
ardhan
"Jadi anak nya kemana?"
kepalanya serasa mau pecah, saat mama nya tiba-tiba jatuh pingsan hingga Terpaksa di rawat di rumah sakit, Ayudia tiba-tiba menghilang entah kemana.
Rudi sudah mencari anak itu kemana-mana, bahkan eta pun ikut susah di buatnya
"Kalian tidak bisa menahan sikaf egois kalian? saya tahu kita semua stress dengan keadaan ini, tapi kesampingkan dulu ego masing-masing bisa nggak?"
eta bicara dengan penuh penekanan, patut dia acungkan jemput, adik nya satu itu punya sejuta stok sabar seperti mamanya, tidak asal buat keputusan atau bahkan asal menyalahkan, dan kalau pun ada perempuan lain yang punya stok sabar seperti itu, selain arletta tentu saja tidak ada lagi yang lainnya
"kalau sudah begini yang paling susah siapa? kalau sampai mas Koba ikut terlibat kan sudah tidak lucu lagi"
"kita ini sudah dewasa loh, bukan lagi anak-anak yang jiwa nya masih labil"
benar mana mungkin dia harus melibatkan Koba di sini, Allahuakbar mau di taroh di mana muka dia coba, itu teman baiknya Dari SD, SMP bahkan SMA,kemudian dekat sama adiknya eta, lalu tiba-tiba minta izin pacaran hingga akhirnya sekarang jadi iparnya, lah kalau sampai ikut mengurusi kasus dia, mau dibawa kemana muka nya? sudah jatuh kekubangan lumpur, kecolek tai kerbau,eee di injak-injak sama luapan malu yang luar biasa.
pada akhirnya ardhan kehilangan kata-kata, sekarang otaknya harus berfikir cepat,kemana mencari anak SMA kalau lagi kehilangan arah, merajok dan bingung arah tujuan pulang?
come stupid, ardhan mikir mikirrrr....!!!!
teriak nya dalam hati
******
eta
"Mungkin aku nggak bisa pulang dalam satu dua hari ini mas"
eta bicara pelan dengan suaminya melalui hapenya, menarik nafasnya Beberapa kali kemudian membuang nya
"nanti aku akan telepon bik Jumi biar bawa Anak-anak ke rumah mama, pas akhir Minggu baru aku pulang jemput anak-anak di rumah mama sekalian main kesana"
"Tidak apa-apa sayang, aku mungkin nanti malam baru kejar ke Jakarta"
sang suami bicara cepat mencoba menenangkan sang istri agar tidak panik dsn gegabah
"Ini cukup berat loh mas, aku sampai harus ekstra mikir bagaiaman agar semuanya berjalan dengan baik"
"5 tahun bukan suatu hal mudah untuk menahan semua hasrat, meskipun ke khilafan tidak dapat di maafkan,tapi coba ajak Bima bicara soal hatinya lebih dulu, kalau bertanggung jawab hanya karena tekanan itu Sama saja dengan membunuh perasaan orang"
eta hanya mengangguk setuju atas ucapan suaminya, benar dia harusnya tahu dulu perasaan sang Abang Soal ayudia, dia hampir saja melupakan hal itu beberapa waktu ini.
"Katakan pada ku bang, jujur jangan ada kebohongan"
eta bicara cepat sambil menatap dalam wajah Abang nya itu.
"Kenapa?"
ardhan yang tangannya sibuk dengan kegiatan tanda tangan kiri kanan tampak serius dengan segala urusannya tanpa berniat menoleh ke arah adiknya
"Apa Abang suka sama ayudia?"
mendengar pertanyaan eta, seketika gerakan tangan ardhan berhenti
*******
Ardhan
"Katakan pada ku bang, jujur jangan ada kebohongan"
diri nya yang tengah sibuk meandatangani beberapa berkas tampak tidak begitu serus menanggapi perkataan eta, karena beberapa hari semua pekerjaan tertunda mau tidak mau di menyelesaikan semua nya hari ini juga
__ADS_1
"Kenapa?"
Tanya nya cepat
"Apa Abang suka sama ayudia?"
mendengar pertanyaan sang adik seketika gerakan tangan ardhan berhenti,dia menoleh ke arah eta dalam waktu yang lama,memandangi wajah adik nya untuk waktu yang cukup lama
Pertanyaan itu terdengar klise di telinga nya
apa dia suka ayudia?
otaknya berfikir keras
bagaimana caranya dia bisa suka pada anak kecil itu?
tapi saat mulut ingin berkata tidak, hati nya malah berkata sebaliknya
Apa aku sudah gila?
umpat ardhan dalam hati
"Nggak bisa jawab? atau nggak mau jawab?"
