
Tubuh Nayra melemah ketika menyadari tatapan Damian berbeda, ketika mendengar nama Oscar, baiklah ini adalah kesalahannya karna dia tidak memberitahu Damian dengan benar kalau dia mengantar Oscar ke rumah sakit dan malah mengatakan kalau dia menolong orang yang terluka di jalan karna itu dia terlambat datang makan malam..Damian bahkan memujinya, astaga...habislah dirinya..
''Eehm....Damian...''
''Apa maksudmu kali ini Nayra...kau kekasih Oscar..katakan padaku..apa yang sebenarnya terjadi Nayra...''
Damian akan segera murka namun Nayra segera mendekatinya dengan tatapan redup menyentuh lengan pria menatapnya dengan tajam itu...
''Dengarkan dulu...semua tak seperti yang kau pikirkan..''
''Aku tak menyangka demi Oscar kau membohongiku Nayra...''
''Aku tidak berbohong........''
Sinar mata Damian membara..
''Baiklah aku sedikit berbohong tapi percayalah aku hanya tak ingin merusak suasana makan malam kita kemarin,...coba bayangkan kalau aku pulang dan mengatakan bahwa, aku baru dari rumah sakit karna menolong Oscar,....makan malam akan berantakan karna kau pasti marah..''
Damian bersedekap...
''Tapi dengan membohongiku kau sudah melakukan kesalahan Nayra..''
''Tapi aku tak sengaja..''
''Aku tak perduli...sekarang ceritakan semuanya padaku, meski setelah itu kau harus mendapatkan hukuman dariku..''
Damian mendekati Nayra yang bergerak mundur dan jatuh ke ranjang..
''Naik ke ranjang sekarang..''
''Tapi Damian...aku belum berganti.....''
''Naik...gunakan selimut untuk menutup tubuhmu selagi bicara...''
Nayra mengangguk cepat lalu segera merangkak naik dan masuk ke dalam selimut..
Sementara Damian duduk di pinggir ranjang lalu menatap Nayra yang menggit bibirnya dengan gugup..mengapa Damian menatapnya begitu tajam..? Dia tidak melakukan apapun dengan Oscar..
''Katakan padaku...sayang, jangan coba menutupi atau hukumanmu akan bertambah..'' Damian menaikan sebelah alisnya dengan senyuman dingin..
''Baiklah...aku akan cerita...''
__ADS_1
Nayra lalu mulai bercerita bagaimana ketika dia pulang, Oscar mengikutinya untuk minta maaf, tapi dia tidak mau..namun Oscar memaksanya...
''Aku mendorongnya hingga dia jatuh lalu luka bekas tembakan yang di lakukan kau waktu itu berdarah...dia hampir pingsan dan mau tak mau aku harus membawanya kerumah sakit atas nama kemanusiaan, lagi pula aku yang mendorongnya..''
Damian menghela nafas...apalagi rencana Oscar kali ini, tidak mungkin dia jatuh dan tidak menghindar dari lukanya...jika orang normal ketika jatuh pasti akan refleks melindungi lukanya..jadi Damian sudah bisa memastikan kalau Oscar sedang merencanakan sesuatu..dia tau benar pria itu masih mengincar Nayra...
Damian lalu menatap Nayra yang masih asyik bercerita dengan mimik wajah yang menggemaskan...
''Katakan bagaimana bisa kau menjadi kekasihnya di hdapan para dokter dan perawat..''Damian kembali mencecar Nayra hingga gadis itu menghela nafas,..
''Kalau untuk itu aku tidak tau,,mengapa mereka tiba-tiba memanggilku kekasih Oscar..''
''Lalu mengapa kau tidak menjelaskan hal yang sebenarnya pada mereka...apa kau menikmati panggilan itu..''
''Astaga aku akan memukulmu...'' jerit Nayra sambil mengangkat tangannya namun tanpa di duga Damian justru menangkap jemari Nayra dan mendekati Nayra,...
''Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan segalanya kepadamu Damian...aku hanya tak ingin membuang waktu demi cepat pulang untuk menemuimu..''suara Nayra tercekat..
Nayra benci sekali ketika Damian tidak percaya kepadanya, pria itu diam saja seperti patung tidak menjawab Nayra lagi hingga gadis itu merasa gusar...
