
" Pak, kita ke dokter Brian aja ya, soalnya hanya dokter ini yang buka dan praktek hari libur ato minggu, gimana pak? " Mas Pur meminta persetujuan dari pak Tian.
" Iya gak papa, lanjut aja, takut demamnya lama mas, pekerjaan sekarang sedikit repot dan banyak menjelang akhir tahun seperti ini, jadi gak boleh sakit harus sehat." Ujar Pak Tian dan menyebut "mas" ke Purwanto karyawan papanya, sepertinya dia tak ingin terlalu memberi jarak kepada suami dari mba Susan ini.
" Tapi harus dibarengi istrahat yang cukup juga loh pak, kulihat akhir-akhir ini bapak sering turun ke pabrik,"
" Iya,,, mas kan lihat sendiri produksi banjir, kadang mobil antri dari pagi hingga pagi lagi besoknya, " Pak Tian mengusap wajahnya kasar.
" Yuk pak, praktek dokter Brian udah sampai!" Mas Pur pun sudah memarkirkan mobil di parkiran klinik dokter Brian.
Pak tian melirik ke arah Rosa, ternyata Rosa tertidur dengan bersidekap kedua tangan di perutnya, kelihatan sangat pulas.
" Mba, dimobil aja ya menunggu, Yolah juga masih tidur nih, mamanya juga lagi enak tidur," Pak Tian pun turun dan baru meletakkan Yola dan sedikit menyetel sandaran.
Mba susan pun hanya mengangguk, mas Pur ikut masuk ke klinik menemani pak Tian, butuh waktu tiga puluh menit mereka didalam sana, mungkin ikut antrian mengingat klinik terlihat ramai.
Kedua pria yang beda usia inipun keluar dari klinik dengan menenteng kantong plastik berukuran kecil, merekapun menghampiri mobil dan masuk,
" Apa saya bilang pak, bapak harus istrahat banyak kan, " Mas Pur mulai pembicaraan dalam mobil.
" Iya mas,"
" Obatnya yang tadi gak ketinggalan kan pak"
" Oh tidak mas, kita makan ya, kayaknya mas sama mba susan belum makan siang,"
" Hehe,, iya nih, udah keroncongan dari tadi, tapi gak apa-apa kan sakitnya?"
" Iya mba,, demam biasa saja, cuma tekanan darah saya sedikit rendah mba, jadi dokternya menganjurkan istrahat yang banyak dulu,"
" Nak Tian juga kurang memperhatikan makannya, gimana gak sakit" Bu Titik ikut menimpali dari jok belakang.
__ADS_1
" Hehehe,, kayaknya butuh istri nih bu,," Pak Tian malah bergurau.
" Tuh yang disamping aja," Lanjut mba Susan.
" Kalo mau nyindir pas orangnya bangun mba dan sadar, orangnya benar-benar susah dapatin hatinya." Jujur Tian pada mba Susan.
Dan memang Rosa masih tidur, Yola yang sudah berpindah di pangkuan pak Tian pun terbangun namun makin mengeratkan pelukannya ke tubuhnya.
" Di resto sea food yang di depan kantor perpajakan aja ya mas, disana banyak pilihan makanannya, rasanya pingin makan udang bakarnya juga,"
" Siap," Dengan jempol tangan nya mas Pur siap menuju Resto tersebut.
Tak lama mereka tiba di parkiran Resto Sea Food terkenal di kota ini, dan kebanyakan mereka yang mengunjungi adalah orang-orang kalangan atas, dan terlihat kebanyakan mobil mewah terparkir rapi dan berjejer dengan berbagai jenis ada disana mungkin karena hari libur.
Mba Susan mengambil Yola dari Tian, dan Tian membangunkan Rosa dengan menyentuh tangan Rosa dengan lembut dan sedikit menggoyangkannya, membuat Rosa mengerjapkan matanya, dan segera mengumpulkan kesadarannya, terlihat Tian turun agar pak Ujang dan bu Titik bisa keluar dari mobil.
Tian berpindah ke arah pintu sebelah Rosa dan membukanya, terlihat Rosa masih bingung,
" Ko makan, gak jadi ke dokternya?"
" Udah,, makanya jangan tidur aja, yuk mereka udah duluan tuh "
Benar bu titik terlihat mengikuti dan masuk ke dalam Resto, Rosa turun setelah merasa sudah sadar sepenuhnya.
