Cinta Putra-putri Sang Mafia Kejam

Cinta Putra-putri Sang Mafia Kejam
Di Luar Rencana


__ADS_3

Dena membeku ketika melihat sosok tante Valerie di hadapannya..


''Apakah kau sakit..Dena..''


Tanya Valerie dengan khawatir sebenarnya tadi dia masih berada di ruangan pesta namun ia melihat Dena yang melangkah sempoyongan menuju ke kamar, dia takut terjadi sesuatu dengan Dena..


''Tante...tak perlu mengikutiku kesini...aku baik-baik saja..''Dena mencoba untuk menegakan tubuhnya walau kepalanya terasa berputar..


''Jika kau sakit maka kau harus kerumah sakit Dena...''


'Aku tidak apa-apa..''


''Tidak..kau tunggulah disini tante harus melihat Devan atau Zoe...''


Kata-kata Dena terputus ketika tante Valerie melangkah keluar kamar, sementara Dena duduk di tepi ranjang dan mulai menyentuh pelipisnya..


Tak berapa lama kemudian Valerie datang bersama Devan yang melangkah di belakangnya..melihat kedatangan Devan membuat Dena memalingkan wajahnya..mengapa bukan Zoe saja yang datang..?


''Apa yang terjadi denganmu...tadi kau baik-baik saja..''ucap Devan dengan kerutan di dahinya, ia sedang menyembunyikan rasa khawatirnya pada Dena yang sedang merintih...


''Aku baik-baik saja...''


''Jangan sepelehkan penyakitmu Dena...tante tidak mau terjadi sesuatu denganmu...Devan...cepat bawa pergi Dena sekarang..''


''Tante jika Devan sibuk aku bisa pergi saja...''


Valerie menggeleng tegas...


''Cepatlah bawa dia Devan...dan untukmu Dena..berhentilah sungkan pada tante hum....jadi menurutlah dan pergi ke rumah sakit...''


Mau tak mau Dena akhirnya patuh membiarkan Devan menuntunnya menuju halaman parkir dan masuk ke mobil..


Dena hanya menunduk di dalam mobil...dia tak tau mengapa dia bisa sakit di saat yang tidak tepat...


Devan menoleh kepadanya..


''Apakah kau merasa pusing sekali..''


''Haruskah aku menangis agar kau tau aku benar-benar sakit..''


Devan hanya menggeleng sambil tersenyum dan menuju rumah sakit..sepanjang jalan, Dena hanya memejamkan matanya...dia tidak pernah menyangka kalau rasa sakit ini lebih dari pada biasanya...


dan membuat Dena tak mampu melakukan aktifitasnya...sedangkan Devan hanya memandang Dena dengan sorot mata tajam...


Rumah Sakit...


Begitu mereka tiba...para perawat langsung membawa Dena masuk ke ruang IGD untuk di periksa....sementara Devan menunggu...sesaat kemudian seorang perawat memintanya membawa hasil tes darah Dena ke laboratorium untuk di periksa dan akhirnya Devan pun melakukannya...setelah itu ia pun duduk kembali di ruang tunggu IGD sambil memainkan ponselnya Devan menunggu dalam diam dan penuh kesabarannya..

__ADS_1


Hingga satu jam kemudian..dia di bangunkan oleh seorang perawat yang datang menyentuh bahunya..


Devan menoleh....dan melirik jam di tangannya...sudah jam 10 malam...


''Ada apa....bagaimana kabar Dena...''


''Tuan....mari masuk ke ruangan dokter karna dokter ingin bicara...''


Devan terdiam..rasa takut mulai mengintainya..apakah Dena sakit keras atau apapun itu...mengapa dia takut sekali..?


''Silahkan ikut saya tuan..''


''Oh...baiklah...''


Devan berdiri dan mengikuti langkah perawat dengan hati yang di liputi kecemasan sampai akhirnya Devan masuk di ruang dokter dan menatap dokter di hadapannya..


''Silahkan masuk tuan..''


''Baik...terimakasih dokter..''


Devan mendekat lalu duduk sembari menunggu dokter sedang membuat catatan di depannya..


''Bagaimana kabar Dena, apakah dia baik-baik saja dokter..''


''Tentu saja tuan...nyonya Dena baik-baik saja saya sudah menyuntikan obat penguat kandungan..setelah nyonya kuat maka tuan boleh membawanya pulang..''


Wajah Devan membeku...dia tak menyangka mendengar kata penguat kandungan hingga butuh di yakinkan sekali lagi...


''Yah...istri anda sedang hamil usia kandungannya masih kecil 6 minggu...karna itu nyonya Dena mulai merasakan pusing dan akan di sertai mual....''


''Hamil...''ulang Devan hampir tak percaya....


