
Semua bertepuk tangan dengan jawaban Dena..termasuk Zoe yang memang tampak sedikit kecewa..sementara Devan hanya diam membisu di tempat duduknya..
''Wah,...aku tak menyangka kau memilih Devan dan bukan Zoe...''ucap Nayra tak menyangka..
Dena tersenyum lalu menatap Nayra...
''Ini hanya permainan...mungkin suatu saat wanita yang beruntung itu akan datang dan menjadi pendamping tuan Devan dan juga tuan Zoe....aku yakin..'
Nayra mengangguk lemah, ternyata memang Dena tidak tertarik pada Devan atau Zoe...
Devan lalu bangkit dari tempat duduknya dia mendekati Dena yang masih berdiri dan menatapnya..
'Terimakasih kau memilihku Dena,...tapi percayalah aku bukanlah pria baik yang kau maksud..kau salah besar...''
Dena tersenyum..
''Jangan khawatir tuan Devan,....seperti yang aku bilang tadi ini hanyalah permainan.....lagi pula aku tidak mungkin benar-benar memilih tuan Devan..begitu pun sebaliknya...''Dena menundukan kepalanya..
Devan mengepalkan tangannya...
''Aku harus ke kamarku sekarang...selamat malam...semuanya..''ucap Devan dengan dingin..lalu melangkah pergi..
Sementara Nayra menyentuh pundak Dena dengan lembut..
''Jangan ambil hati dengan sikap sinisnya Dena...dia hanya belum mengenal benar dirimu..jika dia sudah mengenal dia pasti akan bersikap baik..'
''Yah....aku mengerti Nayra...''
Sementara itu Zoe bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Dena...
''Mengapa kau tidak memilihku..aku juga baik dan menyanyangi ibuku..''
''Cih....Mommy Vanessa bahkan mengeluh kau anak tunggal yang tak pernah menghabiskan waktu dirumah...kau lebih mementingkan para gadismu...''ucap Nayra menyipitkan matanya dengan tajam...
Zoe mengerang...ia mendekati Damian dan menariknya sedikit jauh dari para wanita, Zoe menatap Damian dengan penuh permohonan...
''Bisakah kau membawa calon istrimu pergi....dia akan menghancurkan masa depanku..''bisik Zoe pada Damian yang terkekeh...
''Apa kau yakin kau akan berhasil kali ini...entah mengapa aku merasa kali ini kau akan gagal....Devan bukan lawan yang seimbang...''
''Haiss...Devan tidak menyukai Dena...dia tak akan...''
Damian menatap Zoe seraya menepuk pundak Zoe seakan memberinya kekuatan...
''Felingku tak pernah salah Zoe...dan aku pikir kali ini kau tak bisa menang dari Devan..meski saat ini dia terlihat dingin namun kau liat Dena...pesonanya tak kalah dari Nayra..jadi aku pikir...Devan akan sulit menolak perasaannya, tapi aku akan tetap bersikap adil untuk kalian berdua adikku tersayang...'' Damian lalu mengangguk dan melangkah meninggalkan Zoe yang hanya menghela nafas...
Zoe lalu menatap Nayra dan Dena yang tertawa bersama..mereka sama-sama cantik dan punya kharisma tinggi tentu saja...ini sedikit sulit tapi Zoe menolak menyerah...
Apalagi jelas Devan sendiri yang mengalah....jadi ini kesempatan baginya..
''Ayo...kau harus pulang Nay.....''
''Tapi Mommy dan Daddy barusan menelfonku Damian...mereka buru-buru berangkat ke luar negri mengunjungi saudara Granpa Sebastian yang sedang sakit..''
''Hah........''
''Lalu apa kau akan menginap disini...''
__ADS_1
''Tentu saja...aku masih ingin bersama Dena.....'' Nayra memeluk Dena tak mau terlepas.
Damian menggeleng....sambil mengangkat Nayra sekaligus memisahkannya dengan Dena yang hanya tersenyum..
''Tidak....kita harus tetap pulang....''
''Tapi aku tidak mau..percuma juga aku sendirian..''
''Kau bersamaku Nayra...''
''No,........''jerit Nayra keras kepala..
Namun kali ini Damian tak bisa membiarkan Nayra berbuat sesukanya..pria itu lantas menunduk dan membawa Nayra ke dalam gendongannya..Nayra tentu saja menjerit..
''Dena tolong aku...''
Dena mengangkat tangannya menyerah..karna tak mungkin dia menolong Nayra dari calon suami Nayra sendiri..
''Maaf Nayra...kita akan bertemu lagi..''bisik Dena menyerah.
Kini pandangan Nayra terarah pada Zoe yang tertawa bahkan melambaikan tangannya..
