
Ayudia
Lepas 40 hari baby Hanif semakin montok dan berisi, setelah dimandikan oleh mama Hanif langsung diberikan pada ayudia.
Masih ingat di kepalanya Ardhan dan Mak pulang ke Jakarta setelah 1 Minggu pamit pergi, ayudia merasa agak aneh karena ardhan bilang mereka bertemu tidak sengaja di jalan hingga bisa pulang satu mobil. Dan ayudia merasa heran karena yang datang cuma Mak.
"Bapak mana?"
ayudia mengerutkan dahinya
"Bapak baru bisa datang lepas 40 hari sayang, sebab ada pesanan pakaian sekolah yang sudah terlanjur bapak terima sebelum kamu lahiran kemarin"
Sang suami mencoba menjawab selembut mungkin, menyentuh wajah nya pelan kemudian mencium kening Ayudia dalam.
"Sehat selalu, panjang umur dan makin cantik"
bisik ardhan kemudian kembali mencium puncak kepalanya
"Amin"
Mak cuma tersenyum, datang memeluk ayudia sambil mencium pipi kiri dan kanannya,.
Ayudia kembali menarik nafasnya, berfikir ini sudah lewat 40 hari tapi bapak belum juga ke Jakarta. Dia menoleh ke arah sang suami yang masih terlelap, Tampak gurat lelah di wajah sang suami yang tidur di samping dirinya, sebab baru pulang sekitar jam 3 fajar karena lembur tutup keuangan akhir tahun.
Setelah mama ainun dan Mak sibuk di lantai bawah di dapur entah masak apa buat sarapan, Ayudia meletakkan Hanif di box bayi, Mendekati sang suami, duduk Secara berlahan sambil menatap dalam wajah Ardhan. Secara berlahan ayudia mencium lembut bibir sang suami, mengelus lembut wajah ardhan untuk beberapa waktu.
Setelah itu dia fikir mau turun ke bawah sebentar tapi buru-buru pergelangan tangan nya di tarik ardhan.
"Sayang?"
Dalam hitungan detik tubuh ayudia sudah berada di atas tubuh ardhan.
"Hmm... aku kangen sama kamu"
Ardhan bicara sambil memeluk erat tubuh ayudia, Kemudian membalikkan tubuh kecil itu ke arah kirinya.
"Kangen kayak lama nggak ketemu? orang tiap hari ketemu kan?"
Ardhan mengangguk
"Tapi hampir 1/2 bulan aku sibuk sama urusan kantor, dan kamu terlalu sibuk sama Hanif"
keluh nya manja
Ayudia terkekeh
"Bayi tua merajok"
goda ayudia
Seketika posisi ardhan berubah, ayudia berada di bawah tubuhnya, ardhan langsung mencium dalam bibir ayudia tanpa aba-aba, dia bahkan rasanya tidak bisa bernafas dengan baik.
"Abang"
sejenak wajah ayudia memerah
"Yah yah, baru lewat 40 hari"
terlihat sang suami mendesah pelan
"Aku akan bersabar sayang, tapi bukan kah tidak masalah dengan sedikit ciuman..."
ardhan mulai menggoda, mencium bibir ayudia lembut
"Turun ke leher"
mencoba mengecup lembut lehernya
"Abang ih"
"ke da.da.."
goda nya lagi
"Abang"
Ayudia tampak protes
"Oh sayang... berapa lama aku mesti puasa?"
"Bukankah sesudah masa nifas lewat 40 hari sudah boleh?"
Ayudia tersenyum, menyentuh pelan wajah ardhan
"Tunggu sampai Minggu depan"
bisik nya pelan sedikit menggoda
"Kamu tu yah malah menggoda"
ayudia terkekeh
"ah sayang, sayang, sayanggg.."
Ucap ardhan sambil menyentuh kedua pipi nya, Kemudian kembali menautkan bibir mereka dalam. Dan kegiatan itu terhenti ketika baby Hanif mulai menangis kencang.
__ADS_1
Seketika Ayudia tergawa, mendorong tubuh suaminya pelan kemudian segera beranjak mendekati Hanif.
