
Sudah tiga hari Yola ikut ke kantor,sudah tiga hari juga Yola nempel terus ke Pak Tian,jika pak Tian masih berada di kantor akan sulit ditemui Ros bersama putrinya,Yola lebih memilih bermain di ruangan pak Tian,dan akan ada drama ketika pak Tian turun ke lapangan mengunjungi Divisi atau mengecek pabrik,akan sulit meninggalkan Yola,dan butuh waktu membujuknya agar mau ditinggal,begitu juga pak Tian,jika sudah kembali aka lebih dulu mencari keberadaan Yola,akan terlihat begitu rindunya mereka jika sudah bertemu,terkadang Ros hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua mahluk yang beda usia dan tak ada ikatan darah sedikitpun seperti pagi ini saat pak Tian akan pergi ke pabrik,
"Antel nyo,nyo pegiiiii,,,nyo nyo antel" Yola mulai menyatukan tangan mungilnya di dada dan bersikap marah pada pak Tian.
Ros hanya menonton drama mereka pagi ini,sambil mengecek beberapa berkas yang diberikan pan Amir barusan,terkadang dia pun fokus ke laptop didepannya.
"Uncle kerja dulu,ituh disana ooom-oom sudah menunggu uncle" Pak Tian dengan sabar membujuk dan mengangkat Yola dan duduk di pangkuannya.
"Nyo,nyo,," dramanya pun berlanjut dengan linangan air mata,,"nyo,nyo,,antel"
"Hei,,dengar uncle dulu,,,Yola mau coklat tidak?"
"Nyo,nyo,,,nyo nyo,,," Dan Yola pun memeluk erat pak Tian membuat pria tampan ini tertawa geli.
"Terus mau apa coba??,,,mau dikasih papa baru tidak?" Yang ditanya lansung terdiam dan mengarahkan wajahnya ke wajah pak Tian dan langsung mengangguk,
"Hmm,,hmm" Jelas kali ini pak Tian tertawa ngakak,Ros yang mendengar pun serasa tercekat kerongkongan nya dan membuatnya terbatuk-batuk.
"Sembarangan" Disela batuknya Ros masih bisa berucap seolah membantah perkataan pak Tian.
"Apanya yang sembarangan bu Ros,,ini anaknya yang ngomong ko,,ya kan cantik" Mencoba menyakinkan statement ya ke Yola,dan Yola pun mengangguk-angguk seperti mengerti dengan ucapan Pak Tian sehingga pak Tian merasa menang dengan pengakuan Yola.
"Serah lah pak" Ros coba diam,dan malas berdebat dengan pak Tian,rasanya percuma pasti yang selalu mati kata ya Ros.
"Apanya yang serah bu Ros,kasih papa dong,kasian anaknya,,ini juga mau ko jadi papanya" Dengan percaya diri pak Tian menawarkan dirinya.
Wajah Ros mendadak memerah seperti kepiting rebus,rasanya malu digoda secara terang-terangan didepan putrinya,untung ini dalam ruangan yang pasti hanya mereka yang mendengar,melihat itu Pak Tian semakin tertawa.
"Sini nak,,yuk ntar Ibu pulang loh,," Ros mengalihkan pembicaraan.
"Mbu??" Yola bertanya seperti meyakinkan tentang mba Susan yang Ros bilang akan pulang.
"Iya loh,,sini aja main deket mama disini" Dan Yola pun turun dari pangkuan pak Tian,Ros pun mengeluarkan beberapa mainan boneka dan masakan yang disimpan di bawah mejanya.
__ADS_1
"Mbu puyan,,,holeeee mbu puyan,mbu puyan" Yola bersorak dan tepuk tangan mungkin dia juga sudah rindu.
"Gimana sih,suka aja mbohongi anak kecil,Hati-hati nanti ditagih baru kapok" Pak Tian pun mengomel.
"Biarin,,sekali-kali tak apalah"
***
Seharian Pak Tian sibuk bekerja,sehingga Yola pun sedikit terlupakan,terkadang di sela-sela kesibukannya di setiap ada yang telepon atau mengirim pesan WA dia pasti tersenyum dimana yang menjadi wallpaper nya adalah foto Yola,dia begitu bahagia sejak bertemu Yola,gadis kecil yang imut,lincah,cerewet,pintar membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa gemas.Dan baru berapa hari mengenal Yola galeri HP pak Tian sudah banyak foto Yola dengan beragam gaya,mereka akan betah berdua berjam-jam hingga Yola tertidur.
Sudah menjelang pukul tiga sore,Yola pun sudah bosan bermain sendiri,dan sejak pagi tadi sudah dua kali tidur,dan mulailah mencari keberadaan mba Susan,
"Mbu,,mbu" Sambil memainkan boneka Barbie nya.
Ros diam saja,dan hanya memperhatikan apa yang dikerjakan putrinya.
"Mbu ma,mbu,," Yola meletakkan mainannya sembarang dan menghampiri Ros.
"Ibunya belum pulang ya nak,,nanti ibu pulang oke" Ros mencoba membujuk.
"Hmm,,ibu belum pulang,nanti kita telepon ibu ya!"
"Epon antel ma"
"No,no,no," Ros menolak dengan mengayun-ayunkan jari telunjuknya.
"Mau antel"
"Uncle kerja,gak boleh telepon uncle kalo lagi kerja" Dengan tegas Ros bicara ke putrinya.