''Bay...Nayra sayang...aku senang kau menjadi patuh begini..''
''Awas kau Zoe...''
''Kami harus pergi...selamat malam semuanya...''
''Selamat malam tuan Damian dan Nayra...''balas Dena sopan..
''Dena....apa kau sudah mengantuk...''
''Sebenarnya aku..harus pergi pagi-pagi sekali tapi...tidak masalah..ayo kita duduk...jika tuan Zoe tidak punya acara..''
''Tidak tentu saja...aku lebih senang menghabiskan waktu dengamu Dena..''
Dena mengangguk dan mereka pun duduk, dan saling menukar cerita..Dena menceritakan bagaimana rasanya hidup di panti sedari kecil, berbagi segalanya tentang kebersamaan karna persamaan nasib..tentang cinta tulus dan berbagi antar saudara meski mereka tidak sedarah..
''Terdengar menarik hidup di panti seperti ceritamu..tentu saja, Nayra saja betah tinggal disana..''ucap Zoe kagum..
Dena tersenyum matanya kembali berkaca-kaca...
''Percayalah..setiap malam datang kau akan merasakan kekosongan di dalam jiwamu...bagaimana pun perasaan rindu akan sentuhan kasih sayang orang tua setiap malam datang seperti teror..kau tak bisa menolak rasa sakit yang datang tuan Zoe...kau hanya perlu hati yang kuat agar setiap perasaan itu datang kau suda siap..''
''Aku di besarkan sebagai anak tunggal, aku memang tidak kekurangan Dena..tapi...aku sendirian aku tak punya saudara kandung selain para sepupuku yang kau liat Devan, Damian dan juga Nayra....''
''Kau beruntung tuan Zoe...jadi syukuri saja..setidaknya kau tidak di ijinkan merasakan perasaan seperti kami...''
Zoe mengangguk dengan wajahnya yang serius...
''Dena...bisakah aku jujur kepadamu...''
Dena menatap Zoe dengan tatapan serius..
''Yah...jujur saja...''
''Saat pertama kali aku melihatmu..aku sudah merasakan perasaan berbeda....aku merasa aku menyukaimu...''
__ADS_1
''Jangan pernah melihat seseorang dari wajah taun Zoe..bisa saja aku memang memiliki wajah baik tapi hatiku jahat atau sebaliknya..kau terlalu cepat untuk menyukai seseorang...'' Dena tersenyum..
''Bisakah kau serius Dena....aku tau kau pasti berpikir kalau aku pemain wanita...dan aku tak akan menyangkalnya....Dena..aku serius tentang perasaanku...''
''Aku juga serius tuan Zoe maafkan aku....mata Dena berkaca-kaca...tapi seorang gadis miskin sepertiku tak bisa langsung menerima perasaan tuan kaya sepertimu....aku bahkan merasa takut jatuh cinta dengan pria yang lebih kaya...aku takut di campakan aku takut di hina dan aku takut....kalau aku akan kecewa...''
Dena bangkit dari tempat duduknya...ia merasa tak nyaman sekaligus tak enak dengan tuan Zoe...namun dia memang tak bisa menerima perasaan tuan Zoe...
''Dena apa kau marah, apa aku terlalu memaksa....''
Dena tersenyum...
''Tidak.....''
Zoe mendekatinya dan menatapnya...menatap mata Dena yang hampir menangis...
''Dena....''
Airmata Dena menetes....disaat yang sama Zoe menarik tubuh Dena ke dalam pelukannya dan mendekapnya untuk menenangkan...
''Maafkan aku...aku tak akan lagi memaksa perasaanku...jadi jangan menangis..kita bisa berteman...''bisik Zoe mengalah..
Dena mengangguk...
''Maafkan aku....''bisik Dena sedih..
Zoe tersenyum..
''Aku akan merasa seperti orang jahat jika kau menangis seperti ini..''
Pelukan itu terlepas Dena akhirnya tersenyum.....
''Terimakasih tuan Zoe...''
''Panggil aku Zoe....'' ucap pria itu menuntut..
Dena tersenyum...
''Zoe.....''
Keduanya saling melemparkan senyuman...
**********
Malam semakin larut dan akhirnya Zoe harus pulang dan Dena kembali ke kamar lantai dua...dia melangkah menaiki tangga hingga akhirnya sampai ke lantai 2...
Ketika gadis itu hendak melewati tangga dia membeku ketika menemukan Devan menatapnya dengan tajam...
Pria itu mendekat dengan tatapan sedingin Es.....
''Kau memang benar-benar gadis penggoda..''tuduh Devan dengan suara tenang mengerikan...
Dena menggeleng bergerak mundur....
''Tidak........''
__ADS_1