Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Mamak bahagia melihat klian seperti ini


__ADS_3

Pak Tian sangat panik begitu juga dengan bu Rosni dan mba Susan,


" Sa,,, Rosa,,, jangan gini dong, saaaa " Pak Tian masih menepuk-nepuk pipi Rosa, rasa paniknya pada Rosa terlihat dengan keringatnya mengucur dari jidatnya, mana orang-orang ikut berkerumun membuat pak Tian semakin gerah.


" Kamu angkat Rosa nya masukkan ke kamar" Mba Susan memberi saran." Bu dimana kamarnya?" Lanjutnya bertanya sama bu Rosni yang ikut panik sampai tak kepikiran untuk memindahkan Rosa yang masih pingsan.


Pak Tian mengangkat tubuh Rosa dan mengikuti arah yang ditunjukkan bu Rosni, kekamar Rosa dulu waktu masih tinggal bersama mereka, terlihat rapi, sepertinya sering dibersihkan, walau sederhana dengan ranjang yang di lapisi tilam kapuk, tapi dilapisi dengan spray yang bersih.


Diletakkannya Rosa disana, mba Susan memberinya minyak kayu putih dan mengoleskan di bagian hidung agar Rosa cepat sadar, bu Rosni juga sudah membawa segelas air minum, di tuangnya sedikit ke tangannya dan memercikkan ke wajah Rosa beulang-ulang hingga Rosa perlahan-lahan mengerjapkan matanya,


" Sa,,," Pak Tian mencoba memanggil namanya sambil mengoleskan menyak kayu putih ke hidung Rosa lagi.


" Hmmm,," Hanya gumaman yang keluar dari mulutnya, sementara matanya masih sembab akibat menangis tadi.


" Ros,, kamu baik-baik aja kan?" Mba Rosa juga sudah kelihatan lega melihat Rosa yang siuman.


" Maafkan mamak nak,," Bu Rosni mendekati putrinya membuat pak Tian sedikit bergeser memberi tempat buatnya.


" Mamak sudah terpengaruh sama cerita Ben, maafkan mamak ya sayang" Ucap wanita tua ini menangis sambil menggenggam tangan Rosa,


Terlihat Rosa kembali menangis sesenggukan,


" Mak,, aku juga minta maaf, Aku membiarkan bapak mamak kesusahan"


" Gak nak,, kau gak salah kami hanya diperdaya Ben, ternyata dia sudah menfitnahmu, menyusahkan hidupmu, benar kami yang bodoh, seharusnya kami bertanya langsung ke kau" Bu Rosni terisak-isak di samping Rosa.


" Aku sudah bercerai mak dengan Ben, aku tak bisa hidup dengan laki-laki lintah, aku tak mau Yola tumbuh dengan orangtua seperti Ben." Bu Rosni memeluk tubuh Rosa yang masih terbaring.


" Gak papa nak, Tuhan tau apa yang kita perlu, bukan apa yang kita minta, dan Tuhan tau apa yang terbaik, mamak sama bapak mendukungmu nak " Ucapan bu Rosni yang bijak membuat Rosa merasa lebih baik.


Tiba-tiba mas Pur masuk,,


" Bagaimana Rosa?" Mas Pur kelihatan masih panik tentang keadaan Rosa.


" Iya mas, aku gak papa" Rosa tersenyum ke arah mas Pur.


" Syukurlah Sa, kamu sudahlah udah siuman" Ucap mas Pur lega.


" Sa, lain kali jaga emosimu ya, buat apa kami ikut kesini kalo toh kamu kami biarkan juga menyelesaikan sendiri masalahmu," Dengan lembut mas Pur menasehati Rosa agar Rosa tidak tersinggung.


" Maaf mas,, aku tadi gak bisa kontrol diri" Ucap Rosa menyesali.


" Udah istrahatlah, semua udah panik kau buat, tuh Tian hampir mati kau buat sakin paniknya" Mas Pur terkekeh membuat pak Tian salah tingkah.

