
Rosa dan mba Susan tiba di Paviliun Heru dan menemui Yola sedang bermain masak-masakan di teras ditemani Heru yang lagi ngeteh di kursi santainya.
Heru yang melihat kedatangan Rosa dan mba Susan dibuat terpesona dengan penampilan cantik Rosa, matanya tak berkedip, belum pernah sekalipun melihat Rosa berpenampulian santai namun terlihat sangat cantik, beda saat bekerja penampilannya begitu formal, benar-benar membuat Heru terpukau,
Kedatangan mereka langsung disambut Yola dengan girang, melihat mba Susan turun dari motor Yola pun berlari memeluknya,
" Mbu,, mbu puyang, Ola yinduuu " Yola dengan girangnya bertemu Susan yang belum seminggu berpisah dengannya,
" Anak ibu gak nakal kan? " Mba Susan yang dipeluk kuat bertanya pada si cerewet Yola.
" Nyo, nyo mbu, "
" Hai Mba Susan,,,udah pulang? Masuk mba," Heru menyapa mba Susan dengan ramah.
" Iya Pak,, tadi malam pas hujan deras nyampenya,"
" Tapi udah baikan kan mertuanya? "
" Udah pak, maklumlah pak penyakit tua."
Dibiarkan mba Susan dan Yola berdua asik sendiri dengan kerinduannya, sedang Rosa cuma tersenyum melihat pertemuan mereka dan Heru sibuk dengan kekagumannya dengan Rosa,,
Setelah memarkirkan motor di tepat yang teduh dibawah pohon mangga, Rosa menghampiri dan ingin bergabung di teras dengan mereka, namun sebelum Rosa duduk di kursi Heru sudah menarik tangannya masuk ke dalam, Rosa akhirnya ngikut aja takut Yola keburu melihat.
" Kamu cantik banget Sa,, Jangan bilang kamu sengaja berpenampilan begini biar aku tergoda!" Heru melepaskan tangannya saat sudah terhalang daun pintu dan pastinya mba Susan dan Yola tidak mengetahuinya dan tak sempat melihat, karena mereka masih sibuk dengan temu kangennya.
" Apaan sih, apa yang salah dengan penampilan aku?" Rosa sedikit kesal merasa berpenampilan biasa-biasa saja, tapi dia menilai Heru terlalu berlebihan.
Heru menatap Rosa, yang ditatap jadi salah tingkah, " Galak amat , gak kangen apa?"
Rosa membekap mulutnya sendiri menahan tawanya,, " Emang situ kangen? Baru berapa detik aja ditinggal udah kangen,,dasar gombal,, gimana udah baikan belum?" Rosa balik menggenggam tangan Heru, masih terasa hangat, dan sedikit menjinjit diletakkan telapak tangannya di kening Heru,, masih terasa hangat juga tapi tak seperti pagi tadi, " Udah makan siang ini? " Heru menggeleng dan tanpa bertanya lagi Rosa menarik tangan Heru hendak menuju ke dapur namun Heru menahannya.
Heru menarik tangan Rosa dan meletakkan nnya di dadanya,,
" Kamu rasa tidak jantungku berdegup kencang saat ini?, kamu pikir jangankan di alam sadarku saat ini di alam bawah sadarku juga memikirkanmu tiap saat, bukan hanya saat ini Sa, sejak aku tau kamu itu Rosa yang diceritakan papa, aku tak pernah berhenti memikirkanmu."
Rosa hanya bisa menatap mata Heru tanpa mau menarik tangannya yang berada di dada Heru, benar Rosa merasakan detak jantung Heru yang kencang seakan baru lari maraton, ditatap nya mata Heru mencoba mencari kesungguhan disana, Rosa mencoba tersenyum dan mulai menarik tangannya,,
" Tadi aku bertanya sudah makan belum?, makan dulu nanti ada waktunya kita bicara dari hati ke hati, yuk makan dulu" Sambil tersenyum mengalihkan pembicaraan.
Ditariknya tangan Heru menuju dapur sekaligus ruang makan.
Dimeja sudah tersedia makan siang, Rosa mendudukkan Heru dan menyiapkan makanan, dengan sigap Rosa melakukannya, dan setelah semua tersedia diapun duduk dekat Heru.
