Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Kedatangan Yola ke kantor


__ADS_3

Setelah hampir delapan bulan berlalu,Ros pun sudah sah bercerai dengan Ben dan telah ketuk palu sejak lima bulan lalu,walau dengan banyak drama akhirnya dia lega bisa lepas dari Ben yang kini jadi mantan suaminya,dan sepertinya Ros belum bisa membuka hatinya dengan hadirnya laki-laki menggantikan Ben,sepertinya dia masih trauma sehingga sedikitpun tak terpengaruh dengan perhatian-perhatian kecil dari Tian,dia hanya menganggap Tian adalah atasannya.


Tadi mba susan telepon,Tiba-tiba harus pergi dengan suaminya ke kampung halaman mas Pur karena mendapat kabar mertuanya atau orang tua dr mas Pur masuk rumah sakit,dan Yola diminta Ros diantar ke kantor aja,tak lama terdengar dipintu suara ketukan,


"Ya,," Ros menyahut suara ketukan dan sudah nongol kepala mba Susan di daun pintu yang dibuka,dan terdengar suara comel anak perempuan dua tahun yang lucu dengan kuciran rambut ekor kudanya.


"Mama,,,,," Si bocil perempuan langsung berlari ke arah meja kerja Ros.


"Jangan lari-lari dedek,jatoh,,," Mba Susan memperingatkan sambil berjalan membawa tas kecil berisi cemilan Yola dan susu.


Ros meraih anaknya,dan mencium memeluk buah hatinya yang selalu jadi mood booster baginya dalam situasi apapun.


"Jadi sekarang berangkat mba?" Ros sampai lupa sama mba Susan karena sibuk sama Yola.


"Iya Ros,mungkin akan lama empat hari sampai seminggu lah,berat sih ninggalin si cerewet ini" Sambil mencium pipi Yola.


"Ya udah gak papa mba,kan kasian juga orangtua sedang sakit"


Dari pintu yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan pak Tian muncullah pak Tian yang mendengar percakapan Ros dengan mba Susan dan suara celoteh anak perempuan yang membuatnya penasaran ingin melihat,


"Siapa bu Ros,," Pak Tian sudah terlihat memasuki ruangannya.


Dan semua mata tertuju pada sumber suara tersebut,dan Yola tiba-tiba memeluk Ros dan membenamkan wajahnya di tubuh Ros,


"Ini pak,mba Susan ngantar anak saya,soalnya mau pulang mertuanya sakit pak" Ros menjelaskan.


"Hai gadis cantik,lihat sini,yuk main" yang disapa langsung melihat ke arah Pak Tian.


"Mama,,tu ooom" jari terunjuknya yang lentik pun mengarah ke pak Tian,yang ditunjuk juga menunjuk ke arah dirinya dengan lucu,

__ADS_1


"Ini bukan ooom,,tapi uncle,,uncle ya sayang,,ingat uncle,sini sama uncle,main sama uncle" Tian sedikit merendahkan tubuhnya.


Ternyata Yola mau,"jarang loh pak dia langsung mau sama orang yang jarang dilihatnya" Mba Susan berkomentar.


"Rindu papanya kali,," Pak Tian sedikit mencebikkan bibirnya ke arah Ros.


Ros hanya menanggapi dengan senyuman,


"Ya udah Ros,mba pergi dulu ya,,jangan rewel ya sayang kalo ibu gak ada" Mba Susan izin pergi dan tak lupa mencium Yola yang sekarang sudah di gendongan pak Tian.


"Oh iya mba,Hati-hati ya mba,kabari kalo udah sampai,dan ini sedikit buat mba" Ros menyodorkan amplop coklat berisi lembaran uang.


"Apaan sih Ros,kamu ini ya,gak usah,," Mba Susan menolak padahal selama dia mengasuh Yola juga gak pernah mau di upah.


"Kali ini aku tersinggung loh mba,selama ini nolak terus kalo aku kasih,entah gak sesuai ekspektasi mba mungkin ya makanya nolak terus," Ros sambil terkekeh dan memaksakan hingga amplop benar-benar sudah di tangan mba Susan."nanti aku nangis klo gak diterima"


"Hmmmm,,,,udaahhh diterima,tapi lain kali kalo ngasih jangan tanggung-tanggung ya kalo bisa sekalian DP mobil " Mba Susan pun ikut terkekeh dia sudah menganggap Ros seperti adiknya.


Ros memperhatikan pak Tian dan Yola bergantian,begitu dekatnya mereka padahal baru bertemu,ternyata Tian menyukai anak kecil,dan Yola pun begitu menyukai pak Tian,lucu mendengar mereka yang lagi bermain,kadang bercerita dan penggabungan kosa kata yang belum sempurna dari bibir mungil Yola membuat Tian dan Ros yang mendengar akan tergelak tertawa.


"Yola udah bobok belum?" Yola mengalihkan perhatian Yola,


"Yum,,yum bobo cama mbu"


"Bobok ya,nih susunya masih anget,bobok di sofa aja ya nak" Ros menghampiri anaknya dengan membawa susu,namun si gadis cilik malah memeluk erat pak Tian.


