
Ardhan
"dia pacaran sama Jerry?"
tidak tahu kenapa ardhan menanyakan hal paling bodoh bagi dirinya di muka bumi ini
mama nya terkekeh, menoleh cepat ke arah ayudia yang mulai naik kembali k stage
"Cocok nggak?"
seloroh mamanya
ardhan hanya diam
"tadinya om Haris kamu mau kenalkan dia sama Ijal, karena mama bilang nggak, jadi nya yah urung "
mama nya kembali terkekeh
"Anaknya sopan banget itu, ternyata keponakan Abas loh Bim, adik sepupu Rudi teman kamu sekaligus kepala keuangan kamu"
tambah mama nya lagi
tidak tahu kenapa ardhan tampak kehilangan kata-kata menatap ke arah gadis itu beberapa waktu
Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
tidak tahu kenapa tiba-tiba lagu yang di bawakan ayudia mengingat kan dirinya pada mendiang istrinya arletta
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
mungkin dia yang tiba-tiba menginat istrinya karena mendengar kan suara Ayudia yang memang luar biasa membawakan lagu itu atau karena memang ada hal lain yang membuat nya merasa harus mengingat memori lama
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
seketika namanya menoleh kearahnya, menggenggam erat tangan nya sambil berbisik pelan
"Bim, ikhlaskan lah"
dia menoleh cepat ke arah mamanya, mencoba menatap dalam bola mata mamanya, menyentuh tangan mama nya lembut kemudian tersenyum
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
__ADS_1
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta
"Bima sedang berusaha"
ucapnya pelan sambil tersenyum getir
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
*******
Ayudia
Seharian ini benar-benar lelah luar biasa, membuat seluruh tubuhnya remuk luluh lantak, mama Ainun memaksa nya berkeliling mall hanya untuk membeli barang apa yang dia tidak tahu apa saja itu, bahkan dia dibeli kan barang-barang yang menurut nya harga nya terlaku luar biasa, belum lagi mereka mesti mengitari toko-toko dengan merk ternama yang harga nya bisa bikin jungkir balik bahkan kantong jebol
Gila cara orang kaya belanja
itu fikir nya
bahkan dia harus menolak berkali kali saat mama Ainun terus memaksakan dirinya untuk membeli sebuah gaun indah yang harga nya bikin spot jantung orang satu RT saking mahal harga nya
25 juta
dia gemetaran saat melihat harga itu gaun
"tapi ma..."
dia berusaha menolak mati-matian, tapi si Dirut malah mendorong nya agar mengambil gaun itu, membiarkan pelayan dengan cepat merapikan dan menghitung bon nya
"Pak ini mahal banget"
ucapnya setengah berbisik
itu buat jatah makan berapa tahun coba??
"Kamu nggak lihat mama saya senang begitu? Kualat kalau mengecewakan orang tua"
laki-laki itu malah berbisik dengan entengnya
"Apa lagi itu nggak begitu mahal juga,eta anak kesayangan mama biasanya kalau beli nggak pernah yang dibawah 50an"
glekkk
ayudia menelan ludahnya
iya oke orang kaya mah bebasss suka-suka mereka mau buang duit gimana,tapi kan 25 juta cuma buat sebuah gaun itu benar-benar bikin dia nangis darah
"kamu jadi ke Palembang Bim Beberapa hari lagi? peresmian kantor baru Abimayu?"
mama Ainun bicara cepat saat mereka sudah ada di dalam mobil
seketika ayudia menoleh, mendengar kata Palembang membuat nya rindu kampung halamannya
"jadi ma"
"acara pasti nya kapan?"
"malam Minggu, mama mau ikut?"
laki-laki itu bertanya sambil mengingat dari arah kaca depan
"papa berangkat Kamis, kalau mau nanti aku pesankan tiket yang sama"
"ay ikut juga ya, dia pasti rindu kampung halamannya"
ucap mamanya cepat
ayudia diam sejenak
"Tapi ma"
Ayudia Mencoba menolak,tapi langsung di potong ardhan
"Loh orang tua tinggal di Palembang ay?"
