
Rosa tak menyadari ketika aku mengikutinya ke arah wastafel bersamaan saat Rosa menghidupkan kran air dengan berjuta keyakinan kupeluk dia dari belakang, kuletakkan daguku di pundaknya, aku memintanya untuk diam saja, dan ku ungkapkan semua yang ada dalam hatiku, tentangnya yang telah lama kucintai karena papaku, iya cerita papaku, cerita yang membuatku memikirkannya setiap waktu, ku ungkapkan semua perasaanku tentang sakitnya aku melewati semua dengan hayalanku sendiri betapa aku mencintainya, merindukannya.
Air mataku ikut luruh bersama perasaanku, aku begitu menginginkannya dan tak ingin melepaskannya, dia begitu berharga, aku ingin mengobati rasa kecewa ku saat kutau ternyata dia dimiliki orang lain, ingin ku katakan aku ingin mengulang kembali semua dari awal agar aku lebih dulu memilikinya.
Kutau Rosa terkejut dengan pengakuan ku, tentang perasaanku, dan tak menduga jiga aku akan memeluknya dan mengungkapkan rasa cinta dan rinduku.
Rosa, dia memintaku memanggilnya Rosa,, yang sebelumnya selalu kupanggil Ros, juga oranglain bahkan papaku sendiri, dan Heru,, nama depanku itu nama panggilan yang diminta dariku, Rosa beralasan, dia menginginkan kehidupan kami lebih baik setelah melewati banyak masalah selama ini.
Ternyata kehidupan yang dilewati tidak baik-baik saja, tidak semudah yang aku pikirkan, kehidupannya yang menderita karna tidak diperlakukan dan dinafkahi Ben dengan baik, bahkan dengan mudahnya memfitnahnya sehingga orangtua dan saudara membuangnya.
Begitu banyak yang telah kami lewati, saat ini aku hanya ingin bersamanya, aku memintanya bahkan cenderung memaksa untuk menerima cintaku, aku tau tidak sepenuhnya hatinya menerimaku, aku tidak peduli karna aku akan membuktikannya sendiri, saat ini aku hanya ingin melindungi mereka, memberikan cinta yang sebenarnya bukan cinta untuk memanfaatkan.
Aku memeluknya, dan merasa sangat bahagia saat cintaku diterima, tak kusadari air mata ku ikut jatuh karena rasa bahagiaku, aku berjanji akan menepati semua ucapanku, aku akan membahagiakannya juga Yola, karena sekarang mereka adalah bagian dari hidupku setelah papa,mama dan adik-adikku.
Rosa begitu canggung saat aku mengambil alih menyelesaikan cucian peralatan makannya, aku tau dia merasa tak enak dengan perlakuan manisku, kubiarkan dia melihatku menyelesaikannya.
Sempat dia meminta pulang, karena hujan sudah berhenti namun dia terkejut jika waktu sudah menunjukkan jam tiga, sehingga mau tak mau dia menginap di Paviliun,
Buru-buru Rosa pergi ke kamar meninggalkanku,dan segera masuk menutup pintu, terdengar suara pintu di kunci dan selang berapa detik terdengar lagi ada suara kursi yang diletakkan di pintu, membuatku tersenyum mungkin dia takut aku masuk ke kamarnya saat dia tertidur.
Kumasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar yang sedang ditempati Rosa dan Yola, dan kubaringkan tubuhku di tempat tidur yang selalu di tempati papa mama jika berkunjung ke perkebunan, aku masih memikirkan Rosa mengingat kembali apa yang terjadi di dapur barusan, tak bisa ku bohongi diriku sendiru jika Rosa saat ini masih ada di pikiranku, aku tersenyum ingin rasanya malam segera berlalu, aku ingin kembali bertemu dengannya.
__ADS_1
Tak kusadari aku tertidur, dan terbangun ketika terasa badanku tak enak serasa sendi-sendiku mau copot, aku mengambil minyak kayu putih di nakas, dan mengoleskan nya di pundakku sambil sedikit memijit nya namun kurasakan badanku panas, aku turun dan mendapati bu Titik sedang mengolah makanan untuk pagi ini, ternyata sudah jam lima pagi, aku menuju Dispenser dan mengambil minuman panas separuh dan ku campur dengan yang dingin, sehingga minuman itu jadi hangat dan segera ku minum, dan aku kembali lagi ke kamar dan mencoba istrahat dan memejamkan mataku.
Aku terbangun saat ada yang memanggilku, dan terasa meletakan telapak tangannya di keningku,
" Loh kok bapak bisa demam, tadi masih baik-baik saja, bapak sudah minum obat?" kulihat kepanikan di wajahnya, ternyata dia kuatir padaku, aku tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala saja, membuatnya buru-buru turun lagi ke bawah meninggalkanku.
Tak lama dia datang membawakan semangkuk bubur untukku dan obat yang kulihat di tangannya.
