Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Rosa pergi


__ADS_3

Kamu Rosa? Mama Maria tersenyum ke arah Rosa dan dibalas dengan uluran tangan Rosa menyalam mama Maria dengan sopan, dan disambut oleh mama Maria dengan hangat.


" Iya bu" Rosa masih sedikit canggung dihadapan orangtua pak Tian.


" Kamu bekerja disini ya?" Tanya mama Maria.


" Iya bu, kemaren pernah berhenti karena satu hal, namun kembali lagi bekerja sejak pak Tian menggantikan bapak karena sakit" Ucap Rosa jujur.


" Ohh begitu,, berarti sudah lama dong bekerja disini?"


" Ya begitulah bu,, sebelum berhenti sekitar tujuh tahunan bu bekerja" Ujar Rosa sambil memperbaiki letak duduknya.


Pak Musa hanya manggut - manggut mendengar kedua wanita dihadapannya tanya jawab, sementara pak Tian sedari tadi sibuk dengan hpnya membuka beberapa email yang masuk dari pak Amir.


" Orang tua tinggal dimana Ros? " Mama Maria menanyakan keberadaan orangtua dari Rosa membuat mata Rosa berkaca - kaca namun bisa ditahan tidak jatuh, mengingat bapaknya baru seminggu lalu meninggal dunia.


" Mama ada, masih sehat dan tinggal di kampung di kota X bu, bapak baru seminggu yang lalu meninggal" Rosa menekuk wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya, pak Tian yang ikut mendengar melihat Rosa dan langsung mengusap - usap punggunggnya, perlakuan yang manis itu jelas dilihat oleh papa dan mama dari pak Tian.


" Ohhh,, maaf ya Ros, buat kamu jadi sedih," Mama Maria seperti merasa bersalah karena ketidaktahuannya jika bapak dari Rosa baru saja meninggal.


" Gak papa bu,, hanya teringat saja ko," Ucap Rosa kembali menegakkan wajahnya agar bisa menatap mama Maria.


" Kalo boleh tau,, antara kamu dan Tian ada Hubungan apa ya ?"


Rosa sementara masih terdiam, dicoba menatap ke arah pak Tian namun yang ditatap sepertinya cuek aja, seolah membebaskan nya mau memberi penjelasan apa saja pada mamanya, jelas membuatnya kesal dan kembali menatap mama Maria yang menunggu jawabannya.


" Maaf Bu,, jika saya terlalu lancang atau terlalu berani memberikan hati saya, saya dan pak Tian sudah lebih dua bulan menjalin hubungan pacaran, saya seorang janda dan sudah memiliki satu orang anak perempuan berusia dua tahun," Ucap Rosa jujur, jika pun nanti statusnya menjadi alasan mereka menolaknya itu takan menimbulkan rasa sakit baginya.


" Sudah berapa lama kamu bercerai dengan mantan suamimu Ros?" Kali ini pak Musa yang bertanya.


" Hampir satu tahun pak." Jawab Rosa.


" Ohh, begitu,, terus anak kamu siapa yang merawat? Mantan suamimu?"

__ADS_1


" Saya sendiri pak"


" Begini Ros, dulu saya sangat menginginkan mu jadi menantuku, walau mungkin itu tak pernah kamu tau, dan saya sering bercerita tentang kamu pada anak kami Tian, namun tak ada sedikitpun hatinya terbuka, ya saya pikir dia memang tak mau jika saya yang menunjukkan gadis yang saya rasa baik untuk dia," Pak Musa menarik nafasnya dalam dan mengeluarkan lagi dengan pelan,


" Dan saat ini saya terkejut, jika kelian berdua sudah ada hubungan sejak dua bulan lalu, apakah itu benar dua bulan atau lebih, dan kamu sudah bercerai dengan mantan suamimu kamu bilang hampir setahun berati belum setahun kan?, apa klian berdua tidak lagi membohongi saya?" Tanya pak Musa dengan sedikit ragu.


