Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Ros, Bapak Rindu!


__ADS_3

Di suatu kota kecil di rumah milik orang tua Rosa terlihat pak Sagala sedang merapikan beberapa kandang ayamnya yang dindingnya sudah lapuk, dia sibuk menempel dengan papan bekas dan memakunya dengan gerakan lamban, dan terlihat sedikit menyeret kaki kanannya ketika mengambil sesuatu yang dibutuhkan, sejak tiga bulan terakhir mulai rajin melatih otot kaki dan tangannya untuk bergerak akibat sakit stroke yang dideritanya beberapa waktu lalu.


Pak Sagala sangat bersyukur stroke yang di deritanya bisa berangsur-angsur membaik walau kaki dan tangan kanannya masih terasa sulit untuk dibawa beraktifitas seperti saat ini, namun walupun demikian dokter yang menanganinya menyarankan agar selalu ber hati-hati setiap kali melakukan aktivitas, dan pola makan tetap harus dijaga, serta menghindari permasalahan berat yang memicu emosinya nanti menjadi tidak stabil.


Tak jauh dari tempat pak Sagala, Ibu Rosni sedang menampi beras bantuan yang baru tadi diambilnya dari rumah pak Kades, lumayanlah sangat membantu mereka dimasa-masa sulitnya sekarang, sejak pak Sagala sakit mereka kesulitan untuk biaya hidup, tiga bulan pak Sagala hanya bisa duduk di kursi roda, selama itu uang tabungan merekapun habis, bahkan mobil pickup yang selalu mereka gunakan harus terjual untuk pengobatan dan biaya hidup.


Mereka punya dua orang anak, Andre si sulung anak laki-laki mereka sudah berkeluarga dan menikah dengan wanita sesuku dengan mereka, namun si menantu lahir dan sudah menetap di Irian Jaya selama ini, mengingat kondisi mertuanya yang sudah sangat tua karena istrinya adalah anak bungsu sehingga Andre memutuskan sementara menetap ikut istrinya selama mertuanya masih hidup.


Mereka telah mendapatkan cucu dua orang dari pernikahan Andre dan sejak kelahiran cucu pertama kerabat dekat dan tetangganya memanggilnya Opung Yosen doli panggilan untuk kakek laki-laki disuku batak dan Opung Yosen boru untuk nenek, dan mereka sudah pernah berkunjung ke Irian Jaya ketika kelahiran Yosen dengan perongkosan dibantu oleh Rosa, karena sudah tradisi di mereka akan menyambut bahagia kelahiran cucu pertama dari anak laki-laki nya karena akan menjadi penerus untuk marga mereka.


Dan Rosa anak kedua mereka juga sudah menikah dan tinggal di salah satu Provinsi yang ada di pulau Sumatera, dan sudah memiliki sorang anak perempuan namun belum pernah bertemu karena tabungan belum cukup untuk berkunjung, sama dengan abangnya Andre menikah masih dengan satu suku dengan mereka, Rosa dikenal sebagai anak perempuan yang pintar dan cantik serta sangat menghormati mereka, pak Sagala sangat menyayangi putri satu-satunya, sejak Rosa masuk ke dunia kerja, tak sekalipun absen mengirimkan biaya bulanan pada mereka, bahkan membantu membelikan mobil pickup untuk mereka agar lebih mudah mengangkut pisang-pisang yang diambil dari langsung dari petani untuk dibawa ke pasar.


Namun keadaan berubah seratus delapan puluh derajat saat menantunya Ben memberi kabar yang memalukan, dengan mengirim beberapa poto yang meyakinkan mereka, membuat pak Sagala shock, dan tiba-tiba terjatuh di pasar berjarak tiga jam setelah Ben menelepon mereka jika hanya omongan mereka masih bisa saling menguatkan namun ada bukti foto saat mereka disidang diduga karena digrebek oleh keamanan" Itulah kabar yang di terima dari Ben menantu nya.


Mereka sangat marah mengetahui hal itu hingga memutuskan komunikasi bahkan dengan tegas memutuskan hubungan dengan putrinya, hingga sekarang mereka menghindari orang-orang yang menolong Rosa untuk bisa sekedar berbicara dengan mereka bahkan pernah menolak uang yang dikirimkan Rosa,membuat ponakannya Parulian merasa serba salah karena uang dikirim melalui rekeningnya.


Sementara Andre saat ini juga sedang dalam masa sulit di Irian Jaya, Istrinya baru sebulan melahirkan secara ceaser anak keduanya, dan mertuanya saat ini juga tinggal bersama mereka, sehingga keuangan sedang kurang baik dan tak bisa membantu meringankan kebutuhan sehari-hari pak Sagala dan bu Rosni, beruntungnya mereka masuk sebagai Lansia penerima bantuan beras sebanyak sepuluh kilogram setiap bulan dari Desa, dan ini sudah kali kedua bu Rosni menerimanya.


