CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
Restu orang tua adalah segala nya


__ADS_3

Ardhan


Perjalanan menuju jakarta-lubuklinggau cuma makan waktu 45 menit saja menggunakan pesawat,baru tahu soal Lubuklinggau waktu pertama kali menjejakkan kaki di bandara nya, kota nya lumanyan besar.






2 hari sebelum keberangkatan ke Lubuklinggau, om Abas sudah menghubungi keluarga Ayudia lebih dulu,dan... membicarakan niat soal lamaran sang putri


Niat awal datang sendiri dulu sama Ayudia untuk membicarakan soal lamaran, kalau hasil nya sesuai ekspektasi mama dan papa baru menyusul.


Dan Ardhan baru tahu kalau ayudia benar-benar hidup dari keluarga yang terlalu sangat sederhana, anak se pintar dia dengan banyak multitalenta dan juga Cantik


Mungkin ardhan baru kali ini tinggal di tempat begitu, hidup dengan kesederhanaan yang tinggi dan apa ada nya. 1 Rumah Ayudia mungkin hanya seluas kamar mereka, bukan berlantai keramik atau granit, masih lantai semen biasa yang mulai menua, hanya terdapat kursi sofa tuan dan sebuah lemari yang entah umurnya kapan terpajang diruangan tamu, Tapi ardhan suka karena rumah itu tertata dengan Bersih dan rapi.


Entahlah tiba-tiba timbul hasrat untuk me rehap atau membedah rumah itu nanti setelah mereka menikah, hitung-hitung pahala buat istri


oh what the hell


pahala buat istri?


otaknya sudah berjalan sejauh itu, Seketika dia mengulum senyum Karena geli dengan jalan pemikiran nya yang tiba-tiba terlintas itu


Sang ayah ayudia punya wajah yang cukup bersahabat, dapat dilihat kalau ayahnya typekal orang yang suka bercanda, tapi yang jelas bukan di situasi begini.


Sedang kan sang ibu type yang agak cerewet dan punya banyak ekspresi yang sulit di mengerti, terlihat sama persis dengan Ayudia.


mereka menatap ardhan begitu lama, memperhatikan wajah serta penampilan nya dari ujung kaki hingga ujung kepala. entahlah mungkin karena ardhan sudah terlalu dewasa dan mulai tua mungkin atau bagaimana.... fikirnya.


Setelah membuatkan dirinya teh sambil menyuguhkan Beberapa kue di atas meja, ayah dan ibu duduk di atas sofa yang sudah termakan usia di hadapannya itu, menatap dengan perasaan tidak enak dan was was ke arah Dirinya dan Ayudia.


sejak tadi ayudia meremas tangannya erat


ardhan menarik nafasnya dalam, berfikir ingin sekali dia raih tangan itu sambil berkata


All it's well don't worry


Tapi apalah daya dia tidak bisa, menjaga dan menghormati Ayudia di depan kedua orang tua nya


"ndak tahu apo yang terjadi, mang Abas kamu ngomong kalau kamu nak menyampaikan niat untuk menghalalkan Ayudia?"(Tidak tahu apa yang terjadi, mang Abas kalian bilang kalau kamu mau menyampaikan niat untu menghalalkan Ayudia)

__ADS_1


Bahasa Indonesia ayah Ayudia terdengar sedikit berantakan, ardhan memaklumi karena Lubuklinggau bukan penduduk yang menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian nya, dia mencoba mencerna tiap perkataan orang tua Ayudia


ardhan mengangguk


"Saya kemari datang untuk melamar Ayudia pak,Bu...maafkan saya"


ardhan bicara dengan sejuta penyesalan yang mendalam


terlihat bola mata sang ibu berkaca-kaca


"Kamu itu sudah berbuat dosa apo? sampai nak nikah cepat-cepat nak? Ayudia masih kelas 2 SMA. macam Mano masa depan Dio?"


(kalian itu sudah berbuat dosa apa? sampai harus nikah cepat-cepat nak? Ayudia masih kelas 2 SMA, bagaimana masa depannya?)


"Apo kato tetanggo?"


(apa kata tetangga?)


lanjut sang ibu


Wajar saja pertanyaan itu meluncur deras dari bibir orang tua ayudia, masih SMA... andai ayudia sudah lulus sekolah atau tengah kuliah maka cerita nya pasti akan berbeda.


