
Closing tahunan akhirnya selesai juga walau sudah jam dua dini hari, Pak Tian memuji kekompakan staff nya dan menyelesaikannya sesuai target yang diberikan.
Rosa diantar pak Tian pulang dengan menggunakan motor, sementara motornya di tinggal di parkiran kantor.
" Peluk aja," Saat pak Tian mengidupkan motor.
" Hmm,, gak harus kan?" Rosa sepertinya enggan.
" Aku ini pembalap loh Sa,,, peluk dong" Ditariknya tangan Rosa sebelah kiri dan meletakkannya di perutnya, mau tak mau akhirnya Rosa memeluknya, disandarkan kepalanya dipunggung pak Tian, terasa hangat, sementara pak Tian tersenyum mendapatkan pelukan dari Rosa dan mulai menjalankan motornya.
Tak lama mereka sampai dirumah Rosa, namun sebelum pintu terbuka tiba tiba lampu padam, telihat gelap dimana-mana, bahkan Rosa belum sempat membuka pintu, dengan sigap pak Tian menghidupkan senter di HP nya, di temani Rosa mencari lampu cas yang biasa di pakainya saat mati lampu dan ditemukan tergantung didalam kamar.
Rosa menghidupkan lampu cas nya, dan terlihat tidak terlalu terang, dengan kesal diletakkan lampunya di atas nakas.
" Lupa ngecas lagi " Dengan kesal Rosa mendaratkan tubuhnya kasar di kasur empuknya yang kalah besar dari tempat tidur pak Tian.
" Kayaknya Genset nya rusak, semua perumahan lampunya padam ko." Ujar pak Tian.
" Bikin kesal aja, mau cari apa-apa jadi susah" Rosa masih dengan kekesalannya.
" Mau cari apa?" Pak Tian dengan senter hpnya mencoba mengarahkan ke langit-langit kamar dan meletakkannya di atas nakas, dan terlihat sudah lebih terang.
Pak Tian mendekati Rosa dan duduk berdampingan dengannya, di tariknya tubuh Rosa lebih dekat lagi, degup jantung keduanya berdetak tak beraturan, dan tak diketahui siapa yang mulai mereka sudah saling berpagutan, saling bebalas ciuman, hingga nafas mereka saling memburu, pak Tian makin berani, tanpa melepaskan ciumannya menarik blazer Rosa hingga terlepas, mereka kembali saling bercumbu, hingga tak menyadari tubuh mereka hampir polos, tubuh Rosa hanya bersisa segitiga pengaman menutup sepetak lahan berharganya, dan gunung kembarnya yang sangat indah begitu menantang sejak bra nya terlepas entah kapan sementara Pak Tian tak jauh berbeda dari Rosa hanya menggunakan dalaman boxer yang ketat sehingga memperlihatkan aset miliknya yang menegang siap untuk di tancapkan, Rosa yang sudah pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri dan sudah lama tidak tersentuh begitu sangat menginginkan nya kembali hingga tubuhnya mengeliat ketika tubuhnya dicumbui, bahkan kedua pucuk gunung kembarnya sangat menegang karena menginginkan yang lebih lagi dari sekedar cumbuan.
Sama dengan pak Tian, dirinya juga begitu tidak terkontrol, sementara miliknya sudah sangat mengeras dibalik celana boxernya yang ketat, Rospun merancau tak jelas sepertinya menginginkan agar segera mendapatkan sesuatu yang lebih dari cumbuan pak Tian,,
" Her,,lakukanlah, aku menginginkannya, pliss her, aku mau kamu melakukannya untukku, tolong her " Rosa makin tak terkendali apalagi tanpa sengaja tangannya menyentuh milik pak Tian yang mengeras sempurna, mendengar rancauan Rosa pak Tian tersadar tiba-tiba menghentikan cumbuannya dan sedikit meregangkan jarak dari Rosa, pak Tian menjambak rambutnya sendiri.
" Maafkan aku Sa,,,seharusnya tak sejauh ini!" Diantara keinginannya yang sudah di ubun-ubun sama seperti Rosa, dan tinggal selangkah lagi mereka akan melakukan penyatuan.
__ADS_1
Rosa terdiam, sedikit demi sedikit pikirannya mewaras, diperhatikan tubuhnya dan tubuh pak Tian yang hampir polos, Rosa seperti panik dan buru-buru duduk di tengah ranjangnya dipeluknya lututnya dan menangis.
" Kenapa aku sampai sejauh ini her,, kenapa kamu tak menamparku tadi agar aku lebih awal sadarnya." Rosa menangis membenamkan wajahnya di kedua kakinya yang dipeluk.
" Aku yang salah Sa,, ini salah aku, tapi sungguh kita tak sampai melakukannya, dan aku janji tidak akan mengulangnya lagi, maafkan aku Sa!" Pak Tian sangat merasa bersalah.
