
Ayudia
Dan benar setelah pak Ardhan bilang soal...
"Om... sebenarnya"
"kedatangan saya sama papa kesini"
sejenak om abas menaikkan alisnya
"kenapa Bim? kok jadi kayak serius benar"
dapat dilihat betapa tegang nya wajah mamang Abas saat mendengar pak ardhan ngomong nya dengan nada yang begitu serius apalagi waktu mamang menoleh ke arah kak Rudi, kak rudi tampak menghela nafasnya berat, menatap mang abas dengan sejuta perasaan bersalah, seakan-akan berkata
*maafkan saya karena telah gagal menjaga ay pa*
"Saya kemari mau melamar ayudia"
"saya ....."
Dan... benar-benar seperti petir di siang bolong omongan pak ardhan Seketika membuat Mamang nya itu melotot marah, menatap Wajah papa Cakra dengan pandangan suram sambil mengeratkan rahangnya, Kemudian menatap kak Rudi dan pak ardhan secara bergantian, lantas tiba-tiba matanya mencari seseorang
siapa lagi kalau bukan dirinya, ayudia?
"Dimana ay?"
tanya nya tiba-tiba
jelas saja Ayudia jadi gemetaran, kakinya seketika terasa lumpuh, dia ingin menangis sekarang juga, sejenak dia menarik-narik ujung bajunya
"Dimana ay?"
mang Abasnya kembali bertanya, nada suaranya terdengar begitu dingin dan Suram
Tante nya sang istri mang Abas secepat kilat keluar dari arah dapur, menatap bingung ke arah semua orang, termasuk suaminya
"Ada apa ayah?"
tanya tantenya bingung
tidak ada jawaban
"kenapa rud?"
dia bertanya lagi dengan kak Rudi
kak Rudi cuma menggeleng pelan
"bas, ini bukan salah keponakan kamu, semua salah Bima"
papa Cakra bicara cepat berusaha menetralisir keadaan
tapi mau bagaimana pun juga kan keadaan benar-benar tidak baik, dapat Ayudia rasakan kemarahan itu terjadi pada mamang nya, jelas saja ini tidak masuk akal secara logika mamang nya, karena Ayudia masih sekolah, masih kelas 2 SMA bahkan belum lulus sekolah kenapa tiba-tiba mau nikah? kecuali....!!
Secara berlahan Ayudia melangkah kedepan pintu,mencoba masuk sambil menggenggam ujung bajunya nya karena takut, semua orang menoleh, bahkan pak Ardhan tampak tidak setuju karena tau-tau dirinya masuk begitu saja kedalam, padahal tadi pak ardhan sudah berbisik
"apapun yang terjadi biar saya yang selesaikan semua nya lebih dulu, kamu tetap disini jangan masuk dulu"
tapi ayudia malah tidak mendengar omongan sang dirut
"kesini"
__ADS_1
memangnya bicara dengan nada tinggi
Ayudia terus melangkah kan kakinya mendekati Mamang nya, dia menelan ludahnya seketika, dan air matanya seakan-akan mau tumpah
"duduk"
Ayudia dengan cepat duduk di kursi tepat mamangnya
"mamang tanya, kamu merayu Bima?"
bentak mamangnya tiba-tiba
Ayudia menggelang pelan
"kamu nyerahin diri kamu sama dia biar bisa nikah sama Bima dan jadi orang kaya?"
Ayudia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, dan air matanya tumpah Seketika
"Astagfirullah hul'adzim Om ini murni kesalahan saya, Ayudia tidak salah apa-apa"
pak ardhan berusaha menjelaskan
"pa.. Ayudia nggak tahu apa-apa"
kak Rudi juga mencoba ikut menjelaskan
tapi namanya juga emosi, yang menjelaskan tetap saja di anggap angin lalu, tiba-tiba mang Abas menarik sebuah Rotan dari atas lemari yang terletak di belakang mereka duduk, Ayudia kaget dengan cepat memejamkan matanya berusaha menahan dirinya dengan kedua tangannya
"Abas"
"Ayah"
"Pa"
seketika terdengar jeritan orang serumah
cletakkk
batin Ayudia pelan, tubuhnya terasa ada yang memeluk, ayudia lantas dengan cepat membuka matanya.
pak ardhan tau-tau sudah jadi temeng di depannya, rotan pak Abas dengan kasar mengenai punggung pak ardhan, dan seketika ayudia benar- benar menangis sesenggukan Waktu itu juga.
********
Ardhan
kacau ....kacau...kacau...
ardhan berusaha menarik kasar nafasnya, dia fikir semua benar-benar terasa kacau saat ini, ekspresi om Abas jauh di atas ekspektasi nya, pria yang usianya hampir seumuran papa nya itu menampilkan wajah garang nya.
selama puluhan tahun mengenal om Abas, baru kali ini dia melihat pria ini marah, bahkan dulu saat kecil dirinya dan Rudi pernah berbuat kesalahan, amarah pria ini tidak sampai seperti ini, masih dapat di kendalikan dan selalu mencoba mentolerir setiap kenakalan yang dilakukan dirinya dan rudi, tapi kali ini semua tampak berada di luar kendali.
belum lagi ayudia yang tahu-tahu sudah melangkah masuk ke dalam, semakin menambah ekspresi marah pria itu. ardhan mnggeleng pelan menatap wajah Ayudia, dia sudah bicara ke anak ini agar tidak masuk dalam kondisi apapun, tapi sekarang anak ini malah dengan ekspresi penuh ketakutan masuk secara berlahan ke dalam, mendekati om Abas sesuai perintah sang oom, duduk di sampingnya dengan wajah penuh ketakutan, bisa dilihat air matanya mulai akan tumpah dalam hitungan beberapa detik lagi
"duduk"
Om Abas memerintah dengan suara yang begitu kasar
dan seketika Ayudia dengan cepat duduk di kursi tepat oom nya itu
"mamang tanya, kamu merayu Bima?"
