai packing, Rosa pamit ke mba Susan yang masih bingung tak ada angin tak ada hujan, bahkan baru semalam tiba malah pergi lagi siang ini.
" Mba,, kami pamit ya, maaf gak nunggu mas Pur, sampaikan salam dan terimakasih kami buat mas Pur, makasih selama ini sudah jadi keluarga buat aku, sudah menjaga anakku, mba selalu yang terbaik" Ucap Rosa sambil memeluk mba Susan.
" Kabari ya kalo sudah sampai disana, jaga diri ya Ros, mba cuma bisa berdoa, semoga kamu bahagia selalu, dimanapun kamu tinggal" Mba Susan tak kuasa menahan air matanya karena akan kehilangan sosok adik seperti Rosa, walau bukan sedarah namun hubungan begitu dekat seperti kakak adik kandung.
" Mba motorku sama mba aja, buat kenang-kenangan, sehat terus ya mba sampai lahiran,," Rosa menyerah kan kunci motornya pada mba Susan.
" Mba pasti kesepian Ros,," Mba Susan mengusap air matanya, tapi tetap berusaha kuat.
Rosa kembali memeluk mba Susan, mengusap-usap punggungnya seolah memberi kekuatan jika semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Dengan berat hati di lepas kan kepergian Rosa, Yola dan adik sepupunya Rosa, ada yang hilang setelah mobil yang mereka tumpangi menghilang di ujung jalan.
Mba Susan memasuki Rumah yang telah ditinggalkan Rosa, masih ada beberapa foto di dinding, pakaian Rosa dan Yola, bahkan sepatu dan sendal-sendal mereka masih banyak dan segera dibereskan mba Susan, suatu saat jika punya kesempatan bertemu dia akan mengembalikannya, cukup lama mba Susan mengumpulkan barang-barang Rosa yang di tinggal, setelah dirasa cukup mba Susan berencana melanjutkan mengangkat nya nanti malam saja bersama mas Pur, namun saat megunci pintu pak Tian datang dan menghampirinya.
" Mba,,,"
Ternyata kepergian Rosa tak diketahui oleh pak Tian, mba Susanpun mulai paham jika antara pak Tian da Rosa sedang ada masalah yang membuat Rosa memutuskan untuk pergipergi.
Akhirnya mba Susan ikut duduk di lantai teras menemani pak Tian yang terus menjambak rambutnya dengan kasar, sepertinya pak Tian tak tau harus berbuat apa, jika dia menyusul Rosa kemana harus disusul?, sementara ponselnya terus menghubungi Rosa namun tak pernah terjawab, membuatnya menjadi stress, mba Susan pun ikut prihatin dan kasian melihat kondisi pak Tian, dia dan mas Pur adalah saksi betapa pak Tian sangat mencintai Rosa.
" Saaa,, kamu dimana, tanpa pesan apapun kamu tinggalkan aku seperti ini," Pak Tian berbicara sendiri pada ponselnya.
" Yan,, ada apa dengan klian?" Mba Susan semakin penasaran dengan kepergian Rosa.
" Mama dan papa sekarang ada di Paviliun mba, semalam mereka tiba lebih dahulu dari kita," Pak Tian menghentikan kalimatnya dan menjambak kembali rambutnya.
" Mereka bawa anak dari teman mereka, yang tujuannya untuk dijodohin ke aku, jelas aku menolak mba, aku tak punya perasaan apa-apa padanya, dan aku bilang jika aku sudah punya pilihan, eh malah mama memintaku membawa wanita pilihanku ke Paviliun, dan aku mengajak Rosa, awalnya Rosa sudah menolak dan bilang belum siap, dan tetap ku paksa agar dia mau, tapi setelah kubawa malah papa tak percaya hubungan yang kami jalani baru dua bulan dan menuduh jika Rosa bercerai karena hubungan kami." Pak Tian menceritakan semuanya hingga Rosa pergi dari Paviliun mereka.
