Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
POV BEN 2


__ADS_3

Setelah statusku sah menjadi duda tak berarti aku langsung memperistri Linda, aku ingin bebas melakukan apa saja tanpa adanya tanggungjawab sebagai kepala keluarga, dan Linda tetap kuberikan bulanan, demi keamanan kepala bawah ku yang tak bisa lama-lama tidak diberi makan.


Tapi tak bisa ku bohongi jika aku cemburu melihat kedekatan Rosa dengan pak Tian, ingin rasanya ku hantam saja pakai tinjuku wajahnya, lucunya hanya pak Tian yang tak kusuka walau banyak yang mulai tebar pesona pada Rosa, dan yang buat hati tambah dongkol Yola anakku bisa lengket padanya, membuat aku meradang.


Tapi yang membuatku sedikit lega Rosa kelihatan biasa-biasa saja ketika bersama pak Tian, terlihat hanya sebatas teman kerja saja, lain saat bersama aku dulu, dia akan selalu memberi tersenyum hangat padaku, memintaku mengantar jemputnya ketika berangkat atau pulang bekerja.


Ada niat untuk rujuk kembali pada Rosa, agar pak Tian tak lagi tebar pesona ke mantan istriku, tapi aku ragu dan pastinya Rosa takan mau dan menolak mengingat perlakuan ku padanya selama jadi suaminya, sebenarnya aku sangat mencintai Rosa namun dikalahkan oleh pesona dan pelayanan Linda yang membuatku mabuk kepayang dan sulit untuk melepaskan nya, tapi dengan keberadaan pak Tian yang mulai mendekati Rosa membuatku jadi gila memikirkan nya.


Rosa dan Linda sangat berbeda jauh, Rosa dengan kesederhanaannya dari penampilan dan gaya hidupnya, sementara Linda berbanding terbalik dengan Rosa, Linda dengan penampilan modisnya, gaya hidup mewahnya yang mampu memikat mata laki-laki manapun, Linda mempunyai toko on-line yang penghasilannya melebihi dari bulanan yang selalu kuberikan, katanya menjual skincare dan sejenisnya, kalo aku ya senang-senang aja, dia punya penghasilan lain, sementara gaya hidupnya yang wah mana cukup dengan bulanan yang kuberikan.


Entah kenapa hari itu aku benar-benar kesal bertemu Rosa dan rombongannya di Resto, saat itu mama datang liburan ke rumah Linda, sebenarnya bukan sekali dua kali sudah mama datang ke tempat Linda, sekali dalam dua bulan pasti sudah mama datang kesana, dan sama seperti sebelumnya, Linda mengajak kami makan di luar, saat kami mencari meja kosong kami melewati meja pak Tian bersama rombongan, dan aku di tegur mas Pur yaang juga bersama mereka.


Sontak aku terkejut melihat keberadaan mereka di Resto, Pak Tian dan Rosa duduk diantara Yola yang begitu anteng disuapi makan oleh Pak Tian, pemandangan itu jelas membuat darahku mendidih, namun sadar Rosa hanya mantan istriku, tapi bukan berarti aku tak cemburu bahkan cemburuku sudah setengah mati.


Melihat mamaku ada bersama kami Rosa masih menunjukkan kesopanan nya hendak menjabat tangan mama, namun di tolak sama mama dan mengeluarkan tuduhab dan hinaan yang seharusnya tidak di ucapkan, membuat Rosa tertunduk dan terlihat menangis, ingin rasanya kupeluk saja, namun tak bisa ku lakukan dan malah Linda ikut-ikutan menghinanya, rasanya ingin ku tampar saja Linda saat itu, apalagi dengan melihat Rosa yang tidak membalas, rasanya sangat kasian melihat mantan Istriku diperlakukan tak baik sama mama dan Linda.


Namun pak Tian seperti memasang dada membela Rosa, membuat mama dan Linda mati kata, dan dengan santai mengusirku dan membawa mama dan Linda keluar dari Resto, akhirnya kami keluar dari Resto tanpa jadi makan, aku hanya menghindari keributan yang lebih parah lagi, mengingat yang jadi lawan bicara mereka adalah anak pemilik perkebunan tempatku bekerja, aku meninggalkan Rosa masih menangis membuat aku mengutuki diriku sendiri ternyata belum bisa move on dari Rosa.


Kami memilih warung makan padang karena sudah merasa lapar, tak ada pilihan karena hanya itu yang dekat dari Resto yang kami tinggalkan.

__ADS_1


Setelah acara makan, Linda mengajak mama belanja ke Mall Arian, aku hanya menurut saja mengantarkan mereka dengan mobil rentalan yang ku sewa untuk membawa mereka, aku memilih hanya di mobil saja menunggu karena masih kesal dengan keributan di Resto tadi, aku membuka ponselku untuk mengurangi rasa bosannku.


Tak sengaja membuang muka ke luar mobil, ternyata dari mobil yang parkir lebih dulu disebelah mobil rentalan ku keluar orang yang sangat kukenal pak Tian dan Rosa, mereka bergengaman tangan, jelas aku curiga mereka keluar dari mobil yang sama, sementara mobilnya sudah terlebih dahulu parkir dari aku, masih dengan keterkejutanku aku turun dan mengintip dari kaca mobil melihat kondisi didalam mobil, dan terlihat rapi dan bersih, tapi dalam hatiku mustahil mereka tidak berbuat apa-apa, aku sangat geram dan marah, bisa-bisanya mereka melakukannya di mobil, berarti selama ini sudah biasa melakukan dimana saja, dan aku mengepalkan tanganku Rosa sama saja dengan perempuan lain yang bisa memberikan tubuhnya dengan mudah, dan aku tak terima jika Rosa disentuh orang lain.