"Ohhh perhatian papa benar-benar tercuri oleh mu nak"
ujar ardhan pelan sambil menatap Hanif, memeluk Ayudia dari belakang sambil mencium lembut leher sang istri.
"I love you"
bisik nya lembut kemudian meraih handuk nya lantas melesat menuju ke kamar mandi
******
Ardhan
it's time..."
dia tahu inilah waktunya untuk bicara realita kepada sang istri, mereka tidak mungkin bungkam terlalu lama bukan?
Ardhan minta mama dan mak yang menjaga Hanif malam ini, membiarkan Hanif tidur di kamar bawah, ardhan fikir mereka butuh quality time yang baik, juga timing serta moment yang baik untuk membicarakan soal bapak pada Ayudia.
Awalnya mungkin ardhan fikir akan berbicara di waktu lebih awal sebelum istirahat dengan ayudia, tapi sang istri malah tau-tau keluar dari kamar mandi menggunakan linger hitam bercampur merah darah, Tampak sek..si dan penuh gai..rah..
"Sayang, kamu mau ngapain?"
ardhan bertanya seperti tanpa dosa
Saat ditanya begitu ayudia malah mendelik, kelihatan jutek dan kesal.
"kok pakai baju begitu? beli nya kapan? sama mama? atau kak eta kamu?"
ardhan malah terus bertanya iseng Seperti tanpa dosa saja
ayudia memunyungkan bibir nya
"ish, aku mau tidur sampai pagi"
Malah menjawab dengan perasaan dongkol, Kemudian dengan cepat tidur disamping ardhan sambil memunggungi dia.
Ardhan mengulum senyum
"Anak Mak men merajok belagak nian uyyyy(Anak Mak kalau merajuk cantik banget)"
Goda ardhan dengan bahasa Linggau, mendekati Ayudia sambil mendekati Ayudia dari belakang
ayudia tak bergeming
aduh...ngambek ini
batin ardhan
"Sayang .. ohh sayang..."
"Apaan sih"
ardhan terkekeh dalam hati
merapatkan pelukannya pada ayudia
"Kayak nya ada yang lagi pengen nih"
Dia malah terus menggoda
"Abang"
"Oh sayang..."
ardhan bicara cepat sambil membalikkan tubuh istrinya, dia tersenyum sambil menatap dalam bola mata Ayudia,cukup lama.
sang istri Tampak mengerutkan dahinya
"Abang kenapa?"
dia menyentuh pelan wajah ardhan, mencoba menyentuh matanya.
"Abang habis nangis?"
Ardhan tersenyum, kemudian menggeleng pelan.Menyentuh hangat wajah sang istri.
"Semoga selalu panjang umur, sehat selalu tanpa kurang sedikit pun"
ucapnya pelan sambil memeluk erat tubuh Ayudia
"Amin.."
entahlah selalu itu yang dia ucapkan sekarang setiap kali melihat ayudia, ketakutan akan kematian jelas selalu terngiang di ingatannya. Soal arletta bahkan bapak di Lubuklinggau.
Kadang dia berfikir siapa yang lebih dulu pergi nanti, dia atau sang istri?. Dia tidak mau kehilangan di waktu yang tidak tepat, hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah di setiap sholat nya, agar Ayudia selalu diberkahi kesehatan, keselamatan, umur yang panjang tanpa kurang sedikitpun hingga tua, hingga melahirkan anak-anak mereka, hingga melihat anak-anak tumbuh kembang dengan sempurnah, setelah anak-anak menikah dan InsyaAllah sampai menimang cucu.
"Abang juga, semoga selalu diberi umur panjang, sehat selalu, tanpa kekurangan apapun, dilancarkan semua urusan nya tanpa ada yang menghalanginya"
bisik ayudia
"Amin ya Allah"
ucapnya pelan, lantas Dengan gerakan tiba-tiba dan begitu lembut langsung menyapu bibir Ayudia cukup lama.
