
Dena hampir menangis karna Devan menuduhnya dengan kejam, bahkan pria ini tidak membiarkan dirinya memberi alasan apapun dan langsung menjatuhkan vonis bersalah kepadanya bahwa dia wanita penggoda..
''Apakah ini salah satu trikmu agar mendapatkan pria kaya..''
Dena menggeleng pasrah...
''Tidak....aku bahkan tidak berpikir seperti itu..aku cukup tau diri..kalau aku hanya menumpang disini aku tak berani menggoda siapapun apalagi Zoe..''
''Zoe,...bahkan kau hanya memanggil namanya saja..bukankah itu lancang...karna di mata kami kau tak lebih dari seorang pelayan jadi Dena..berhenti menunjukan wajah memelasmu aku sangat muak...''
Dena menganggukan kepalanya dengan cepat,
''Baiklah apa maumu...aku sudah meminta tante untuk membiarkan aku pergi tapi di butik..renovasi untuk kamarku bahkan belum selesai jadi aku tak...''
''Bahkan Mommy membuatkan kamar untukmu disana..betapa liciknya dirimu...''
''Tuan Devan cukup...kali ini Dena tak mampu menahan airmatanya.sunggguh ucapan Devan terlalu kejam untuknya..''
Devan mendekati Dena menjebak kedua tangannya masing-masing di sisi tubuh Dena...airmata itu semakin menetes, dan entah mengapa Devan semakin kesal saja...
''Lihatlah kau mulai meneteskan airmata dan berharap aku iba padamu.''
Dena menggeleng, seraya menghapus jejak airmatanya..
'Aku akan segera pergi...apa kau puas...aku tak akan pernah mengganggumu lagi..''
''Benarkah kapan kau akan pergi...''
''Aku akan mencari...''
''Cih..itu hanya alasanmu kan...jika besok kau masih ada....maka aku akan menyingkirkanmu dengan caraku...''
''Aku akan pergi,..secepatnya..''ucap Dena tegas...
Dena lalu mendorong tubuh Devan menjauh darinya dan berlari ke arah dapur belakang untuk bisa naik ke tangga untuk menuju kamarnya...
Airmata gadis itu tak sanggup di bendungnya...yah..memang dia tak tau harus kemana....tante akan marah jika dia pergi tiba-tiba tapi Dena sudah tak sanggup lagi jika harus menghadapi Devan...dan pergi adalah yang terbaik..
Dena sampai ke lantai dua dengan menaiki tangga, meski nafasnya terengah-engah karna kelelahan Dena tak sabar lagi ingin pergi..gadis itu membuka pintu kamar dan mengambil tas kecilnya, karna semua yang ada di dalam lemari ini adalah pemberian tante Valerie maka Dena tak akan pernah membawanya pergi....
Dena lalu mengambil baju miliknya yang dia pakai sebelum kerumah ini..lalu mencuci baju yang dia pakai dan menjemurnya...Dena lalu melangkah menuju pintu namun tanpa di duganya pintu di ketuk dari luar...
Dena lalu menyimpan kembali tas miliknya dan melangkah menuju pintu dan membukanya..
''Tante....''
Valerie mengerutkan kening ketika melihat Dena memakai baju pertamanya, bukan pakaian yang di berikan Valerie padanya...
''Apa yang terjadi,...mengapa kau memakai pakaianmu...''
Dena tersenyum..lalu mengambil tangan Valerie dan menggenggamnya...
''Tante sebenarnya aku ingin pamit....''
''Pamit...''ulang Valerie terkejut...
__ADS_1
''Ibu panti...aku harus mengunjunginya karna kondisi kesehatannya tante...aku minta maaf karna aku tak bisa tinggal disini karna aku akan merawatnya...'' Dena meredupkan matanya..
Valerie menunjukan ekspresi sedih di wajahnya..
''Mengapa mendadak sekali kau ingin pergi Dena..apakah terjadi sesuatu padamu, apakah Devan menyulitkan atau mengancam dirimu...''
''Tidak tante...tuan Devan baik sekali padaku..tapi kondisi di panti aku...''
''Bagaimana kalau setelah makan malam saja kau pergi ke panti asuhan, sebentar lagi calon menantu tante akan malam malam disini..''
''Calon menantu..''
Valerie mengangguk,
''Kau tidak lupa kalau Devan punya saudara kembar...Damian, dia sudah di jodohkan dan akan menikah sebentar lagi...tante akan mengenalkanmu pada mereka...''
Valerie berdiri lalu menoleh pada pelayan di belakangnya dan menyerahkan sebuah gaun pada Dena...