Ada saja drama yang ku ciptakan ketika bersamanya, seperti saat dia memintaku makan bubur agar bisa minum obat, kutau dia kesal namun dengan cara menggodanya aku sedikit bisa mengatasi kecanggungan nya terhadapku, yang masih saja seperti atasan dan bawahan di kantor, namun kutau itu dilakukan mungkin hanya ingin menjaga dirinya agar tidak terlalu berlebihan di mataku, tapi sangat membuatku semakin kagum akan pribadinya.
Tidak sampai disitu, saat aku sudah selesai makan dan minum obat, dia memintaku untuk segera istrahat namun aku memintanya mencium ku, membuatnya menarik nafas dalam-dalam karena kesal, namun tetap dilakukannya, aku seperti anak kecil saat itu, tapi sangat kunikmati ternyata punya istri itu sangat enak ya?
Dia pergi meninggalkanku dengan alasan belum mandi, dan aku tak bisa menahannya.
Kuturuni tangga dengan sedikit malas, kutemukan Yola sedang tertidur di sofa dengan memeluk boneka panda yang ku belikan kemarin, bu titik terlihat sedang menyapu di teras depan, ku hampiri bu Titik dan langsung bertanya keberadaan Rosa.
" Nak Tian udah baikan?, oh bu Ros tadi pulang belum balik lagi kesini, katanya mau mandi dan beberes dulu "
" Sedikit lebih baik bu, tapi masih harus ke dokter, sepertinya parasetamol gak cukup sekarang ini" Aku duduk di sofa dekat Yola.
Ketidak beradaan Rosa membuatku serba salah, sebentar-sebentar ke dapur, balik ke depan, keluar setiap ada suara motor yang lewat, membuatku seperti orang yang stres karena bosan menunggu
__ADS_1
Disaat kebosananku datang lagi, Yola pun bangun dan menyapaku yang sedang termenung bosan menunggu Rosa.
" Antel,,"
Ku palingkan wajahku ke arah suara yang memanggilku, kutemui balita yang sudah membuatku jatuh cinta sudah duduk dengan wajah bangun tidurnya,, ku hampiri dan ku peluk, ku ciumi pucuk kepalanya,
" Antel mam? " Sedikit berusaha melepaskan pelukanku, dan meletakkan tangan mungilnya di keningku, mungkin dia merasa risih dengan suhu badanku yang sedikit hangat.
" Hmmm,, tapi cuma sedikit, nanti temani uncle ke dokter ya!" Dan kuberikan senyum terbaikku untuknya, dan gadis kecil itu pun mengangguk.
Kuajak dia bermain, dengan lincah dicarinya mainan yang kuberikan dan membawanya ke teras, bu Titik mengelar tikar kecil disana dan segera di buatkan teh hangat untukku saat dilihatnya aku sudah duduk di kursi santai menemani Yola bermain.
Tak lama bermain yang kutunggu datang bersama mba Susan, hatiku bergetar melihatnya, membuat mataku sulit berpaling, penampilannya yang sederhana membuatku sedikit tergoda, akkhh,, benar-benar gila aku dibuatnya, kubiarkan mba Susan melepas rindu bersama Yola setelah aku menyapanya, tanpa memberi kesempatan duduk pada Rosa langsung ku tarik ke dalam ingin rasanya ku peluk dan kuciumi wanita yang membuat otakku tak berhenti memikirkannya, namun dia hanya tertawa saat kukatakan aku merindukannya.
Sukses membuatku jadi orang hampir stress, dia bisa menyimpan perasaan nya, dan menganggap semua seperti biasa-biasa saja.
Dia memaksaku makan di siang ini, namun aku menolak minum obat tapi akan langsung ke dokter, karena aku tak ingin menahan demamnya lama-lama hanya dengan minum parasetamol, Rosa tak bisa memaksaku lagi.
Aku mengajak bu Titik, pak Ujang dan mba Susan ikut serta, agar Rosa tak menolak untuk ikut, pak Pur kuminta mengemudikan Mobilku, agar mba Susan mau menemani Rosa apalagi suaminya yang mengemudi, kami terlihat seperti satu keluarga jika dilihat sepintas mata.
Drama, tak lepas dari proses keberangkatan kami, sepertinya Yola menjadi pemersatu kami, dan mendukung kami untuk bisa selalu bersama, bahkan dia memintaku untuk bersamanya dan juga bersama mamanya, membuat mamanya menarik nafas panjang lagi karena kesal.
__ADS_1
Aku tersenyum penuh kemenangan, sepanjang perjalanan dia hanya bisa diam dan pasrah untuk duduk disampingku selama satu setengah jam perjalanan, namun disisi lain dia juga tak bisa dan sulit menolak kemauan putri semata wayangnya.
Tak banyak kata yang terdengar dari Rosa, terkadang dia ikut tersenyum ketika ada cerita yang lucu yang kami ceritakan bersama pak Pur, sedang Yola sudah nyenyak lagi di pangkuan ku mungkin merasa nyaman atau kurang puas saat tidur di sofa tadi.