
Peserta rapat yang mengenal Ros mengira dia kembali bekerja,namun pak Heru Kristian mengira dia adalah sekretaris yang akan membantu pekerjaannya,namun hanya pak Amir yang tau saat ini yang sebenarnya.
Memang benar rapat kali ini adalah perkenalan saja,ternyata pak Heru Kristian adalah anak dari pemilik Perkebunan yaitu pak Musa,pantas Ros merasa familiar dengan wajahnya,karena selama bekerja pak Musa dulu sering berkunjung ke perkebunan jadi ada beberapa orang yang dekat dengannya termasuk Ros,namun Ros tidak terlalu tau tentang keluarga pak Musa,dulu pernah bawa istrinya berkunjung namun hanya sebentar,dan tak ada yang tau anak pak Musa ada berapa.
Dari perkenalan tadi pak Tian memperkenalkan dirinya adalah anak pertama dari pak Musa dari tiga bersaudara yang saat ini berusia 29 tahun,dan saudaranya yang kedua dan ke tiga adalah perempuan,dan selama ini pak Tian berada di Luar Negeri tepatnya di Amsterdam Belanda,kuliah dan sudah beberapa tahun terakhir bekerja disana,berhubung pak Musa papanya sakit setahun terakhir,pak Tian diminta pulang untuk mengelola perkebunan sawit mereka,karena perkebunan ini termasuk luas sekitar 25.000 ha dengan pabrik pengolahan kelapa sawit di dalamnya,dan dengan pertimbangan yang sangat panjang Tian memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja,namun dia begitu buta dengan perkebunan,sehingga dia benar-benar berharap ada kerjasama yang baik dan membantunya dalam tanggungjawabnya saat ini.
Ros lega setelah rapat usai,sebelum keluar dari ruang rapat,segera dia bereskan berkas-berkas rapat tadi,tak banyak yang dibahas,beberapa point-point penting saja,mungkin rapat selanjutnya akan ada pembahasan yang lebih mendetail.
"Bu,,tolong hasil rapat hari ini segera ibu print kan ya!" Ros menoleh ke arah suara itu,ada rasa kesal dihatinya ketika menerima perintah kerja dari pak Tian.
Ros dan pak Amir keluar dari ruang rapat yang sudah ditinggalkan peserta rapat lainnya,mereka melewati Ben yang sedang menerima telepon,entah siapa yang ditelepon Ros tak tau.
Tiba di ruangan pak Amir Ros meletakkan map yang berisi berkas dan hasil rapat tadi secara kasar di meja,dan menghepaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu,bukan dapat rekom malah disuruh kerja,
"Sini laptop bapak biar saya ketik hasil rapat tadi,biar langsung di print!"
Pak Amir pun langsung memindahkan laptopnya ke meja tempat Ros meletakkan berkas tadi,dengan senyum,dia bersyukur Ros bertanggung jawab menyelesaikan apa yang diperintahkan ke dia,walau pak Amir melihat Ros sedikit kesal,tapi itulah Ros yang tidak mau tanggung-tanggung jika membantu.
Hanya butuh 15 menit hasil rapat tadi sudah selesai dan rapi siap untuk di print,Ros menyerahkan ke pak Amir untuk di cek ulang,setelah dirasa sesuai hasil rapat pun di print.
"Tunggu ya bu,saya antar ke ruangan pak Tian dulu,ibu tunggu disini,biar saya yang bicara ke pak Tian,semoga pak Tian mengerti."
"Baik pak,"
Ros menoleh ke arah jam dinding yang ada dibelakang meja pak Amir,sudah jam 11 siang,ternyata sudah 3 jam dia di kantor itu,tak terasa melewati waktu 3 jam,jika tadi dirumah dia bisa bosan sendiri,dan bisa berulang-ulang mengerjakan pekerjaan yang satu,mungkin karena sudah terbiasa sibuk bekerja,membuatnya jenuh jika hanya dirumah,dan sungguh pencapaian luar biasa dia bisa hanya jadi ibu rumahtangga selama setahun lebih.
