
Ardhan
Dia hanya butuh waktu berfikir, otaknya kosong dan fikirannya menjadi begitu kacau. Kejadian tadi benar-benar membuat dirinya dilanda kecemburuan berlebihan.
Ke khawatiran yang selama ini menghantuinya lambat laut terjadi juga, Ayudia semakin tahun tumbuh semakin bersinar, semakin cantik dan semakin sedap dipandang, di usianya yang melewati angka 20 tahun bisa dilihat betapa banyak perubahan di diri sang istri, bahkan wajahnya semakin terlihat dewasa dengan keindahan nya, sedangkan Ardhan merasa usianya mulai menua, rasanya mulai tidak pantas mendampingi Ayudia.
Dia acapkali ingin membuang ketakutan soal bisa jadi ayudia akan bosan bersama nya, Ayudia lebih memilih laki-laki seumuran nya.
Fikiran macam apa ini
batin ardhan
entahlah, kepalanya terasa mau pecah, apalagi saat Edo mencium wajah sang istri penuh Cinta. Kecemburuan nya meningkat pesat, dia benar-benar marah, cemburu, kesal dan entah apalagi dia tidak tahu.
Sejak pulang ke rumah dia tidak mampu bicara, kesadaran yang tadi menghilang tiba-tiba muncul kembali saat Ayudia menangis didalam mobil sambil menggendong Hanif, baru kali itu dia melihat Ayudia menangis karena dirinya, baru kali ini dia berlaku kasar pada Ayudia. Hati nya ingin sekali berkata maaf, tapi mulutnya sama sekali tidak mampu mengucapkan nya.
Hingga selesai makan malam pun mereka tetap saling diam tanpa bicara sepatah katapun. Pada akhirnya ardhan lebih memilih masuk ke kamar lebih dulu, menghabiskan berbatang-batang rokok dan menepi di teras kamar.
hingga akhirnya tangan mungil itu masuk ke dalam pinggangnya, ayudia menangis sesenggukan di belakangnya, terisak tanpa bisa dihentikan. mengeluh soal sikaf by yang tadi, meminta maaf atas semua hal yang sebenarnya Ayudia sendiri pun tidak tahu bakal terjadi begitu.
hingga 1 baris kata memecah perasaan nya
"Ay berhenti kuliah saja, kita kembali ke Jakarta"
bola mata indah itu menatap dalam mata ardhan
"Ay?"
jelas saja dia terkejut
"Ay tersiksa disini, dibanding Abang ay lebih tidak kuat, semuanya terasa begitu berat, berpisah dengan Abang pun sangat berat, cuma bisa ketemu seminggu sekali"
"Saat semua keluarga bisa menikmati quality time dengan baik,kita harus telpon-telponan dari jauh, saat perempuan lain bisa pamer suaminya ay tidak bisa, saat pasangan pergi bersama ketika anak-anak nya sakit untuk kedokter, ay mesti pergi tanpa Abang bersama pak agus, saat orang-orang bertanya mana suami nya mbak? ay hanya bisa menelan ludah sambil menjawab kalau suami ay kerja dijakarta, saat perempuan lain tidur di pelukan suaminya, ay hanya bisa menatap foto Abang di hape sambil memeluk guling, ay rindu Abang, ay mau pulang, ay nggak mau kuliah lagi"
Dan semua kegelisahan itu pecah Seketika, kecemburuan tak bertuan itu hancur berkeping-keping saat ucapan sang istri terdengar begitu lantang penuh derita dan beban.
"Nggak usah kuliah lagi nggak apa-apa yang penting bisa sama Abang dan hanif"
Secara lembut dua telapak tangan ardhan menyentuh pipi indah itu, yang telah dibanjiri oleh genangan air mata.