Sedangkan Rosa sejak menikah tidak pernah lagi memberi atau mengirim uang untuk mereka, yang sebelumnya Rosa rutin memberi dengan jumlah yang sangat cukup hingga mereka bisa membeli mobil pickup untuk menunjang usaha mereka di pasar.


" Opung Yosen, waktunya makan siang, udahlah lah, nanti lagi." Bu Rosni memanggil suaminya untuk segera menyudahi pekerjaannya.

__ADS_1


" Iya, sebentar juga udah selesai " Pak Sagala menyahut istrinya yang masih membersihkan beras di penampi.


" Kalo udah selesai, biar aku saja yang membereskannya, cepatlah makan biar makan obatmu" Bu Rosni sangat perhatian dengan suami yang sudah tiga puluh enam tahun hidup bersamanya, saat ini mereka hidup dengan memelihara Ayam kampung di belakang rumahnya, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan mereka walau terbilang paspasan, karena mereka selain sesekali menjual ayam mereka juga menjual telurnya rutin setiap hari.


Pak Sagala berjalan terseok-seok dengan kaki yang diseret, berulang kali dia berhenti menarik nafas demi mencapai pintu dapur, sangat prihatin memang kondisi yang mereka alami saat ini, namun mereka sepertinya sangat iklas menjalaninya.


Melihat suaminya yang sedang kecapekan segera disusul nya dan di bantunya untuk segera masuk ke rumah.


" Opung Yosen tak bisa di bilangi, sudahlah nanti aku suruh si Parulian membagusi kandang ayammu itu kalo main kesini."


" Kasian dia, kita susahi terus, aku juga mau latihan manatau bisa sembuh seperti semula." Pak Sagala memegang tangan istrinya yang membantunya berjalan.


" Iya, tapi harus pelan-pelan juga jangan terlalu di porsir."


" Opung, tahun ini kita kesepian lagi ya melewati tahun baru ini?" Terdengar menyimpan kesedihan dalam ucapan pak Sagala membuat istrinya merasa kasian.


" Udahlah opung, anak kita bapak Yosen saat ini tak bisa pulang, besan opung Yosen tinggal bersama mereka, mana lagi mama Yosen baru melahirkan oprasi, manalah ada duit mereka saat ini," Ucap bu Rosni.


Bu Rosni begitu setia menunggu suaminya hingga selesai makan dan terdengar suara pak Sagala sedikit parau.


" Rosa apa kabar ya?" Di akhir suapan nya terdengar nama anak perempuan nya di sebut.

__ADS_1


" Jangan ingat-ingat lagi, sukanya lah disitu, jangan dipikirkan dia sudah kuanggap gak ada dalam hidupku, kalo tidak karena kelakuannya yang memalukan, takan sakit kau seperti ini," Bu Rosni masih sangat marah setiap kali membicarakan Rosa.


" Aku rindu Rosa Opung Yosen, semarah apapun aku, rasanya tak bisa ku bohongi aku menyayanginya," Ucap pak Sagala sedih.


" Iyalah, makanlah obatmu ini, biar cepat kau sembuh." Bu Rosni memberikan obat dan segelas air putih.


" Tidurlah,, istrahat jangan dipikirkan apa yang tak perlu dipikirkan, anakmu sudah dewasa, sudah bersuami jadi dia sudah tau apa yang baik dan apa yang tidak harus dilakukan." Sepertinya mereka belum tau jika Rosa sudah bercerai dari Ben.


Pak Sagala menurut saja dengan ucapan istrinya, dia tau istrinya juga sangat merindukan Rosa, kadang tak sengaja dilihatnya termenung sambil memandangi poto wisuda Rosa yang terpajang di ruang tamu rumah mereka, tak jarang juga dilihatnya menangis saat mengerjakan pekerjaan rumah.


Di usia senja mereka seharusnya tak mendapatkan permasalahan rumit seperti yang saat ini mereka rasakan.


Ada buliran kristal jatuh dari sudut netranya, pak Sagala memalingkan wajahnya ke arah dinding agar istrinya tidak melihat, saat ini hatinya benar-benar sangat rindu pada anak perempuannya.


" Ros bapak rindu!" Pak Sagala hanya mampu berucap dalam hati takut istrinya mendengar.


Bu Rosni meninggalkan pak Sagala dengan membawa piring dan gelas bekas makan suaminya.


Ternyata bu Rosni juga menangis, di letakkan nya piring dan gelas tadi di ember tempat penyimpanan peralatan dapur yang kotor, di sekanya air matanya, dia juga merindukan putrinya, hanya saja dia begitu gengsi mengungkapkan perasaan rindunya itu ke pada pak Sagala.


" Dimanapun kamu Ros saat ini, mama doakan kamu selalu sehat bersama keluargamu," Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Bu Rosni sebenarnya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan putrinya, bahkan tak menduga Ros bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu, membuatnya sangat malu pada menantunya Ben, padahal setahunya dulu Ros anak yang baik dan penurut, namun bisa berubah kelakuannya setelah menikah dengan Ben.


__ADS_2