
Malam sebelum jam tujuh benar beberapa penetua adat sudah datang ke rumah orangtua Rosa, dan ada juga rombongan Ben, mama ida, dan Saud bersama pak Tupang perwakilan keluarga Ben waktu mereka menikah dulu.
Ada juga beberapa keluarga pihak Rosa yang datang, membuat suasana rumah pak Sagala seperti mengadakan pesta.
Rosa duduk di antara kedua orangtuanya, kali ini dia menurut saja, sedang Ben yang berada di seberang Rosa nampak menunduk saja, tak kuat menatap keluarga pihak Rosa, sama dengan mama Ida, dia terlihat banyak menunduk dan kegalakan yang sering ditunjukkan hilang begitu saja, dan Saud bersikap biasa-biasa saja, toh bukan dia juga yang bermasalah.
Penetua Adat mengambil jalannya acara, sementara pak Sagala menyampaikan bahwa telah terjadi perceraiannya antara anak perempuannya dengan menantunya dengan memberikan bukti yang diberikan oleh Rosa sebelumnya.
Ternyata hanya urusan perceraian harus melewati banyak proses, sebenarnya bisa saja tidak namun pak Sagala nanti akan lebih malu jika suatu saat Rosa menikah lagi akan jadi bahan cibiran dari orang dan paling parah bisa didenda dari adat karena mereka nikah juga dari adat.
Ternyata mereka harus bertandatangan dengan materai bahwa tak ada pihak yang menuntut akan perceraian mereka, biasanya yang utama adalah mengenai jujuran yang diberikan dulu saat menikah, atau biaya pesta jadi perceraian ini sah tanpa ada tuntutan dari pihak Ben atau dari pihak Rosa.
" Ribet," Ucap Rosa pelan ke arah bu Rosni seakan sudah lelah dengan urusan yang berkaitan dengan Ben.
" Udah ikuti saja, nanti selesai juga" Bu Rosni mengelus pundak Rosa agar lebih sabar.
Rosa hanya bisa mengangguk dan mengikuti proses perceraian mereka dari adat.
Setelah menandatangani surat yang ditulis tangan, Rosa merasa lega, namun tetap menunjukkan ketidaksukaannya kepada Ben saat mereka dipertemukan bersama menandatangani suratnya dari penetua adat.
Semua orang terdekat Rosa merasa lega saat mereka selesai menandatangani surat dibawah materai yang di berikan penetua adat, tak terkecuali pak Tian yang tak pernah sedikitpun beranjak dari tempat duduknya di belakang pak Sagala, satu persatu telah sudah terselesaikan walau butuh waktu dan materi yang tak sedikit.
Setelah semuanya selesai waktunya menjamu para tamu dengan makan malam dengan makanan yang telah dipesan bu Rosni dari warung bu Mirah, hidangan sederhana namun memuaskan mereka karena makanannya yang enak, mereka menikmatinya terkadang ada juga yang terdengar memuji makanannya, padahal dengan waktu yang sangat mepet bu Mirah bisa tepat waktu mengantarkan pesanan.
Waktu sudah menunjukan hampir jam sepuluh malam, para penetua adat pun telah meninggalkan rumah orangtua Rosa, tinggal rombongan Ruben dan keluarganya dan akan berpamitan.
" Pak Sagala, terimakasih pak kami pulang dulu" Pak tupang menyalami dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
" Ohh,, iya pak, Hati-hati" Ujar pak Sagala.
" Maaf atas nama keluarga Ruben buat keluarga bapak terlebih buat Rosa anak kami, semoga kedepannya kita tetap bisa jadi keluarga." Pak Tupang sepertinya menyesali perbuatan Ben pada keluarga pak Sagala.
" Yang lalu biarlah berlalu pak, semoga mereka bisa lebih baik lagi di kemudian hari, biarlah perceraian ini menjadi pelajaran buat mereka berdua."Pak Tupang hanya mengangguk, rasanya malu dengan pak Sagala.
Setelah menyalami pak Sagala, pak Tupang juga menyalami bu Rosni dan permisi pulang, dikuti oleh mama Ida namun tanpa sepatah katapun hanya menyalami mantan besannya, begitu juga Ben, tak ada kata sedikitpun keluar dari mulutnya, mungkin sudah kenak mentalnya dihajar Rosa didepan keluarganya tadi, sementara Rosa sudah sedari tadi berlalu masuk kamar, tak sudi rasanya bersentuhan tangan dengan Ben dan mantan mertuanya.
Setelah kepulangan mereka, pak Sagala tak langsung meninggalkan tempat duduknya, dia masih disana dan memanggil Rosa untuk duduk bersamanya, ada hal penting yang ingin disampaikan pak Sagala kepada anak perempuan kesayangannya.
Ternyata bukan hanya Rosa, pak Tian juga sementara mas Pur, mba Susan dan Parulian datang sendiri untuk mengetahui apa yang bakal disampaikan pak Sagala.
