
Terlihat Rosa dan mba Susan keluar dari arah Toilet, dengan wajah yang di tekuk Rosa kembali bergabung di meja tempat mereka makan, sedang Yola juga sudah kembali setelah ditenangkan mas Pur di luar, dan sedang asik bermain hitung-hitungan pake jari bersama pak Tian, jika ada yang melihat sepintas akan dikira Ayah dan anak karena kedekatannya satu sama lain.
Banyak pasang mata yang masih memperhatikan Rosa, tak sedikit juga berbisik-bisik tak jelas, namun ketika pak Tian memberikan pandangan tak suka mereka pun memberhentikan nya.
" Gimana? Bisa kita lanjut, dah hampir sore nih!" Mas Pur melihat ke jam tangannya.
" Ya udah, tuh makanannya dibawa aja, ntar malam tinggal manasin." Ucap pak Tian, ternyata sisa makanan cukup banyak dan telah terbungkus rapi dan siap di bawa.
" Kita langsung pulang? "
" Belum mba, katanya bu Titik mau belanja beras dan minyak goreng, kita sekalian ke ARIAN MALL aja biar sekalian bawa Yola main." Pak Tian menyebut salah satu Mall yang ada di kota itu.
" Mas bawa duit kan?" Dengan sedikit manja ditatap nya mas Pur, sehingga membuat yang lain tersenyum tak terkecuali Rosa.
" Mau kartu ato cash? " Mas Pur bertanya pada wanita yang sudah dinikahi hampir delapan tahun ini.
" Cash aja, cuma mau beli perlengkapan mandi aja ko." Mba Susan tersenyum melihat mas Pur mengeluarkan uang sepuluh lembar uang merah.
" Cukup?"
" Gak habis juga,"
" Ya udah dibawa aja." Mas Pur menutup dompetnya dan memasukkan kembali ke kantong belakang celananya.
Pak Tian tak sengaja melihat kearah Rosa, ternyata Rosa masih memperhatikan mba Susan dan mas Pur dengan menyunggingkan senyum.
Rosa yang merasa diperhatikan pak Tian mengalihkan pandangannya yang tertegun melihat mba Susan dan Mas Pur, sebenarnya bukan sekali dua kali dia melihat hal serupa, apalagi sejak Yola di asuh mba Susan sering kali melihat mba Susan meminta uang dan selalu diberi mas Pur, padahal uang bulanan mas Pur rutin kasih setiap bulan, dengan nominal yang mencukupi.
Ternyata benar juga, jika laki-laki tidak pelit pada istrinya rejekinya akan baik, dan Rosa tau mba Susan bukan tipe orang boros, tapi bukan orang pelit juga, jika uang yang diberikan Mas Pur bersisa mba Susan langsung menabungnya, bahkan dulu pernah Rosa bertanya ngapain di tabung lagi mba Susan cuma menjawab " Nanti kalo di kasih Rejeki punya anak, gimana?" Ternyata harapannya punya anak begitu masih besar.
Rosa membandingkan dirinya yang dulu saat jadi istri Ben, jangankan memberi uang, malah memanfaatkan tabungan nya untuk keperluan bersama sehari-hari, malah tidak pernah berlaku mesra atau manis padanya, mengingat itu kembali buliran bening jatuh di pipinya.
" Rosa,, ayuk " Ternyata tinggal mereka berdua dengan pak Tian.
" Ohh,, iya" Rosa langsung menyeka air matanya dan meraih HP nya yang terletak di meja.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang digenggam pak Tian.
Semua sudah menunggu dan terlihat Yola duduk di depan dengan mba Susan, melihat kedatangan Pak Tian si balita perempuanpun kegirangan.
" Antel,, antel, Oya tutu epan ( Uncle, Uncle, Yola duduk didepan)." Dengan riangnya berceloteh, ada aja cerita mereka dengan mba Susan.
" Pak, tadi minta ibunya duduk di depan bersamanya." Mas Pur seperti minta ijin.
" Ya gak papa loh mas," Pak tian terkekeh sambil menaiki mobil.
" Mama, Oya epan mbuu ( mama, Yola didepan sama Ibu).
Rosa hanya tersenyum mengangguk melihat putrinya dan segera membuang pandangannya keluar dari kaca mobil, hatinya masih sedih.
Mas Pur mengemudikan mobil ke Mall Arian yang berjarak hanya sepuluh menit dari resto.
Tak ada yang saling bicara, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, kecuali Yola yang ngoceh terus kayak burung yang berkicau, terkadang mereka tertawa melihat tingkah lucu Yola.
" Sampaiiiiii,,,," Mas Pur menghentikan mobil di parkiran.
" Loh ko banyak amat nak, paling belanjanya tiga ratus ribu" Bu Titik menjelaskan, jelas dia terkejut melihat pak Tian memberinya uang dua setengah juta.