"Dia masih terlalu belia"
jawab ardhan pelan kemudian melanjutkan gerakan tangannya
"Rasulullah pun menikahi Aisyah di usia nya yang masih sangat belia"
"Segala sesuatu itu atas kehendak Allah bang"
"ingat, jangan terlalu lama, karena perbuatan yang kemarin termasuk pada zina"
ardhan menarik panjang nafasnya
******
Ayudia
Langit tampak begitu mendung, sejak tadi dia berjalan tanpa tujuan, lucunya dia malah masuk ke Monas, apa tidak ada pilihan lain kecuali Monas saat hati nya terasa kacau dan sakit? tidak dia fikir keramaian mungkin bisa memecah keadaan. bahkan suara perutnya pun terus berontak sejak tadi, ini lapar namun semua rasa itu menghilang karena jutaan sesal dan rasa bersalah yang datang karena kejadian kemarin.
Dia fikir apa dia harus pulang
ke sumatera saja? berhenti sekolah dan memulai kehidupan baru lagi disana? tapi kalau Mak sama bapak nya tanya bagaimana? otak nya benar-benar terasa buntu,dia kehilangan akal fikiran baiknya.
seketika dia mematung saat Edo mencoba menelpon Dirinya,dengan perasaan ragu Ayudia mencoba mengangkat nya
"Ay lu dimana? ada acara malam ini di kafe biasa, mau naik nggak?"
Edo bertanya cepat ke arah nya
"Lu bisa bawa baju ganti gue nggak?"
tanya Ayudia serak
Edo tampak diam sejenak
"Lu kenapa? sakit? lu dimana sih? kok belum pulang dari kemarin? padahal di wajah beruang sama sekretaris nya sudah masuk kantor?"
rentetan panjang pertanyaan Edo terus terlontar begitu saja
"Nanti aku cerita, yang penting bawa baju gue yah, nanti ganti nya di sana saja"
__ADS_1
"Hm "
setelah menjawab begitu Edo langsung menutup panggilannya
"Ay...ay..."
sebuah teriakan mengagetkan dia
tampak sosok Abang Jerry membuka pintu mobil nya cepat berlarian dari arah Utara menuju ke arah dirinya
Ayudia ingin segera lari dari sana, tapi terlambat laki-laki itu telah menyambar tubuhnya dengan cepat, memeluk nya hangat kemudian mencium puncak kepalanya cukup lama
"Kamu bikin orang serumah khawatir"
Ayudia tampak mematung,dia kehilangan kata-kata
********
Jerry
Sejak sore Jerry berputar keliling Jakarta cuma demi mencari Ayudia, kepalanya terasa mau pecah, otak nya terus berputar mikir kemana anak sekolah pergi kalau lagi punya sejuta masalah????
come come mikir
matanya terus menelusuri jalanan Jakarta, dia fikir apa mungkin anak itu ke Monas? tapi rasanya tidak mungkin anak itu di Monas malam hari kan? tapi... bisa jadi bukannya tempat itu cukup ramai? bisa jadi tempat menghilang sementara untuk anak seusia Ayudia, dia bahkan dulu kalau stress cari tempat keramaian tiap kali ngambek dengan mama atau papanya.
Oh tuhan
Jerry fikir itu sosok yang sama, dia tidak salah melihat orang, itu benar-benar Ayudia. insting kadang-kadang mengalahkan logika.
Dia dengan cepat mencari lokasi tepat untuk memarkir kan mobilnya, setelah dapat berteriak dengan kencang ke arah gadis itu
"Ay...ay..."
Dia berteriak tanpa malu terhadap orang-orang disekitarnya, membuka pintu mobil nya dengan cepat kemudian berlarian menuju ke arah ayudia
dia tahu anak itu ingin mencoba untuk lari menghindar,. tapi langkah kaki nya lebih cepat untuk mengejar Ayudia, dalam sekali tarikan dia menyambar tubuh ayudia dengan cepat, memeluk nya hangat kemudian mencium puncak kepalanya cukup lama
"Kamu bikin orang serumah khawatir"
cukup lama Ayudia terdiam, hingga akhirnya anak itu menangis sesenggukan si dadanya
"Maafkan ay"
Tidak tahu kenapa rasanya memeluk gadis ini seperti candu yang tidak bisa dia hilangkan, dia fikir jika Abang nya tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam 2 hari, dia yang akan mengambil hak anak ini untuk menjadi miliknya, dia tidak akan menyesalinya.
"Jerry"
"Ay"
terdengar suara seseorang dari arah samping mereka, Jerry masih memeluk erat tubuh Ayudia, menoleh ke samping tanpa berniat melepaskan pelukannya.
tampak kak eta nya dan Abang ardhan nya berdiri mematung menatap mereka, bukannya melepaskan Ayudia, Jerry semakin erat memeluk tubuh gadis itu didalam dekapannya.
ardhan tampak memandangi wajah Jerry dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti, mereka saling beradu pandang seakan jarak terpangkas habis oleh amarah di diri masing-masing
2 mata itu seakan beradu dan berkata
dia milik ku bukan milik mu
kak eta nya hanya mampu menutup mulutnya seakan otak dan hati nya berkata
Ya Tuhan apa lagi ini
__ADS_1