
Ayudia
Waktu dengar kata hamil.....!!!!
rasanya ada sesuatu yang membuat hati seakan di tabuh dengan sesuatu, nggak... bukan karena terkejut tidak terima, marah atau bagaimana pun itu, tapi rasanya ada sesuatu yang baru di dalam sana yang membuat dirinya berdebar-debar tidak menentu.
Seketika dia mengambang kan senyum begitu lebar dengan mata berkaca-kaca, ardhan kelihatan bingung menatap mama dan kak eta bergantian, Kemudian menatap dirinya. Dan detik berikutnya sang suami malah tertawa senang
"Subhanallah, Alhamdulillah"
"Bima...."
Mama dan kak eta bicara berbarengan sambil melotot menatap ardhan
bukannya bagaiamana, sang suami Kemudian malah mengulum senyum bahagia
*******
Ardhan
"Ujiannya Senin ini, setelah itu nunggu kelulusan kan? insyaallah semua baik-baik saja, nanti langsung daftar kuliah, kalau kuliah tidak ada larangan orang menikah, hamil dan punya anak ma"
Ardhan bicara dengan nada menggebu-gebu, sebenarnya dalam detik ini juga dia ingin berkali memeluk Ayudia, berita bahagia itu membuat jantung nya terpompa sempurna.
mungkin dia yang tega, malam itu sebenarnya iseng saja,saat menghabiskan malam panjang bersama sang istri, dengan kata bismillah diiringi doa dia berharap semoga mendapat berita baik di bulan depan, dia sudah memprediksi kannya sejak awal tapi saat itu dia fikir sebaik-baiknya perencanaan tentu saja Allah.
Setelah pulang kerumah dia mengangkat tubuh Ayudia tinggi-tinggi kedalam pelukannya, mencium istrinya berkali-kali, perasaan nya menggebu-gebu, rona bahagia jelas terpatri diwajahnya
bayangkan betapa bahagianya dia.
"Abang"
dan Seperti biasa istri kecilnya itu akan merengek malu
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih..."
Dia mengungkapkan kata itu hingga puluhan kali sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
lalu satu pagi di hari minggu
"Abang..."
ayudia bicara padanya sambil menikmati pelukan sang suami dari arah belakang, mereka tiduran di atas kursi sofa, mata sang istri fokus ke televisi tapi tapi mulutnya bicara pelan sambil mengelus punggung tangan ardhan
"Ay nggak usah kuliah aja yah?"
ardhan jelas mengerutkan dahinya
"Ay?"
dia langsung beringsut bangun, membenahi posisinya diikuti ayudia
"Kenapa ngomong begitu?"
__ADS_1
"Bukankah setinggi-tingginya pendidikan perempuan, pada akhirnya tempat mereka tetap di kasur dan dapur?"
"Siapa bilang?"
ayudia tampak diam, anak itu menggigit bibirnya
"Apa ini terlalu cepat? katakan sama aku, kamu belum mau punya anak?"
tanya nya lembut
Ayudia langsung melotot marah, menyentuh perut nya
"Yah enggaklah, ay juga mengingatkan nya"
gerakan refleks dari sang istri membuat nya yakin jika sang istri tidak menyesali rejeki yang di beri Allah
"Hanya saja, ay fikir pada akhirnya setiap perempuan yang sudah berkeluarga pasti akan meninggalkan karir nya, lupa dengan ijazah nya dan tetao prioritas utama mereka ke suami, anak-anak,dapur dan kasur"
ardhan tersenyum terus menatapi wajah Ayudia, menyentuh pipi sang istri dengan lembut
"benar, kodrat nya memang seperti itu. Tapi pendidikan jelas penting ay, aku tidak setuju prinsip istri pada akhirnya akan kembali ke rumah, mengurusi suami, anak, dapur dan kasur"
"Itu adalah perilaku seperti di Arab pada masa jahiliyyah. Mungkin anak perempuan tak lagi dikubur diam-diam oleh ayahnya saat ini, tetapi yang berlaku sekarang justru menurut aku lebih parah, yakni anak perempuan dianggap separuh daripada anak lelaki. Karenanya anak perempuan dianggap tidak pantas mengenyam pendidikan tinggi, toh ujung-ujungnya cuma ke dua tempat; dapur dan kasur. Maka banyak perempuan yang ikutan terdoktrin oleh ungkapan seperti ini sehingga merasa tak pantas dan tak mau lagi melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Banyak yang berhenti sampai SMP atau SMU saja, atau bahkan tidak sekolah sama sekali"
"Tapi kamu jangan lupa ay Di balik lelaki yang hebat ada perempuan yang cerdas"
"masyarakat sekarang telah mengenal adagium ini sejak bertahun-tahun lamanya ay"
"apa kita harus tanya sama Bung Karno secara empat mata sebenarnya yang dimaksud cerdas ini apa?"
