Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
kembali ke Perkebunan


__ADS_3

Menjelang sore Rosa dan pak Tian kembali pulang Perkebunan setelah berpamitan pada mba Susan dan mas Pur karena untuk beberapa hari kedepan mba Susan harus dirawat untuk memulihkan kesehatannya.


Di dalam mobil Rosa hanya diam, baru kali ini mereka berdua tanpa adanya keberadaan orang lain dalam waktu yang cukup lama, sebab Rosa sangat menjaga baik dirinya untuk tidak terlalu sering terlihat berduaan dengan pak Tian, dan sebenarnya Rosa cenderung menghindari mengingat saat ini dirinya akan selalu bahan omongan karena dekat dengan anak pemilik perkebunan, dan statusnya janda membuat dirinya sering di pandang rendah dengan orang-orang yang tak menyukainya, jika Yola sering bersama pak Tian itu berada di Rumah mba Susan, dan sangat jarang menemukan pak Tian di rumah Rosa, mereka bertemu di rumah mba Susan dan bermain bersama Yola di sana setelah jam kerja usai, dan pulang saat waktunya tidur.


" Sa,,," Pak Tian membuyarkan lamunannya.


" Hmmm,,,,," Rosa hanya menoleh sebentar dan kembali memandang ke depan.


" Apa kita akan sebahagia mereka nanti jika kamu hamil? "


Rosa yang mendapat pertanyaan yang tak terduga olehnya sontak menoleh kembali kearah pak Tian.


" Gimana mau hamil, nikah aja tidak." Dengan suara pelan namun begitu jelas di dengar oleh Pak Tian.


" Emang kamu mau nikah dengan aku Sa?" Tanpa mengalihkan pandangannya ke jalan raya pak Tian bertanya tentang kesediaan Rosa menikah dengannya.


Tak ada jawaban dari Rosa, keheningan terjadi beberapa saat, hingga Pak Tian kembali mengulangnya.


" Sa,, kamu mau nikah denganku? "


Rosa membuang nafasny kasar, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut, namun yang terpikirkannya saat ini cuma Bapak dan mamaknya di kampung.


" Gimana aku bisa nikah lagi sedang Bapak dan mamak juga mungkin gak tau jika aku sudah cerai dengan Ben." Rosa memalingkan wajahnya mencoba menutupi kesedihannya di hadapan pria yang mencintainya.


Hampir setahun sudah Rosa dan Ben berpisah, dan hampir setahun juga orangtuanya memutuskan komunikasi dengannya, sering dia menghubungi dan mencari tahu kabar mereka dari orang sekampung di media sosialnya, namun malah semakin memperkeruh hubungannya dengan Bapak juga Mamak, mereka menolak orang yang datang membawa HP ketika Rosa ingin berbicara dan meluruskan permasalahan yang terjadi, dan yang paling parah terkadang mamak histeris teriak saat mereka menanyakan Rosa.


Pernah Rosa mengirimkan uang ke rekening sepupunya yang sering menolong orangtuanya, namun malah uangnya disuruh dipulangkan dan memesankan agar Rosa tak mengirimkan apa-apa lagi buat mereka, jelas membuat Rosa menangis karena Rosa tau sejak Bapak sakit pasti tak bisa berjualan lagi ke pasar, sedangkan mamak akan mengahabiskan waktu hanya merawat Bapak.

__ADS_1


Dan Rosa memutuskan untuk menahan keinginannya, hingga nanti waktunya tepat, biarlah mereka tidak tau cerita sebenarnya dan rela jika orang yang sangat dihormatinya masih marah padanya.


Namun pertanyaan Pak Tian tadi sangat mengganggunya, mengingat hubungan mereka yang berstatus pacaran, yang pastinya akan jadi bahan fitnahan orang jika terlalu sering bersama, tak banyak yang bisa di lakukan oleh Rosa Ulianta, dia hanya bisa menangisi ketidak beruntungannya saat ini.


Pak Tian melihat Rosa mengusap air matanya, dan menepikan mobil di area SPBU agar dikira orang beristirahat.


" Kamu rindu mereka Sa? "


Rosa hanya diam, namun isakannya mengisyaratkan keinginannya bisa bertemu dengan orangtua yang sudah membesarkannya.


Di genggamnya tangan Rosa, seolah mentransfer kekuatan untuk hati wanita yang dicintainya ini.


" Kita akan meminta Restu pada mereka, aku janji." Pak Tian mengusap air mata dengan ujung jarinya.


" Dengan cara apa?, mereka masih sangat marah padaku." Ucap Rosa pesimis.