Sudah hampir 30 menit pak Amir belum kembali,Ros mulai gelisah,diambilnya handponnya dari tas,mencoba menelp pak Amir,
Drrrttt,drrrttt,drrrttt,,
Ros bertambah kesal ternyata HP pak Amir di tinggal di meja,,ditengah kekesalannya menunggu,
"Maaf Bu,menunggu lama,tadi Pak Tian ngecek hasil rapat tadi,beliau memuji ibu,tapi.." Pak Amir sedikit menjeda kalimatnya "ibu di minta untuk kembali bekerja lagi,biar lebih jelas beliau meminta ibu ke ruangannya!"
Mendengar itu Ros tambah kesal,habis sudah kesabaran nya,,"saya kesini meminta rekom saya pak,bukan mau bekerja"Ros mulai menaikkan suaranya karena kesal.
"Maaf bu,,tadi bahkan saya sedikit cerita tentang ibu yang pernah bekerja sebagai salah satu staf disini dan saya juga bercerita apa yang ibu alami beberapa hari ini dengan pak Ben,maaf sebelumnya saya sudah lancang,tapi saya hanya ingin dan berharap beliau mengurungkan niatnya meminta ibu bekerja kembali".
__ADS_1
" Ya sudah saya ke ruangannya saja,," Ros berdiri dan beranjak pergi keluar dari ruangan pak Amir,karena takan selesai-selesai jika hanya melalui pak Amir jadi perantara.
Pintu ruangan pak Tian terbuka setengah,karna kesal Ros tidak mengetuk lagi,dan langsung saja masuk,
"Permisi pak,boleh saya duduk",tanpa mendengar persetujuan dari pak Tian Ros menarik salah satu kursi di hadapan pak Tian dan duduk.
Pak Tian bukannya marah tapi malah tersenyum melihat kekesalan Ros,,
" Langsung aja pak,saya disini hanya sedang mengurus surat rekom saya yang belum sempat saya urus,saya membutuhkannya karena saya akan meninggalkan perkebunan ini,dan saya tidak berniat sama sekali untuk bekerja lagi,jadi mohon bapak mengerti,"
"Kalo saya yang meminta langsung kepada ibu untuk bekerja lagi gimana?saya bisa menaikkan gaji ibu dari gaji terakhir ibu bekerja,atau ibu bisa menyebut berapa ibu mau".pak Tian memberi penawaran.
" Saya tetap menolaknya,"Ros tegas tetap dengan pendiriannya.
"Saya akan kasih ibu waktu untuk berfikir menimbang-nimbang tawaran saya,karna saya sudah tau sedikit banyaknya masalah yang ibu alami akhir-akhir ini,dan dari riwayat ibu bekerja disini,ibu punya prestasi yang baik,dan sangat berperan banyak dalam kemajuan perkebunan kita ini,dan seingat saya ibu pernah di ceritakan papa saya,sebagai karyawan yang punya loyalitas tinggi dalam bekerja,mungkin jika ibu tidak meninggalkan kesan yang baik dulu,saya pun berfikir untuk meminta ibu bekerja kembali,dan untuk permasalahan ibu saat ini,saya memberi waktu untuk menyelesaikan masalah ibu dengan pak Ben"
Ros menarik nafas dalam-dalam,mau marah karna kesal,kawan bicaranya aja santai-santai aja,malah tersenyum manis,membuat Ros luluh jadi diam,,
"Saya harus pulang,sudah terlalu lama ninggalin anak sama tetangga,,permisi pak!".Ros berdiri dan pergi dengan kekesalannya,berusaha menghindari pak Tian,percuma saja dia lagi kesal,ditawari pekerjaan,ya setengah hati dong,tujuannya hari ini malah zonk.
" Datang lagi ya bu nanti jika tawaran nya diterima!" Pak Tian masih dengan senyuman dan harapan Ros bisa berubah fikiran dan menerima pekerjaan dari pak Tian.
