Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
akhirnya bertemu juga


__ADS_3

Pak Tian memperbaiki penampilannya yang beberapa bulan ini tak karuan setelah menerima alamat tinggal Rosa yang dikirim Rosa setelah percakapan mereka di telepon kemaren, dengan semangat pak Tian pergi ke cukur rambut untuk mengukur rambutnya yang sudah gondrong, dan membersihkan brewok di wajahnya yang tumbuh tak beraturan.


Cukup sehari, pak Tian sudah merubah penampilannya kembali tampan, gagah dan siap menjadi pusat perhatian wanita lagi.


Pria ini memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dari perusahaan yang beberapa bulan ini mempekerjakannya, walau hanya pelarian saja karena ditinggal pergi Rosa tapi Pak Tian tidak meninggalkan kesan yang tidak baik, selama ini dia bekerja tetap profesional dan berperilaku baik selama bergabung di perusahaan.


Setelah menerima alamat dari Rosa, pak Tian memutuskan untuk menemui Rosa ke alamat tersebut, ternyata jarak tinggal Rosa dan pak Tian hanya enam jam perjalanan dari tempat tinggal pak Tian saat ini itupun karena pak Tian tinggal di pulau kecil dan harus menyeberang menuju kesana, jika mereka di pulau yang sama mungkin hanya berjarak tiga jam perjalanan.


Dengan semangat pak Tian melakukan perjalanan dari kota B ke kota P demi sepotong cintanya yang telah kembali, tak ada keraguan dalam dirinya, sepanjang perjalanan dia banyak tersenyum karena tak sabar akan pertemuannya dengan Rosa nantinya.


Dengan taksi online yang di pesannya lewat aplikasi pak Tian pun melanjutkan perjalanan mencari alamat setelah kapal Ferry yang membawanya tadi menyeberang tiba di pelabuhan.


" Sepertinya alamat yang bapak tuju sudah sampai pak" Ucap supir taksi di depan sebuah ruko yang akan tutup karena hari sudah sore.


" Ohh,, terimakasih pak" Pak Tian memberikan sejumlah uang pada supir taksi dan dengan sedikit ragu membuka pintu mobil dan turun.


Dengan kacamata hitamnya pak Tian memantau lokasi memastikan jika dia tak salah alamat, dan disaat bersamaan telihat Parulian sedang menarik pintu dorong yang terbuat dari besi hendak menutup toko, dengan langkah mantap pak Tian menghampiri Lian yang tidak menyadari keberadaannya.


" Parulian! " Secara bersamaan Parulian menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, dan sedikit bingung melihat orang asing mengenal dan memanggil namanya.


" Cari siapa bang?" Tanya Parulian masih dalam kebingungan nya.


Pak Tian menyadari jika Parulian tak mengenalinya, dan teringat akan kacamatanya dan segera membukanya, membuat Parulian memaksa mengingat sosok yang dihadapannya.


" Bang Tian?" Dengan ragu Lian menyebut nama orang yang selalu dirindukan keponakannya Yola.


" Iya,, " Dengan senyum mengembang dirangkul nya adik sepupu dari wanita yang dicintainya ini.

__ADS_1


" Ko abng sekurus ini?" Masih belum yakin dengan apa yang dilihat oleh Lian.


" Diet,," Ucapnya enteng dan tersenyum lebar.


" Dapat alamat dari mana bang?" Tanya Parulian lagi.


" Kakamu yang kasih dua hari lalu, gak diajak masuk nih, apa sampe malam diluar ini?" Canda pak Tian membuat Parulian tersadar jika sejak tadi hanya pertanyaan yang selalu diberikan.


" Mari bang kita masuk, kaka tadi udah naik ke atas, toko tadi mau aku tutup, beruntung abang sampe diwaktu yang tepat, kadang tak kedengaran bang, karena kami tinggalnya di lantai atas" Parulian menjelaskan.


" Ohh,, jadi kalian buka toko kelontong ya?" Tanya Pak Tian saat melewati barang barang toko yang tersusun rapi dengan bermacam macam barang yang sulit di ingat oleh pak Tian.


" Iya bang, kaka memulai usahanya dengan toko ini, lumayan juga keuntungannya, apalagi setelah banyak yang tau." Ucap Lian lagi.


Setelah melewati barang barang yang ditoko mereka mulai menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana Rosa dan Yola sudah terlebih dahulu naik.


