
Devan turun dari mobil dan mata elangnya langsung menangkap dua pasangan yang sedang menatap ke arahnya..Devan mendekat, sialan pesona Dena begitu membius hingga dari jarak yang sedikit jauh dia sudah merasa debaran di jantungnya..
lallu mata elang itu berpindah pada sang pria yang dalam sekejap langsung di kenalnya..Devan menaikan sudut bibirnya penasaran..
Apa hubungan mereka.......??
Devan mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka, sementara Dena merasa kesal..moodnya seketika menjadi buruk menghadapi pria yang tidak memilik rasa malu..
Melihat kedatangan Devan membuat Dena ingin melangkah pergi namun jemarinya tertahan oleh Dafa..
''Mengapa kau ingin pergi Dena..''
''Aku.........''
''Eehm......maaf aku mengganggu..'' ucap Devan menatap tajam ke arah Dena..
Sementara Dafa menoleh dan membeku ketika dia mengenal seorang Devan...keduanya saling bertatapan dengan kerutan di dahi..
''Dafa....''
''Dan kau adalah....Devan...''ucap Dafa tertawa...
Kedua pria itu saling mendekat satu sama lain, dan akhrinya saling memeluk..
''Dafa,....sahabatku..''
''Devan Dalton..astaga kau sudah menjadi pria yang sukses..''
Pelukan itu terlepas...sementara hal itu menjadi kekesalan tersendiri pada Dena..hingga ia meninggalkan kedua pria yang masih bereuni itu sendiri..
''Apa kabarmu Dafa..sudah lama kita tak bertemu..''
Dafa dan Devan pernah satu sekolah di SMA yang mahal..lalu mereka berpisah dan mulai memimpin perusahaan mereka masing-masing....
''Sudah lama sekali Devan...aku merindukanmu..''ucap Dafa tertawa.. Mereka adalah sahabat baik dulu.
Kedua pria itu saling bertukar cerita, hingga Dafa baru sadar kalaui Dena telah meninggalkan mereka..
''Jadi mengapa kau ada disini Dafa...''
''Sebelum di adopsi orangtua angkatku aku adalah penghuni panti asuhan disini..bersama Dena...''
Dafa menoleh dan seketika tersadar kalau Dena sudah pergi meninggalkan mereka berdua..hingga pria itu sedikit mengerutkan kening...
''Mengapa Dena pergi...ada apa dengannya..''ucap Dafa terkejut..
Sementara Devan menepuk pundak Dafa dan membuat pria itu menoleh padanya..
''Jika kau tidak keberatan aku ingin bicara tentang Dena..''
''Apa yang terjadi...aku juga penasaran apa yang membawamu ke panti asuhan ini...''
Devan menghela nafas...
''Ini tentang Dena dan aku...''
''Dena......''
Devan mengangguk membenarkan lalu ia menatap Dafa dengan pandangan serius...
__ADS_1
''Aku menginginkan Dena...bagaimana menurutmu Dafa...''
Dafa menghela nafas...meneliti Devan dengan senyuman...
''Apakah kalian memiliki hubungan...''
Devan mengangguk...
''Meski Dena mungkin tak akan mengaku padamu Dafa namun dia adalah kekasihku..''
Dafa pun tersenyum..jika Devan mencintai Dena maka mungkin dia akan setuju karna Dafa akan menyeleksi siapapun yang menjadi calon kekasih Dena..
''Baiklah,....jika Dena setuju maka tak ada halangan bagiku untuk tidak setuju, dengarkan aku Devan..bagiku Dena adalah segalanya..kami melalui masa sulit bersama di panti asuhan ini dan percayalah aku hampi melihat kesedihan tiap hari di wajahnya jadi Devan....jangan pernah menyakitinya...''ucap Dafa mengulurkan tangannya meminta janji Devan...
Devan tersenyum lalu mengulurkan tangannya...untuk membalas Dafa...
''Kau tau siapa aku sbenarnya kita adalah sahabat dulu jadi aku akan bahagia kalau kau percaya padaku....aku akan melindungi Dena dengan nyawaku..''
Dafa tersenyum lalu meletakan beberapa sayuran di atas tangan Devan dan membuat pria itu terkejut..
''Dena mungkin sedang di dapur untuk memasak..jadi kau bisa menemuinya disana..''ucap Dafa menepuk pundak Devan lalu melangkah meninggalkan Devan yang menghela nafas..menurunkan pandangan pada setumpuk sayuran yang basah dan setengah berlumpur karna langsung di petik dari kebun kecil di depan panti..
Baiklah....ini bukan masalah baginya bukan...?
Devan lalu melangkah ke arah panti dengan membawa berapa sayur di tangannya..
*********
Sementara Dena memotong beberapa wortel dengan sedikit gemetar...masih membayangkan Devan, ia mulai tak bisa mengendalikan dirinya..bagaimana pun tak mudah baginya jika ia melihat Devan lagi seolah apa yang selama ini dia simpan susah payah kini harus dia ingat lagi..
Tidak mudah baginya..mengapa Devan datang kemari...??