" Benar pak, saya tau perceraian saya terjadi saat sudah kembali bekerja, namun itu tak ada sangkut pautnya sama pak Tian, itu murni karena masalah antara saya dan mantan suami saya, jikapun bapak keberatan dengan status saya, saya iklas ko pak harus menjauhi anak bapak, tanpa harus mengingat ke belakang jika bapak menginginkan saya dulu jadi menantu bapak." Rosa merasa tersinggung dengan ucapan pak Musa seolah dirinya bercerai karena kehadiran pak Tian.


" Maaf Pak, jika kehadiran saya disini tidak bapak sukai karena hubungan saya dengan anak bapak, tapi saya mencintai seorang Heru Kristian bukan karena apa yang dia punya, tapi kegigihannya memperjuangkan diriku dan juga harga diriku dari fitnahan mantan suamiku, bahkan dengan berani memintaku pada kedua orangtuaku." Rosa bangkit berdiri tak dihiraukan nya pak Tian yang menarik tangannya untuk duduk kembali.


" Saya ijin pulang pak, buk makasih buat makan siangnya," Rosa berlalu pergi keluar dari Paviliun pak Musa dengan air matanya yang berhasil lolos keluar dari pelupuk matanya.


" Saa,,,, " Ternyata pak Tian mengikutinya hingga Rosa menaiki motor dan hendak menghidupkannya, namun Pak Tian dengan cepat mencabut kontak yang tadi ditinggalkannya tercantol di motor.


" Apa lagi, kamu lihat sendiri kan papa kamu yang dulunya menginginkan aku jadi menantunya sekarang menolakku karena statusku, dan menganggap perceraian ku karena hubungan kita," Rosa mengungkapkan kekesalan hatinya pada pak Tian.


" Sa,,, jangan tersinggung gitu dong, mungkin maksud papa gak kek gitu."


" Sudahlah Her,, malas bahas ini,," Dengan sekali rampasan kunci motor berhasil diambil dari tangan pak Tian.


" Aku gak ke kantor, aku mau pulang ke Rumah, maaf siang ini aku gak masuk kerja lagi." Ucap Rosa tanpa memandang ke arah pak Tian lagi dan segera melajukan motornya.


Melihat kepergian Rosa yang lagi marah membuat pak Tian tak kuasa menahan amarahnya juga, dan segera dia kembali ke dalam Paviliun terlihat Greta juga sudah ada disana diapit papa dan mamanya.


" Tega papa, " Dengan wajah yang memerah pak Tian menghempaskan pantatnya di sofa dengan kasar.


" Kenapa lagi?" Pak Musa masih bersikap sama seperti saat Rosa ada bersama mereka.


" Pa,,, papa apaan sih? Rosa tersinggung dengan ucapan papa," Muka pak Tian sudah memerah kecewa dengan papanya.


" Ko tersinggung, papa kan cuma menanyakan kebenaran dari ucapan Rosa, ya gak salah papa dong kalo dia tersinggung." Pak Musa tak mau disalahkan, sementara mama Maria tak berani berbicara, hanya bisa memandang kedua pria yang berbeda generasi dan sangat dicintainya sedang bersitegang urat leher karena masalah wanita pilihan yang berbeda, dan Greta terlihat tersenyum merasa jadi pemenang setelah Rosa pergi meninggalkan Paviliun.


" Baiklah, jika papa tak menyukai Rosa, tak apa, sebab dia juga tak mau menjadi istriku jika tak ada restu dari papa juga mama, jadi percuma juga jika aku memaksanya untuk tidak tersinggung dengan ucapan papa." Pak Tian sepertinya tak punya jalan keluar.

__ADS_1


" Kamu sudah kami jodohkan dengan Greta, makanya kami membawanya ikut kesini," Pak Musa menghentikan langkah pak Tian yang sudah beranjak dari duduknya.


