CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
Jangan membuat perkara rindu yang berat (kamu cinta aku tak?)


__ADS_3

Ayudia


Coba bayangkan bagaimana malu nya waktu ketahuan bilang i love you sama suami sendiri


jelas saja malu.... bikin muka memerah persis kayak tomat kemasakan yang mau bonyok ngga pantas lagi di masak


ahhhhhkkkk malu malu malu


pekik ayudia dalam hati, langsung berbalik


pura-pura tidur lagi dah ah


tapi secepat kilat Ardhan memeluk erat tubuh nya dari belakang, kemudian mencium hangat pundak dan lehernya


dia meremang karena geli


"Ay.. mari bicara"


dan suara syahdu itu membuat nya Seketika membuka bola mata, dengan berlahan membalik tubuhnya.


mata dia dan Ardhan saling menatap intens, jantung nya berdetak begitu kencang.


"Masih marah?"


Ayudia diam, menggigit bibir bawahnya kemudian tiba-tiba mencelos, lahhh nangis, air matanya tumpah


kann cengeng


batinnya


"Lampiaskan lah, kalau mau marah boleh sekarang, kalau nggak suka bilang saja, kalau mau pukul juga nggak apa-apa"


ucap sang suami cepat, menarik lembut tangan nya kemudian meletakkan tangan mungilnya ke dada ardhan


"Maralahlah, jangan di tahan,aku tahu aku salah"


Ayudia terus menangis, kecil, sekecil-kecilnya sebab takut orang satu rumah bangun gara-gara tangisannya.


seketika Ayudia memukul dada ardhan berkali-kali, dia merasa kesal iy, jengkel iya, marah iya, dannnn rindu... sangat rindu karena dari kemarin nggak ketemu, ngggak lihat wajah ini sama sekali.


karena ke asyikan nangis nggak sadar sampai meler-meler kan itu hidung, bahkan itu wajah sampai kucel banjir sama air mata.


"Maafkan aku ay"


beberapa waktu tangis nya terhenti, ardhan menyambar tisu di atas meja disamping kasur mereka, menyeka air mata dan hidung ayudia yang sudah banjir bak sungai Musi sumatera.


"Dimaafkan"


ucap ayudia pelan sambil meraih tisu ditangan ardhan


"ay.. "


ardhan kembali menatap dalam bola mata. Ayudia, masih dalam posisi tiduran saling berhadapan


"Bukankah kita dulu pernah sepakat? kalau ada masalah bakal di omongin secara terbuka?"


sang suami bicara sambil merapikan rambut nya


"Kalau ada keluhan mari di bicarakan dari hati ke hati"


"Tapi kenapa malah minggat dari apartemen?"


Ayudia terdiam


"Kamu tahu, bagaimana rasa nya disiksa perasaan waktu cari kamu kemana-mana? takut sesuatu yang buruk terjadi sama kamu?"


ayudia menggeleng pelan


"Sangat menyisa, kamu tahu? ngga ada kamu bikin aku hampir gila ay"


mendengar kata-kata itu Seketika hati Ayudia berbunga-bunga, ini kali pertama sang suami bicara semanis madu kepadanya


"Kalau ada masalah, ada sesuatu yang mengganjal perasaan mari langsung bicarakan dari hati ke hati, jangan lagi bikin aku khawatir sampai kamu pergi"


"seperti perempuan kemarin, tanyalah langsung ay, biar bisa aku jelaskan dengan tegas, bahkan di depan perempuan kemarin pun siap aku tegaskan soal siapa kamu"


"Dia bukan siapa-siapa dalam hidup aku ay, hanya keluarga dari arletta yang mungkin dulu pernah jatuh cinta sama aku, tapi sedetik pun tidak pernah aku tanggapi"


"Cuma moment nya salah waktu dia main nyosor tanpa izin pas kamu masuk"

__ADS_1


"Dan waktu lihat wajah kamu penuh kemarahan di ambang pintu, membuat aku benar-benar ingin memeluk kamu Waktu itu dan bilang kamu satu-satunya istri ku"


ay diam mendengarkan perkataan ardhan, masih terus menatap wajah laki-laki itu dalam


"katakan sesuatu ay hingga bisa membuat aku lega dan tidak merasa bersalah"


"Abang cinta aku tak?"


pertanyaan gamblang itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir indah nya


tidak tahu kenapa, tapi dia hanya ingin tahu perasaan laki-laki itu, baginya laki-laki itu sedikit kaku, tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis, kadang ngomong nya pun serius-serius amat, kalau di ajak bercanda kadang suka bilang


Ay... ay...ay...


begitu saja


ardhan menatap dalam bola matanya, tampak berfikir sejenak


"Kenapa kamu tanya soal itu?"


