
Rosa mengerjapkan matanya yang terkena sinar matahari dari ventilasi jendela kamar, mencoba mengingat ingat kembali apa yang terjadi hingga dia bisa tidur di kamar yang bukan kamarnya, dilihatnya jam beker yang ada di atas nakas menunjukkan jam delapan, Yola pun terlihat sudah terbangun, semalaman tak terdengar sedikitpun merengek atau terbangun, sehingga Rosa pun nyaman tidur, anaknya baik budi sekali mungkin sudah mengerti keadaan Rosa.
" Selamat pagi sayangnya mama,," Rosa mendekatkan tubuhnya ke Yola dan memeluk putri semata wayangnya, diciumnya pucuk kepala Yola berulang-ulang.
"Mama,,, tama antel yuk " Yola yang masih bermalas-malasan mengajak Rosa menemui Heru.
"Nanti aja,,mama capek masih pingin bobok,, " Rosa pura-pura memejamkan matanya berharap Yola lupa buat ketemu Heru.
" Mamaaaa,,,, tama antel, nyo nyo nyo nyo mama popo ati,, " Dengan lucunya Yola bilang ( no no no no mama bobo lagi) dan Rosa pun tergelak tertawa karena Yola sudah menarik paksa bantal di kepala Rosa.
" Mama gak mau,, mama malas buka pintu " Rosa masih saja menggoda Yola,, membuat Yola semakin cerewet.
" was,, nci byang antel,, byan pok tium mama " (Awas nanti bilang uncle biar kapok dicium mama).
" Hahh,, " Rosa yang mendengarnyapun terdiam dan sadar saat Yola mulai menarik-narik tangannya meminta keluar dari kamar.
" Ayu mamaaaaa,,, " Yola memaksanya untuk segera bangkit.
" Iya,, iya,, ntar mama beresin tempat bobok kita dulu, takut uncle marah nanti tempat boboknya gak rapi,," Rosa merapikan tepat tidur dan dengan sabar juga Yola menunggu.
" Cuci muka dulu ya " Yola menurut saja saat Rosa mengajaknya kekamar mandi dan cuci muka, setelah itu mereka berdua langsung keluar kamar mandi.
Rosa menuntun anaknya keluar dari kamar, sedikit tersenyum lucu melihat kursi didaun pintu dan di pindahkannya kembali kursi ke tempat semula,dan melanjutkan mencari keberadaan Heru.
Mereka menuju dapur namun tak menemui Heru disana yang ada malah bu Titik sedang membersihkan kulkas, mengetahu keberadaan tamu tuannya buk Titik dengan ramah menyapa,
" Pagi bu Ros,, pagi cantik, baru bangun ya?"
" Pagi bu,, lagi apa bu? "
" Nih dari kemaren-kemaren gak sempat bersihin kulkas,, ibu sarapan gih sama anaknya, tadi udah buat sarapan bubur "
" Iya bu,, ntar barengan bapak Tian aja, tapi bapak Tian dimana ya bu? " Rosa mengintari sekeliling tapi tidak menemukan yang dicari.
" Loh,, emang tidak tidur sam.....eitsss maaffff " Buk Titik menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.
" Ya ampun buk,,, ko tidur sama pula,," Rosa tidak marah namun tertawa mungkin dikiranya mereka tidur bareng tadi malam.
" Maaf ya bu Ros, gak ingat kamar diatas ada dua, karna jarang ditempati sehingga cuma sekali-kali saja dibersihkan,, maaf ya bu " Bu Titik merasa menyesal dengan ucapannya.
" Iya, gak papa, saya juga gak nyangka jadi nginep disini karena hujan, jadi bapaknya kemana? Ko gak kelihatan?"
" Mungkin masih tidur bu, tadi bapak jam limaan gitu ada sih turun, saya sempat lihat mengambil minuman hangat di dispenser,,"
" Yola disini dulu ya sama bibi, mama lihat uncle dulu di atas, " Rosa segera bangkit dan berlalu menuju kamar atas Yola menurut aja biar segera bertemu dengan Heru.