"Mau antel,,,hua,,,aa,aa,,aaa"tangisnya pun pecah dengan kencang,dibujuk gak mau diam,semakin di bujuk semakin menangis,Ros sampai kewalahan dibuatnya.
" Unclenya lagi kerja sayang,ntar lagi pasti pulang"yang dibujuk diam sebentar belum lagi semenit udah nangis lagi begitu hingga sejam namun yang ditunggu tak kunjung pulang,di bawanya keluar menjelang jam pulang dengan masih menangis,tak sengaja bertemu dengan Ben di depan ruangan kasir dan melihat Yola yang masih menangis,
__ADS_1
"Yola kenapa dek?" Ben bertanya dan berniat menggendong Yola,namun belum lagi menyentuh putrinya,malah semakin kencang suara tangisannya,sehingga Ben mengurungkan niatnya.
"Biasa yang dicari gak ada." Ros hanya menjawab sekenanya saja,"udah dulu bang,mau cari jajan an dulu"sedikit menghindari Ben dan sudah sering dilakukannya tanpa memberi waktu buat Ben berbicara dengannya,ini dilakukan karena Ros masih kecewa,sejak pertengkaran dulu tak pernah ada sedikitpun niat Ben untuk menjenguk putri mereka,jangankan untuk memberi biaya susu anaknya,mengunjungi saja tidak pernah,makanya tak heran jika Yola pun tak mau digendong papanya sendiri.
Diturunkan nya Yola dari gendongannya,dan menuntunnya menuju warung pak Rahmad,belum lagi sampai di tujuan dari arah depan terlihat mobil Pak Tian,dan berhenti tepat di dekat mereka,,
"Hai anak gadis,,mau kemana?" Pak Tian menurunkan kaca mobilnya,terlihat pak Tian yang begitu tampan dengan kaca mata yang dipakainya,,Yola masih bingung,namun ketika kaca mata dibuka baru sadar jika yang dicarinya sudah di depan matanya,,,
"Antellll,,,," Dengan kedua telapak tangannya ditutupnya mulutnya dengan lucu,membuat pak Tian gemas dan segera turun dari mobilnya.
"Heii,,,kesayangan uncle" Pak Tian pun merendahkan tubuhnya dan merentangkan kedua tangannya,si gadis cilik pun segera memeluk orang yang dirindukan nya,belum penuh sehari gak ketemu,seperti sudah berpisah segitu lamanya, dan mereka sukses menciptakan drama yang manis.
"Antel,," Ros tak sengaja membuang pandangannya ke arah kantor yang belum jauh mereka tinggalkan,disana ada sosok yang memperhatikan mereka,siapa lagi kalo bukan Ben,dia masih di tempat dimana dia dan Ros bertemu,ternyata Ben dari tadi belum beranjak pergi ketika Ros meninggalkannya.
"Ko sepertinya anak gadis uncle nangis?" Diperhatikan nya wajah Yola yang masih sembab,dan sesekali masih terdengar suara sesenggukan dari Yola.Yang ditanya malah mengeratkan pelukannya,seolah tak ingin jauh dari pak Tian lagi.
"Udah lebih sejam nangisnya,yang dicari mba Susan juga pak Tian" Ros menjawab jujur,malas kalo nanti malah duluan Yola yang cerita.
"Kan dah dibilang jangan janjiin apa-apa sama anak kecil,dibilangin malah ngeyel kamu"pak Tian mulai mengomel,yang di omelin cuma mencebikkan bibirnya," Yuk sama uncle aja,Ros saya bawa anak kamu ya ke Paviliun" Ros sedikit terkejut biasanya ada kata bu sebelum dia menyebut namanya,dan tanpa menunggu persetujuan Ros,mereka sudah pergi meninggalkan Ros.
Dengan malas Ros melangkahkan kakinya kembali ke kantor,disana Ben seperti menunggunya,
"Dek,abang mau bicara,," Dengan sedikit kasar ditariknya Ros sedikit menjauh dari ruangan kerja,,"ada hubungan apa sama pak Tian?" Ben seolah terima dengan apa yang dilihatnya barusan.
"Apa urusanmu?" dengan ketus Ros balik bertanya.
"Ada dong,Yola anak aku,tapi ko diba....."
"Dibawa orang gitu??baru sadar kalo Yola itu anakmu?selama ini lu dimana?" Belum selesai pertanyaan Ben, Ros dengan kasar menjawabnya sambil jari telunjuknya ke dada Ben,sehingga Ben sedikit mundur selangkah karena tekanan jari Ros.
"Iya,,tapi seharusnya kamu jaga harga dirimu loh dek"
"Eh tutup mulutmu,tau apa kau dengan harga diri,berkaca dengan apa yang sudah kau lakukan ke aku juga Yola,,sekali lagi aku peringatkan,jangan ikut campur dengan urusanku,kau hanya bapak dari anakku tak lebih,jadi tak usah urusi hidupku juga anakku,,kami tak butuh,paham!" Ros benar-benar marah terhadap Ben,dan segera berlalu meninggalkannya,karena ada beberapa pasang mata melihat dan mendengar pertengkaran mereka.
__ADS_1
Kesal rasanya hati Ros dengan sikap Ben,ternyata tak sedikitpun berubah walau sudah berpisah hampir setahun,selalu saja seperti itu.segera dibereskan meja kerjanya dan pulang karena sudah waktunya pulang.