" Aku juga salah her,, seharusnya aku bisa menahannya, aku hanya mengikuti nafsuku yang sudah lama tak tersentuh, aku malu her, aku malu padamu, aku malu saat tubuhku kamu lihat seperti ini." Rosa tersedu begitu sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya, selama ini dia begitu menjaganya agar tidak sejauh ini, diusap nya air matanya namun di benamkan lagi, Rosa tak sanggup memandang pak Tian walau dibawah pencahayaan senter HP dan lampu cas yang tidak terlalu terang.
" Aku akan mengambil pakaianmu" Pak Tian turun dari kasur Rosa dan menuju lemari pakaian, dengan penerangan seadanya di carinya pakaian tidur atau pakaian rumah Rosa, tangannya terhenti di susunan daster Rosa, tanpa memilih ditariknya daster itu dari susunannya yang rapi dan memberikan ke Rosa untuk di pakai.
Rosa mengambilnya dan langsung memakainya, terlihat pak Tian juga memakai pakaiannya yang berserak dilantai.
" Sa,,, aku pulang ya, maaf atas kejadian tadi,," Rosa tak menjawab namun diikutinya pak Tian dari belakang untuk mengantarkan ke pintu depan.
" Her,," Rosa menghentikan langkahnya sebelum mereka tiba di pintu.
" Ya,, aku yang salah, aku yang minta maaf," Pak Tian mengira Rosa akan meminta maaf lagi.
" Benar Sa?, kamu serius?"
" Hmm,, maukah kamu menikahi aku Her?"
Diputarnya tubuhnya berbalik mengarah ke Rosa, dengan lembut dia berkata ke wanita yang sudah membuatnya bucin ini.
" Gak Sa,, aku gak mau!"
" Baiklah,, jika kamu tak mau, aku tau diri dengan statusku" Rosa melepaskan pelukannya dan menekuk wajah, ada kristal bening yang jatuh dari sudut matanya, namun pak Tian menangkup kan kedua tangannya di kedua pipi Rosa.
" Dengar Sa, yang aku mau, aku yang memintamu Sa, bukan kamu, karena kamu begitu sangat berharga bagiku, aku akan menikahimu setelah memintamu dan mendapat restu orangtuamu," Membuat Rosa menegakkan kepalanya.
__ADS_1
" Maukah kau menikah denganku?" Dengan menggenggam kedua tangan Rosa dia mengulang pertanyaan yang baru dipertanyakan Rosa padanya.
" Hhmm,, aku mau,," Rosa mengangguk memandang wajah pak Tian di keremangan cahaya lampu cas.
Di peluknya Rosa dengan penuh cinta, di ciumnya pucuk kepala Rosa berulang ulang, namun akhirnya melepaskannya dengan tiba-tiba.
" Risih, ah "
" Kenapa?"
" Tuh,, kerasa " Rosa tersadar ternyata tak memakai bra.
" Ihhh,,," Dicubit nya perut pak Tian.
" Aauuuhhh,," Setengah berbisik pak Tian menahan sakit di perutnya.
" Rasain "
" Pulang ya!" Pak Tian mengacak ujung kepala Rosa dan mendapatkan senyum terbaik dari wanita yang begitu sangat dicintainya ini.
Setelah kepergian Pak Tian, Rosa menutup pintu dan menguncinya, segera dia masuk ke kamar, di baringan tubuhnya dan memeluk guling mencoba mengingat-ingat kembali apa yang mereka lakukan bersama pak Tian.
Sementara Pak Tian setelah meninggalkan rumah Rosa, membawa rasa pusing karena tak tersampaikan, namun membawa kebahagiaan dalam hatinya karena Rosa mengungkapkan perasaannya untuk pertama kalinya, dan begitu menikmati cumbuannya hingga hampir kebablasan.
Tiba di Paviliun langsung menuju kamar mandi yang ada dikamarnya, pak Tian ingin menyelesaikan yang tertunda tadi sendiri, dia mngingat kembali bagaimana mereka bercumbu, seperti apa lekuk tubuhnya membuatnya mulai mengerang dan melepaskan tembakan dari miliknya.
Pak Tian terduduk di toiletnya, mewaraskan otaknya yang belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang percumbuannya dengan Rosa.
Dilihatnya jam yang ada ditangannya, sudah pukul empat subuh, pak Tian beranjak dan membersihkan wajahnya terlebih dahulu di wastafel dan segera keluar setelahnya.
__ADS_1
Di rebahkan nya tubuhnya, dan kepalanya sudah terasa lebih ringan setelah pelepasan yang dilakukan di kamar mandi tadi, saat ini hatinya begitu lega, setelah pengakuan dari Rosa tentang rasa cinta dan sayangnya.
" Aku lebih lagi Sa, lebih mencintaimu dari perasaan mu padaku" Ujarnya lirih sambil memeluk guling seakan Rosa masih bersamanya saat.