Pak Tian pun hanya tersenyum melihat Ros pergi.
Setelah Ros pergi dari ruangannya,pak Tian meraih HP nya,dan mulai melakukan panggilan ke orangtuanya di Ibu kota,,tak lama dari seberang terdengar suara mamahnya,
"Iya,halo...apa kabar sayang,ko baru nelponin mama?gmn disana,?"
"Halo mama,lama-lama disini bisa-bisa anakmu yang tampan ini gak nikah-nikah,kalo buat bulan madu mungkin tempatnya pas disini,,,"mama Maria yang mendengar pun tertawa kencang,
Entah apa saja yang dibicarakan ibu dan anak ini,ada aja topik bahasan mereka jika teleponan bahkan saat bertemu.
" Papa dimana ma?"
"Ada dikamar,mau ngobrol ya sama papa?"
"Hmmm,,"
__ADS_1
"Ntar mama ke kamar dulu,,!"
"Pah,,,ini nih Tian telepon."
Tak menunggu lama,
"Halo Tian,,"
"Halo papa,,apa kabar,udah baikan belum,,?"
"Sehat anak nakal,,kapan kamu nikah?"
"Syukur lah sehat,biar cepat balik ngurus kebun papa ini,biar aku nikah,gak ada anak gadis di kebun,aku mau cari yang seksi,,tega papa buat anak menderita disuruh masuk kebun,yang dilihat gak ada,atau sebatas cuci mata,,"
"Anak kurang aja*,,gak punya ahlak,waktunya kamu itu meneruskan perusahaan yang papa bangun dari nol,tinggal meneruskan mengelola dengan baik,itu demi kamu,adik-adikmu,," Yang diajak bicara hanya tertawa terbahak-bahak.
"Eh papa,,,udah marahnya,nanti cepat tua loh,hayo gimana kalo mama cari yang baru..."
"Emang ya ni anak gada sopan-sopannya bicara",,,pak Musa geleng-geleng kepala punya anak ko gak ada kalem-kalem nya.
" Pa,,,"
"Ya..."
"Papa kenal Ros kan?"
"Iya Rosa,,,papa dengar dia udah berhenti tapi masih tinggal disitu ngikut suaminya,,papa lupa nama suaminya,,!"
"Huhhh,,,papa tak ngomong kalo Ros udah nikah,ini anak papa yang tertampan sejagat raya sebenarnya selama ini penasaran sama yang namanya Ros,malu bertanya,makanya mau terima perintah kerja papa masuk kebun,,"
"Hahahahaha,,," Tak diduga nya ternyata anaknya mengagumi sosok Ros,pak Musa tertawa
"Hahhhhh,,cantik sih,sopan,pintar,sigap,bertanggung jawab daaannnn ternyata sudah punya anak satu,tapi mirisnya dengar-dengar dia mau cerai"Tian mengacak-acak rambutnya,kali ini entah apa yang di pikirannya.
"Kenapa,,,?"
Tianpun bercerita tentang Ros saat ini,,tentang kejadian Rapat tadi pagi yang mengira Ros sekretaris yang dicarikan HRD untuknya,sampai Ros ikut rapat bersamanya,pak Musa yang dengar cerita Tian pun tertawa,merasa kalo dirinya menurun ke Tian,karena dulu mama Maria juga seorang janda sebelum bertemu pak Musa,walau status janda namun mama Maria adalah wanita baik-baik dan pantas menerima cinta seorang Musa yang tulus,dia janda karena bercerai dengan suaminya karna kasus KDRT,namun demi mendapatkan cinta mama Maria pun penuh perjuangan,karena Mama Maria yang trauma dengan pernikahan,dan dari pernikahan yang pertama mama Maria tidak memiliki anak.
__ADS_1
Pembicaraan mereka pun terhenti saat waktunya pak Musa istirahat,mengingat kesehatannya belum pulih total.