Tak lama mama dan Linda keluar dari mall, kulihat hanya belanja kebutuhan dapur aja yang mereka bawa dari dalam, dan Linda mengajak pulang saja karena sebelum mereka masuk sudah ku pesan jika aku harus pulang ke kebun karena harus kerja.


Setelah mengantar mereka aku mengembalikan mobil yang ku rental dan segera pulang ke perkebunan sebelum magrib, ternyata tak jauh didepanku mobil pak Tian juga sudah menuju arah yang sama, aku sedikit memperlambat laju motorku agar Aku tau mereka singgah dimana saja, namun hingga sampai di perkebunan tak ada singgah dimanapun, dan aku berhenti tak jauh dari mobil yang berhenti di depan rumah Rosa, mas Pur dan mba Susan berjalan ke arah rumahnya,kulihat pak Tian menggendong Yola dan masuk ke rumah, jantungku deg-deg an jika pak Tian akan lama keluar dari Rumah Rosa, namun tak berapa lama, pak Tian masuk kembali ke mobil di bagian kemudi dan mobil berlalu meninggalkan Rumah Rosa.


Aku mulai menyusun rencana lagi, tak rela belum melepaskan Rosa begitu saja, aku akan memberitahukan apa yang kulihat kepada orangtua Rosa, biarlah bapaknya makin sakit setelah mendengar ceritaku.


Akibat kesibukan pekerjaan, aku baru bisa mengambil cuti di akhir tahun, aku memutuskan akan ke rumah orangtua Rosa saja sambil liburan ke rumah keluarga yang ada di kampung Rosa, aku akan bilang jika Rosa sudah berani selingkuh didepanku kepada orangtuanya, berhubung mereka belum tau jika kami sudah bercerai, jadi bisa ku manfaatkan untuk kepentinganku yang belum rela jika Rosa bersama pak Tian.


" Kenapa cuma sendiri dimana Rosa dan Yola?" Pertanyaan yang membuatku sedikit tercekat, dan merangkai kebohongan yang akan ku berikan.


" Rosa tak mau pulang pak, " Ucapku berbohong.


" Apa dia buat ulah lagi,?" Dengan raut muka yang marah pak sagala kembali bertanya padaku.


" Dia sudah berani pergi dengan pria lain, bahkan pernah melihat mereka keluar dari mobil yang sudah terparkir lama di sebuah mall, seperti baru melakukan sesuatu," Dengan wajah yang tertunduk sedih kucoba berakting di depan orangtua Rosa.

__ADS_1


" Iya ,, saat itu kami juga bersama Ben" Lanjut mama seolah ikut meyakinkan mereka, sementara Saud hanya diam tak tau apa yang terjadi.


" Selama ini selalu aku maafkan, bahkan aku tetap menerimanya demi Yola, tapi sepertinya dia bahagia pak" Masih dengan kebohongan ku.


Bapak Rosa hanya bisa menarik nafas panjang, ada kekecewaan di wajahnya, tapi bagiku sudah kepalang basah sudah berbohong, aku ingin Rosa tak bersama pak Tian, jika bisa dia kembali padaku.


Namun aku dibuat terkejut dengan kehadiran orang yang kukenal, pak Tian dan mas Pur disusul dengan mba susan menggendong Yola yang sama terkejutnya dengan keberadaanku.


"Eh Ben, kamu juga ada disini?" Pertanyaan nya menimbulkan rasa curiga di wajah orangtua Rosa, membuat mereka penasaran tentang keberadaan Rosa.


Aku sudah tak bisa berbuat apa-apa, ternyata Rosa ikut dan masih dimobil, ketika Rosa di jemput sama bu Rosni suasana makin mencekam, perasaanku tak karuan, apalagi mendapat pandangan tak suka dari pak Tian, aku begitu terpojok sampai mama tak mampu lagi melindungiku dari kecemasan ku dengan apa yang akan terjadi berikutnya.


Rosa sangat marah padaku, dan kembali menghajarku, mengatakan yang sebenarnya, tak ada yang menduga bahkan aku sendiri, Rosa mencekikku dan rasanya nafasku tinggal di ujung hidung sudah saat itu, jika pak Tian dan mas Pur tidak menolongku lepas dari cekikan Rosa, tak tau lagi nasip ku selanjutnya.


Rosa begitu histeris berteriak meminta agar kami di usir dari rumah bapaknya, yang terpaksa kami tinggalkan karena alasan keselamatan ku dan kemarahan Rosa.


Sebelum keluar aku sempat melihat Rosa pingsan, membuat orang-orang ikut panik,


Akhirnya kami sah bercerai di adat di hadapan penetua adat kami menandatangani surat pernyataan di atas materai, ketika aku keluar dari Rumah orangtua Rosa aku baru menangisi diriku yang bodoh, semua sudah ketahuan, Rosa sudah kembali ke orang tuanya, dan ada pak Tian yang siap menggantikan posisiku.

__ADS_1


__ADS_2