
Gundukan tanah masih merah dengan banyak bunga tabur di atasnya,, Andre terlihat merangkul Rosa yang masih saja menangis, mba Susan menggandeng tangan bu Rosni yang belum mau beranjak dari pusara pak Sagala, sementara pak Tian menggendong Yola diantara mas Pur dan Parulian.
" Kita pulang yuk," Ajak Andre.
Terasa berat langkah mereka meninggalkan pusara pak Sagala, namun karena cuaca mulai mendung sepertinya akan turun hujan, mereka harus segera pulang agar tidak kehujanan.
Benar saja saat mereka sampai di rumah, hujan mulai turun dengan lebat, beruntung mereka meninggalkan pemakaman tepat waktu.
Andre tak ingin jauh-jauh dari Rosa adiknya, dia begitu merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi, sebelum pak Sagala meninggal dia sudah ditelepon bu Rosni memberi tahu jika Rosa pulang dan menceritakan kedatangan Ben dan Keluarganya ke rumah, bu Rosni juga menceritakan tentang perceraian Rosa dan Ben yang sudah lama, bahkan semua masalah berasal dari Ben.
" Dek,, maafkan abang ya, sudah ikut menuduhmu kemaren, marah-marah, bahkan ikut menjauhimu,"
Rosa mengusap air matanya yang seperti tak ada habis-habisnya, dia begitu kehilangan, hanya beberapa jam bertemu dengan laki-laki yang telah membesarkan nya, ternyata dia harus kehilangan lagi tapi kali ini untuk selama-lamanya, dia masih begitu Rindu, namun dia tak kuasa menolak kenyataan.
" Sudah dimaafkan bang" Rosa memainkan jarinya sendirisendiri, namun masih sesekali masih mengusap air matanya.
Andre memeluk Rosa, sejak kecil dulu mereka sangat dekat, usia mereka hanya berjarak du tahun, Andre yang selalu siap sedia memberi perlindungan pada Rosa adik satu-satunya dari anak-anak nakal yang sering menjahili Rosa kecil, bahkan dirumah akan rela dimarahi mamaknya yang penting Rosa tidak dimarahi atau di omeli.
" Tapi masih nangis, sejak abang sampe, nangisnya gak berhenti, kayak banyak aja cairan dimatanya buat dikeluarin" Andre mencoba bercanda agar Rosa bisa tertawa.
" Emang nangisin abang,,? " Ucap Rosa dengan cemberut.
" Iya,, siapa yang gak sedih bapaknya ninggal?,, bapak kita udah tenang, kebenaran sudah terungkap, bapak udah sembuh, kan kasian juga bapak menahan sakit sebegitu lama,, mamak aja kehilangan cintanya, tapi mamak berusaha iklas,,adek juga harus bisa kuat dengan kepergian bapak,,abang masih ada buat kamu sama mamak." Tak bisa dipungkiri air mata Andre lolos juga keluar ketika menyadari tanggungjawab sudah ada di pundaknya saat ini.
__ADS_1
Kini Rosa yang memeluk Andre abangnya, mereka seolah saling menguatkan setelah kepergian pak Sagala untuk selamanya.
****
Malam ini adalah malam terakhir mereka di rumah orangtua Rosa, sementara Andre sudah terlebih dahulu pulang ke Irian Jaya karena istrinya yang ditinggal hanya dengan mertuanya yang juga sudah sakit-sakitan, sedangkan istrinya baru sebulan melahirkan anak keduanya.
Andre hanya bisa empat hari meninggalkan istrinya, mana anaknya Yosen yang masih balita juga ditinggal, yang pastinya istrinya sangat kerepotan mengurus bayi dan balita juga orangtuanya dalam waktu bersamaan.
" Ibu ikut kami aja ya!" Pak Tian membujuk bu Rosni untuk kesekian kalinya.
" Gak nak,, ibu disini saja, ibu gak apa-apa" Ucap bu Rosni, dan ini tolakan yang entah berapa kali.
