Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Cemas 2


__ADS_3

Rosa masih dengan kecemasan nya akan pertemuannya nanti dengan keluarga pak Tian saat pak Tian memasuki ruangannya.


" Sayang,," Pak Tian mendekati Rosa yang hanya memandangi nya tanpa mengucapkan apa-apa.


" Ko diam aja?"


" Gak papa" Ucap Rosa pelan.


" Yuk,, kita ke paviliun biar makan siang bareng papa mama"


" Ibu ikut juga?" Padahal Rosa sudah tau jika mamanya pak Tian ikut, tadi diberitahu oleh pak Musa.


" Hmm,, emang kenapa? "


Rosa hanya terdiam, hatinya begitu risau, karena ketidaksiapan nya bertemu dengan orangtua dari pria kekasihnya ini, Rosa hanya menggigit bibirnya, mencoba menenangkan hatinya, tentu pak Tian yang melihat jadi bertanya-tanya.


" Lohh,, ko diam aja,,"


" Belum siap!" Ucap Rosa perlahan dengan menggigit jari kelingking tanganya yang menumpu di meja kerjanya.


" Terus kapan siapnya Sa, nunggu aku benar dijodohkan?"


Ucapan Tian memaksa Rosa memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata pak Tian.


" Sa,,, dengar tidak?"


" Aku gak tau mau ngomong apa nanti?"


" Apa yang ditanya, itu yang dijawab Sa," Pak Tian mulai merasa jengkel, padahal sejak tadi malam aja sudah mau marah aja bawaannya karena kehadiran Greta, terus mamanya lagi yang sibuk tentang perjodohan.


" Terus gimana jika mereka tidak Terima dengan pilihanmu?" Rosa sepertinya pesimis saat ini.

__ADS_1


" Kamu ko mikirnya jauh kali, belum lagi ketemu," Pak Tian sampai menggigit giginya sendiri karena kesal.


" Tapi kan bisa gak sekarang, besok kan masih bisa?" Rosa masih saja beralasan membuat pak Tian mendekatkan wajahnya ke Rosa sehingga jaraknya hanya beberapa senti saja dari wajah pak Tian.


" Kamu mau aku mati, atau kamu mau aku menerima Greta yang dijodohin ke aku?, kalo kamu mau, tetaplah disini, pilihanmu hanya tiga, ikut aku, aku mati, atau aku menerima Greta!"


Sontak Rosa terkejut, tak menduga akan perkataan pak Tian, ternyata kedatangan Greta ke perkebunan adalah karena akan dijodohkan ke pak Tian, pantas saja Pak Tian begitu memaksa dia harus ikut ke paviliun.


Rosa sudah tau jika Greta ada hati dan menyukai pak Tian, dari cara memandangnya saja Rosa tau jika Greta sama sekali tidak menyukainya, bahkan ketika Greta memeluk pak Tian di Mall dulu tidak menunjukkan kecanggungan sama sekali, padahal itu di tempat keramaian dan pak Tian sedang menggenggam tangannya.


Dan tadi saat Rosa ingin berjabat tangannya, kejadian serupa saat di Mall terulang kembali, tak ada sedikitpun tergerak hatinya untuk menyambut tangan Rosa, membuat ibu satu anak ini menarik kembali tangannya walau masih mampu memberikan senyum yang sulit untuk dimengerti siapapun.


" Ya sudah kalo kamu masih seperti ini, baiklah pilihannya tinggal dua, aku mati saja biar kamu tak memiliki aku dan Greta juga, atau kamu iklas jika Greta jadi jodohku."


Pak Tian menegakkan tubuhnya yang tadi sempat dibungkukkan agar bisa sama rendah dengan Rosa, terlihat pak Tian makin kesal dengan Rosa.


" Baiklah, aku ikut."


" Benar?" Pak Tian bertanya seolah menyakinkan ucapan Rosa tadi.


Rosa hanya mengangguk menperjelas ucapannya, dan tangan pak Tian langsung menarik tangan Rosa untuk segera meninggalkan kantor menuju paviliun.


Mereka menggunakan Motor Rosa, diperjalanan mereka hanya terdiam dalam pikiran masing - masing, hingga motor memasuki pekarangan Paviliun, detak jantung Rosa makin lebih cepat berdegup karena rasa kuatir yang berlebihan.


Pak Tian menghentikan motor dan memarkirkan di bawah pohon mangga, Rosa turun terlebih dahulu dan diikuti oleh pak Tian, di genggamnya tangan Rosa agar wanita yang dicintainya lebih tenang sebelum memasuki dan bertemu dengan orangtuanya.


" Ko telapak tangannya basah?" Pak Tian mengangkat tangan Rosa dan membuka genggaman tangannya dan kembali menggenggam nya dan mencium punggung tangan Rosa agar Rosa lebih tenang lagi..