" Udah sisanya sama ibu juga bapak, pakai aja buat keperluan sendiri, hati-hati nyimpan duitnya ya bu" Dengan tersenyum meletakkan uang itu ditangan bu Titik, pak Tian sudah menganggap mereka pengganti orangtuanya selama di perkebunan, bagaimana caranya dia bisa pelit dengan orang yang selalu membantunya, menyiapkan semua keperluannya di paviliun.
" Yola sama kami aja pak." Terdengar mas Pur sudah menjauh dari mobil menuju pintu masuk bersama mba Susan yang sedang menggendong Yola.
" Oke mas, nanti saya menyusul "
" Makasih banyak nak,," Dengan tulus bu Titik mengucap trimakasih, dan mengikuti mba Susan yang sudah sedikit jauh, mereka terlihat mempercepat jalannya bersama pak Ujang agar tidak ketinggalan.
Pak Tian melihat ke dalam mobil, Rosa masih diposisinya yang tadi, bersandar dan pandangannya keluar, terlihat dia mengusap air matanya, melihat itu pak Tian luluh dan kembali masuk ke mobil dimana dia duduk tadi bersebelahan dengan Rosa, tak lupa ditutupnya pintu.
" Sa,," Didekatkan nya lagi duduknya hingga tak ada celah di antara mereka.
Rosa masih diam, hanya isakan yang terdengar, pak Tian sangat kasian melihat Rosa yang sedih, sepertinya sakit hatinya sangat dalam dengan kejadian tadi.
__ADS_1
" Sa,," Di ulangnya kembali, berharap Rosa melihat ke arahnya, namun tak sedikitpun Rosa bergeming hingga akhirnya pak Tian menarik tubuh Rosa ke pelukannya, dan Rosa hanya diam saat dia dipeluk namun tidak menghentikan tangisannya, dia masih saja terisak.
Terasa tubuh Rosa bergetar karena menahan tangis.
" Menangislah sepuasmu Sa,, aku tau saat ini kamu rapuh, aku tau selama ini kamu menyimpan tangisanmu sendiri, aku tau kamu butuh pundak untuk bersandar, aku tau kamu butuh pendengar yang baik, aku tau kamu butuh orang yang melindungi mu menangislah sa, aku siap memberikan pundakku, aku siap mendengarkanmu, aku siap melindungi mu juga, jangan siksa dirimu seperti ini, jangan sampai kamu membenci putrimu karena kekecewaanmu pada mereka, Sa,,,,,aku ikut sakit melihatmu seperti ini,,"
" Mengapa sampai sekarang mereka masih saja memperlakukan aku seperti ini?, apakah aku seburuk itu? seburuk penilaian mereka" Rosa mencoba mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya.
" Tak ada keburukanmu Sa, kamu wanita yang sempurna yang pernah kutemui, kamu hanya di benci karena rasa iri, lihat apakah mereka lebih baik hidupnya dari kamu?"
" Jangan bicara bohong,, hanya untuk menenangkan hatiku, " Rosa melepaskan dirinya dari pelukan Pak Tian dan mengusap air matanya.
" Siapa yang bohong? Kamunya aja yang gak pernah percayaan."
" Gimana mau percaya, ngomongnya gak serius, senyum-senyum dari tadi."
" Bilang aja kamu tuh terpesona sama diriku juga senyumanku,"
" Gak juga," Rosa membohongi dirinya, sebenarnya dia begitu tersanjung diperlakuan manis oleh pak Tian.
" Buktinya, kamu dari tadi nangis, mba Susan aja menemanimu lama, tapi kamunya masih aja nangis, tiba aku peluk ini gak nangis lagi,"
" Apaan? " dicubit nya perut pak Tian, namun ditahan sebelum benar mendarat di perutnya, membuat wajah Rosa memerah, namun pak Tian malah menatap wajah Rosa dalam dan hanya berjarak beberapa senti saja.
" Jangan menutup hatimu Sa, katakan saja jika kamu juga memiliki rasa yang sama padaku, aku takan meninggalkanmu dengan alasan apapun," Dengan lembut di kecupnya kedua mata Rosa bergantian dan di tangkupkan nya kedua tangannya di wajah Rosa.
" Tak kubiarkan kamu sendirian, cari aku jika kamu ingin menangis lagi ya," Dan tanpa dikomando Pak Tian mendaratkan bibirnya di bibir Rosa dan sedikit ********** tapi terasa kaku,membuat Rosa terkejut namun tidak menolak, sepertinya dia juga menginginkannya.
Hanya sepersekian detik, pak Tian melepaskan ciumannya, dengan ujung jarinya dilapnya bibir Rosa yang basah karena ulahnya.
" Maaf ya,, udah lancang, hanya saja aku terbawa perasaan ku tadi." Pak Tian menyandarkan tubuhnya kasar, diraihnya tangan Rosa dan diletakkannya di dadanya, terasa jantungnya berdetak cepat, membuat Rosa tersenyum geli.
" Hmm,, emang kenapa."
" Itu first kiss ku"
__ADS_1
Bersambung 🥰