"Nyo,nyo,nyo,nyo" sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya namun wajahnya tidak kelihatan karna dibenamkan ke dada pak Tian,yang dipeluk pun membalas pelukannya membuat Ros begitu tertegun melihat pemandangan itu,pemandangan yang dia rindukan dari Ben dulu.


"Bobok sama uncle aja mau?" Pak Tian mencoba membujuk si gadis kecil.

__ADS_1


"Mau.." Tiba-tiba Yola menyahut dan mendongkakkan kepalanya ke arah pak Tian.


"Yuk,di tempat uncle aja sana,mana susunya mama" Dengan santai pak Tian bilang mama ke arah Ros,membuat Ros jadi grogi dan menyodorkan botol susu Yola ke arah pak Tian yang sudah menggendong anaknya masuk ke ruangan pak Tian.


Ros ditinggalkan masih berdiri mematung di tempatnya tadi saat memberi susu Yola,tersadar saat mendengar suara pintu tertutup.


"Masalah baru nih,duhh bikin sakit kepala aja" Ros merutuk dalam hatinya dan memijit-mijit kepalanya yang tidak pusing.


Benar saja,tak terdengar apa-apa dari dalam,hingga jam istrahat sudah usai pun belum terdengar suara mereka,memang Yola terbiasa tidur lama kadang sampai lebih tiga jam.


Ros mengetuk pintu ruangan pak Tian dengan membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani namun tak ada sahutan,diputarnya handle pintu dan diperhatikan seluruh ruangan,tak ada menunjukkan jika pak Tian bekerja sejak masuk ruangan tadi,dan langkah Ros membawanya ke ruangan pribadi yang sedikit terbuka pintunya,,pelan didorong nya daun pintu tersebut terlihat tak jauh ada kasur yang lumayan besar dan ada disana pemandangan yang dirasa sangat indah yah Yola yang tertidur di atas tubuh pak Tian,dan mereka tertidur dengan nyenyak,botol susu pun sudah di atas nakas dan kosong.


Lama Ros mematung hanya memandngi mereka,akhirnya diambilnya HP nya dari saku blazernya dan mengabadikan dengan beberapa foto, dia tersenyum dan pelan-pelan keluar dari ruangan itu.


Begitu dekatnya Pak Tian dengan Yola,padahal baru beberapa waktu ketemu,dulu aja Ben tidak pernah sedekat ini dengan Yola,namun kali ini benar membuat Ros terpaku,benarkah Yola merindukan sosok seorang papa yang begitu mencintainya,butiran beningpun berhasil lolos dari pelupuk matanya,membayangkan begitu kurang beruntungnya Yola yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang papa.


Ros kembali ke meja kerjanya dengan sejuta kekacauan hatinya,apa dia sanggup memberikan kasih sayang seorang papa untuk Yola hingga dewasa nanti,gimana dengan mentalnya,apa yang harus dilakukan jika suatu saat Yola kecewa dengan kasih sayang pak Tian,ini membuatnya tidak fokus mengerjakan pekerjaannya,hingga Ros tersadar dari lamunannya karena suara pintu yang terbuka,


"Mama...." Terlihat Yola muncul dituntun Pak Tian dengan muka baru bangun tidur mereka,namun sudah terlihat wajah keduanya di raup,segera Ros memalingkan wajahnya agar tak terlihat sedang menghapus air matanya.


"Hai anak mama udah bangun?"diberinya senyum terbaiknya buat anak kesayangannya,namun yang ditanya malah naik ke pangkuan pak Tian yang duduk di sofa ruangan Ros,di peluknya dan serasa tak ingin jauh dari pak Tian.


" Hei,,anak gadis,kenapa?"pak Tian menundukkan kepalanya dan dengan kedua tangannya mencoba melepas kepala Yola yang menempel di dadanya,Yola hanya mencebikkan bibirnya dan kembali membenamkan kepalanya ke dada pak Tian,ini membuat pria lajang ini tertawa dan kembali menggodanya dengan menggelitik Yola,dan yang digelitik semakin menguatkan pelukannya.


Melihat itu Ros hanya bisa terdiam,menyadari Yola yang telah begitu lengketnya dengan pak Tian hanya dengan hitungan jam,begitu mudahnya dia mengambil hati seorang gadis kecil yang masih polos,terlihat apa yang diberikan begitu tulus kepada anaknya,bahkan seseorang Ben pun tidak pernah sedekat ini dengan Yola.


"Sayangg,,oom nya mau kerja,sini sama mama aja," Ros mencoba memanggil Yola


"Nyo,nyo,,mama" dengan jari telunjuk yang digoyang-goyangkan ke arah Ros,kebiasaannya jika menolak apa yang dia tidak mau.

__ADS_1


"Udah biarin aja,,dia ini pingin dikasih papa bu Ros" Pak Tian dengan entengnya berkomentar membuat Ros salah tingkah.


"Dia gak butuh papa,,dia cuma butuh disayang bukan papa" Ros menepis komentar pak Tian,tapi wajahnya ikut memerah,membuat pak Tian tertawa karna telah berhasil menggoda Ros.


__ADS_2