
Pak Sagala berusaha berdiri setelah percakapan antara pak Tian dan Rosa, sementara pendengar mas Pur, mba Susan, ibu Rosni dan Parulian.
Melihat itu pak Tian dengan sigap membantunya,
" Bapak kemana?" Dengan masih memegang kedua lengan pak Sagala dan menopang agar pak Sagala bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Dengan tersenyum ke arah pak Tian, dia menarik lengannya kirinya dari tangan pak Tian sembari menepuk-nepuk pundak pak Tian.
" Sudah,, bapak bisa ko, bapak cuma mau ke belakang, bapak sudah terbiasa, biar lekas sembuh nak, harus banyak latihan" Masih dengan senyum dan sekarang mengusap pundak pak Tian.
" Saya temani, gak papa ko pak!"
" Bapak bisa nak, nak Tian jaga anak bapak aja, juga Yola, bapak titip mereka, selalu akur klian, buat nak Pur juga tetap baik ya sama nak Susan," Ucap pak Sagala ke mas Pur masih dengan tersenyum.
" Baiklah,, bapak hati-hati ya" Ujar pak Tian masih dengan rasa kuatir nya.
" Iya, bapak baik-baik saja" Ucapnya dan berlalu terlihat dengan menyeret kaki kanannya.
" Udah nak,, bapak memang seperti itu, dia selalu berusaha sendiri, paling kalo dia tak kuat manggil, biasanya seperti itu" Bu Rosni sedikit menenangkan kekuatiran pak Tian.
" Kuatir aja bu, kasian lihat bapak seperti itu, kalo bapak mau saya bisa membawa bapak ke Rumah sakit terbaik dan mendapatkan terapi biar bapak lekas pulih" Usul pak Tian.
" Nanti kita tanyakan nak,"
" Mba belum ngantuk?" Rosa bertanya ke mba Susan yang masih duduk bersama mereka.
" Belum Ros, rasanya seperti punya ibu kembali," Sambil merangkul tangan bu Rosni dan menyenderkan kepalanya.
" Loh emang ibu nak Susan dimana, maaf kalo ibu menyinggung?" Bu Rosni memandang ke arah mba Susan.
" Ibu, bapak Susan sudah di surga bu" Jawab mba Susan dengan air muka yang sedih.
" Ohhh,,, maaf ibu gak tau,, tapi tak apa-apa, anggap ibu sebagai ibumu juga ya," Bu Rosni memeluk mba Susan dan mengelus rambutnya.
__ADS_1
" Kamu punya kegiatan apa Li sekarang?" Rosa bertanya pada Parulian sepupunya yang pendiam dan seringnya hanya sebagai pendengar, tapi sangat rajin.
" Belum ada ka, seringnya cuma bantu bantu tulang disini" Ucap Lian yang masih duduk bersila tak jauh dari mas Pur.
" Pendidikan terakhir kamu apa?" Pak Tian pun ikut bertanya pada Lian.
" S1 pertanian bang" Jawab Lian dan sedikit menunduk.
" Hmmm,,, kamu sarjana pertanian, mau bekerja sama saya" Tanpa ragu pak Tian bertanya.
" Emang boleh bang" Dengan mata berbinar Lian memandang wajah pak Tian.
" Bolehlah, coba siapkan CV mu ya, nanti saya yang langsung menilai, kamu cocoknya dimana!" Lanjut pak Tian mantap.
Tiba-tiba terdengar suara gedebuk dari arah dapur membuat percakapan mereka terhenti seketika, dan pak Tian terlebih dahulu berlari menuju dapur di ikuti oleh yang lain.
" Bapakkkkk,,,,,,," Teriak Pak Tian yang lebih dahulu sampai di dapur melihat pak Sagala sudah tergeletak di dekat meja, membuat mereka yang mendengar teriakan pak Tian ikut berlari melihat apa yang terjadi.
" Pakkk,,,," Rosapun tak kalah terkejut dan menjerit melihat kepala pak Sagala yang sudah diangkat pak Tian ke kakinya, sementara pak Tian masih memanggil-mangil pak Sagala agar segera sadar.
Semua yang ada di rumah pak Sagala sangat panik, melihat kondisi pak Sagala yang tak merespon membuat Parulian berinisiatif memanggil mantri yang biasa menangani pak Sagala.
Rosa dan bu Rosni sudah menangis berpelukan, pak Tian dan mas Pur memindahkan tubuh pak Sagala ke sofa depan.
" Pakk,, bangun pak, jangan buat kami panik seperti ini," Pak Tian masih berusaha menyadarkan pak Sagala dengan mengoleskan minyak kayu putih, namun sia-sia saja.
