
" Hei emang kau siapa, beraninya bicara seperti itu pada saya?" Dengan berani dan garang mama Ida maju selangkah, posisinya hanya tinggal beberapa senti dari Rosa hendak menantang pak Tian, namun dengan santai malah menyuapkan makanan ke Yola membuat mama Ida semakin panas merasa tidak di perdulikan, bagaimana jika dia tau pak Tian itu siapa, padahal Ben sudah mencoba menghalangi dengan menarik tangan mamanya agar tidak berkata kasar karena yang dihadapinya saat ini adalah anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
" Ibu mau tau siapa saya? silakan tanya pada pak Ben." Tanpa meninggikan suaranya pak Tian juga tak menoleh masih menikmati makanannya bersama Yola, namun sebenarnya hanya berusaha menahan dirinya untuk tetap sabar menghadapi mama Ida yang terkesan kasar berbicara, dan sikap yang di perlihatkan semakin malah membuat lawan bicaranya makin marah.
" Mama,, sudah " Dengan sedikit berbisik Ben menenangkan mamanya.
Banyak mata yang melihat ke arah mereka, bahkan tak sedikit yang mendekat seperti ingin tahu pokok permasalahan.
" Kamu lagi, masih membela mantan istrimu yang tak tahu diri ini ya? " Mama Ida makin menjadi marahnya.
" Ohhhh,,, ini mantan istri kamu bang? gak ada cantik-cantiknya ko kamu bisa nikah ya sama dia? Pantes aja kamu ditinggalin bang Ruben, penampilanmu buluk gini gada tau fashion sedikit pun." Dengan berani dan angkuh wanita yang lebih muda ikut menghina Rosa.
" Linda,, cukup.." Ternyata wanita muda itu adalah Linda, nada suara Ben sedikit dinaikkan, sepertinya Ben merasa tidak enak dengan kalimat yang dilontarkan Linda.
Rosa diam saja, mencoba lebih mengalah, bukannya tak mau membalas tapi ada Yola disana, anaknya masih balita, dan saat ini sedang pintar-pintarnya menirukan apa yang dilihatnya, sehingga Rosa menahan diri untuk tidak bersikap kasar terlebih berbicara di depan Yola, walau sebenarnya sakit hati mendengar ucapan mantan mertuanya bahkan dari wanita yang baru di kenalnya dan tidak tau statusnya dengan mantan suaminya.
" Kenapa bang, abang masih cinta ke dia?, atau abang masih ingin balikan makanya abang membelanya, dia sudah menghabiskan banyak duit abang, bahkan abang tak di urusnya dengan baik masih aja abang bela," Rosa yang mendengarnya tak terima dan merasa kesal, rasanya tak pernah meminta apa-apa kepada Ben selama jadi istrinya, bahkan tetangganya tau dan melihat seperti apa Rosa menghormati dan merawatnya sebagai suami, Rosa juga rela mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli pakaian-pakaian Ben, sepertinya Ben selama ini memfitnah dirinya ke Linda, ternyata bukan hanya ke orang tuanya saja Ben berkata fitnah ke Linda juga seolah-olah sumber masalah itu semua berasal dari dirinya.
" Makanya tak pernah ada rasa suka sedikitpun melihatmu, anakku kau buat menderita, beruntungnya Ben membuka matanya lebar-lebar dan menceraikan perempuan seperti kau, siapapun yang jadi suamimu gak akan tahan nantinya, dan kupastikan jika kau punya suami lagi pasti akan diceraikan lagi." Perkataan mama Ida ini membuat Rosa meradang, tak di duganya mantan mertuanya bisa berkata seperti menyumpahi dirinya, sungguh sakit hatinya, Rosa hanya bisa menggigit bibirnya, sedang pak Tian berharap agar Rosa menampar saja mulut lemes wanita itu, dia begitu kasian melihat Rosa di perlakukan tak baik.
Ben jadi salah tingkah di antara keributan yang tak terduga ini.
" Emang apa yang kulakukan ma? " Rosa mencoba bertanya dengan menekan suaranya.
__ADS_1
" Masih berani kamu bertanya, dasar gak punya malu," Mama Ida membentak Rosa.
Pak Tian menggengam tangan Rosa agar tidak terpancing dengan kata-kata Linda dan mama Ida tapi tetap saja tidak bisa di bohongi jika Rosa sakit hati dengan ucapan Linda dan mantan mertuanya sampai Rosa menitikkan air mata.
" Pak Ben, tolong tinggalkan kami, urus ibu dan Gundik bapak, saya dan keluarga saya lagi makan, mohon kerja samanya, dan ajari mereka sopan santun." Dengan menahan amarah Pak Tian bicara sedikit pedas.