"ay... nggak begitu caranya, kita akan cari Solusinya"
"Ay nggak mau, ay mau pulang, ay disini tertekan, semua nya Begitu berat Abang"
__ADS_1
tangisnya terus pecah
ardhan kehilangan kata-kata, hanya mampu memeluk tubuh itu masuk ke dalam dekapannya.
"Maafkan Abang, maafkan Abang ay"
*******
Ayudia
Jelas selama hampir 3 tahun ini rasanya mulai menjadi gila, dan siang ini menjadi titik terburuk nya. Ayudia hanya tidak kuat karena apa-apa dikerjakan sendiri, jelas berbeda jauh saat masih dijakarta, ardhan selalu ada disampingnya, selalu support dirinya, kemanapun pergi selalu ardhan yang mendampingi dirinya. Mungkin ini yang katanya kamu sudah terbiasa bersama dan terus bergantung dengan dia hingga terasa begitu nyaman dan menyenangkan.
Tapi sejak kuliah di Bandung semua terasa berat, meskipun ada bik Sri, tapi hasilnya tetap saja berbeda. belum lagi tekanan kuliah, bahkan beberapa teman laki-laki yang mulai tertarik dan menggoda dirinya, membuat Ayudia mulai tidak nyaman dengan situasi.
Karena itu pada akhirnya dia mencurahkan semua keluhannya pada ardhan agar laki-laki itu paham bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
"Ay.."
Ardhan memanggil nya Begitu lembut, memeluk erat tubuh Ayudia dari arah belakang,mereka sebenarnya sudah berada di tempat tidur sejak tadi, namun realitanya tidak ada satupun di antara mereka yang mampu tertidur.
"Hmm.."
Ayudia membalik tubuhnya secara berlahan, menatap bola mata Ardhan cukup lama.
ardhan Bertanya sambil menyentuh lembut kulit wajahnya
ay menggeleng pelan
"Kenapa?"
"Setengah nya baik, tapi setengah lagi tidak"
jawab ayudia pelan
ardhan mengusap pelan pipi Ayudia dengan jempolnya
"Seperti?"
"Beberapa anak cowok Begitu gencar merayu"
ayudia menarik nafasnya panjang
"Abang nggak pernah ke kampus sih, jadi nggak tahu kalau istri Abang sering di goda orang"
__ADS_1
seketika suami nya diam
"ini ngomporin atau mengadu?
ayudia tekekeh melihat ekspresi ardhan
"ke dua-duanya"
ardhan tampak cemberut, kemudian ekspresi wajahnya berubah sendu.
******
Ardhan
Saat ayudia berkata
"Abang nggak pernah ke kampus sih, jadi nggak tahu kalau istri Abang sering di goda orang"
jelas gurat cemburu menghantam perasaannya, tapi akal sehatnya mencoba mencerna.
"Sebentar lagi, tidak lama lagi selesai, bertahanlah"
ucapnya pelan
"Tidak ada yang tahan berpisah jauh sama pasangannya, ay juga nggak.nggak kuliah juga nggak apa-apa, kita pulang saja"
"Ay.."
"pokoknya Abang pulang ay juga mau pulang"
"Tapi nggak begitu aturan nya"
"Ayudia stress disini Abang"
"Tapi kamu masih harus mengejar impian kamu ay"
"Impian ay cuma Abang dan hanif, nggak ada yang lain"
"Ay.."
seketika air mata ayudia kembali tumpah, ardhan kembali kehilangan kata-kata, menarik berat nafasnya kemudian mencoba memeluk tubuh kedalam dekapannya.
Dia butuh solusi, butuh saran terbaik dari seseorang saat ini.
__ADS_1
jelas keinginan Ayudia berhenti membuat dirinya senang, tapi bukan juga dengan cara seperti ini, Dia yakin Ayudia hanya sedang merasa bimbang Dengan keadaan, mungkin ada beberapa tekanan yang sebenarnya terjadi tanpa bisa dia ceritakan, pasti sesuatu yang tidak di ketahui oleh nya terjadi belakangan ini.