Bu Rosni bertahan tidak meninggalkan Rumah yang penuh kenangan bersama suaminya, dari awal menikah pak Sagala sudah menabung dan membangun rumah kecil sederhana tapi membuat mereka nyaman tinggal didalamnya, seiring berjalannya waktu dan kehadiran andre dan Rosa mereka menambah ukuran rumahnya, hingga saat ini mereka masih tinggal dengan nyaman di rumah sederhana mereka.
" Iya sa,,, yakin" Ucap bu Rosni sambil tersenyum.
" Bu kalo disana ibu bisa tinggal sama Rosa" Pak Tian masih membujuk.
" Gak papa nak disini aja, ibu baik-baik saja, tetangga ibu juga disini banyak."
" Mak,, Parulian gak bisa lagi liatin mamak disini, jadi kuatir lah aku terus kalo ingat mamak sendiri disini."
Setelah menerima CV Parulian selesai pemakaman tiga hari lalu, pak Tian meminta pak Amir untuk menyediakan satu posisi di perkebunan untuk Parulian sehingga besok Parulian akan ikut pulang bersama mereka.
__ADS_1
" Kalo nanti klian nikah, mamak pasti kesana, tapi untuk sekarang mamak belum bisa nak"
" Ya udah, tapi mamak harus sering kasih kabar ya!" Ucap Rosa mengalah.
" Iya nak,,, doakan aja mamak sehat selalu, dan buat nak Tian, mamak minta jangan dilama-lamakan ya nak niat baiknya, mamak takut dengan omongan orang"
" Pasti bu, habis dari sini, rencana Rosa akan saya bawa bertemu papa sama mama, kami minta doa restu dulu dari mereka, ibu tak usah kuatir, saya sangat mencintai Rosa, takan saya perlakukan dia seperti orang yang sebelumnya." Ucap pak Tian yakin.
" Ibu percaya pada nak Tian." Bu Rosni tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak pak Tian.
Karena besok mereka akan pulang, Rosa pun tidur bersama bu Rosni untuk malam terakhir, Rosa merasa kembali ke dupuluh tahun lalu saat masih tidur diantara bapak-mamaknya, dan kali ini mereka tidur berdua saja, sementara Yola selalu memilih tidur dengan mba Susan atau dengan pak Tian.
Untuk barang-barang mereka sudah selesai di packing sore tadi, takut jika besok terburu-buru bisa-bisa akan ada barang yang ketinggalan.
Sebenarnya Rosa masih ingin berlama-lama tinggal dikampung nya, namun pak Amir sudah kewalahan sendiri mengurus pekerjaannya, dan pak Tian juga baru mendapat telepon jika dia harus segera kembali mengingat banyak berkas yang sudah menunggunya.
Kalo pak Tian santai saja, cuma pak Amir sudah sangat kerepotan membuat Rosa kuatir jika jadi masalah seandainya pak Musa mengetahui dari orang jika mereka cuti bersama.
Rosa membaringkan tubuhnya di samping mamaknya, di peluknya perut wanita yang telah melahirkan nya itu, masih dengan kerinduan yang sulit untuk di ucapkanucapkan, dicoba di pejamkan nya matanya, namun sangat sulit mengingat besok dia akan berpisah lagi dengan mamaknya, sementara bu Rosni sudah mulai tertidur pulas setelah beberapa hari kurang tidur.
Suasana malam semakin sepi dirumah orangtua Rosa, mba Susan sudah lebih dulu tidur dengan Yola, dan pak Tian sama mas Pur juga udah tidur karena besok mereka akan mulai mengemudi, kalo Parulian tadi pulang ke rumahnya katanya packing annya belum selesai, tinggallah Rosa yang pikiran nya jauh melayang, cintanya sudah direstui keluarganya, tinggal keluarga pak Tian seperti apa respon mereka ahan kehadiran Rosa dan Yola.
Rosa hanya mampu berdoa, semoga dilancarkan, karena dia sudah begitu sayang kepada pak Tian, sudah yakin akan pilihannya, keberadaan pak Tian telah memperbaiki hubungannya dengan orangtua dan keluarganya, bagaimana lagi dia bisa menolak lamaran pak Tian yang sudah memintanya ke orangtuanya.
__ADS_1
Akhirnya Rosa tertidur dengan harapan besok adalah hari yang baik.