Hingga mantri tiba bersama Parulian kondisi pak Sagala masih seperti saat ditinggalkan.
Mantri yang terlihat lebih muda dari pak Sagala, meminta ruang untuknya guna memeriksa kondisi pak Sagala, hanya dia yang terlihat tenang di antara mereka.
Terlihat pak mantri mencek nadi di tangan pak Sagala berulang-ulang, namun akhirnya dia menggeleng, membuat Rosa tiba-tiba menjerit.
" Bapakku kenapa?" Dengan teriakan yang terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
__ADS_1
Pak Mantri berdiri tegak dan membalikkan tubuhnya menghadap Rosa dan keluarganya.
" Pak Sagala sudah meninggal, maaf saya tak bisa berbuat apa-apa" Ucap pak Mantri yang di sambut raungan dari Rosa.
" Bapakkkkkk,,,,,bapakkkuuuuu" Teriakan Rosa berulang-ulang terdengar.
Sementara bu Rosni menghampiri suaminya yang sudah terbujur kaku.
" Tega kau ya Opung Yosen, ternyata kau menunggu anak perempuan kesayangan mu pulang, baru kau tinggalkan aku," Bu Rosni sangat terpukul dengan kepergian suami yang telah berpuluh tahun bersamanya.
Pak Tian menghampiri Rosa yang tak sanggup memandang wajah pak Sagala, Rosa menangis duduk bersandar di sofa yang tak jauh dari pak Sagala,baru beberapa menit yang lalu dia mendengar bapaknya menitipkan nya ke pak Tian, ternyata karna akan pergi untuk selamanya.
" Bapak,,," Rosa menangis, air matanya tumpah begitu saja.
" Sayang,, yang kuat ya" Ucap pak Tian seraya memeluk tubuh Rosa, pak Tian juga belum bisa mempercayai kepergian pak Sagala, padahal barusan dia masih kuatir dan menawarkan diri untuk mengantar ke belakang.
Sementara mba Susan juga shock dengan apa yang dilihatnya, terbayang masih baru pak Sagala menasehati mereka untuk selalu akur, tapi sekarang pak Sagala sudah pergi, membuat mba Susan ikut terisak masih belum bisa menerima, mas Pur pun menenangkan istrinya dan membawa ke kamar di mana Yola tidur.
Suasana rumah yang tadi sempat sepi sebentar kini sudah ramai kembali, mereka mengurus pak Sagala dan meletakkan di tengah ruangan yang sudah mereka atur sebelumnya agar terlihat lapang.
Rosa tak berhenti menangis, sama dengan bu Rosni, dia begitu terpukul separuh jiwanya pergi meninggalkannya hanya dengan sekejap mata, dipandang inya wajah pak Sagala terlihat damai dan seperti memberi senyum, seolah dia pergi tanpa meninggalkan beban.
Pak Tian pergi memasuki kamar dimana mas Pur dan mba Susan berada, di peluknya mas Pur dan menangis sedih,
" Mass,,, baru lagi mengenalnya, dia titipkan anaknya dan cucunya buat aku jaga, tapi dia pergi mas!" Tak kuat rasanya tidak menangis dan menyesali pertemuan mereka yang hanya hitungan jam.
" Udah,, dia menitipkan Rosa dan Yola karena kamu itu orang yang tepat, kamu pasti bisa!" Mas Pur membalas pelukan pak Tian dengan menepuk-nepuk punggungnya.
" Aku masih ingin bercerita dengannya, aku ingin dia ada dan melihat Rosa dan aku bahagia setelah menikah nanti, tapi dia pergi mas."
" Sabar ya, bapak itu mungkin menunggu klian datang, sekarang dia sudah bahagia, dan yakin kamu bisa membahagiakan Rosa" Mas Pur masih sabar menenangkan pak Tian, dan mba Susan memandang penuh kasian pada pak Tian yang masih menyesali kepergian pak Sagala.
Hari ini tercipta haru dan kerinduan, dan hari ini ada kebahagiaan dalam kebersamaan, tapi hari ini juga berubah jadi tangisan pilu dan kesedihan di rumah pak Sagala.
__ADS_1
Rosa menangisi cinta pertamanya, lelaki yang sangat menyayangi nya, kini sudah pergi meninggalkannya, Rosa menangis dengan banyak penyesalan, karena disaat bapaknya sakit tak sekalipun dia bisa membantu meringankan beban hidup mereka, baginya tak ada cinta yang setulus cinta bapaknya.
" Secepat ini pak,?"