"Saya akan bertanggung jawab penuh soal ayudia, dia akan tetap sekolah seperti biasanya, menyelesaikan cita-citanya, dia bebas melanjutkan pendidikan nya hingga ke jenjang yang lebih tinggi"


"Saya membebaskan semua keinginan dan kemauan Ayudia selama itu masih dalam batas kewajaran nya"


ardhan berusaha menyakinkan


"Tapi ayudia masih terlalu muda"


ucap ibu nya pelan


Ayah ayudia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, entah apa yang diceritakan om Abas, tapi sepertinya sudah tahu hingga sejauh itu


"Kamu tidak sedang hamil kan nak?"


pertanyaan itu ditekankan oleh ayah nya dengan nada suara sedikit memelan, takut kalau orang lain mendengar


Ayudia menggigit bibirnya kemudian menggeleng pelan


"Mereka sudah berbuat dosa, kito sebagai wong tuo sudah tahu ngapo harus di halang-halangkan buk, dosa! ingat di akhirat kelak Kito bakal di tuntut Allah Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka QS ِAt-Tahrim "


(mereka sudah berbuat dosa, kita sebagai orang tua sudah tahu kenapa harus di halang-halangkan Bu, dosa! ingat di akhirat kelak kita bakal di tuntut Allah)


Sang ibu tampak diam dengan air mata yang terus mengalir dia menatap Ayudia

__ADS_1


"Astagfirullah hul'adzim nak nak, cak mano kau ini jago diri kau? ngapo sampai cak ini"


(Astagfirullah hul'adzim anak, bagaimana cara kamu menjaga diri mu sendiri? kenapa sampai begini)


"Apalagi Dio dudo, kau jadikan diri kau ikan asin, jelas kucing dekat"


(Apalagi dia duda, kamu menjadikan diri mu ikan asin, jelas kucing mendekat)


tampak gurat kecewa terpatri di wajah sang ibu


Damn it duda, ikan asin dan kucing maki ardhan dalam hati


yang benar saja


"Ini bukan salah Ayudia, 💯% ini semuanya salah saya"


"Saya yang tidak bisa menjaga dia, tidak bisa melawan bisikan syetan, tidak bisa menahan perasaan dan hasrat, saya yang salah memanfaatkan situasi, maafkan saya"


Ardhan bicara sambil menundukkan kepalanya, jutaan rasa bersalah benar-benar menghantam dirinya, entahlah kenapa dia bisa sampai sejauh itu malam itu, Ayudia benar-benar membuat gejolak dan hasratnya meningkat, melupakan akal sehatnya dan membuat dia khilaf hingga meleburkan diri mereka menjadi satu dalam dosa.


karena akal sehat tidak berjalan, lupa berfikir kalau anak ini masih kecil sedangkan dia sudah terlalu matang, lupa bagaimana dengan masa depan anak ini nanti, lupa resiko besar apa yang akan dia ambil, dia fikir malam itu dia benar-benar telah jadi gila


syetan benar-benar sosok paling mengerikan yang bisa dengan mudah berhasil menjerat dirinya dan gadis kecil itu dalam dosa.


"Saya butuh restu dari bapak dan ibu, agar hubungan ini menjadi di ridhoi oleh Allah, karena restu adalah segala-galanya untuk kami memulai semuanya, sebab saya menikahi Ayudia tidak dalam kondisi untuk main-main semata"


lanjut ardhan lagi sambil menggenggam erat telapak tangan ayudia, menatap dalam bola matanya, Kemudian berpaling lantas gantian menatap bola mata ayah dan ibu Ayudia


sejenak mereka dalam keheningan, ardhan terus menggenggam tangan ayudia yang duduk disamping kanannya, Ayudia tampak meremas erat tangan ardhan, kecemasan melanda dan dapat ardhan rasakan jika telapak tangan ayudia terasa begitu dingin sekali.


"Jago janji kamu nak, tuntaskan segalo urusan masa depan Dio bagaimana pun Caro nyo, selagi ayudia tidak hamil, segalo urusan masih biso berjalan"


(jaga janji kami nak, tungaskan semua urusan masa depan ayudia bagaimana pun caranya, selagi ayudia tidak hamil, seluruh urusan masih bisa berjalan normal)


ucap sang ayah tiba-tiba, ibunya menatap sang suami untuk beberapa saat, terlihat jelas mata ayahnya seakan berkata semua akan baik-baik saja, hingga membuat istrinya menunduk pelan sambil menghela nafas nya berat


*******


Catatan \=


KOTA Lubuk Linggau memang tak setenar DKI Jakarta, Bali, ataupun Palembang. Namun, kota yang berada di perbatasan Sumatera Selatan dengan Bengkulu ini rajin berbenah untuk mengembangkan obyek wisatanya.


Pembenahan ini diharapkan dapat menarik perhatian para pelancong yang ingin menikmati suasana liburan yang berbeda.


Kota yang memiliki semboyan ”Sebiduk Semare” ini berjarak sekitar 305 km dari Palembang.

__ADS_1


Lubuk Linggau bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor dan kereta api dari Palembang. Dari Jakarta, akses lebih mudah karena ada pesawat langsung Jakarta-Lubuk Linggau.


Lokasinya yang berada di perbatasan menjadikan Kota Lubuk Linggau sebagai salah satu kawasan pelintasan bagi warga Sumsel yang ingin pergi ke beberapa kota lain, seperti Bengkulu dan Padang.


__ADS_2