" Disuap lagi kah? " Rosa menawarkan diri.
" Lidahku terasa pahit,, " Heru seperti tak bernafsu untuk makan.
" Sop buatan bu Titik rasanya pasti enak,," Rosa mencoba memasukkan sesendok kuah sop ke mulutnya, dan benar Rosa menikmatinya dan mengangkat jempolnya ke arah Heru, " Hmmm,,,apa aku bilang? ,yuk makan tiga suapan juga gak papa yang penting lambung tak kosong" Tak bosan Rosa membujuk, akhirnya Heru mau.
__ADS_1
Dengan sabar Rosa menyuapi Heru, ternyata tidak hanya tiga sendok seperti yang dijanjikan Rosa, Heru menghabiskan makanan yang di piring namun tidak dengan porsi yang biasa, karena Rosa membuatnya hanya separuh dari yang biasa.
Ada senyuman manis untuk Heru,,
" Lemari obatnya dimana? "
" Mau ngapain? "
" Mau dangdutan,,,ya cari obatlah buat kamu,"
" Gak usah, kita ke dokter aja sekalian bawa Yola jalan, kan udah deal kita hari ini jalan."
" Loh,, gimana mau jalan-jalan kamu sakit?"
" Cuma meriang aja sayang, merindukan kasih sayang kamu,"
" Gombal "
" Udah gak sah protes,, ajak mba Susan, biar kamu gak ngerasa grogi deket aku" Heru mulai jahil lagi,
" Enak aja," Pipi Rosa kelihatan memerah, sebenarnya dia mengakui masih merasa canggung dekat dengan Heru
" Saya mau ajak pak Ujang sama bu Titik, tapi kayaknya saya gak bisa mengemudi, pak Ujang juga tak tau,,,hmmm ohhh iya suami mba Susan sepertinya bisa coba saya telepon dulu" Heru mengambil ponsel di sakunya dan melakukan panggilan, tak menunggu lama sudah tersambung,
" Pak Pur, bisa mengemudi?," Hening sesaat " Oke sekarang ke Paviliun ya, tolong antar saya mau ke Dokter berobat" Tak lama ditutupnya telepon ya, bersamaan dengan itu muncul pak Ujang habis membersihkan halaman belakang.
" Pak,, Siap-siap sama ibu, saya mau ajak ke kota, sekalian mau belanja dapur ibu, ntar lagi kita berangkat."
Pak Ujang berlalu ke ruang belakang dimana mereka tinggal bersama bu Titik, walaupun di belakang Paviliun namun tempat tinggal mereka dibuat sangat layak oleh pak Musa, berharap mereka betah tinggal dan bisa dengan baik mengurus Paviliun.
" Saya siapan dulu ya di atas, mau ikut tidak?," Heru mencolek hidung Rosa yang lagi melamun.
" Yah...?" Rosa gelagapan,
" Ayuk,, temani ganti baju " Heru makin jahil.
" Ohh,,, gak, gak,, sendiri aja " Rosa baru sadar, dan merutuki kebodohannya sendiri.
" Haha,, jangan melamun, nanti kita nikahnya, lamunannya jauuuuhh amat." Makin memerah saja pipi Rosa,
" Udah ah,,,mau ke depan sama mba Susan" Rosa beranjak meninggalkan Heru yang masih tersenyum melihatnya.
Tak menunggu lama mas Pur sudah tiba di Paviliun membuat mba Susan terkejut,
" Ngapain kesini mas? " Belum lagi mas Pur turun dari motornya mba Susan terlebih dahulu menyerangnya dengan pertanyaan.
" Pak Tian minta antar ke Dokter berobat, " Mas Pur menepikan motornya dekat motor Rosa di bawah pohon Mangga.
" Ohhh,, kirain ada apa-apa " Mba Susan lega dari rasa kuatir nya.