" Aku takut pulang,,"


" Jika kamu tidak pulang gimana caranya mereka tau yang sebenarnya?" Pak Tian mengangkat bahunya seolah meminta Rosa yang mencari solusi.


" Aku gak tau,, " Makin membuat Rosa terisak.


" Awal tahun nanti kita pulang ya ke kampung kamu, nanti aku yang atur, dan kamu harus percaya, aku akan membantumu meluruskan masalah ini, Sa,,, ketika aku memutuskan pilihanku ke kamu, kamu adalah bagian dari hidupku, kupastikan akan selalu menjagamu juga melindungimu, Bapak dan mamak hanya terpengaruh oleh cerita bohong Ben, aku tau mereka juga pasti merindukanmu, sebesar apapun kesalahan anak, seorang orang tua pasti akan selalu memaafkan, apalagi hanya dengan fitnahan yang di ciptakan si Ben bodoh itu, kamu gak mau berjuang buat kembalinya hubungan baik sama mereka?." Pak Tian dengan sabarnya memberi solusi terbaik versinya.


" Sudah ya, serahkan semua padaku, aku akan mengurusnya, aku pastikan kamu akan baikan sama mereka di awal tahun nanti, kamu tau kita tak mungkin selamanya seperti ini? Aku pria normal Sa, dan tak menjamin aku bisa selalu waras saat bersamamu, dan aku hanya mau kamu Sa,, dan ingin kita bisa menua bersama." Tanpa melepaskan genggaman ya pak Tian membuang nafasnya kasar dan menyandarkan tubuhnya.


Rosa sadar jika selama ini dia belum sepenuhnya memberi hatinya pada pak Tian, bahkan cenderung pak Tian yang bucin padanya, akhirnya dengan pelan tapi pasti Rosa memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

__ADS_1


" Aku mau menikah denganmu," Ucapan itu akhirnya keluar dari Rosa walau pelan namun terdengar jelas ditelinga Pak Tian.


" Benarkah?" Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya membuat Rosa mengangguk untuk mempertegas statment nya.


" Tapi ketika restu kita dapatkan dari kedua belah pihak." Rosa menambahkan karena dirasa akan melewati proses yang tak boleh dianggap gampang.


" Iya,, jika besok bisa dapat restunya, berarti lusa boleh ya nikahnya?" Lanjut Pak Tian yang mendapat cubitan di perut dari Rosa.


" Nah kan, becanda lagi,," Rosa sedikit kesal.


" Lah,, jadi mau nangis terus?, kamu tuh kebanyakan sedihnya jadi hilang cantiknya." Membuat Rosa tersipu dengan ucapan pak Tian.


" Iya, candaanya bikin kesal tau"


" Terus maunya kita serius aja? Cepat tua sayang, gimana kalo kamu cepat keriput, karena kupastikan kamu wanita satu-satunya terus akunya gak tega mau duain kamu, akhirnya aku merasa tertekan lalu sakit dan koma bertahun-tahun, terus siapa yang jagain kamu sama Yola, apalagi Ben nanti masih hidup." Ucapan pak Tian membuat Rosa tertawa, ada aja jawaban konyol darinya ketika Rosa sudah mulai kesal.


" Udah sore,, kita pulang aja " Rosa melepaskan genggaman tangan pak Tian dan kembali mengencangkan sabuk pengamannya namun ada senyum yang masih tersungging di bibirnya.


" Siap Ratuku, kita otw tapi jangan tidur ya, kita bisa ngobrol apa aja, biar aku gak bosen nyetirnya" Pak Tian memutar mobil dan kembali ke jalan raya melanjutkan perjalanan mereka.


" Ya udah,,"


Sepanjang perjalanan yang banyak bicara itu pak Tian, ada saja ceritanya yang membuat Rosa tersenyum dan kadang tertawa.


Mereka tiba di perkebunan sebelum magrib, setelah menjemput Yola Pak Tian langsung mengantarkan ke Perumahan Rosa, tak lupa pak Tian ke rumah mas Pur untuk menghidupkan lampu sesuai pesan mas Pur tadi saat menyerahkan kunci.


Tugas terakhir yang buat hati kuatir adalah pak Tian ijin ke gadis cilik, mereka peluk-pelukan melepas rindu yang seharian tak ketemu, Rosa yang melihatnya cuma bisa geleng-geleng kepala, dan akhirnya pak Tian bisa pulang karena si bocil bisa dikasih pengertian walau dengan tangan yang disidekapkan di dadanya tanda protes namun tak menangis, Rosa kasih pengertian jika si Uncle sedang capek dan harus segera istrahat membuatnya luluh dan mencium Uncle kesayangannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2