
Aku Parulian Situmorang, anak dari adik sepupu perempuan bapak kak Rosa, tapi kami sangat dekat karena rumah orangtua kak Rosa yang kupanggil tulang dikampung yang sama dan bisa dibilang rumah kami berdekatan, sehingga aku sering kali berkunjung ke rumah mereka, atau sekedar bermain bersama ka Rosa dulu saat kami masih kecil.
Kami selisih lima tahun dengan ka Rosa, tapi walaupun demikian, ka Rosa selalu mau menemaniku untuk bermain bersama, terkadang akupun sering diajaknya buat membantu mencuci piring, menyapu rumah dan juga halaman di rumahnya, dan orangtuaku juga selalu membiarkan jika aku mainnya ke rumah mereka.
Sejak ka Rosa kuliah, kamipun makin jarang bertemu, tapi sejak bapak membelikan aku ponsel, akupun sering berkirim kabar dengannya, terakhir kak Rosa lama di kampung saat dia habis wisuda, sebenarnya hanya sebulan dan kembali berangkat meninggalkan kampung karena kak Rosa diterima bekerja di perusahaan perkebunan sawit di luar provinsi, membuat kami kembali berpisah dengannya.
Ka Rosa pulang hanya sekali setahun, dan setahuku ka Rosa selalu mengirimi uang ke tulang setiap bulannya, dan terakhir sebelum kak Rosa memutuskan menikah dengan bang Ben dia masih membantu tulang membelikan mobil pickup untuk membantu usaha tulang jualan pisang, bahkan dia juga sesekali memberikan uang jajan padaku yang tidak sedikit.
Namun keadaan berubah saat ka Rosa menikah dengan bang Ben, tak sekalipun lagi mengirimi atau membantu tulang dari segi keuangan dan beruntung saat itu penghasilan tulang sangat cukup untuk mereka, aku tau karena nantulang sering bercerita padaku saat aku berkunjung ke rumah mereka, walau kak Rosa sudah merantau tapi aku selalu sering berkunjung sekedar melihat keadaan mereka atau membantu tulang.
Keadaan semakin memburuk saat tulang jatuh sakit terkena stroke, pemasukanpun menghilang, entah apa sebabnya mereka memutuskan hubungan dengan ka Rosa, nantulang menjual semua perhiasannya setelah tabungan mereka habis dan terblokir sendiri karena saldonya sudah habis untuk pengobatan tulang, dan terakhir merekapun harus menjual mobil pickup yang mereka beli beberapa tahun lalu, tapi menolak uang yang dikirim ka Rosa melalui rekening ku, membuatku bingung dan bertanya-tanya ada apa dengan mereka? Apa yang sudah terjadi hingga hubungan mereka yang semula baik baik saja jadi seperti menyimpan kemarahan kepada ka Rosa? Dan separah apakah hubungan antara mereka dengan ka Rosa.
Keadaan tulang mulai membaik setelah beberapa bulan dirawat di rumah sakit, namun kondisinya hanya bisa duduk di kursi roda karena kaki kanan dan tangan kanannya kaku dan masih harus butuh latihan agar bisa digerakkan lagi, dan aku selalu ada menemani dan membantu mereka jika aku tak kuliah.
__ADS_1
Akhirnya ku ketahui keluarga ka Rosa sangat marah ketika mendapat pengaduan dari bang Ben jika kak Rosa sudah menyelingkuhi nya dan ketangkap basah membuat mereka malu dan kepikiran terus hingga tulang jatuh pingsan di pasar dan harus dilarikan kerumah sakit.
Aku tak pernah percaya jika ka Rosa berani berbuat memalukan seperti itu, tapi aku tak mau terlalu kepo karena kutau akan menyakiti hati orangtua ka Rosa, dan aku hanya bis berharap hubungan mereka kembali membaik.
Cukup lama hubungan mereka tanpa komunikasi, sejak pulang dari rumah sakit kulihat tulang sangat semangat buat sembuh dari sakitnya, hingga dia bisa berjalan dan menggerakkan tangannya walau tak sempurna, saat itu tulang sudah bisa berjalan dengan kakinya yang diseret, sungguh kasihan melihat mereka hidup susah, mereka hidup dengan mengharapkan bantuan beras dari desa dan dibantu dengan menjual telur ayam kampung dari telur ayam yang mereka ternakkan karena tak bisa lagi bekerja seperti dulu, dan benar-benar hidup seadanya saja.