"Terdengar nggak penting buat laki-laki, tapi sesungguhnya begitu penting untuk perempuan seperti ay"


"Abang nggak pernah kasih ay kejutan manis atau bahkan merayu ay dengan kata-kata manis, kadangkala perasaan ay serba salah, bertanya-tanya apa Abang cinta ay apa enggak"


"Jangan-jangan pernikahan kita cuma pernikahan simbiosis sek..s..ualisme atau simbiosis mutualisme"


ardhan tampak mengerutkan dahinya, dia ingin protes tapi jemari lentik Ayudia dengan cepat menutup mulutnya


"Dengar dulu"


ucap Ayudia Cepat


ardhan diam


"simbiosis sek..s..ualisme karena Abang butuh seseorang untuk memenuhi hasrat Abang dan simbiosis mutualisme karena ay butuh materi Untuk memenuhi kebutuhan keluarga ay"


"Abang terlalu datar dan kaku, nggak pernah mengekspresikan diri, padahal perempuan biasa seperti ay juga butuh di spesial kan, nggak mesti nunggu hari besar, atau bahkan setiap hari"


"Tindakan kecil saja bisa membuat perempuan berbunga-bunga dan merasa dicintai, meskipun cuma bilang sayang ku atau bahkan i love you, Abang tahu gimana rasanya? seakan-akan jiwa terbang ke angkasa"


"Meskipun cuma bawa setangkai bunga atau tahu-tahu bawa sesuatu yang begitu unik sebagai hadiah, nggak perlu mewah dan mahal, Abang tahu gimana rasanya? seakan-akan berfikir ternyata dia cinta aku nih Sampai jantung mau melompat keluar entah kemana"


"Ini cuma pernikahan simbiosis mutualisme atau pernikahan simbiosis sek..s..ualisme"


"pernikahan kemarin karena kecelakaan nggak di sengaja kok, kalau nggak salah masuk kamar kami nggak bakal nikah"


"Abang tahu bagaimana rasanya saat semua itu hadir dalam fikiran ay? tertekan! sangat tertekan!"


sekali lagi air mata ayudia tumpah, seakan-akan beban Beberapa bulan ini keluar juga


*******


Ardhan


"Ini cuma pernikahan simbiosis mutualisme atau pernikahan simbiosis sek..s..ualisme"


"pernikahan kemarin karena kecelakaan nggak di sengaja kok, kalau nggak salah masuk kamar kami nggak bakal nikah"


"Abang tahu bagaimana rasanya saat semua itu hadir dalam fikiran ay? tertekan! sangat tertekan!"


Saat mendengar Ayudia mengeluarkan semua keluhannya, dia baru sadar pernikahan ini acapkali membuat anak itu tertekan


dengan cepat tangan kekarnya menghapus air mata ayudia yang kembali tumpah


ardhan tampak diam, menatap bola mata Ayudia secara bergantian


oh tuhan apakah aku benar-benar sudah menyakiti hati perempuan kecil ini?


batin Ardhan


setelah terjerat dalam lumbung dosa, mengajak nya menikah tanpa bertanya perasaan nya, kemudian menjalani pernikahan yang mungkin terasa kaku untuk gadis seusia nya, ardhan masih juga tidak bisa memahami apa keinginan nya, belum lagi menyakiti dirinya dengan pemandangan yang tidak sedap Dimata kemarin.