Mereka berjalan berdampingan, dan tangan Tian menggengam tangan Rosa dan membawanya mengikuti mas Pur dan mba Susan.
Masih ada meja kosong dan cukup untuk mereka, dengan sigap mba Susan meminta kursi untuk balita yang langsung di ambilkan oleh pelayan dan meletakkan di meja yang mereka pilih.
Rosa yang masih terlihat canggung dengan perlakuan seorang Heru Kristian di hadapan orang banyak hanya menundukkan wajahnya, apalagi saat mba Susan dan Mas Pur melihat, Rosa seperti masih malu dan dia berusaha melepaskan tangannya, namun genggaman semakin di eratkan oleh Tian, namun baik mba Susan dan mas Pur mereka malah tersenyum ke arah Rosa.
Akhirnya Rosa dan pak Tian duduk berdampingan, dan mereka memilih makanan di buku menu sesuai ke mauan masing-masing, terlihat mba Susan sedang membantu bu Titik dan pak Ujang untuk memilihkan makanan, karena baru kali ini ada yang membawa mereka makan di Resto.
__ADS_1
" Mbuuu,,, mau tama antel " Terdengar Yola bicara dengan kalimat cedalnya ke mba Susan.
" Uncle nya lagi demam,,nanti aja ya nak?"Mba Susan sedikit membujuk.
" Udah gak papa mba, Sini mari,," Tian langsung menjawab.
Mas Pur langsung berinisiatif memindahkan Yola bersama kursinya, bisa jadi kalo gak dituruti jadi menangis nantinya.
Setelah memilih menu makanan, mba,Susan menyerahkan ke pelayan Resto dan dengan ramah pelayan Resto meminta untuk menunggu pesanan dan segera di siapkan.
Tak menunggu lama pesanan pun datang, bermacam-macam menu terhidang disana, ada kepiting, udang, kerang, ikan bakar, gulai kepala patin bahkan masih ada menu yang lain, melihat itu semua mereka saling pandang seperti bingung kecuali pak Tian, siapa yang memesan segitu banyak?
" Udah,, dimakan saja, saya yang pesan ko" dengan senyumnya menjawab kebingungan mereka
Ditengah mereka menikmati makanan, ada tiga orang yang memasuki Resto dan mencari meja kosong, seorang laki-laki yang sangat dikenal mas Pur, dia Ben, dan dua orang wanita yang beda usia bergandengan tangan mengikutinya, terlihat wanita yang lebih muda bertubuh seksi dan bahenol, berpenampilan menarik dengan pakaian dan aksesoris yang mewah, siapapun yang melihatnya pasti tertarik, wanita itu menggunakan heels tinggi, dan wanita yang lebih tua juga terlihat berpenampilan wah, selain menggunakan pakaian yang mewah, dia juga memakai perhiasan mahal, sudah seperti toko mas berjalan saja, mas Pur yang terlebih dulu menyapa mereka karena Rosa dan Pak Tian membelakangi pintu masuk Resto tersebut.
" Eh pak Ben, kesini juga?"
" Oh,, mas Pur," Namun kalimatnya terhenti ketika melihat mantan istrinya,
" Kamu disini juga dek?" Sama terkejutnya dengan Ben, sampai Rosa menghentikan suapan ke mulutnya.
Ben melihat ada pak Tian juga disana, ada rasa cemburu dihatinya ketika melihat mantan istrinya bersama anak pemilik perkebunan tempatnya bekerja.
Rosa tak bisa menutupi keterkejutannya, tak menduga mereka bertemu dengan mantan suaminya di Resto ini, apalagi melihat kedua wanita yang tak jauh darinya, salah satu dari mereka adalah mantan mertuanya mama Ida, tapi walaupun sudah berstatus mantan Rosa mencoba bersikap baik dan sopan karena mama Ida adalah orang tua.
" Ma,, apa kabar? " Rosa berdiri dan sedikit membungkuk diraihnya tangan mama Ida hendak mencium tangannya, namun keburu ditepis membuatnya jadi pusat perhatian orang, Rosa menahan tangis karena merasa malu.
Pak Tian yang melihat Rosa diperlakukan seperti itu langsung menarik Rosa.
" Sudah duduk saja lanjutkan makananmu, tak perlu berlaku baik pada orang yang tak bisa memperlakukan kamu dengan baik juga" Rosa kembali duduk tapi dengan wajah menunduk terlihat ada buliran bening yang jatuh di pipinya.
__ADS_1