
Resepsi pernikahan Rosa dan pak Tian sangat mewah, dengan undangan yang sangat ramai, karyawan pak Musa saja yang hampir lima ribuan orang semua diundang, dengan syarat tak diijinkan memberi amplop dan kado berbentuk apa saja, tujuan pak Musa hanya semata-mata untuk menjamu semua karyawannya di hari bahagia anak laki-laki satu-satunya yang pasti sebagai penerus perusahaan nya.
Tapi ada juga yang membandel membawa kado buat pengantin, kebanyakan mereka adalah teman-teman Rosa, staff-staff yang bekerja dan dekat dengan pak Tian, tak terkecuali mas Pur dan mba Susan juga memberikan kado.
" Selamat ya Ros," sambil memberikan kadonya Mba Susan memeluk Rosa dengan mata yang berkaca-kaca.
" Hmmm,,, makasih mba udah datang dan repot-repot bawain hadiah, mba jangan nangis, kan aku ikutan mewek!" Ucap Rosa saat mba Susan tak bisa menahan air matanya yang akhirnya luruh dipelukan Rosa.
" Mba bahagia banget, bahagia ya Sa, jodoh hingga maut memisahkan, dapat anak yang banyak!" Di tengah isakannya mba Susan masih bisa berucap demikian.
" Amin mba, mkasih doanya, tapi anaknya dikurangi ya mba jangan banyak!" Dengan polos Rosa protes membuat mereka berdua tersadar cekikikan sambil mengusap air mata masing-masing.
" Tapi kamu ko cantik banget ya Sa?" Mba Susan memutar-mutar tubuh Rosa dengan memegang kedua lengannya, untung saat itu hanya keluarga mas Pur yang naik ke pelaminan menyalami pengantin jika tidak bakal banyak yang antri menunggu giliran hanya untuk menyalami.
" Pilihan siapa dulu donk mbak" Dengan bangganya pak Tian membusungkan dadanya sambil tertawa.
" Uhh,, kau itu ya," Mba Susan langsung memukul lengan pak Tian membuatnya makin tertawa, sehingga sedikit mendapat perhatian dari beberapa tamu.
" Selamat ya Sa," Mas Pur yang menggedong bayi mereka menyalami Rosa.
" Makasih mas udah mau datang," Ucap Rosa dengan senyum sumringah nya.
" Iya, sama-sama, hei Yan,, selamat ya, masih semangat kan? Jangan kasih kendor ya!" Ada-ada saja mas Pur dan pak Tian, mereka tertawa bersama.
" Masihlah mas, masih semangat ini mas, amunisi masih banyak, dan siap mengempur malam ini." Rosa yang mengerti arah pembicaraan suaminya dan mas Pur hanya bisa tersipu malu.
Sebelum turun dari pelaminan, mba Susan meminta fotografer yang disewa pak Musa untuk mengabadikan mereka berfoto dengan pengantin, karena siapapun yang meminta berfoto dengan pak Tian dan Rosa di ijinkan tanpa terkecuali.
Setelah kepergian mba Susan dan mas Pur sesudah berfoto tadi, para tamupun silih berganti menyalami pak Tian dan Rosa di pelaminan, banyak yang minta berfoto dan banyak juga yang hanya menyalami dan mengucap selamat pada mereka.
Dari sudut pelaminan Ben dan Linda terlihat naik dan menuju ke arah Pak Tian dan Rosa, namun Rosa tak menyadari kedatangan mantan suaminya dan wanita yang dulu menjadi selingkuhan nya, sekarang tak tau sudah dinikahi apa belum.
" Selamat ya Ros," Membuat Rosa terkejut melihat mantan suaminya dan Linda sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
" Ehh, oh,, iya makasih bang!" Ucap Rosa gugup, tak menduga Ben hadir juga di Resepsi pernikahannya.
" Selamat pak, semoga bahagia selalu," Ben menyalami pak Tian dengan sedikit menekuk wajahnya, ternyata kedatangan Ben dan menyalami pak Tian dan Rosa di pelaminan tak sedikit mengundang perhatian orang apalagi yang tau hubungan Ben dan Rosa dulunya.
" Ohh,, pastinya bahagia, makasih sudah datang," Ucap pak Tian dan melepaskan tangannya.
Linda hanya menyalami dengan setengah hati tanpa berucap apapun, dan mengikuti Ben, terlihat dari penampilan Linda sudah banyak berubah, tak lagi dengan penampilan wah nya, jika kemaren pakaiannya selalu ****-****, kali ini lebih sopan, bahkan rambutnya yang dicat warna-warna, kini sudah hitam dengan potongan sebahu, dengan penampilan seperti itu Linda terlihat lebih baik dan cantik.
" Heeii,,, lamunin apa?, jangan bilang lagi terkenang sama mantan!" Pak Tian membuyarkan lamunan Rosa dengan menyentuh kan lengannya ke lengan Rosa yang serius memandangi Linda dengan perubahannya.