__ADS_1


" Gak segitunya jugalah mas" Ucap pak Tian tapi dengan senyuman manis, melihat Rosa yang sudah sadar dia terlihat sangat lega rasanya jantungnya hampir copot baru kali ini sepanik tadi.


" Kayaknya klian belum makan," Bu Rosni seperti ingat sesuatu.


" Hehe iya bu, lapar ini," Mas Pur tanpa sungkan menjawab bu Rosni.


" Tapi gak ada makanan di dapur" Ucap bu Rosni sedih.


" Di dekat sini aja warung makan tidak, biar dibeli saja, soalnya kalo nunggu masak dulu ini udah jam setengah dua" Ujar mas Pur.


" Oh ada, cuma sedikit jauh dari sini kalo jalan kaki mungkin butuh waktu" Kata bu Rosni.


" Kita ada mobil bu,, kasian istri saya juga lagi hamil," Lanjut mas Pur.


" Ohhh, maaf nak, ibu tak tau, aduh kasian anakku," kata bu Rosni sambil mengelus-elus pundak mba Rosa.


" Ibu ikut saya aja, bapak kan belum makan, biar ibu bisa pilihkan makanan apa yang bisa bapak makan juga, tenang aja Tian ada yang menanggung hidup kita selama disini" Mas Pur mulai jahil ke pak Tian.


" Hahaha,,, mas Pur jangan gitulah" Pak Tian ikut terkekeh.


" Gak sah yan, masih ada ko, tapi bisa juga dikasih buat nambah-nambah" Membuat pak Tian makin tertawa,


" Pergilah mas, nanti aku tf ya sama mas"


Setelah mas Pur dan bu Rosni keluar tak lama pak Sagala masuk dengan tertatih menyeret kakinya, pak Tian yang melihat langsung membantu pak Sagala dan mendudukkan di kursi plastik yang ada di kamar Rosa.


Melihat kedatangan bapaknya Rosa bangun dari tempat tidurnya dan langsung merendahkan tubuhnya memeluk pak Sagala yang sudah duduk dikursi.


" Pak,, maafkan aku ya, buat bapak seperti ini"


Ada senyum terlihat dari sudut bibir pak Sagala, dielus nya lagi kepala Rosa dengan tangan kirinya, cukup lama Rosa memeluk bapaknya, ada tetesan bening keluar dari sudut mata Rosa.


" Bapak gak papa, bapak lega mendengar apa yang sebenarnya terjadi, ternyata putri bapak masih anak yang baik,, bapak juga tak percaya putri bapak melakukan hal serendah itu," Ucap pak Sagala mengelus kepala Rosa.


Rosa mencium pipi pak Sagala mengungkapkan kerinduan dihatinya.


" Pak,, ko sepi, kemana itu? "


Mba Susan mempertanyakan keberadaan Ben dan keluarga nya.


Terlihat Rosa melepaskan pelukannya, sepertinya ingin tau juga kemana Ben pergi, sementara Yola yang sejak tadi tertidur di pelukan mba Susan perlahan meletakkan Yola di ranjang.


" Tadi di bawa kerabat yang mewakili keluarga mereka dulu saat pernikahan Rosa, tapi malam ini akan berkumpul lagi disini untuk memberitahukan ke warga kalo Ben dan Rosa sudah bercerai." Ujar pak Sagala.

__ADS_1


" Loh, kok dipertemukan lagi pak?"


" Ohh, itu tradisi di kampung kami ini nak, gak boleh asal-asal cerai seperti itu, walau sudah dah di negara, mereka kemaren menikah dari adat, jadi cerai harus di ketuhui pemuka adat juga nak, jadi seandainya besok-besok Ros nikah bisa lagi di kasi adat." Pak Sagala menjelaskan.