Dia bertanya-tanya sendiri pada dirinya


Apakah aku mencintai kamu?


cinta


cinta

__ADS_1


cinta


"Apa kamu cinta sama aku?"


pertanyaan itu ikut meluncur dari balik bibir ardhan untuk Ayudia


sejenak ayudia diam, menatap wajah ardhan, menyentuh nya pelan sambil mengelus-elus nya Beberapa waktu


"Dari tidak biasa, menjadi terbiasa, lalu membuat ay tidak bisa berpisah, dari aman tiba-tiba menjadi nyaman hingga membuat ay acapkali menjadi begitu senang"


"apa itu bisa dibilang cinta?"


ardhan tak bergeming, memikirkan kata-kata Ayudia sejenak


dia fikir mungkin dia juga merasakan hal yang sama, dari tidak biasa menjadi terbiasa, dari cari zona aman tiba-tiba malah menjadi nyaman.


"mungkin kita sama, merasakan perasaan yang sama, tapi konteks nya tetap pada tempatnya, tidak melenceng dengan istilah


C-uma


I-ngin


N-ikmati


T-ubuh


A-nda


seperti pernikahan simbiosis sek..s..ualisme tadi,mungkin perasaan yang tumbuh berlahan bisa sebut CINTA tanpa kita sadari ay, hanya kita tidak saling mengungkapkan dengan kata-kata"


"Benarnya kamu mengungkapkan cinta kamu melalui tindakan, tapi aku lupa karena terlalu kaku dan pasif sampai-sampai membuat kamu berfikir kalau aku sama sekali nggak cinta kamu"


"Minimal setelah bicara dari hati ke hati begini aku tahu betul dimana letak kesalahan selama ini, hingga membuat kamu mungkin tertekan dengan cara dan ekspresi kaku aku ay"


"Tapi ketahuilah, minimal kamu tahu, 2 hari berpisah benar-benar membuat aku mau mati rasanya, benar-benar membuat aku takut kehilangan kamu, membuat aku berfikir yang tidak-tidak sejak kemarin"


"Setidaknya kamu tahu, itulah realita perasaan aku ay, memang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata sejak awal kita bersama, tapi aku hingga hari ini sudah terlanjur nyaman sama kamu"


"Mulai hari ini aku akan berusaha jadi suami yang lebih baik lagi, mungkin masih akan kaku, tapi bukankah manusia butuh waktu menjadi lebih baik?"


ardhan bicara sambil menyentuh hangat wajah Ayudia, menyatukan kening mereka untuk waktu yang lama


"Berjanjilah tidak lari ketika kita punya masalah"


Ayudia mengangguk pelan


"Aku sayang kamu ay, cinta kamu, rindu kamu, entahlah yang jelas aku benar-benar tidak mau kamu pergi lagi entah kemana disaat kita berdua memiliki masalah"


"Jangan membuat perkara rindu yang berat, karena rindu itu benar-benar bisa membunuh"


kemudian secara berlahan bibir ardhan menyatu dengan bibir Ayudia, mencium nya begitu lembut dan hangat untuk tenggang waktu yang lama, mencoba melepas rindu karena perkara berpisah hampir 2 hari 2 malam, saat tangan ardhan mulai jahil kemana-mana, tiba-tiba laki-laki itu menghentikan kegiatan nya


"Sayang, kamu masih kedatangan tamu?"


******


Ayudia


seketika Ayudia diam, agak Shok karena sang suami tahu-tahu bilang


Sayang


rasanya hatinya melayang kemana-mana


tapi kemudian dia terkekeh atas pertanyaan selanjutnya


"Sayang?"


ardhan tampak kesal


ohhh manis nya


pekik ayudia dalam hati


kemudian secepat kilat menyambar bibir ardhan, menautkan bibir mereka dengan deru nafas yang tidak beraturan, kali ini dia yang memimpin, bertindak jahil dan sedikit membuat sang suami terbang ke awang-awang


tidak perlu di jawab lagi, sang suami pasti sudah tahu jawaban pastinya


pada akhirnya mereka melebur kan rindu, menyatu padu didalam gelap nya warna malam dan dingin nya AC, saling menautkan diri membawa mereka ke cak..Ra..wala.. saling menyesap bahkan me..mompa diri hingga pagi

__ADS_1


__ADS_2