" Iya mama,,, "
__ADS_1
" Bibi suapin bubur mau? " Yang ditanya mengangguk, Yola memang gak susah dikasih makan.
Rosa sedikit kuatir ko udah siang belum bangun juga, sesampainya dilantai atas Rosa langsung menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar yang mereka tempati dengan Yola, di ketuknya pintu yang tertutup rapat.
" Tok, tok,tok "
Namun tak ada sahutan dari dalam, diulangi lagi ketukannya di daun pintu namun tetap tak ada sahutan, diputarnya handle pintu perlahan terlihat tempat tidur ukuran yang sama dengan kamar sebelah, disana masih terbaring sosok yang dicari putrinya masih menggunakan selimut, dinakas samping tempat tidur terlihat segelas air putih dan sebotol minyak kayu putih, penasaran Rosa masuk dan menghampiri Heru.
" Pak,, " Dengan rasa canggung Rosa mendekati Heru.
" Yah..." Terdengar suara Heru sedikit berbeda.
Rosa langsung peka jika ada yang tak beres dengan Heru, segera didekati lelaki tampan yang baru beberapa jam diterima cintanya, telapak tangannya langsung diletak di kening Heru seperti yang sering dilakukan ke Yola saat sedang demam, benar terasa panas.
" Loh ko bapak bisa demam? Tadi masih baik-baik saja, bapak sudah minum obat? "
Yang ditanya cuma menggeleng.
Rosa sedikit berlari turun dan menuju dapur, disana ditemui Yola sedang disuapi bubur sama bu Titik.
" Bu, bapak demam, ada obat tidak bu? "
" Lah,, berarti tadi bapak turun minum udah gak baik-baik, ada bu Ros sebentar saya ambilkan di lemari obat " Bu Titik pun meninggalkan Yola sebentar dan gak seberapa lama kembali lagi. " Tapi bawain sekalian buburnya bu, biar makan dulu baru minum obat "dengan sigap bu Titik mengambil mangkok dan diisi bubur.
Rosa pun langsung kembali ke kamar Heru, disana masih ditemui Heru dengan posisi tidur yang sama seperti saat ditinggalkan tadi.
" Hmm,, " Heru terlihat mengubah posisinya dan dibantu Rosa dengan meletakkan bantal di belakang Heru, namun Heru malah duduk di sisi tempat tidur dengan kaki menggantung dan kedua tangannya bertumpu di tempat tidur.
" Ko gitu,, " Rosa malah jadi bingung.
" Pusing sayang,," Heru dengan santainya menjawab membuat Rosa salah tingkah.
" Tapikan bisa nyender di bantal aja? Biar bisa disuapin " Nada bicara Rosa membuat Heru tersenyum.
" Lucu aja, kayak sakit parah aja, saya gak papa ko, cuma sedikit pusing, badannya sedikit pegel-pegel ,,hehe,, tapi gini ya rasanya kalo punya istri ada yang ngerawat, jadi pingin cepat-cepat nikahin kamu" Rosa yang mendengarnya makin salah tingkah, mukanya pun terlihat memerah karena malu.
" Pak makan dulu,, saya suapin " Rosa mengalihkan pembicaraan berharap Heru bisa melupakan kalimatnya tadi dan ditangannya sudah mangkok berisi bubur.
" Kamu lupa, tadi udah menerima cintaku? Ko panggil bapak lagi, selama tidak diganti saya tak mau makan " Heru pura-pura merajuk dan membuang mukanya, membuat Ros terpengaruh, mengingat Heru sedang demam dan pada dasarnya Rosa yang panikan menghadapi orang sakit.
" Sayang,, sayang makan ya,," Dengan gugup Rosa membujuk.
Ingin rasanya Heru tertawa kuat, senang rasanya berhasil menggoda Rosa, membuat pipi Rosa merah padam karena grogi, dan tak sampai disitu,
" Mana,,katanya mau nyuapin, jangan di PHPin dong,"
Jika Rosa tak merasakan panas tadi di kening Heru, enggan rasanya menuruti kemauan Heru.
__ADS_1
" Nih,," Rosa mulai menyuapi bubur ke mulut Heru.