''Benar karna itu saya akan menulis resep di sini dan tuan bisa menebusnya di apotik...''


Devan akhirnya tersenyum sambil menerima resep yang di tuliskan dokter lalu membalas uluran tangan dokter yang memberinya selamat..


''Dokter...terimakasih..''ucap Devan dengan mata berkaca-kaca.


''Baik tuan..sama-sama...''


*************


Sedangkan Dena seperti mimpi mendengar ucapan perawat yang memintanya menjaga kandungannya...


Hening.....


Dena turun dari tempat tidur pasien dan melangkah keluar dari ruang IGD dengan tatapan kosong, meski tubuhnya sudah lebih baik,..meski ia sudah tidak merasa pusing namun mengapa rasanya tubuh ini sangat lemas...??

__ADS_1


Dena melangkah keluar ruangan dan melangkah menuju parkiran dan langkahnya terhenti ketika melihat Devan berdiri di hadapannya...


Deg!!!!


Mereka saling menatap dengan tajam......


''Dena....''


''Kita harus bicara....yah...kita harus bicara...''


Dena melangkah menuju mobil sementara Devan mengikuti langkahnya mendekat..mereka masuk ke dalam mobil dalam kehehingan...


''Kita akan ke apartemenku saja...malam ini mari kita bicara disana...'' ucap Devan dengan suara yang tegas...


Dena tak punya pilihan...ini sama sekali jauh dari pikirannya..


Hamil..anak pria yang tidak mencintainya dan membencinya....airmata Dena menetes.....bagaimana dia bisa menjalani hidup dan bekerja sekrang...mengapa dia harus hamil...


Mobil melaju pelan membawa mereka melintasi malam yang mulai sunyi...Devan membawa mobil dengan kecepatan yang pelan dan hati-hati...yah..sejak tadi matanya selalu mencuri pandang ke arah Dena...sementara Dena hanya memejamkan matanya sepanjang jalan...di dalam hatinya sedang terjadi perang saat ini...bagaiman mungkin dia hamil lalu apa yang harus dia lakukan, semua orang akan mencemooh dirinya...semua akan menuduhnya sebagai gadis yang tidak baik tentu saja hal itu akan menjadi pukulan terberat untuknya, mengapa harus hamil dengan Devan..


Mengapa....bahkan Dena tak pernah membayangkan masa depan dengan pria itu lalu bagaimana dia harus bersikap saat ini..bagaimana sekarang menghadapi beribu pertanyaan yang akan datang kepadanya..anak ini datang tanpa cinta...dia datang tanpa di inginkan...


Mobil terparkir di halaman apartement Devan, pria itu membuka pintu dan menuntun Dena keluar dari sana..mereka lalu melangkah menuju lift dan mencapai lantai 30 dengan cepat..


Ting!!!!


Devan keluar bersama Dena lalu mereka masuk ke dalam kamar apartemen..gadis itu melangkah ragu menuju sofa dan duduk disana..sedangkan Devan membuka jasnya..ia melirik Dena yang duduk dengan tatapan beku..


Pria itu lalu menyeduh teh mint resep dari dokter..lalu meletakannya di meja...lalu Devan duduk berhadapan dengan Dena..


''Minumlah...itu akan membuatmu lega, kau tak akan meresa mual lagi..''


Dena menurut dengan meneguk teh hangat itu lalu meletakannya kembali di atas meja...


Lalu keduanya saling menatap...


''Aku yakin kau sudah mendengar tentang kehamilanku Devan....tapi tenang saja...aku hanya ingin memberitahumu...kalau kau tak perlu khawatir..aku tak akan membebanimu dengan anak ini...Dena menatap Devan yang diam saja dan ingin mendengarnya bicara, Dena lantas melanjutkan perkataannya...aku akan bilang pada tante bahwa aku mengandung anak kekasihku, pernikahan kami batal dan pria itu meninggalkanku...aku juga akan meminta pekerjaan di butik karna aku butuh uang,....lalu setelah melahirkan aku mungkin akan membawa anakku pergi dari kota ini...jadi Devan...kau tak perlu cemas....anak ini adalah tanggung jawabku...aku..''


''Wah,......kau telah mengatur takdir kedepan anak yang bahkan masih terlalu kecil tanpa meminta ijin dariku padahal aku ayahnya...''


Deg!!!!


''Devan.....aku hanya mempersingkatnya, aku tau kau tidak menginginkan anak...''


''Siapa bilang aku tidak menginginkan anak itu..dia darah dagingku keturunan Dalton..jadi kau sama sekali tak bisa memisahkan kami...''


Dena membeku mendengar perkataan Devan...

__ADS_1


''Apa maksudmu...'' suara Dena serak menahan perasaan syoknya...


__ADS_2