
Dena menatap ke arah tangga yang cukup tinggi di hadapannya dan menghela nafas, sebenarnya ia baru melepas perban putih di kepalanya dan akan sulit baginya untuk naik tangga...ia masih sedikit pusing...namun memang Dena tak ingin mencari masalah dengan tuan Devan...karna bagaimana pun dia hanya menumpang dirumah ini. gadis itu mulai melangkah pelan satu demi satu langkah menuju lantai atas..meski itu sedikit sulit namun dia berhasil untuk mencapai lantai dua meski nafasnya tersengal dan tanpa di duga oleh Dena kalau ternyata Devan sedang menunggunya di depan lift, pria itu menatap puas ketika Dena tampak kesulitan..
pria itu mendekat...Devan sungguh kesal sekali karna hari demi hari sang Mommy semakin dekat dengan Dena..mereka seakan tidak terpisahkan dan gadis ini sudah melepas perban di kepalanya namun nyatanya dia tak juga mau pergi dari rumah ini hingga memunculkan sebuah tanya apakah Dena merasa nyaman disini dan tak ingin pergi, lantasi sampai berapa lama..apa mungkin Dena punya rencana tertentu kali ini...
Kalau itu terjadi maka Devan tak akan pernah membiarkan itu terjadi...
''Bagaimana....apa kau lelah..'' suaranya begitu tak ramah hingga Dena hanya melonggarkan tenggorokannya sedikit takut.
Gadis itu mengangguk......
''Hum.....aku memang sedikit lelah jadi aku....''
''Dena....aku hanya ingin mengingatkanmu jika kau sudah terlalu lama tinggal disini....apa yang kau inginkan sebenarnya,jangan pikir kau bisa memanfaatkan Mommy yang memang mempunyai hati seorang malaikat...Dena,...aku tak akan pernah membiarkanmu memperalatnya,..''
''Tidak....aku tidak seperti itu tuan Devan..aku tau jika aku tidak akan selamanya tinggal disini aku cukup tau diri...aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang bukan milikku...''
''Benarkah.....mengapa aku tak percaya..Devan mendekati Dena hingga menjebaknya di tembok ruangan dekat kamarnya...matanya menajam...aku memberimu kesempatan pergi dalam akhir minggu ini jika tidak maka aku akan bertindak sendiri Dena...''
''Tuan Devan...tapi nyonya bilang aku akan...''
''Diam.....aku tau wanita sepertimu licik dan penuh ambisi, kau sengaja tertabrak mobil Mommy untuk mendekatinya, katakan padaku berapa lama kau mengintainya Dena...berpa lama....''
Dena menggeleng sungguh merasa sakit hati dia tak pernah menginginkan sepeserpun uang dari keluarga ini apalagi dengan memanfaatkan kebaikan tante Valerie..tidak..dia tidak di besarkan menjadi gadis serendah itu..
Airmata Dena hampir menetes namuan berusaha dia tahan, penghinaan tuan Devan kepadanya sungguh meleawati batas karna di lakukan berkali-kali...dan Dena sudah tidak tahan lagi dia memang akan berencana pergi...secepatnya...
''Aku akan pergi tuan....tenang saja...aku akan pergi dari sini dan jangan khawatir aku tak akan membawa apapun yang bukan menjadi hakku..karna di panti asuhanku aku tak pernah di ajarkan seperti itu...'' balas Dena sedikit berani..
Devan membeku mendengar ucapan Dena yang sedikit tegas kepadanya...
''Baik....aku akan melihat bukti Dena....dan awas saja jika kau berbohong lagi...aku tak akan membiarkanmu..''desis Devan dengan suara dingin..
Devan lalu menjauhkan tubuhnya dan meninggalkan Dena sendiri dan masuk ke dalam kamarnya..di saat itulah airmata tak sanggup di bendung oleh seorang Dena..gadis itu menangis di depan pintu kamar, menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan hanya meneteska airmata di wajah kesakitannya....
Deg!!!!!
Valerie memejamkan mata menikmati ketika Dena memijit pundaknya yang lelah, gadis ini punya tangan luar biasa untuk memijit....hingga wanita itu merasa nyaman,..
''Terimakasih sayang....''bisik Valerie merasa tubuhnya jadi lebih segar..
''Sama-sama tante...''