" Hallo,,,, coba lihat siapa yang datang!" Ucap Lian yang mengalihkan perhatian dua perempuan beda generasi ini menjadi mengarah ke dirinya dan pak Tian.


Rosa dan Yola sama sama terdiam dan terpaku melihat kedatangan orang asing yang tersenyum ke arah mereka, Rosa memutar memori otaknya dengan cepat memaksa mengingat sosok yang masih tersenyum ini, dan telebih dahulu Yola berdiri dan perlahan berjalan mendekati pak Tian, semakin dekat dan makin dekat langkahnya terhenti hanya beberapa langkah dimana pak Tian berdiri, tanpa di perintah pak Tian pun mensejajarkan dirinya dengan Yola.


" Uncle..!" Yola menyebut nama yang sudah mulai terdengar jelas dari bibir nya.


" Hmm,, iya ini uncle sayang," Ucap pak Tian dengan suara bergetar, Tiba-tiba Yola berlari memeluknya sambil menangis.


" Uncle,, Yola lindu, uncle hilang hilang, Yola gak punya teman!" Tangisnya pilu membuat pak Tian tak kuasa tak ikut menangis.


" Uncle juga rindu, rindu banget sama Yola." Pak Tian mengangkat tubuh kecil Yola de gendongannya dan menghampiri Rosa yang berdiri dan masih tertegun tak percaya dengan apa yang dlihatnya.

__ADS_1


" Hai Sa,,,," Semakin dekat langkah pak Tian, Rosa semakin menekuk wajahnya dan menitikkan air matanya membuat tubuhnya terlihat ikut terguncang menahan isakan tangisannya.


Pak Tian langsung merengkuh tubuh Rosa dan membawanya dalam pelukannya, satu tangannya menggendong Yola sementara tangan satunya memeluk tubuh Rosa, membuat suasana semakin haru, mereka menangis bertiga dalam pelukan Pak Tian, siapapun yang melihat moment ini akan ikut terlarut dalam suasana haru, tak terkecuali dengan Parulian yang melihat pertemuan antara kaka sepupunya dengan pak Tian, ikut menangis tapi bahagia akhirnya ada jalan terang yang mereka temukan.


" Jangan pergi lagi klian Sa dari aku, aku tak bisa tanpa klian, jangan menyiksaku lagi seperti ini, kita berhak bahagia Sa walau tanpa restu orangtuaku," Ucap pak Tian tanpa melepaskan pelukannya.


Rosa melepaskan dirinya dari pelukan pak Tian, namun kali ini memandang tubuh pak Tian dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas secara berulang-ulang.


" Ko kamu sekurus ini her?," Rosa menyeka air matanya yang merasa sakit melihat kondisi pak Tian yang sekarang.


" Aku frustasi memikirkan klian, aku stress kehilangan jejak klian, aku bingung tak tau harus mencari klian kemana, kemaren aku berharap Parulian menghubungiku lagi, tapi hanya sekali itu, pernah ku hubungi tapi tak pernah tersambung lagi" Ucap Pak Tian sedih.


Parulian yang mendengar baru mengingat jika ponselnya rusak dan hampir tiga bulan tak memiliki ponsel, saat mengganti ponsel yang baru malah melupakan pak Tian karena kesibukannya di toko.


" Maaf bang,, ponsel ku yang kemaren rusak dan lama baru bisa ganti ponsel yang baru" Ucap Lian menyesal.


" Ya udah gak papa,, saat ini kita sudah berjumpa, waktunya untuk memikirkan kedepan, maafkan aku ya Sa dengan sikap orangtuaku," Pak Tian menatap Rosa berharap maaf dari Rosa.


" Aku yang minta maaf, sudah meninggalkanmu, kupikir kamu akan baik baik saja, namun aku sudah membuatmu seperti ini." Rosa kembali mengusap air matanya yang tak mau berhenti seolah air mata nya punya stok banyak.


" Kamu tak menyuruhku duduk Sa?" Pak Tian bercanda membuat Rosa menyadari jika mereka sedari tadi masih berdiri.


" Duduklah, aku buatkan minuman untukmu juga Lian ya!" Rosa menyuruh Pak Tian duduk di tikar dimana mereka tadi duduk bersama Yola.


Yola masih tak mau beranjak dari pangkuan pak Tian, seperti nya dia takut pak Tian akan meninggalkannya.


,

__ADS_1


__ADS_2