__ADS_1
*******
Ayudia
Waktu keluar dari kamar mandi pakai linger malah seolah-olah di ketawain, kan garing banget fikir dia.
ish padahal kan Minggu kemarin ngomong sendiri kepengen,dia sendiri titip Hanif ke mama sama Mak terus mau ngapain kalo nggak gitu?
oceh ayudia dalam hati
jelas lah dia ngambek, pura-pura mau tidur memunggungi ardhan. Tapi kan tetap nggak bisa,Ardhan tuh selalu bisa membuat dia mereda cepat kalau marah.
"Sayang .. ohh sayang..."
"Apaan sih"
kemudian sang suami malah merapatkan pelukan pada nya
"Kayak nya ada yang lagi pengen nih"
kan
"Abang"
"Oh sayang..."
Sejurus kemudian ardhan tubuh nya, Beberapa waktu sang suami tersenyum sambil menatap dalam bola mata nya,cukup lama.
ayudia langsung mengerutkan dahinya
"Abang kenapa?"
jelas saja dia bertanya bingung, mata Ardhan sedikit memerah, agak sembab, seperti orang yang habis nangis.
tapi ardhan menggeleng cepat sambil menyentuh hangat wajahnya,kemudian malah bilang
"Semoga selalu panjang umur, sehat selalu tanpa kurang sedikit pun"
"Amin"
seperti sebuah harapan panjang, belakangan suami nya selalu seperti itu, tiap kali menatap wajahnya, menciumnya pasti bilang begitu.
dia pasti menjawab sebaliknya, kemudian dalam hitungan detik ardhan dengan lembut menyapamu bibirnya, menautkan bibir mereka dalam gelombang yang berbeda, kali ini bahkan jauh lebih lembut dari biasanya, kemudian tahu-tahu terasa begitu menggebu.
Seakan-akan takut dirinya lepas dari sang suami, ardhan dengan sangat intens menyelami diri nya secara berlahan, memberikan sapuan hangat dibibir, turun berlahan ke ceruk lehernya, bahkan membiarkan dirinya merasakan ke..nik..matan haki..Ki..yang berbeda setelah sekian lama, ardhan membawanya mengarungi samudera, membiarkan dirinya mengeluarkan suara-suara memalukan dari balik bibirnya. bahkan kali ini dengan cara yang jauh luar biasa, membuat bdia kadang memekik nik..mat.. tiada Tara, membuat dia kadang malu atas perlakuan nya. Kemudian terus menggayuh nya melintasi waktu di antara dingin nya sapuan malam yang cukup panjang.
"Sayang, tahukah kamu? aku benar-benar sudah jatuh kedalam pesona mu"
bisik ardhan lembut, membuatnya semakin terbang melayang tanpa bisa menjawab pernyataan yang terasa sangat luar biasa.
di antara rasa lelah yang tersisa, dia sempat terlelap sejenak hingga beberapa waktu. kemudian terbangun ketika sang suami mengelus lembut Kepala nya beberapa kali.
"Abang nggak tidur?"
tanya nya pelan
ardhan menggeleng
"Tidurlah"
ayudia tampak diam
"Abang mau ngomong apa?"
tiba-tiba pertanyaan itu meluncur lembut dari balik bibirnya, Ayudia berlahan duduk diikuti juga oleh ardhan.
"Abang habis nangis lagi kan? apa yang terjadi? apa Abang sudah melakukan kesalahan besar? atau bahkan dosa besar?"
Ayudia bertanya pelan
"Abang nggak berpaling atau punya perempuan lainkan?"
pertanyaan itu begitu membuat Ayudia khawatir, dia tahu suami nya tidak pernah menampakkan wajah seperti itu,ardhan tidak pernah menangis sebelum nya dihadapannya.
ardhan menggeleng
"Aku tidak pernah memalingkan hati dari mu barang sedetikpun"
Ayudia menarik nafasnya lega
"Lalu?"
"Ay.."
suara sang suami tampak serak
"Berjanjilah kamu tidak menangis atau marah"
ardhan memegangi kedua pipinya hangat
ayudia tampak menatap bola mata ardhan dalam, ada sejuta kekhawatiran terpatri di balik bola mata itu.
"Ini soal bapak"
jlebbbb entahlah, begitu mendengar sang suami berkata begitu tiba-tiba perasaan tidak enak menyerbu hatinya secara tiba-tiba.
__ADS_1