
Namaku Heru Kristian usiaku saat ini belum tiga puluh tahun, aku anak pertama dari Musa Admojoyo dan Maria Sarela, papaku adalah pemilik salah satu Perkebunan Sawit terbesar di Indonesia, dan aku memiliki dua orang adik perempuan yang tak kalah cantik dengan mamaku, mereka adalah Alexandria yang berjarak lima tahun denganku saat ini sedang melanjutkan study S2 di salah satu Universitas di Singapura dan Natalia si bungsu juga berjarak lima tahun dari kakaknya Alexandria dan sedang kuliah semester lima di Universitas terbesar di Yogyakarta.
Kehidupan kami sangatlah tercukupi dan kami tergolong keluarga mampu dan papa sangat mendukung kami dalam pendidikan, kami diberi kebebasan memilih sekolah dan universitas manapun sesuai keinginan kami.
Aku sudah sepuluh tahun lebih tinggal di Amsterdam Belanda sejak aku memutuskan kuliah disana, dan hanya pulang setahun sekali karena papa dan mama akan berkunjung setiap enam bulan sekali untuk menjengukku, mengingat aku anak laki-laki satu-satunya mereka jadi mereka sangat mengharapkanku untuk meneruskan usaha perkebunan yang mereka rintis dari nol.
Di keluarga, kami sangat dekat satu sama lain, bahkan kami sudah terbiasa saling bercanda dan terbuka sehingga ketika kami punya masalah akan selalu ada tempat buat cerita dan mencari solusi, itu yang diajarkan papa mama kepada kami anak-anaknya.
Aku mengenal Rosa Ulianta baru setahun terakhir, namun sebelumnya sekitar enam tahun lalu papa sudah mengenalkan Rosa lewat ceritanya kepadaku, setiap kali bertemu papa selalu bercerita tentang seorang Gadis Cantik karyawannya di Perkebunannya, saat itu Perkebunan papa mulai berkembang, dari cerita papa bisa aku simpulkan jika papa sangat menyukai Rosa dan berharap aku penasaran dan bertanya, namun saat itu belum ada sedikitpun ketertarikan ku untuk mengenal wanita.
Bukan papa namanya jika belum bisa membuatku penasaran, dan cerita itu entah sudah berapa kali kudengar, tentang prestasinya, tentang kecantikannya, bahkan apa saja yang membuatnya kagum dengan seorang Rosa,sepertinya Rosa itu begitu sempurna di mata papa, yang akhirnya membuatku benar penasaran namun malu untuk bertanya karena sudah terlalu lama tak memberikan respon ke papa.
Tiga tahunan juga aku mendengar cerita tentang Rosa, dan berhasil membuatku penasaran namun rasa penasaran ku terobati dengan kesibukan ku karena sudah bekerja dan melanjutkan study S2 ku, namun sejak tiga tahun lalu ketika aku mulai berharap papa bercerita tentang Rosa, papa seolah sudah melupakannya dan benar-benar berhenti tidak menceritakan Rosa lagi, padahal aku merindukan Rosa walau hanya dari cerita Papa, dan akupun akhirnya malu sendiri untuk bertanya ke papa, membuatku sering galau dan rindu ingin pulang ke Indonesia.
Tepat setahun lalu papa sakit, dan sempat di rawat selama sebulan penuh di Rumah Sakit, dan dokter menyarankan agar papa harus benar-benar istrahat total dan tidak terbebani dengan pikiran selama pemulihan sakitnya, sehingga Papa dan Mama memintaku untuk kembali ke Indo.
__ADS_1
Sebenarnya aku sudah nyaman tinggal di Amsterdam karena sudah bekerja hampir tiga tahun, namun saat ini papa sangat membutuhkanku, sehingga aku memutuskan untuk pulang saja demi perkebunan papa, mengingat di perkebunan juga ada Pabrik pengolahan Sawit sehingga memang harus aku yang turun tangan karena papa belum tentu bisa pulih sedia kala dalam waktu dekat.
Aku pulang ke Indo dan langsung ke Perkebunan papa tanpa singgah lagi ke rumah Papa mengingat udah hampir dua bulan papa tidak ke Perkebunan mengontrol keadaaan disana, aku bertemu pak Amir sebagai salah satu kepercayaan papa, dan membawaku ke Paviliun yang khusus ditinggali papa jika papa berkunjung, disana sudah ada pak ujang dan bu Titik menjaga dan merawat Paviliun papa.
