
Mba Susan sudah pulang setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit, Rosa tak lagi ikut mengunjungi setelah mengantar mba Susan kemaren, namun pak Tian setiap hari berkunjung, dan sekali membawa Yola yang ingin ketemu dengan mba Susan.
Setelah mba Susan kembali Yola langsung diminta tinggal bersamanya lagi saat Rosa bekerja, mas Pur pun sangat mendukung, mereka merasa berterimakasih pada Yola, dan Rosa karena dianggap pembawa rejeki dalam rumahtangga mereka, bahkan semakin sayang saja membelikan banyak hadiah untuk Yola, ada mainan, pakaian, dan sepeda membuat Rosa terperangah dengan hadiah yang dirasanya sangat berlebihan, namun disangkal oleh mas Pur jika mereka memberinya dengan senang hati.
Pekerjaannya yang banyak membuatnya tak bisa menolak kemauan mba Susan untuk mengasuh Yola, kehamilan mba Susan terlihat tidak terlalu berat seperti yang dialami dulu makanya tak terlalu kuatir jika meninggal Yola dengannya.
Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini, dan dipastikan harus menyelesaikan semua diakhir tahun, mengingat pabrik masih beroperasi hingga jam 12 teng, beberapa staff penting akan tetap berada menyelesaikan tugas masing masing.
Tak terkecuali Rosa masih sangat banyak berkas yang harus di cek ulang mengingat beberapa staff ada yang menjalankan cuti tahunan sehingga dia dan pak Amir sedikit kewalahan beberapa hari terakhir hingga hari ini.
Rosa menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, memejamkan matanya sejenak, namun tergerak hatinya untuk membuka media sosial Facebook nya, terlihat ada pesan masuk dan segera di buka melalui messenger nya, terlihat beberapa poto dikirim oleh akun sepupunya Parulian.
Ada empat poto dan dibukanya satu persatu membuatnya tiba-tiba sesenggukan karena itu adalah poto bapak dan mamak dengan poto yang berbeda-beda, dipoto terlihat pak sagala dituntun bu Rosni berjalan, ada saat mereka makan, dan saat pak sagala memberi makan ternak ayamnya, dan terakhir poto dimana mereka duduk berdua ber selonjoran kaki di teras rumah, terlihat bapak yang semakin tua dan kurus, mamak juga begitu terlihat tidak seperti setahun lalu saat mereka masih sering berkomunikasi lewat Video call.
Rosa menyesali yang telah terjadi padanya, jika fitnahan itu tidak pernah terjadi bapak dan mamak tak mengalami masa sulit seperti ini.
" Pak, mak maafin aku" Di elus nya foto wajah pak Sagala dan bu Rosni yang ada di hpnya,
Tak disadari pak Tian sudah ada di sampingnya, sedang memperhatikan dirinya menangisi poto orangtuanya, diciumnya pucuk kepala Rosa dan mengelus-elus punggungnya untuk menenangkannya.
" Kenapa? " Di ambilnya air minum yang ada di dispenser yang ada dekat meja Rosa, "Nih minum dulu,biar lebih tenang" Di berikan kepada Rosa.
" Lihat bapak sama mamak " Ditunjukkan foto kedua orangtuanya masih dengan isakannya.
" Besok kita pulang ke rumah bapak ya?"
Rosa mendongkakan kepalanya demi melihat pak Tian.
" Gimana, siap?"
" Takut bapak masih marah," Rosa masih ragu.
" Heeiiii,, mereka pasti sudah rindu, ada aku."
" Kedatangan kita hanya berdua akan meyakinkan mereka."
" Tenang aja,, yuk segera selesaikan pekerjaan nya agar besok kita bisa langsung on the way " Ucap laki-laki yang sudah memberi mereka cinta.
****
Pak Tian menghubungi pak Burhan dan memintanya besok ikut bersamanya ke kampung Rosa, pak Tian menjelaskan jika orangtua Rosa juga harus tau cerita yang sebenarnya, pak Burhan menyetujui.
Sore ini pak Tian ijin ke Rosa akan menjenguk Yola di rumah mba Susan sekalian kasih tau jika Rosa akan pulang setelah semua closing malam ini, dan pak Tian janji segera kembali sebelum makan malam tiba, seperti tahun-tahun sebelumnya semua staff yang bertugas akan makan malam di kantor yang disediakan oleh perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan demi tak terkendalanya closing tahunan.
__ADS_1
Pak Tian sebenarnya berniat mengajak mas Pur juga, makanya dia beralasan ke Rosa menjenguk Yola.