''Jangan bilang kau tidak percaya padaku Damian...''
Suara Nayra meninggi di udara....hingga Damian menoleh kepadanya..
Pria itu berada di atas tubuh Nayra...setengah menindihnya hingga gadis itu mengerutkan kening..
''Ada apa denganmu Damian...''
''Hukuman...kau harus mendapatkan hukuman sayang..''
''Hukuman apa..''
''Hukuman yang indah aku yakin kau akan menyukainya..''
Usai berkata Damian menyibakkan selimut hingga tubuh Nayra melemah...
''Damian....''
Suara Nayra menggantung ketika Damian mendekatinya dan melum** bibirnya.,.
Astaga Damian mengambil kesempatan..
__ADS_1
***********
Sudah dua hari Dena pulang ke panti asuhan, dia mulai mengerjakan pekerjaan untuk membantu ibu panti dan beberapa pengasuh disana untuk menjaga anak-anak..Dena sementara menunggu peresmian butik milik tante Valerie di buka..
Sementara itu...
Dafa sering mengunjunginya di sela aktifitasnya, kakaknya memang sangat baik, dia tak lupa datang dengan membawa banyak mainan, dan makanan untuk seluruh adik-adik mereka...
Dena merasa tenang brada di rumahnya, disini dia merasakan damai di hatinya..meski Dena masih suka terbangun tengah malam dia tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi dengannya oleh perbuatan Devan..bagaimanapun dia seperti tak bisa menerima kenyataan kalau dia bukan gadis yang masih suci seperti dahulu..semua yang terjadi pada hidupnya seperti mimpi buruk, semua terjadi begitu cepat dan sama sekali tidak ia duga...Dena masih terus menangis jika malam tiba dan dia sendiran di kamar...
Sungguh kenyataan yang dia alami membuat kepercayaan dirinya runtuh seketika..apa yang selama ini dia banggakan hancur berantakan, bahkan Dena tak punya keberanian lebih untuk di dekati oleh siapapun..bahkan kepada Dafa dia menjaga jarak....Dena tak ingin seorang pun mendekatinya atau sampai menyukainya...dia tak akan pernah mampu membalas perasaan siapapun dan memutuskan untuk menyendiri seumur hidupnya..
Dena menyiram tanaman yang ada di halaman depan panti, yah...disini mereka juga menanam beberapa macam sayur untuk membantu kebutuhan sayur para penghuni panti termasuk dirinya..
''Wah.....panen banyak kali ini...''
Suara Dafa memecah kesunyian di hadapannya dan membuat Dena mengangkat wajahnya...ia langsung tersenyum menatap wajah Dafa yang tampan..
''Bagaimana kalau kita panen bersama...'' tawar Dena dengan penuh senyum.
Dafa terkekeh...ia langsung membuka jasnya tanpa berpikir dan berikut dasinya lalu menggulung kemejanya...pria itu pun melangkah mendekati Dena yang sedang memetik sayur dan beberapa buah segar..
''Hati-hati Dena...''ucap Dafa tersenyum..
Kegiatan memotong sayur di sore itu sangat menyenangkan, hanya ada tawa dan canda...mereka bercerita tentang masa lalu ketika mereka masih kecil..
''Kau selalu sembunyi jika saatnya memetik sayur...''ucap Dena menatap Dafa,..
''Itu karna aku dan beberapa anak lelaki lainnya sedang bermain..tapi anak perempuan selalu marah-marah..''
''Itu karna kalian selalu menghindar dari pekerjaan..''jerit Dena melotot...
Dafa menyerah dengan tertawa....keduanya saling melemparkan senyuman...ketika mereka sedang bercanda, sebuah mobil mewah memasuki parkiran Panti...dan langsung menarik perhatian Dafa dan juga Dena...
Tak berapa lama kemudian seorang pria keluar dari mobil dan pria itu mampu membuat Dena membeku..
Yah..Devan keluar dari dalam mobil dan menatap tepat ke arah Dena dan Dafa yang sedang berdiri menatapnya..
Dafa mengerutkan kening...
Sementara Devan mendekati mereka sementara Dafa menatap Dena yang terlihat tak senang dengan kehadiran Devan...
__ADS_1
Deg!!!!!!