Hari pertama bergabung di perkebunan papa aku masih bingung memulai dari mana sedangkan aku tidak paham sama sekali tentang perkebunan, untung pak Amir selalu mendampingiku dan membantuku, menyampaikan apa saja yang aku butuhkan, terkadang pekerjaannya ikut terbengkalai karena membantuku, sehingga aku memintanya untuk mencarikan orang yang bisa membantuku dan sudah paham dengan pekerjaan kebun, walau aku tau tidak mudah mendapatkan nya dalam waktu singkat.
Sejak aku tiba di perkebunan, aku sama sekali belum memperkenalkan diri kepada staff lapangan dan hanya beberapa orang penting di kantor besar yang sudah tau sehingga aku meminta pak Amir mengumpulkan mereka dan mengadakan rapat singkat untuk memperkenalkan diriku.
Hari itu aku terburu-buru karena lupa jika ada rapat yang kuminta, mana aku kesiangan bangun, karena belum terbiasa bangun pagi,,
Tak sengaja aku menabrak seseorang dan hampir jatuh, dengan sigap ku tarik lengannya yang membuat dia meringis kesakitan baru sadar dia seorang perempuan yang cantik, rambut hitam sebahu, dengan penampilan rapi, tinggi semampai mungkin sekitar 160 an sejenak aku terpesona melihatnya, dia mengaduh dan segera aku meminta maaf,,
" Maaf buk,,saya tidak melihat,!"
Namun dia berlalu saja tanpa memperdulikan permintaan maafku, ternyata kami menuju ruangan yang sama, dan hatiku begitu lega mengira dia adalah orang yang akan membantuku yang dipindahkan dari Divisi lain, setidaknya aku tidak merepotkan pak Amir lagi, dan ku suruh mereka segera ke ruang rapat dan mempersiapkan keperluan rapat.
__ADS_1
Kulihat wanita yang ku tabrak tadi sepertinya mau protes, namun segera kutinggalkan karena aku tak suka dibantah, dan benar mereka memasuki ruang rapat bersama pak Amir, banyak pasang mata yang melihat ke arah wanita itu seolah bertanya-tanya membuatku penasaran, kupandang ke arahnya namun kulihat dia begitu profesional dan sigap seperti sudah benar-benar paham apa yang harus dikerjakannya.
Selesai rapat, kulihat ada kekesalan dari raut wajahnya saat aku meminta hasil rapatnya untuk segera dilaporkan, membuatku semakin penasaran ingin tau dia siapa,
Hanya menunggu dua puluh menit pak Amir sudah masuk ke ruangan ku, dan membawakan hasil rapat yang masih baru kami tinggalkan, setelah kuterima pak Amir masih saja duduk di kursinya dan dengan berat mengatakan jika wanita yang dibawanya rapat tadi adalah Rosa,,
Tiba-tiba jantungku serasa berhenti mendengar namanya di sebut, wanita yang aku rindukan karena cerita papaku, yang selama ini hanya dalam hayalanku, ternyata aku bertemu denganya, disini dimana papaku juga mengenalnya, membuatku menyunggingkan senyumku yang pastinya pak Amir tidak tau arti dari senyumanku.
Tapi sekejap saja senyumku hilang saat kutau dia sudah menikah dan sudah setahun berhenti dan saat itu datang hanya akan mengambil rekomendasi nya selama bekerja di perkebunan papaku, namun tanpa pikir panjang kuminta pak Amir membujuknya untuk kembali bekerja lagi, mengingat cara dia menyelesaikan pekerjaan yang kuminta begitu ligat dan teliti, dan aku membutuhkan karyawan seperti dia.
Aku benar-benar berharap dia mau bekerja kembali, setidaknya hingga pak Amir menemukan yang benar-benar bisa diandalkan, dan setelah kepergian pak Amir tak lama Rosa masuk ke ruangan ku tanpa kata permisi atau mengetuk pintumu terlebih dahulu, dengan wajah kesalnya disampaikan tujuan nya ke kantor, namun bukannya marah aku memberikan senyum termanis ku buatnya, padahal aku sudah tau jika dia itu sudah istri orang, bodoh amat, aku begitu mengagumi nya.
Aku masih memberi waktu perpikir kepadanya, agar dia mau kembali bekerja tanpa menandatangani rekomendasi yang diberikan pak Amir tadi, dan Rosa pun pulang membawa kekesalan hatinya.
Sepanjang hari aku memikirkannya, rasanya menyesal tak jujur jika aku penasaran dengan Ros yang papa ceritain, hingga malam ini aku di buat bahagia karena Rosa meneloponku dan menyatakan akan kembali bekerja di perkebunan papa.
__ADS_1