Suara di sampingnya membuat Dena menoleh dan buru-buru tersenyum minta maaf ketika pegawai di dapur itu menegurnya dengan wajah cemas...dan ketika Dena menurunkan pandangan dia terkejut setengah mati melihat jarinya berdarah..ada banyak darah dan disaat yang sama dia baru merasakan nyeri..
''Aowww....''
''Istirahatlah Dena...apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu...''ucap wanita itu mengambil plester dan membalut jari Dena yang terluka...
''Tidak apa...aku akan istirahat sebentar dan melihat anak-anak terimakasih atas plesternya..''
''Baiklah sayang...''
Disaat yang sama Devan muncul di pintu dan mengejutkan Dena dan juga pengurus dapur,...
''Hai....''sapa Devan membawa setumpuk sayur di tangannya..
''Oh ya ampun..maafkan kami tuan...mengapa tuan bisa membawa sayur ini..''
Sang pengurus dapur mengambil alih sayuran itu dan meminta Devan mencuci tangannya dia sungguh tidak enak...sementara Dena yang melihat kedatangan Devan justru pergi....
Pria itu mengerang kesal..lalu mencuci tangan, ia kesal mengapa Dena menghindarinya...Devan lalu pamit pada wanita di dapur itu dan melangkah mengejar Dena yang sudah keluar dari sana sementara sang pengurus dapur hanya tersenyum..
''Mau apalagi ketika perasaan cinta menguasaimu...kau akan terlihat bodoh...''
Dena melangkah cepat menuju kamarnnya sementara Devan mengikutinya,...
''Dena tunggu....Denaa......''
''Mengapa kau mengikutiku astaga ada apa denganmu...''
__ADS_1
Dena terus melangkah menjauh..syukurlah kamarnya berada paling belakang jadi anak-anak dan para pengurus panti yang lain tidak mendengar mereka..
Devan tak sabar, ketika Dena menghindarinya,..pria itu semakin dekat dan mencekal tangan Dena hingga gadis itu berbalik...
''Lepaskan aku...Devan...''
''Aku ingin bicara dan kau...harus mendengarku..Dena..''
''Tidak...di antara kita tak perlu ada pembicaraan apapun lagi..apa kau mengerti...aku tak mau mendengarmu...''
Dena meronta namun Devan lalu mendorongnya dan menekannya di tembok hingga Dena tak bisa bergerak dari sana...
Mereka saling bertatapan tajam...
''Dena...mengapa kau pergi begitu saja..mengapa kau meninggalkan aku dengan rasa bersalah..''
''Lepas...rasa bersalah, apa kau bisa merasakan perasaan itu tuan Devan yang terhormat...airmata Dena menetes...aku tak akan pernah menuntut apapun padamu puas....aku yakin kau datang kesini karna kau begitu ketakutan jika mungkin aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menekanmu dan memaksamu menikahiku...''
Hening...
Devan tak membantah namun dia juga tak mengiayakan...dan hal itu semakin membuat Dena sakit...
''Aku bahkan sudah melupakan apa yang terjadi pada kita, kau dengar itu..jadi tenang saja...aku tak akan menuntut...''
Dena mendorong tubuh Devan hingga pegangan itu terlepas begitu saja..namun ketika Dena hendak melangkah kembali, Devan kembali menariknya kali ini setengah memeluk tubuhnya mereka berdapannya..
''Bagaimana aku bisa percaya kau tak akan memanfaatkan keadaan ini untuk menjebakku Dena...''
''Apa maksudmu...''jerit Dena tersinggung..
Sementara Devan kembali meraih Dena kali ini jatuh ke dalam pelukannya...
''Aku kehilangan jam tanganku yang sangat mahal...aku menduga kau telah mengambilnya kau tau berapa harga jam tangan itu...''
Dena menggeleng takut..
''Aku tidak pernah melihatnya apalagi mengambilnya...''
''Bagaimana kau yakin Dena...aku akan memeriksa tasmu sekarang...''
''Baik...jika tak ada apapun disana maka kau harus pergi Devan..''
''Tentu tapi jika jam mahal ku ada disana maka kau harus berjanji untuk menggantinya, aku tidak menerima barang rusak..'' desis Devan mengancam...
Dena yakin sekali...jadi dengan percaya diri gadis itu mengangguk tanpa ragu..
''Silahkan kau melihatnya Devan...''
''Baik..ayo...''
Devan lalu melepaskan pegangannya dan melangkah menuju kamar sementara Devan mengikutinya dari belakang..
Sesampainya di kamar, Dena mulai membuka tas miliknya dan mencari...karna tak sabar Dena mulai menumpahkan isi tasnya di atas ranjang dan ternyata benar kalau jam milik Devan ikut terjatuh hingga wajah Dena memucat..ada tanda pecah di kaca permukaan jam..hal itu membuat Dena melemah....mengapa jadi begini...dia tak pernah mencuri jam milik Devan..tidak...
''Aku tidak pernah mengambilnya.'' isak Dena histeris...
''Harganya...10 M, apa kau bisa menggantinya..''
''Tidak....mengapa jam ini ada di dalam tasku...''
__ADS_1
Devan bersedekap dengan tatapan dingin,...