" Ko pak Musa bisa ambil kesimpulan seperti itu ya?" Mba Susan bingung dibuatnya.
" Entahlah mba,, aku tak tau apa yang bisa kulakukan tanpa Rosa, dia wanita terbaikku mba" Pak Tian merasa separuh hidupnya telah hilang, dibenamkan nya wajahnya di kedua tangannya yang bertumpu di lututnya.
Cukup lama pak Tian duduk di lantai teras Rumah Rosa, dia begitu enggan beranjak pergi dari sana, sampai menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar perumahan, mba Susan yang mengajak agar kerumahnya saja ditolaknya, membuat mba Susan menyerah dan menunggu mas Pur saja mungkin pak Tian bisa luluh nantinya.
Pak Tian begitu hancur hatinya, apalagi mengingat Yola yang sangat disayanginya, semua penyemangat nya sudah pergi,
__ADS_1
Mas Pur muncul di teras bekas rumah yang ditempati Rosa, setelah mendapat kabar dari mba Susan jika pak Tian sudah lama disana, dibawanya sir mineral untuk pak Tian.
" Kenapa kamu? Nih minum dulu biar tenang mikirnya!" Mas Pur menyodorkan air mineral yang sudah dibukanya terlebih dahulu, pak Tian menerima nya dengan malas dan meminumnya langsung separuh.
" Ternyata apa yang kita rencanakan bisa berubah hanya dengan sekejap mata ya mas?" Ucap pak Tian di tengah ke galauannya karena kepergian Rosa.
" Kalo jodoh pasti ketemu ko yan" Ucap mas Pur sambil merangkul pak Tian yang sudah dianggap adiknya.
" Aku menyesal mas, membawanya disaat dia belum siap, jika tadi aku tak memaksanya mungkin mereka masih disini " Ada gurat kekecewaan di wajahnya.
" Tak ada yang perlu di sesalkan, dia pergi pasti punya alasan,, kamu tau dia kan seperti apa? Rosa itu pemberani, sanggup mengambil resiko, yang penting dia bisa lepas dari orang-orang yang dirasa jadi bumerang buat dirinya sendiri."
" Tapi mas,, aku tak yakin aku bisa apa tanpa dia!"
" Jangan pesimis, Rosa juga mencintaimu, hanya dia juga pingin ruang untuk bisa meyakinkan orangtuamu."
" Aku sudah memesan tiket ke Amsterdam mas, untuk besok, malam ini aku meninggalkan kebun ini, mas juga mba Susan, papa sudah baikan bisa kembali mengurus perkebunanannya ini."
Mas Pur menepuk-nepuk pundak pak Tian, selama ini mereka begitu dekat seperti abang adik, namun itu hanya sebentar, tak bisa ditahannya keinginan pak Tian untuk meninggalkan kan perkebunan, mengingat Rosa yang selalu jadi penyemangat nya sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya, mas Pur hanya mengangguk setuju, walau sesungguhnya hatinya sangat berat.
" Kemanapun kamu, jangan lupa sama mas juga mbak mu ya, mas doakan kamu dan Rosa berjodoh, dan dipertemukan secepatnya, ingat pesan pak Sagala sebelum meninggal kemarin," Mas Pur mengingatkan.
" Mas, jika Rosa nanti bisa dihubungi, sampaikan salamku ya mas, bilang selamanya ada cinta untuknya, katakan jika aku takan pernah menikah jika bukan menikahinya." Ucap pak Tian ditengah keputusasaan nya.
Mas Pur hanya mengangguk, berusaha menjadi tempat berbagi yang terbaik buat pak Tian, melihat pria yang sudah dianggap adik ini hilang semangat hanya karena masalah percintaan yang tak mendapat restu, sangat membuatnya prihatin dan kasihan.
__ADS_1
Pak Tian beranjak, lalu pergi menghampiri motornya, dihidupkan motornya lalu pergi meninggalkan mas Pur yang menatapnya hingga menghilang di tikungan jalan.