Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
POV Heru Kristian 2


__ADS_3

Aku tak tau kenapa tiba-tiba Rosa menerima tawaran pekerjaan yang kuberikan, dan dari suaranya aku mendengar sepertinya dia habis menangis, terasa hatiku ikut perih karena orang yang selama ini kurindukan dalam khayalan ku saat ini menelepon ku di sisa tangisannya dan menyetujui tawaran ku, tentu dia sedang terluka hatinya atau sedang menghadapi masalah sulit, tapi ku coba untuk bijak tidak mempertanyakannya, karena ada saat nya aku mengetahui semua.


Media Sosial ku menjadi saksi betapa aku begitu mengagumi Rosa, hingga pencarian demi pencarian aku lakukan di aplikasi FB dan IG ku, dan aku menemukannya disana, bahkan dengan lancang kuambil beberapa potonya untuk koleksiku.


Pikiranku pun melayang kemana-mana berharap malam segera berlalu dan digantikan subuh agar segera bertemu dengan Rosa, karena begitu sulit melupakan wajah wanita yang sudah mengisi hatiku.


Kali ini aku bisa bangun pagi walau sebenarnya masih terbilang kesiangan namun aku bisa mengejar waktu untuk apel pagi bersama Rosa.


Benar saja kami bertemu di parkiran, dengan penampilan yang cantik di bawah sinar lampu jalan, Rosa membuang wajahnya saat menjawab sapaan selamat pagi ku, seolah tak kuat melihat mataku, dan aku sempat melihat matanya sedikit sembab seperti habis menangis.


Kami bersama-sama memasuki ruangan apel, semua pasang mata yang diruangan memberikan pandangan heran pada kami, namun aku tak peduli dan segera memimpin dan melanjutkan apel pagi, ditengah apel aku yang memperkenalkan Rosa dan menyampaikan bahwa Rosa adalah Manager pribadiku, karena kutahu kebanyakan dari mereka sudah mengenalnya namun tak tau posisinya sebagai apa.


Hari pertama Rosa bekerja aku mulai mengetahui sedikit banyaknya permasalahan Rosa, bahkan baru tau siapa suaminya, ternyata dia difitnah suaminya sendiri ke orangtua Rosa, sehingga Rosa dibuang begitu saja oleh orangtuanya bahkan memutuskan hubungan dan komunikasi secara sepihak, kutau Rosa sangat tertekan dengan situasi yang dihadapi, sehingga aku membebaskannya di hari pertamanya setelah sidang di pos keamanan pagi itu.

__ADS_1


Rosa tidak pernah tau tentang perasaanku, dan akupun masih menyimpannya sendiri takut dia menjauh, karena kulihat dia sangat prefosional dalam bekerja, mampu mengesampingkan perasaannya demi pekerjaannya,dan ini dilakukan hingga sekarang, bahkan saat hari ketuk palu perceraian nya tak ada siapa yang tau, saat itu dia ijin sehari padaku.


Setelah hari perceraian nya aku melihat dia sedikit lebih lega, dan aku tau setelah seminggu berlalu, itupun ku ketahui dari pak Burhan, teryata pak Burhan salah satu saksi dari Rosa.


Dan wanita yang kucintai secara diam-diam sudah berstatus baru, membuatku tersenyum seperti memiliki kesempatan besar untuk maju selangkah, namun aku juga tidak ingin terburu-buru, aku menunggu waktu yang tepat, mengingat Rosa membatasi dirinya dan tidak terlalu terbuka dengan oranglain, membuatku bahkan orang sekalipun tidak memiliki kesempatan mengungkapkan perasaan, karna aku tau dan melihat banyak pria lajang berstatus karyawan papaku yang mencuri pandang kepada Rosa, dan aku akan selalu merasa panas hati jika melihat Rosaku diperhatikan orang lain, tapi bukan Rosa namanya jika menanggapinya, bahkan perhatian-perhatian kecil yang kuberikan padanyapun ditanggapi biasa saja.


Hingga saat kedatangan putrinya Yola ke kantor membuatku merasa seakan ada jalan menuju hatinya, aku mendekati putrinya yang lucu, cantik, bijak kayak mamanya, tak disangka ternyata aku juga jatuh cinta ke putrinya dalam artian cinta antara ayah ke anak, Yola begitu lengketnya ke aku, seakan dia merindukan sosok yang dia butuhkan untuk melindunginya, terkadang Rosa terlihat mencuri pandang memperhatikan kami saat bersama.


Aku dan Yola begitu dekat, anak kecil itu akan menangis jika kutinggalkan, sering aku habiskan waktu bersamanya di kantor, bahkan aku seperti ayah yang terbiasa merawat balita, bahkan dia bisa tidur di atas tubuhku seraya memelukku.