''Bersiaplah lalu turun untuk menemani tante makan malam setelah itu tante janji kalau kau akan tante biarkan pergi...''
''Tante gaun ini mahal...''
''Tak masalah ini hadiah untukmu, jangan lupa untuk memakainya Dena...''
Valerie lalu meninggalkan kamar, dan membuat Dena sungguh kehilangan kata...bagaimana jika tuan Devan masih melihatnya disini dia pasti akan sangat kesal...
Bagaimana ini....haruskah dia ikut makan malam saja...? Dena masih menimbang di tempatnya berdiri...
**************
Sudah lebih dari 30 menit Nayra menemani Oscar dirumah sakit dan ia belum tau bagaimana kondisi Oscar sekarang dan lagi sekarang sudah saatnya makan malam, Damian akan marah kepadanya...
''Dokter aku harus pergi sekarang...jika pemeriksaan pasien bernama Oscar selesai apakah bisa menghubungiku....aku buru-buru...''
''Baiklah, tinggalkan nomor ponselmu nona kami akan menelfonmu...''
''Baiklah...dokter..''
********
Nayra tak punya waktu untuk pulang kerumah, gadis itu mampir di butik sahabatnya lalu menumpang mandi dan berganti baju disana..hingga membeli gaun baru untuk di pakai makan malam bersama calon mertuanya..
''Gaun biru cocok untukmu Nayra..kau akan terlihat seperti seorang putri..'' puji sahabatnya di kampus bernama Nuri.
Nayra menatap tubuhnya di cermin dan membenarkan bahwa dia sangat cantik, sahabatnya memantu Nayra untuk menata raambutnya,
''Selesai.....''ucap Nuri..
''Terimakasih Nuri..kau terbaik..'' Nayra memeluk sahabatnya, lalu keluar dari butik dengan memesan taxi...
********
Kediaman Dars Dalton tampak berbeda, sedikit ramai karna akan ada makan malam hangat yang sudah di rancang keduanya..
Damian keluar dari kamar, dari jauh ia melihat Zoe sedang duduk bersama Damian lalu...dimana Nayra...bukankah mereka bersama....
__ADS_1
Damian melangkah mendekati Devan dan Zoe yang sedang bicara,..
''Dimana Dena...mengapa dia tidak terlihat lagi...''tanya Zoe melirik sekelilingnya..
Devan meraih minumannya dan meneguk santai..
''Mungkin di dapur atau di kamar...''ucapnya masih tenang...
''Aku menyukainya....''ucap Zoe langsung mendapat tatapan tajam dari Devan..
''Carilah gadis lain Zoe...''
''Mengapa.....apakah kau menyukainya hingga melarangku..jika kau menyukainya aku mundur...tapi jika kau tidak perduli maka aku akan mendekatinya..''ucap Zoe sedikit keras kepala..''
''Aku.....''
Suara Devan terputus ketika Damian mendekat...
''Zoe...dimana Nayra..bukankah aku memintamu untuk menjaganya,...''
Zoe menggaruk kepalanya..
''Damian..sebenarnya tadi dia masih ada tugas dan tak mau aku menunggu....jadi aku pulang lebih dahulu...''
Wajah Damian mengeras....
''Apa maksudmu Zoe...kau meninggalkan Nayra sendiri...'' suara Damian meninggi tidak terima dan hal itu membuat Zoe sedikit takut..
''Damian tenanglah...aku akan...''
''Akan apa...bagaimana kau bisa meninggalkannya Zoe...kau tau kalau Oscar sedang mengincarnya...''
Damian sungguh marah dan segera meraih ponselnya...namun sebuah pelukan di belakangnya membuat Damian membeku...
''Siapa....''
Devan dan Zoe tersenyum lembut..
''Tebak...''
''Nayra...''
Damian tertawa ketika Nayra membuka tangannya dan menunjukan dirinya dengan begitu cantik...
Damian tersenyum lega....ia sudah jatuh cinta dan hanya mampu berpaling dari Nayra Pedro...
Damian menarik tubuh Nayra hingga setengah memeluknya...gadis itu tersenyum...
''Mengapa kau cantik sekali...''
''Karna aku memang cantik...''bisik Nayra mengedipkan matanya..
Damian ingin sekali mencium Nayra karna dia terlalu gemas, namun nanti...ketika mereka pulang...
Devan dan Zoe hanya saling menatap pasrah..mereka belum menemukan jodohnya..
__ADS_1
Dan bersamaan dengan itu tatapan Devan terpaku pada sosok Dena yang keluar dari pintu bersama sang Mommy...
Astaga...mengapa dia begitu cantik....?? batin Devan...