Keadaan seperti itu mereka jalani lebih dari setahun, setiap mereka bercerita aku menilai mereka juga seperti tak percaya dengan apa yang kak Rosa lakukan, tapi mereka enggan bertanya langsung dengan ka Rosa, karena sejak ka Rosa mendapat penolakaan saat mengirimi uang melalui rekening ku, ka Rosa pun tak pernah menghubungi orangtuanya, bahkan benar benar tak ada komunikasi sama sekali.
Bang Ben tak menduganya dan sangat terkejut dengan melihat siapa yang datang dan akhirnya semuanya ketahuan dan terbongkar jika perselingkuhan itu tak pernah ada, dan itu adalah fitnah, yang lebih mengejutkan ternyata antara kak Rosa dan bang Ben tak memiliki hubungan apa apa lagi dan sudah bercerai lama selama hubungan kak Rosa dan orangtuanya memburuk.
Kak Rosa sepertinya tak Terima dengan kehadiran bang Ben dan keluarganya dirumah orangtuanya yang telah membuat hubungan antara mereka jadi kacau.
****
__ADS_1
Ternyata salah satu yang mengantar ka Rosa pulang adalah pacarnya, dan ku ketahui anak pemilik perkebunan dimana mereka bekerja, orangnya keren dan tampan sangat cocok dengan ka Rosa yang cantik walau sudah memiliki seorang anak.
Namun dihari itu juga, tulang meninggal setelah terjatuh di dapur membuat kami sangat bersedih karena kehilangan, tapi yang membuat kami lega karena hubungan keluarga sudah membaik dan merestui hubungan ka Rosa dan pacarnya, dan berpesan untuk menjaga ka Rosa dan Yola.
Aku menerima tawaran pak Tian buat ikut ke perkebunan karena dijanjikan pekerjaan, hingga kuputuskan mengikuti mereka dan berharap gelar sarjana ku benar bisa ku pergunakan saat itu, dan aku berjanji aku akan bekerja dengan giat dan jujur, dan benar-benar mendedikasikan ilmuku di pekerjaanku.
Belum lagi kami membongkar isi koper yang kami bawa, kak Rosa sudah mengajakku pergi meninggalkan perkebunan, aku tak berani bertanya, karena kulihat dia terus menangis memeluk Yola sepanjang perjalanan, aku kembali dibuat bingung dan akhirnya kak Rosa mau bercerita jika papa dari pak tian meragukan lama hubungan mereka, dan percaya jika ka Rosa bercerai karena perselingkuhan.
Kak Rosa membawaku jauh menuju kota di suatu daerah yang sama sama tidak kami kenal, dan mengontrak ruko dengan tabungan ka Rosa, kami membuka usaha kelontong yang aku rasa sangat memberikan keuntungan setiap bulannya, bahkan ka Rosa bisa menambah isi dari tokonya juga menambah pekerja.
Suatu hari pak Tian mendatangi ruko yang kami tempati, ternyata ka Rosa yang memberikan alamatnya, aku begitu senang dengan kedatangannya mengingat ponakan ku Yola sering menangis menanyakan pak Tian dimana, aku sempat tak mengenalinya karena terlihat lebih kurus dibandingkan dulu sebelum kami meninggalkan nya, kami dibuat terkejut, ternyata pak Tian juga pergi setelah kami pergi dan memilih kota yang hanya berjarak enam jam perjalanan dari tempat yang kami tinggali dan tujuan pak Tian mendatangi kami adalah untuk menjemput ka Rosa dan Yola dan bersama sama kembali menemui orangtua pak Tian.
Mereka meninggalkan ku mengurus sendiri toko kelontong ka Rosa dan kembali ke perkebunan, dan dua hari kemudian mereka mengabariku jika mereka akan menikah dan sudah mendapatkan restu dari kedua orangtua pak Tian, aku ikut senang dan bahagia dengan kabar tersebut.
__ADS_1