" Klo cemas ya begini, jadi kringatan" Ucap Rosa jujur.


" Baru ketemu papa mama aja udah nervous seperti ini, gimana kalo mau ketemu bapak Presiden " Pak Tian bercanda membuat Rosa tertunduk malu.

__ADS_1


Mereka memasuki Paviliun dan terlihat sepi, terdengar dari arah dapur suara seperti orang sedang makan, benar saja pak Musa, Greta dan seorang wanita yang terlihat masih muda, dengan bentuk hidung dan mata mirip dengan pak Tian dan Rosa mengambil kesimpulan jika itu adalah mamanya pak Tian, mereka sepertinya baru mulai makan karena makanan masih terlihat utuh.


" Pa, ma, kami datang!"


Semua pasang mata yang ada di ruangan itu melihat ke arah Rosa dan pak Tian, dan memberhentikan aktifitas makannya.


" Ohhh,, klian, duduklah kita makan dulu." Ucap mama Maria ramah, namun pak Musa terlihat menunjukkan wajah yang datar tanpa ekpresi apapun, dan kembali melanjut kan makannya.


Sementara Greta menunjukkan perubahan raut wajahnya, makin terlihat ketidaksukaannya akan kehadiran Rosa bersama pak Tian, apalagi melihat Pak Tian dan Rosa bergenggaman tangan, dan ini kali kedua pria yang dicintainya sejak lama menggenggam tangan wanita yang sam dilihat oleh matanya sendiri, yang pastinya menimbulkan kecemburuan dalam hatinya, dan hanya dengan beberapa suapan saja, Greta meletakkan sendok dan Garpu secara kasar di piringnya, dan menimbulkan dentingan yang cukup kuat membuat pak Musa menghentikan suapannya demi melihat Greta yang langsung berlalu dari hadapan mereka.


Rosa dan Tian belum sempat duduk saat Greta meninggalkan meja makan, membuat Rosa merasa tak enak dan menekuk wajahnya, semakin cemas hatinya, kedatangannya malah tak disambut baik Greta dan menunjukkan ketidaksukaannya lagi.


" Ayuk duduk Sa,, kamu belum makan kan, kita makan dulu," Pak Tian mencoba mencairkan suasana, dan kali ini Rosa tak protes dan memilih duduk di samping pak Tian, dan tak sengaja mama pak Tian memberikan senyumnya untuk Rosa, namun belum berani menatap wajah pak Musa yang hanya biasa - biasa saja, mereka pun makan dalam kebisuan dan pikiran masing - masing.


" Mama lihat Greta dulu ya," Mama Maria menyudahi makannya dan meninggalkan Rosa yang masih makan dengan pak Tian dan pak Musa.


Tak lama pak Musa juga menyudahi makannya dan diikuti oleh Rosa membuat pak Tian mememandang ke arah Rosa,


" Ko udahan Sa,, gak enak ya?" Pak Tian bertanya tanpa menghentikan makannya.


" Enak ko,,!" Ucap Rosa tersenyum ke arah pak Tian, tadi dia sengaja mengambil hanya sedikit makanannya sebab tadi sebelum makan sudah disuguhun sama perasaan tak enak hati dengan sikap Greta sehingga mempengaruhi nafsu makannya.


Rosa menunggu pak Tian hingga makannya selesai, sesekali Rosa terlihat mengeluarkan nafasnya secara kasar, seperti ingin membuang kekuatiran nya, apalagi melihat sikap biasa - biasa dari pak Musa, membuatnya jadi ragu akan cerita pak Tian tentang papanya yang menyukainya dan mengharapkan pak Tian bisa terpengaruh akan cerita tentang dirinya dan manyukai Rosa.


Setelah pak Tian makan, Rosa membereskan peralatan makan mereka dan mengumpulkan di wastafel, Rosa mengelap meja makan hingga bersih, lalu kembali lagi ke wastafel dan mencuci peralatan makan yang mereka gunakan tadi dengan lincah, sedikit mengambil hati, agar terlihat ada sopan santun di hadapan orangtua dari pria yang dicintainya.


" Kita bicara di depan saja," Pak Musa mengajak Pak Tian dan Rosa kedepan ketika melihat Rosa menghampiri mereka setelah selesai mencuci piring.


Pak Tian beranjak dari duduknya dan mengikuti papanya dari belakang disusul Rosa dengan pikirannya yang bermacam -macam, dan mereka tiba di ruang tamu bersamaan saat mama Maria keluar dari kamar tamu yang ditempati Greta.


Pak Tian dan Rosa memilih duduk di sofa yang sama, sementara pak Musa duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan mereka dan tak lama mama Maria ikut duduk di samping suaminya.

__ADS_1


" Kamu Rosa?"


__ADS_2