Dena menuju wastafel dan mencuci tangannya mereka sedang berada di ruang keluarga sekarang,
__ADS_1
''Dari mana kau belajar memijat seperti itu..pundak tante merasa sangat lelah namun kini lebih baik...kau berhasil Dena..''
Gadis itu tersenyum sopan....
''Salah seorang pengasuh di panti dia mengajarkan aku cara memijat bayi dan anak tapi karna tak ada anak kecil tapi kadang aku mempraktekannya pada ibu panti dan ibu sangat menyukainya..''Dena sumringah...
Bicara tentang panti dia rindu sekali tentang panti asuhan...sudah beberapa minggu dia disini...
Dena memandang Valerie yang sedang minum teh, dan mulai berpikir inilah saatnya untuk pamit pada tante...dia sudah sembuh dan saatnya dia pergi...
Dena lalu mendekati Valerie dan duduk di depannya..
''Tante...bolehkah aku bicara...''
Valerie mengangkat wajahnya...
''Katakan sayang...''
Valerie menepuk sofa di sampingnya dan meminta Dena duduk.
''Ehem.....aku ingin mengatakan jika aku ingin pergi dari sini..aku sudah sembuh jadi...''
Valerie menghela nafas..sudah beberapa kali Dena selalu meminta pergi sementara dia kesepian dan beberapa hari ini, Valerie juga sedikit lelah dalam urusan butik juga kesepian dan perlu teman bicara..
Dena menggeleng dengan cepat,...
''Tidak tante...tapi aku ingin mengunjungi panti dan jika tante mengijinkan aku bisa langsung menempati butik..''
Valerie mengangguk mengerti..
''Baiklah kau akan pergi dari rumah ini Dena...''
Dena tersenyum lega...jika begini dia tidak harus berhadapan dengan tuan Devan lagi...
''Tapi masalahnya,....tante sedang merenovasi butik untuk membuat satu kamar untukmu disana..jadi untuk sementara sebelum renovasi itu berakhir maka kau tidak punya pilihan untuk pergi....kau harus tetap tinggal disini sampai kamarmu di butik jadi..dan mengenai panti asuhan, jika kau rindu...kau bisa kesana...tante juga ingin ikut..''ucap Valerie..
Dena membeku....itu artinya dia akan tinggal lama disini...?bagaimana kalau tuan Devan tau..dia akan marah...Dena merasa gelisah....
*********************
Damian keluar dari apartement bersama Nayra yang berjalan lambat..
''Haruskah aku menggendongmu sayang...''
__ADS_1
''Aku akan membunuhmu.''desis Nayra kesal...
Damian hanya terkekeh sambil menggenggam tangan Nayra....gadis keras kepala ini sangat susah di tenangkan meski mereka sudah benar-benar bersatu sementara....itu Nayra masih tak ingin menikah dengannya..
Harus bagaimana lagi...?
''Kita akan kemana sekarang...''tanya Damian menoleh kepada Nayra...
''Ke salon aku harus memulihkan diriku disana,...tubuhku pegal dan sakit.''desis Nayra menyindir..
Damian menarik tubuh Nayra ke pelukannya dan melum** bibir gadis cantik itu..
Nayra melirik protes,...
''Damian.....''
''Baiklah kau ingin ke salon...aku akan menemanimu sayang..''bisik Damian menggoda..
Nayra hanya memutar bola matanya dengan pasrah..Damian sungguh licik..
''Oya apa kau sudah menelfon orang tuamu,..''tanya Damian.
''Yah...aku bilang aku harus lanjut kuliah dan akan pulang nanti...''
''Apa jawab mereka..''
''Tak masalah selagi denganmu, Devan atau Zoe....''jawab Nayra polos..
'Bagus karna hari ini aku akan memanjakanmu dengan mengantarkanmu kemanapun kau mau Nayra...''
Gadis itu melirik sini..
''Cih...karna kau sudah mendapatkan segalanya bukan...''
Damian mendekatkan wajahnya hingga Nayra menjadi gugup untuk kesekian kalinya..
''Dengarkan aku calon nyonya Damian Dalton...kau adalah milikku karna itu sudah tugasku untuk selalu mendampingimu..''
''Oh..hentikan kau membuatku takut..'' Nayra mendorong tubuh Damian menjauh lalu melangkah menuju mobil..
Sementara Damian hanya tersenyum pasrah...
''Nayra...tunggu...''
__ADS_1