__ADS_1
Rosa yang mendengar pun tersenyum melihat kekuatiran mba Susan,
" Iya mba, barusan di telepon Big Boss buat dianterin berobat,,"
" Emang masih demam ya Ros? "
" Iya mba,, tadi masih terasa hangat badannya barusan habis makan aku tawarin minum obat ,tapi gak mau, katanya ke dokter aja, makanya nelpon mas Pur minta dianterin soalnya pak Tian takut gak kuat mengemudi" Rosa menjelaskan.
" Ohh,,," Mba susan gak melanjutkan karena Heru sudah muncul di pintu.
" Ini pak Pur kunci mobilnya, kita pakai yang putih aja ya pak," Heru menyerahkan kunci mobil ke mas Pur dan segera dibawa ke garasi untuk mengeluarkan mobil yang dimaksud Heru.
Kali ini Rosa yang terpukau melihat penampilan Heru, hingga tak berkedip, stelan yang dipakai sangat cocok dengan tubuhnya yang atletis, namun sebelum Heru menyadari telah diperhatikan tanpa berkedip, Rosa terlebih dahulu membuang mukanya, jantungnya seperti berhenti berdetak ketika melihat Heru.
Mba susan cuma bisa tersenyum melihat tingkah Rosa, dia tau Rosa juga memiliki perasaan suka terhadap anak pemilik perkebunan ini.
Bu Titi juga pa Ujang pun udah siap berangkat setelah menutup pintu dan jendela Paviliun, karena akan ditinggal dan hanya di jaga oleh Satpam yang bertugas.
Melihat mobil Pajero Sport keluar dari Garasi Heru pun beranjak dari tempatnya,
" Yuk Sa,, mba naik,,"
" Lah emang saya ikut?" Mba susan bingung,
" Ya iya,, masa ditinggal,, Rosa katanya takut kalo mba gak ikut, makanya ngajakin pa Ujang juga, sama bu Titik ,, yuk uncel gendong" Heru medekati mba Susan yang sedang menggedong Yola dan mengajak Yola bersamanya,
" Ko jadi aku,," Rosa mulai kesal dengan ucapan Heru.
" Hmmm,,jadi maunya kita berdua aja gitu,, ayuukkkk, siapa takut? Di garasi masih ada mobil ko cukup untuk kita berdua atau bertiga sama Yola" Heru malah makin menjadi,
Mba Susan pun tertawa gak ter kecuali pak Ujang, bu Titik bahkan mas Pur ikut tersenyum melihat Heru yang tak bosan membuat kesal hati Rosa,
Pak Ujang dan bu Titik masuk terlebih dahulu dan duduk di bangku belakang, dan Ros memilih duduk di belakang mas Pur, dan mba Susan di samping Rosa dan kali ini drama tercipta antara Heru dan Yola.
" Yola duduk sama mama ato uncle?"
" Tama antel, tama mama uga," Sambil bicara di tangkup kan kedua tangannya di pipi nya, membuat siapapun tertawa melihatnya.
" Loh,, uncle duduk di depan sama om Pur, mama sama ibu?"
" Ma mau ( gak mau) ,,, mau antel, mau mama,," Yola mulai marah kedua tangannya bersidekap di dadanya, Rosa yang melihat menarik nafas dalam, sudah diduga akan ada ending dari drama yang dilihatnya.
Semua yang di dalam mobil kecuali Rosa tertawa melihat Heru dan Yola, akhirnya Heru menghampiri mba Susan,
" Mba, duduk didepan ya, Yola mau papa baru nya sama mamanya duduk" Benar-benar sukses membuat wajah Rosa memerah lagi kali ini lebih merah udah kayak kepiting rebus.
Rosa membuang mukanya keluar jendela, ketika mba Susan berpindah tempat, dan Heru pun masuk dengan masih menggendong Yola,
" Dia memanfaatkan anakku bahkan orang yang dekat denganku demi mendapatkan perhatiannku,,bahkan aku sulit menolak setiap kemauanmu " Rosa mengeluh dalah hati.
__ADS_1
Akhirnya mereka berangkat juga, sepanjang perjalanan ada saja topik cerita diantara mereka, yang banyak bercerita Heru dan mas Pur, mba Susan, bu Titik dan pak Ujang kebanyakan hanya tertawa lain dengan Ros, hanya diam dengan pikirannya sendiri.