__ADS_1
bentak mamangnya tiba-tiba
ayudia menggelang cepat
"kamu nyerahin diri kamu sama dia biar bisa nikah sama Bima dan jadi orang kaya?"
astagfirullah hul'adzim
ardhan mengusap kasar wajahnya, dia fikir itu bagaikan sebuah fitnahan yang sangat menyakitkan
Ayudia menggelang pelan, seketika air matanya tumpah ruah
"astagfirullah hul'adzim Om ini murni kesalahan saya, Ayudia tidak salah apa-apa"
Ardhan berusaha menjelaskan
"pa.. Ayudia nggak tahu apa-apa"
Rudi juga mencoba ikut menjelaskan
Tanpa mau mendengar kan penjelasan dirinya dan Rudi, tiba-tiba om Abas menarik sebuah Rotan dari atas lemari yang terletak di belakang mereka duduk, Seketika semua orang terkejut, Ayudia juga terkejut, apalagi ardhan.
Ayudia terlihat dengan cepat memejamkan matanya berusaha menahan dirinya dengan kedua tangannya
"Abas"
"Ayah"
"Pa"
seketika terdengar jeritan orang serumah
cletakkk
ardhan maju dengan Cepat memeluk tubuh ayudia tanpa berfikir dua tiga kali,dia berusaha menjadikan tubuhnya temeng untuk ayudia, dan rotan pak Abas dengan kasar mengenai punggung nya.
Ardhan hanya meringis didalam hati
wadidawwww panas ueyyy
dia fikir kapan terakhir dia dipukul pakai rotan oleh papanya atau guru sekolah nya? waktu SD itu entah kelas berapa, dan hari ini dia kembali merasakan panas dan perihnya dipukul dengan benda tua yang biasa di bawa ibu-ibu atau bapak-bapak jaman dulu untuk mendisiplinkan anak-anak mereka yang kelewat nakal serta bandel
Ayudia yang tadi terpejam Seketika membuka matanya kemudian mendongak menatap wajah nya,lalu anak itu tiba-tiba menangis sesenggukan Waktu itu juga.
"pakkk..."
Ayudia berdiri dengan perasaan yang berkecamuk jadi satu, tampak panik dengan keadaan dirinya,Ardhan dengan cepat memeluk tubuh ayudia Kemudian dia mengusap kepala Ayudia pelan, lantas dengan cepat berbalik menatap om Abas.
"Om saya yang salah karena sudah menghancurkan masa depan Ayudia, demi Allah saya khilaf, dia sama sekali tidak pernah menggoda saya, demi Allah dia sedikit pun tidak pernah berlaku serendah itu untuk menggoda saya"
ardhan berusaha menjelaskan semuanya, menghilangkan semua gengsi serta harga dirinya yang tinggi, seakan-akan memang dia tersangka utamanya disini, sambil terus memeluk tubuh Ayudia dia terus bicara menyakinkan om Abas.
"Saya akan pastikan semua bakal baik-baik saja, saya akan menjamin semua masa depan Ayudia, dia akan tetap melakukan apapun sesuai kemauan dia, dia akan tetap mengejar semua cita-cita nya hingga tuntas"
"Saya akan bertanggung jawab penuh atas semua perbuatan saya, saya benar-benar hanya meminta restu dari oom, saya pastikan semua masa depannya akan tetap berjalan sesuai kemauan dia, kemauan oom dan juga kemauan orang tuanya"
"Saya bersumpah tidak akan pernah menyakiti dia, tidan akan membuat dirinya menangis bahkan karena hal sekecil apapun itu, saya akan membahagiakan dia dan akan terus berada disisinya hingga akhir hayat saya"
setelah berkata begitu ardhan semakin dalam memeluk ayudia, membiarkan anak itu menangis sesenggukan di dalam pelukannya sambil terus menatap bola mata om Abas sedalam mungkin untuk memastikan pada pria ini jika dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya bahkan sama sekali tidak berniat membohongi dirinya
tampak om Abas kehilangan kata-kata nya, dia menatap bola mata ardhan cukup lama, kemudian bola matanya melirik ke arah semua orang satu persatu, Seketika dia terduduk di atas kursi sofa, memijat pelan kepalanya untuk beberapa waktu
__ADS_1
Dan demi Allah lamaran ini adalah lamaran paling parah yang mungkin pernah dilakukan oleh seseorang, bisa jadi mungkin hanya dirinya yang pernah melakukan lamaran seperti ini dari seluruh penduduk di muka bumi ini, dan lamaran ini adalah lamaran paling ekstrim untuk di kenang hingga akhir hayat nya, bahkan mungkin dia bakal malu untuk menceritakan sejarah ini ke anak cucunya, dan jangan sampai sejarah seperti ini terulang kembali untuk yang ke dua kalinya.