Pak Tian yang mendengar seperti mendapat angin segar, saat pak Sagala memberi tahu jika Rosa bisa menikah lagi kalo sudah diketahui pemuka adat.


Dasar pak Tian yang sepertinya sudah ngebet mau naik pelaminan, terlihat senyum-senyum ke arah ma Susan, membuat mba Susan geleng-geleng kepala.


Terdengar suara deru mobil diluar, mas Pur sudah sampai bersama bu Rosni, ada seorang pemuda juga ikut bersama mereka.


Pak Tian menuntun pak Sagala keluar dari kamar Rosa diikuti Rosa, sementara mba Susan masih meletakkan bantal disisi Yola, dan setelah merasa aman baru ikut keluar dengan perut yang mulai keroncongan.


" Parulian,,," Rosa seperti mengenal pemuda yang bersama mamaknya.


" Hai Ka,," Mereka berpelukan,


Parulian adalah adik sepupu Rosa, anak dari adik pak Sagala yang sering membantu pak Sagala.


" Ko banyak mas" Mba Susan yang bertanya lebih dulu.


" Iya, kami borong jualan mbanya tadi, sampe mba yang jualan meminjamkan termos nasinya," Mas Pur terlihat semangat dengan bawaannya.


" Terus ini gak bisa kita habisin loh,," Mba Susan masih protes.


" Sayang semua udah lapar, anak mas yang didalam juga, dari tadi udah bisik-bisik ke mas, katanya ayah laparrrrr " Menbuat Rosa tertawa cekikikan, mas Pur emang gak ada segan-segannya.


" Udah ayo makan semua,," Bu Rosni kelihatan lebih bahagia dari awal mereka bertemu.


Bu Rosni menngelar tikar di tengah ruangan, mengangkati piring dan cuci tangan dibantu Rosa dan Parulian, terlihat mas Pur mengangkat Aqua gelas dibantu pak Tian, sementara mba Susan memindahkan berbagai macam lauk ke piring dan mangkok, ada rendang, gulai ayam, ikan gurame goreng, bila bakar, gembung goreng, ada juga sambal balado, sangat menggiurkan lidah mba Susan.


Mereka duduk bersila mengintari makanan, bu Rosni menyendok nasi ke piring dan membagikannya satu-satu, setelah berdoa sesuai kepercayaan masing-masing mereka menyatapnya dengan semangat, bu Rosni mendahulukan pak Sagala, menyiapkan nasi dan memilih sepotong gurame goreng untuk lauknya.


Pak Tian yang baru kali ini makan tanpa sendok terlihat seperti sudah biasa menyuapkan makanan ke mulutnya, terasa nikmat, bahkan sudah dia kali tambah, dia begitu menikmati makannya dikelilingi orang-orang yang penuh kasih sayang.


Tak terkecuali mba Susan, nafsu makannya berubah dari sebelumnya, ketika melihat sambal balado beulang-ulang di tuangnya ke piringnya, membuat mas Pur tersenyum.


" Pelan sayang,, masih banyak" Ucap mas Pur pada mba Susan.


" Hehe,, enak mas, nanti belik lagi ya!"


" Iya,, apa yang gak untukmu" Membuat mba Susan mengerucutkan bibirnya ke arah mas Pur, bukan marah, karena matanya terlihat berbinar.


Ternyata makanan yang banyak tadi hampir habis juga, tak Rugi memborong makanan itu dari warung sederhana masakan Padang satu-satu nya di kampung pak Sagala, tadi mas Pur membayarnya langsung satu juta yang membuat bu Mirah terkejut, sehari-hari mendapat separuh dari yang di beri mas Pur itu penjualan paling banyak, tapi kali ini diberi berlebih membuat hatinya sangat bersyukur.

__ADS_1


" Mamak bahagia melihat klian seperti ini,," Bu Rosni terharu melihat kebersamaan yang belum pernah di lewati bersama menantu-menantunya.


__ADS_2