" Huh,,, aku akan kembali ke Amsterdam malam ini, tanpa siapapun, biarlah Rosa menganggap ku sebagai pria pecundang daripada menikahi wanita yang sama sekali tidak aku cintai, dan masalah perkebunan aku kembaliin sama papa, toh papa sudah sehat, dan pastinya bisa menangani kembali perusahaan papa ini." Pak Tian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang di lantai atas, sementara pak Musa seperti tak merasa bersalah sedikitpun dan tetap bersikap santai.


Tak kuat rasanya tidak menangis, dia begitu mencintai Rosa, yang selalu membantunya selama setahun mereka bekerjasama, bahkan orangtua Rosa telah memberi restu dan menitipkan anak dan cucunya untuk dia jaga,ternyata apa yang diharapkan tidak sesuai dengan tanggapan kedua orangtuanya dan malah ingin tetap menjodohkannya dengan Greta yang tak pernah dicintainya.


Di boking nya tiket pesawat tujuan Amsterdam, ternyata yang ada penerbangan kesana besok pagi mau tak mau dipesan juga, dan mulai mengemasi beberapa potong pakaiannya dan surat-surat pentingnya, setelah semua rapi terdengar ketukan dari luar, namun didiamkan saja, tak lama pintu di buka dan terlihat mama Maria masuk dan kembali menutup pintu.


" Nak,,," Mama Maria menghampiri pak Tian yang duduk di tepi ranjang dan ikut duduk disampingnya.


" Maafin mama ya,, mama gak pernah melarang kamu cinta dan sayang sama siapa saja, bahkan mama suka ko dengan Rosa, tapi papamu sudah terlanjur menerima perjodohan antara kamu dan Greta anak tante Rita dan om Samsul," Ucap mama Maria ke pak Tian.


" Ya udah papa aja yang nikahin Greta, ko harus aku?"


" Bukan seperti itu nak, dulu papamu selalu di bantu om Samsul, bulan lalu mereka berkunjung ke rumah kita kebetulan klian sama Greta di kota yang sama, makanya ada niat mau menjodohkan klian."


" Udah ma,, capek, tak ada jodoh - jodohan, tak berguna menangis darah pun papa akan tetap menolak Rosa dan aku juga akan tetap menolak perjodohan dengan Greta, dan biarlah aku putuskan untuk kembali saja ke Amsterdam, disana lebih nyaman daripada disini."


Pak Tian meninggalkan mamanya di kamar dan pergi kekantor memastikan Rosa apa benar tak ke kantor, dilihatnya papanya masih duduk di sofa dan Greta tak ada lagi disana mungkin sudah kembali ke kamarnya.


Tiba dikantor, suasana ruangan Rosa masih rapi namun sedikit aneh laptopnya tak ada lagi di meja, bahkan bingkai poto Rosa dan Yola juga tak ditemukan disana, sementara ruangannya tak ada yang berubah ketika terakhir kali ditinggalkan seminggu yang lalu saat mereka ke kampung Rosa, ada perasaan tak enak di hatinya membuatnya ingin menjumpai Rosa ke perumahan.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh saat pak Tian tiba di depan Rumah Rosa bersamaan dengan mba Susan yang sedang menutup dan mengunci pintu rumah Rosa.


" Mba,,," Pak Tian menghampiri mba Susan dan sedikit bingung dengan mba Susan yang sedang mengunci pintu rumah Rosa.


" Heh, kamu yan,,?" Mba Susan terkejut melihat kedatangan pak Tian.


" Rosa kemana mba?" Pak Tian masih dalam kebingungan nya.


" Loh, kamu tak tau?"


" Tak tau apanya mba?" Makin tak enak saja perasaannya saat ini.

__ADS_1


" Rosa sudah pergi sejam yang lalu, mba disuruh membereskan pakaian mereka yang tinggal, katanya berhenti bekerja mulai hari ini, makanya tadi gak lama sampai di rumah langsung beberes" Terang mba Susan, membuat pak Tian terduduk lemas di lantai teras rumah Rosa.


Rosa pergi meninggalkan nya.


__ADS_2