" Hmmm,,, bukan, aneh aja, tuh perempuan nya ko bisa berubah ya penampilannya, dulu kan gayanya wahh gitu, ko sekarang gak lagi, padahal ke pesta loh," Rosa sedikit memelankan suaranya membuat pak Tian mengerti.
" Ohh,, aku pikir kamu itu pingin kembali ke mantan," Pak Tian mendapat cubita kecil dari Rosa di pahanya, jelas sakit dan terasa panas.
" Rasain,,, " Ucap Rosa kesal.
" Hmmm,,, aku balas nanti malam ya, awas, sampe ampun-ampun!" Kata pak Tian sambil mengusap-usap pahanya yang masih terasa sakit.
" Ihhh,,," Rosa mencebikkan bibirnya, dan mengangkat jari kelingkingnya ke arah pak Tian.
" Selamat Ros," Rosa terkejut namun segera menyambut tangan pak Awal dan dilanjutkan dengan istrinya yang juga membawa kado.
" Selamat pak, semoga awet ya pak,"
" Ohh, makasih pak,, makasih bu, tak perlu repot-repot seperti ini bawain hadiah'' ucap ak Tian lagi.
Resepsi berlangsung hingga jam tujuh malam, setelah nya adalah hiburan orkes yang mengundang penyanyi dangdut ibukota yang disambut antusias seluruh karyawan perusahaan, karena tepat malam minggu, sehingga karyawan menghabiskan waktu mereka untuk menikmati hiburan gratis dari pak Musa.
Rosa sangat kelelahan, setelah seharian banyak berdiri dan menyalami para tamu undangan dan melayani mereka berfoto bersama.
Setelah membersihkan make up dan juga membersihkan dirinya, Rosa segera membaringkan tubuh lelahnya dan tak lama tertidur, sementara pak Tian setelah mandi tadi izin keluar menemui beberapa undangan teman bisnisnya pak Musa, dan menemani mereka minum bersama.
Suasana diluar masih ramai, tiba-tiba Alexandria datang dengan panik,
__ADS_1
" Ka, Yola ada disini?"
" Hah,, apa?" Pak Tian bertanya masih belum paham pertanyaan Sandra.
" Kaka ada lihat Yola? "
" Yola tapi sama klian tadi?" Pak Tian memastikan Yola yang tadi ikut dengan mereka.
" Iya ka, barusan Yola ada sama aku,
tadinya kami menonton orkes di depan, posisinya di depan tapi depan pinggir jalan sana sama Yola dan Natalia, namun tadi Natalia pergi sebentar mau buang air Yola yang duduk di samping Sandra menghilang, kejadian itu begitu cepat, sebelum Natalia pergi terlebih dahulu menitipkan ke Sandra ka dan Yola masih duduk dengan manis dan anteng karena lagi makan jalan," Cerita Alexandria dengan panik campur takut.
"Terus Natalia mana," Pak Tian juga mulai panik.
" Lagi nyariin juga ka, tadi nanyain yang dekat kami duduk malah bilang gak perhatiin," Kali ini Sandra mulai menangis.
" Ada apa Tian?" Pak Musa yang mendengar tapi tak mengerti apa yang dipermasalahkan ikut bertanya.
" Yola pa, katanya gak ada, padahal barusan masih bersama Sandra, aku pergi dulu pa mencarinya." Tanpa menunggu jawaban pak Musa, pak Tian pergi diikuti Sandra yang merasa bersalah.
Karena kalah cepat berjalan dengan pak Tian, Sandra ketinggalan jauh, dan tak sengaja menyenggol seseorang hingga lengannya sakit, Sandra sampai berhenti melihat siapa yang disenggol nya di cahaya lampu yang tak begitu terang tapi cukup bisa melihat wajah orang.
" Ehh,, maaf mba,," Ucap seorang pria bertubuh tinggi dan segera mengambil ponselnya yang ternyata terjatuh saat tersenggol tadi.
" Ohh,, maaf, " Tapi sepertinya dia mengenal pria tersebut, begitu juga si pria merasa mengenal Sandra.
" Mba adik pak Tian itu kan?" Ternyata pria itu adalah Parulian.
" Ohh iya bang, maaf tadi buru-buru gak lihat,," Sandra mengusap air matanya agar tak terlihat oleh Parulian.
" Mba kenapa, sepertinya mba baru menangis?" Lian bertanya pada Sandra.
" Oh iya, kenalkan saya Lian, Parulian adik sepupu ka Rosa"
__ADS_1
" Saya Alexandria biasa dipanggil Sandra, Yola barusan hilang saat kami nonton disitu," Tunjuk Sandra tak jauh dari dimana mereka berdiri saat ini.
" Yola hilang mba?"