Dan hari itu dimana Yola yang habis menangis kutemui bersama Rosa berjalan menuju arah kantin pak Rahmad, aku mengajaknya dan Rosa sepertinya tidak bisa menolak karena aku melihat Rosa sudah kewalahan membujuk putrinya sehingga kuputuskan membawa ke Paviliun, disana aku mengajaknya bermain karena beberapa hari yang lalu aku sempat membelikannya beberapa pasang baju yang lucu-lucu saat aku singgah di butik temanku yang bernama Greta yang ada di kota dan aku juga membelikan mainan peralatan masak, boneka panda, dan beruang namun belum sempat kuberikan.


Yola yang mendapat hadiah mainan terlihat sangat senang, anak balita itu sungguh menggemaskan, dan aku menemani nya bermain seolah-olah kami adalah ayah dan anak, dia begitu pintar di usianya yang masih 2 tahun sudah bisa menandai setiap jenis mainan yang dimainkan, dan baru kusadari kecerdasan seorang ibu menurun ke anaknya.

__ADS_1


Sore itu aku meminta bu Titik memandikan Yola dan memberikan baju ganti yang kubeli kemarin, dan mengajak dia makan, sebelum magrib Yola kelihatan sudah mengantuk mungkin kelelahan atau mungkin terbiasa tidur lebih awal, aku tak tau, sebab saat kuajak menonton TV dia sudah berulang kali menguap, jika ku antar katanya gak baik membawa anak di waktu magrib, sedangkan mamanya belum juga datang menjemput, akhirnya kubawa saja ke kamarku dan kutidurkan disana.


Rosa datang tepat setelah Yola baru terlelap dan akupun sempat ketiduran disampingnya dan ketika aku menyadari sudah ada Rosa berdiri dekat di jendela kamarku dan aku menghampirinya membuatnya sedikit terkejut karena aku sudah berdiri bersama dengannya, kehadiranku menambah kecanggungan nya terhadapku.


Dia begitu heran dan bertanya melihat Yola sudah mandi dan telah berganti pakaian, aku menjelaskan tentang aku yang telah membelinya namun tak sempat memberikan kepadanya,


Cuaca sepertinya bersahabat denganku tak lama Rosa tiba, terdengar rintik hujan yang semakin lama semakin lebat, membuat Rosa semakin kuatir, aku memintanya tidur saja di samping Yola selama menunggu hujan reda, awalnya dia seperti menolak namun aku segera meninggalkannya dan turun, saat menutup horden kulihat motor Rosa tumbang dihalaman mungkin standarnya yang tidak pas bertumpu di tanah, segera ku tegakkan dan ku pindahkan ke garasi sehingga membuatku basah kuyup.


Saat aku kembali ke kamar Rosa kutemukan tertidur di samping Yola, aku segera mengambil baju ganti dan dengan pelan-pelan aku menuju kamar mandi yang ada di kamarku untuk mengganti pakaian ku yang basah, sepertinya Rosa tak menyadari dan sudah terlelap bersama putrinya, dan segera kuambil selimut di lemari, karena sudah terasa dingin sedangkan hujan belum juga reda, ku selimuti mereka, terlihat keteduhan di wajah mereka berdua, lama aku berdiri menatap mereka bergantian, ada keinginan yang begitu kuat untuk melindungi mereka.


Aku menghampiri sofa yang ada di kamarku dan berbaring disana sambil memainkan HP ku, hingga aku melihat jam sudah menunjukkan setengah duabelas, hujanpun masih turun tapi tak selebat sebelumnya, ku pandangi mereka tapi mereka masih tidur dengan pulasnya, dan kembali kutinggalkan dan turun ke dapur, kulihat makanan yang tertutup tudung saji sudah dingin, akupun membuat nasi goreng dan sengaja kubanyakin manatau Rosa terbangun nanti, dan aku makan sendiri sementara kusisain sebagian untuk Rosa.


Setelah aku makan, aku kembali ke kamar, dan kembali ke sofa memainkan HP ku, tak lama benar Rosa terbangun dan melihat ke arahku, sepertinya dia bingung karena tubuhnya tertutup selimut, aku menyapanya, namun malah minta maaf karena ketiduran, dasar Rosa sepertinya masih takut aku marah, gimana mau marah sedangkan selimut aku selimutkan ke tubuhnya, membuatku tersenyum, setelah HP ku kuletakkan kuajak dia turun makan, sebelumnya dia menolak namun aku memaksanya dengan menarik tangan dan membawanya turun.

__ADS_1


Aku memindahkan nasi goreng yang masih panas ke piring dan memberikan ke Rosa, dia begitu menikmati nasi goreng buatanku, aku mencoba mencairkan suasana agar Rosa tidak canggung berlebihan kepadaku.


__ADS_2