Ternyata mas Pur sudah ada dirumah dan mba Susan sedang menyuapi Yola makan dan hampir selesai,
" Hallo,, lagi apa tuan putri?" Pak Tian langsung menghampiri Yola yang tersenyum manja.
" Antel dah mamam" Dengan mata yang lucu menanyakan ke arah pak Tian.
" Belum,, nanti makanya sama mama Yola, boleh tidak?"
" Boyehhhh antellll" Yola dengan gemasnya bicara.
" Ya udah, nanti bobonya sama ibu dulu, mama masih kerja, kalo mama dah siap kerja uncle antar mamanya pulang." Pak Tian memberikan jari kelingkingnya ke arah Yola bukti jika dia berjanji pada gadis kecilnya ini.
" Iya antel, " Yola dengan pintarnya memberi kelingkingnya juga membuat mas Pur ikut tertawa melihat mereka.
" Mas,, bisa minta tolong?"
" Apa yan,, bisa aja klo memang bisa dibantu" Mas Pur bertanya.
" Gini mas, rencana besok mau ke kampung Rosa, yah agak tiba-tiba sih" Pak Tian menggantung kalimatnya,
" Lah, kenapa?? Ko tiba-tiba? Emang Rosa udah kamu apain?" Mba Susan ikut menyeletuk.
" Jadi apa mas bisa ikut, pak Burhan juga ikut?" Pak Tian terlihat berharap.
" Mas,, aku ikut boleh"
" Emang mba kuat, mba lagi hamil loh" Pak Tian seperti kuatir dengan kondisi mba Susan yang lagi hamil tapi malah minta ikut.
" Yakin?" Mas Pur bertanya ke istrinya.
" Iya mas,, aku mau pastikan Rosa baik-baik saja" Ucapnya menyakinkan dua lelaki yang di hadapannya.
" Baiklah, sekalian liburan akhir tahun ya yan?" Mas Pur menyetujui.
" Boleh, nanti kita sekalian liburan tapi kalo Rosa benar baikan sama orangtuanya." Pak Tian janji.
Sepertinya mba Susan kesenangan dengan perjalanan kali ini, terlihat dia begitu sangat antusias buat ikut.
" Ya udah mba bisa packing biar besok gak repot," Ucap pak Tian.
" Siap, biar tau packing pakaian Yola juga," Kata Mba Susan sambil berlalu ke arah kamar.
__ADS_1
Mas Pur hanya menggeleng melihat kelakuan isterinya, sejak tau hamil mas Pur sangat menuruti kemauan istrinya.
" Mas aku balik ya, tadi udah janji ke mereka sebelum makan malam udah balik."
" Ya udah, kabari aja besok jam berapa berangkatnya,"
" Baik mas,, Uncle pulang dulu ya,," Pak Tian tak lupa mencium pipi gemasnya Yola.
Pak Tian kembali ke kantor dan menemukan Rosa masih berkutat di depan laptopnya, terlihat sudah ada nasi bungkus di meja dekat sofa.
" Sayang makan yuk, " Yang diajak cuma menoleh sebentar lalu melanjutkan lagi.
" Kayaknya minta disuap nih!"
" Iyaa,,," Rosa segera berdiri dan mengambil air minum di gelas.
" Ko minumnya cuma satu sa?"
" Mau pake apalagi wong gelasnya cuma ini."
" Ya udah segelas kita minum berdua."
" Sendok nya juga cuma satu,?" Sambil menunjukkan sendok di tangannya.
" Sengaja kali kamu ya?" Pak Tian menggoda Rosa.
" Rugi,,"
" Ko rugi? Aku kurang apa coba?"
" Kurang ganteng"
" Lah,, kemaren bilang aku tampan, sekarang kurang ganteng lagi yang benar yang mana?" Ditariknya tangan Rosa yang masih berdiri membuat Rosa tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, dan bisa di duga Rosa jatuh ditubuh pak Tian membuat wajah Rosa memerah.
" Kamu tuh, becandanya kelewatan" Ucap Rosa kesal sambil memperbaiki posisi tubuhnya duduk di dekat pak Tian.
" Memang kenapa?"
" Kita mau makan tidak," Rosa mengalihkan pembicaraan dengan membuka satu bungkus Nasi.
" Mau,," Pak Tian mendekatkan mulutnya ke Rosa, mau tak mau Rosa menyuapkankan juga makanan ke mulut nya.
Rosa mengalah saja, daripada di candain terus sama pak Tian.
__ADS_1