" Ros,,, " Pak Sagala dengan lembut menyebut nama anak perempuan nya tanpa menghilangkan sikap tegasnya, membuat Rosa menatap wajah laki-laki yang begitu disayanginya.
" Iya pak,, "
" Bapak yang salah tak memberi kesempatan untukmu, bapak gak malu sama orang klian bercerai, tapi bapak malu sama kau Ros," Ucap pak Sagala tertahan.
" Nak, melihatmu marah seperti itu tadi bapak menyadari mungkin kemarahanmu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bapak nak yang merasa sakit, bapak yang merasa tertampar dengan apa yang kau lakukan ke Ruben, tapi bukan bapak setuju dengan yang kau lakukan, bapak siap jadi pendengarmu selanjutnya nak" Membuat Rosa tertunduk.
" Dan untuk nak Tian, bapak berterimakasih banyak buatmu, nak Tian sudah membawa Rosa dan meyakinkan Rosa buat pulang kesini, dan maaf jika merepotkan nak Tian."
"Nak bapak mau tanya, adakah hubungan klian berdua selain sebatas hubungan kerja? Karena seperti yang bapak lihat, ada hubungan yang spesial antara klian, tapi jika salah mungkin bisa dijelaskan nak Tian" Pak Sagala sepertinya menunggu penjelasan dari pak Tian.
Sementara pak Tian dan Rosa saling berpandangan seolah meminta persetujuan dari Rosa, saat Rosa membalas dengan senyuman pak Tian sedikit menegakkan tubuhnya,
" Maaf Pak, jika saya terlalu lancang dengan kehadiran saya di rumah bapak, dan maaf juga kepada Ibu, kehadiran saya disini sudah menimbulkan berbagai pertanyaan di benak bapak juga ibu." Pak Tian menarik nafasnya sebelum melanjutkan kalimat nya.
__ADS_1
" Saya mencintai Rosa anak bapak, dan kami sudah menjalin hubungan kurang lebih dua bulan, maaf Pak sudah lancang" Lanjut pak Tian tegas namun tak bisa menutupi ketegangan di wajahnya.
" Hmmm,, begitu,," Pak Sagala menimpali dengan manggut-manggut.
" Saya juga menyayangi Yola,," Dengan masih dalam ketegangan yang dirasa, sepertinya pak Tian lupa menyebut Yola di awal dari kalimatnya yang pertama.
" Apakah orang tua nak Tian sudah tau tentang hubungan klian?"
" Sebenarnya belum pak,"
" Nak,, Rosa anak bapak statusnya tak lagi gadis, dan sudah punya anak satu, bapak tak mau kebersamaan kelian jadi bahan cerita orang-orang, seperti yang bapak dengar dari Ruben tadi, sebenarnya bapak malu, entah benar entah tidak klian lah yang tau," Kata pak Sagala membuat pak Tian bingung dan memandang Rosa seolah-olah mencari jawaban.
" Tuh, yang kita ke mall abis dari Resto, mungkin mereka ke mall juga saat itu, terus liat kita keluar bersama dari mobil terakhir dari mas Pur dan mba Susan" Ucap Rosa dengan suara pelan tapi masih terdengar membuat pak Tian mulai mengerti arah yang dimaksud, sementara mba Susan tertawa mendengar ucapan Rosa.
" Sampai saat ini belum sampai sejauh yang bapak kuatir kan hubungan yang kami jalani pak, saya sangat menghargai Rosa karena caranya yang menjaga dirinya, dan tujuan saya kesini juga ingin meminta anak bapak untuk saya jadikan istri." Dengan yakin pak Tian menyampaikan keinginannya.
" Apa nak Tian tak keberatan dengan status yang disandang Rosa anak kami?,, bahkan sudah punya anak satu, karena bapak tak mau kejadian yang sama terulang kembali."
" Saya menerima semuanya pak, jika bapak mengijinkan," Ucap pak Tian yakin.
" Baiklah jika benar nak Tian mencintai anak kami, menerima dia dengan keadaan nya seperti ini, bapak mengijinkan, tapi bapak mau jangan menunggu lama nak, ingat jangan sampai jadi bahan gunjingan orang, dan minta restu dari kedua orangtua nak Tian, karena mereka harus tau juga masalalu anak kami, jangan dikemudian hari jadi alasan untuk memojokkan anak kami."
" Baik pak, secepatnya kami akan menemui papa dan mama". Lanjut pak Tian mantap.
" Ros,, bapak sudah mendengar semua dari nak Tian, sekarang bapak setuju, jikapun nanti klian jodoh bapak doakan semoga ini yang terakhir, tetap jaga harga diri yang nak, apapun yang sudah terjadi waktunya melupakan, jadikan pelajaran ke depannya." Membuat Rosa mengangguk mengerti.
" Wah dapat restu nih" Mas Pur menggoda pak Tian.
__ADS_1