" Hah, apa kamu bilang, lancang kamu menyebutku gundik," dengan marah Linda menggebrak meja dan menimbulkan suara gaduh, sontak membuat Yola terkejut dan menangis kencang, mas Pur dengan cepat mengangkat Yola dan menjauhkannya dari keributan dan diikuti pak Ujang yang merasa tak enak berada disana, sedang mba Susan dan bu Titik hanya memberikan tatapan tak suka kepada mereka bertiga.
Keributan itupun makin mengundang perhatian pengunjung lainnya, tapi dasar dua wanita ini merasa hebat dan ingin mempermalukan Rosa di keramaian Resto.
" Iya, kamu tidak terima? Kalo kamu bukan gundik, terus mau disebut apa? wanita ******, wanita murahan, atau pelakor? tak sadarkah kamu sudah merusak rumahtangga Rosa, kalo kamu wanita baik-baik takan mau kamu sama laki-laki beristri bahkan sudah punya anak, bahkan masih berani bicara seenak perutmu seperti ini, asal kamu tau levelmu masih jauh di bawah Rosa? " Pak Tian begitu marah terhadap Linda, membuat Linda mati kata.
" Dan ibu,, saya peringatkan, saya orangnya sangat menghormati orangtua, tapi seharusnya ibu bisa kasih contoh ke kami yang muda-muda ini, tapi dari lisan ibu saja saya bisa menilai, ternyata umur tua tak menjamin untuk bisa berbicara sopan dan menghargai perasaan, bahkan ibu juga melihat dan bertemu cucu ibu disini tapi untuk basa-basi menanyakan saja tidak, tolong tanyakan baik-baik apa yang sudah dilakukan anak ibu ke Rosa dan apa yang sudah di perjuangkan Rosa selama jadi menantu ibu" Dengan berani pak Tian berbicara membuat mama Ida ikut terdiam.
Linda menarik tangan mama Ida keluar dari Resto dengan membawa kekesalannya, mba Susan dan bu Titikpun hanya tersenyum melihat kepergian dua wanita itu.
"Iya saya, Rosa dan semua yang berada di meja ini benar tidak nyaman, dan klian sudah mengusik kebahagiaan kami."
" Sekali lagi, maaf buat keributan ini, saya permisi." Ben bergegas mengikuti ibunya dan Linda.
" Saya ke toilet dulu! " Rosa beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari siapapun dan sedikit mempercepat langkahnya menuju toilet, membuat mba Susan dan pak Tian saling pandang seolah mengerti.
" Sudah,, saya aja yang ke sana menenangkan dia, kamu disini aja." Mba Susan mengikuti arah Rosa yang menuju Toilet.
__ADS_1
Suasana di toilet terlihat sepi, hanya ada dua orang yang keluar saat mba Susan tiba dari toilet nomor dua dan nomor empat, sedang yang nomor satu dan tiga pintunya terbuka dan kini hanya toilet yang nomor lima yang tertutup berarti Rosa berada disana, benar terdengar isakan tangis dari dalam.
Rosa tak tau jika mba Susan mengikutinya dan menunggunya, hampir lima belas menit Rosa mengurung diri di dalam toilet, menangisi dirinya sendiri, menyesali kenapa mereka dipertemukan seperti ini, bahkan perlakuan dan perkataan dari mantan mertuanya sangat menyakiti hatinya, terlihat dengan jelas bagaimana Linda menggandeng nya, bagai mana kedekatan mereka, sedangkan dirinya yang pernah jadi menantunya saja tak pernah sekalipun mendapatkan senyuman.
Setelah merasa hatinya lebih tenang Rosa baru keluar, dan bertemu mba Susan sedang merapikan rambutnya di cermin,
" Mba,,,"
Mba Susan sudah melihat dari cermin Rosa keluar.
" Kamu baik-baik saja kan? " Di dekatinya Rosa yang masih mematung tak jauh darinya, diberikan pelukan yang menenangkan untuk Rosa, membuat yang dipeluk kembali terisak hingga tubuhnya ikut bergetar.
" Mba,,," Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Rosa.
" Harus kuat, gak boleh cengeng, mba ada buat kamu, kamu adik mba, mba ini keluargamu, apa yang kamu lakukan tadi udah benar, gak usah dibales, capek kamu, yang kamu hadapi bukan orang yang waras." Mba Susan menenangkan Rosa, dia ikut menitikkan air mata sambil mengelus punggung Rosa yang masih dipeluknya.
" Mereka jahat mba," Rosa sepertinya sangat sedih dengan perlakuan mantan mertuanya dan Linda.
" Kamu gak sendiri, ada mba, dan ada Heru yang akan melindungimu, jadi gak perlu takut, ingat Yola, kasian anakmu jika kamu nanti jadi sakit karena memikirkan mereka."
Rosa mengangguk dan melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya, di raupnya wajahnya dengan air di wastafel, dan terlihat dicermin matanya sudah sembab.
" Nah,, jadi jelek kan matanya sembab " Ucap mba Susan dan dibalas dengan cebikan dari bibir Roda.
__ADS_1