__ADS_1
tanya nya cepat
ayudia menggeleng pelan
"Lubuklinggau "
"oh disana, berarti transit aja.aku pesan kan tiket di hari Rabu,nanti balik ke Palembang Sabtu pagi, bisa ikut acara pembukaan nanti malam nya,Minggu langsung balik ke Jakarta sekali jalan.senin baru masuk kantor lagi"
"lumanyan bisa mudik 2 hari"
lanjutnya
"Tapi pak, itu libur nya lama benar, nggak usah ma..."
jawab nya cepat, berusaha menolak dengan halus
"aku pesankan yah"
seakan tidak peduli dengan tolakan nya, sang Dirut malah mengeluarkan hape nya, menghubungi seseorang
"tiketnya jadi 4 ya, 3 di hari Kamis,1 di hari Rabu"
setelah itu menutup cepat panggilan nya
"tapi pak"
"sudah dipesan"
jawabnya enteng sambil menaikkan bahunya
"Jerry yakin nggak ikut ma?"
kemudian malah mengalihkan pembicaraan
mama nya menghela nafas panjang
"tugas negara...tugas negara....kapan pak Buser itu bisa dapat cuti coba?"
"selidik,kejar,tangkap..."
mama Ainun kembali menarik nafasnya panjang
"kadang mama sering merasa was-was dengan pekerjaan dia"
"ma, itu tidak seburuk yang mama bayangkan"
ucap ardhan pelan
*******
mama Ainun
acapkali dia merasa was-was dengan pekerjaan di bungsunya, kadang tengah malam terjaga takut jika-jika sesuatu yang buruk terjadi ketika anak itu bertugas. Dulu saat masih muda ardhan yang ingin masuk tes Akpol bersama teman-teman nya, namun karena desakan Dirinya dan kakek ardhan serta arletta anak itu memupus kan semua mimpinya.
tapi siapa sangka di bungsu juga menginginkan nya
Dia ingat betul saat anak itu bilang
"Ma, pa Jerry mau jadi polisi yah"
"mau masukin berkas"
"teman-teman kak Bima keren-keren pas lagi tugas, mama lihat kan?"
"machooo"
apalagi saat sang kakaknya eta dapat suami seorang polisi, jiwa nya semakin menggebu-gebu, dia terus berkata itu luar biasa
saat itu karena dia fikir hanya guyonan anak remaja dia hanya mengangguk menyetujui
tapi siapa sangka anak itu tidak main-main dengan ucapannya
Saat anak itu memasukkan berkas nya untuk ikut tes, dia fikir Jerry mau melamar kerja atau mau kuliah kemana,tidak terfikir sama sekali dalam ingatannya jika anak itu benar-benar ikut tes masuk Akpol.
begitu dia diterima,dengan bangga memamerkan keberhasilan nya setelah melewati semua tahapan seleksi, seketika dunia seperti tidak berpihak padanya,ingatan soal hal-hal buruk terus terpatri di fikirannya, apalagi orang-orang seperti itu terus tidur dan bermain dengan senjata api, yang dinasnya di luar bukan di kantor atau lantas malah begitu berbahaya, harus punya banyak nyawa cadangan, bersiap dengan sejuta kemungkinan buruk, kadang kala bertarung nyawa saat bertugas, ditembak atau menembak, dipukul atau memukul.acapkali tidak punya waktu untuk kekuarga, bahkan mungkin akan sangat jarang sekali pulang kerumah.
dia fikir dapat menantu polisi saja sudah bikin jantung nya berdetak tidak beraturan siang dan malam saat menonton berita di televisi, apalagi jika anak nya sendiri yang ada di sana.
Bahkan ketika tahu Jerry menjadi seorang buruh sergap (Buser), kekhawatiran panjang nya pun semakin mendalam.
hanya saja ardhan selalu berkata semua pasti baik-baik saja. hidup itu ketentuan dari Allah, hidup dan mati semua Allah yang mengatur. tapi lucunya setelah dia mulai menerima nya, justru ardhan yang terpuruk dan tidak lagi bisa mempercayai kata-kata nya sendiri soal ketentuan Allah.
__ADS_1