" Sayangnya mana?"
" Mau makan tidak?, Yola dari tadi nyariin loh,," Rosa mulai menunjukkan kekesalannya.
" Emang Yola dimana ko gak dibawa kesini?"
" Tuh sama bu Titik dibawah lagi sarapan juga , jadi tidak makannya? "
" Wih,, udah keluar aslinya,, galak amat "
Rosa gak peduli dan mulai menyuapi Heru, kali ini dan Heru pun tak lagi berkomentar hingga buburnya habis, dan segera Rosa memberikan parasetamol untuk diminum Heru.
" Sekarang kamu istrahat lagi, biar demamnya segera turun, percuma minum obat kalo gak istrahat " Rosa bicara sedikit lebih lembut dari yang tadi.
Heru yang di titah seperti itu akhirnya nurut aja, takut nanti Rosa makin kesal dengannya, bisa-bisa Rosa pergi meninggalkannya padahal dia menginginkan saat ini bisa bersama dengan wanita yang dicintainya, namun tetap saja bertingkah, setelah Rosa selesai membereskan peralatan makannya Heru meraih tangan Rosa yang hendak pergi keluar,
" Boleh minta sesuatu? "
" Hmmm,,? " Rosa mengangkat bahunya seolah bertanya.
" Cium dong, biar tidurnya enak " Heru tak lagi dengan bercandanya, Rosa hanya bisa menarik nafas panjang, dan segera dibungkukkan tubuhnya dan mencium kening Heru.
" Istrahat ya,, " Dengan senyum yang mungkin dipaksakan, setelah mencium Heru, Rosa menyelimuti tubuh lelaki yang sudah membuat hatinya kesal.
" Aku pulang dulu, mau mandi, nanti aku balik lagi kesini setelah beberes " Rosa berlalu tanpa menunggu jawaban dari Heru, Rosa berlalu dengan membawa peralatan makan Heru dan segera menutup pintu kamarnya.
Di ruangan bawah ditemui Yola sudah selesai mandi dan lagi bermain boneka panda dipangku bu Titik, dan segera ke wastafel membersihkan peralatan makan tadi.
" Bu,, saya ijin pulang sebentar mau mandi, bapak sudah istrahat, boleh titip Yola ya bu?"
" Ohh,, boleh, anteng ko anaknya bu, lagian saya udah santai dari tadi." Bu Titik tidak menolak permintaan Rosa.
" Baik bu, saya pulang dulu ya,, Yola jangan nakal ya, Uncle lagi bobok no no no no berisik sama cingeng ya mama pulang dulu kerumah kita! " Rosa ijin ke Yola putrinya.
" Mama ti ti ya! " Yola dengan lucunya bilang hati-hati ke Rosa membuat dua wanita bersamanya tertawa.
Rosa keluar dari Paviliun namun sedikit bingung mencari keberadaan motor maticnya, ternyata bu Titik mengikutinya dari belakang karena menyadari pasti Rosa ke carian motornya.
" Buk,, maaf baru ingat kalo motor ibu tadi malam dipindahin sama Bapak ke Garasi samping pas hujan tadi malam."
" Oh gitu ya bu,, ntar saya ke garasi dulu lihatnya " Rosa pun menuju Garasi yang cuma beberapa meter dari tempatnya tadi, memang benar ditemuinya motornya disana dan segera menghidupkan serta memanaskan mesinnya.
Setelah dirasa cukup dinaiki motor kesayangannya dan keluar dari Garasi terlihat bu Titik masih berdiri di pintu,
" Udah bu,, saya pulang dulu ya!.
__ADS_1
Rosa berlalu meninggalkan Paviliun Heru, sepanjang jalan Rosa menyesali dirinya ternyata Heru bela-belain memasukkan motornya ke Garasi hujan-hujanan tadi malam, pantas Heru jadi demam mana hujan tadi malam adalah hujan pertama setelah tiga bulan kemarau, Rosa merasa bersalah untungnya semalam dia menerima cinta Heru, jika tidak seberapa banyak rasa bersalah yang harus ditanggungnya?.