"Cerdas di dapur dan di ranjang saja atau cerdas secara intelektualitas dan keilmuan? Bahkan di era morat-marit dan krisis multidimensi sekarang ini, posisi perempuan dalam dunia pendidikan makin termarjinalkan. Jadi bulshit atau omong kosong orang-orang yang membela kesetaraan gender, emansipasi perempuan, atau apalah sebutannya, jika masih mengidap wabah penyakit seperti itu"
"Menikah dengan ku pada akhirnya akan menarik kamu menuju ke perusahaan juga, kamu pasti akan bertemu orang-orang baru, berbaur dengan orang-orang dengan tingkat pendidikan juga, obrolan mereka akan berbeda, membahas hal-hal yang bukan menjadi obrolan orang biasa ay"
"Contoh, ketika kamu hanya menyelesaikan pendidikan SMA, satu kali ketika berbaur bersama para pengusaha serta istri-istri mereka dengan pendidikan tinggi, obrolan mereka jelas bukan soal rumah, dapur dan kasur, bukan soal pelajaran SMA atau SMK bagaimana? obrolan yang terjadi tentu saja soal hal-hal kompleks di perusahaan, mereka akan membicarakan soal naik turun ekonomi perusahaan, perihal indikator resesi ,penurunan pada Produk Domestik Bruto (PDB), melonjak atau bahkan merosotnya pendapatan riil, bagaimana soal jumlah lapangan kerja,bagaimana dengan penjualan ritel, dan kapan naik atau bahkan terpuruknya industri manufaktur"
"Lalu apakah di SMK kita sudah mendapatkan penjelasan soal itu dengan detail? paham dengan arah pembicaraan mereka? nggak kan?"
ardhan terus menatap bola mata Ayudia, tampak sang istri menggelang pelan Kepala nya
"Aku tidak pernah berfikir untuk menahan masa depan kamu dengan hanya berkutat di kasur dan dapur ay, terlalu dzolim rasanya"
"Kamu pantas mendapat kan lebih, setara dengan mutiara didasar laut, yang kalau di angkat dan di olah oleh pengrajin nya dan di masukkan ke jari yang tepat akan terlihat begitu bersinar dan berharga"
"Ingat kata ku di awal, Di balik lelaki yang hebat ada perempuan yang cerdas, dan kamu punya modal itu"
"Semua akan berat memang kedepannya saat mesti kuliah dalam keadaan hamil kemudian melahirkan hingga harus mengurus anak-anak, tapi jangan lupa ada aku di samping kamu, yang selalu siap berbagi suka dan duka, yang selalu merentangkan tangan untuk mensupport dan membantu kamu, yang selalu InsyaAllah ada buat kamu"
"Urusan dapur biar orang lain yang kerjakan, anak-anak bik sum insyaallah akan membantu,ada pak Agus yang akan antar kamu kemana-mana, ada aku yang akan meluangkan waktu buat kamu, dimana pun pilihan kamu kuliah nanti, aku akan terus support dan mendukung kamu, bahkan dibandung pun kita akan cari cara bagaimana mengatur keadaan serta waktu paling efisien,paling terbaik dan paling nyaman buat kamu"
ardhan menarik nafasnya pelan
******
__ADS_1
Ayudia
Dia hanya gelisah, berfikir sejak semalam. kalau dia hamil artinya kehidupan kedepan nya pasti akan repot. toh pada akhirnya dia ingat kata-kata Mak dulu
"Setinggi-tingginya sekolah, agek Kito ni balik ke dapur Samo ke kasur tulah, ujung-ujungnyo ijazah tebuang dak beguno Pulo (Setinggi-tingginya sekolah, pada akhirnya kita para perempuan baliknya ke dapur sama ke kasur, hingga akhirnya ijazah dibuang dan tidak berguna juga)"
Ayudia fikir benar juga
"Abang......ay nggak usah kuliah aja yah?"
Dia fikir ardhan pasti bilang terserah kamu, selama ini juga begitu, yang penting Ayudia bahagia dengan apa yang jadi keputusan nya, ternyata ekspresi sang suami malah di luar dugaan
"Ay?"
ardhan langsung beringsut dari posisi rebahan mereka, bangun lantas membenahi posisinya diikuti ayudia
"Kenapa ngomong begitu?"
"Bukankah setinggi-tingginya pendidikan perempuan, pada akhirnya tempat mereka tetap di kasur dan dapur?"
"Siapa bilang?"
mendengar pertanyaan itu Ayudia menelan Saliva nya
"Apa ini terlalu cepat? katakan sama aku, kamu belum mau punya anak?"
tanya sang suami lembut dengan ekspresi yang sulit dia jelaskan
Ayudia langsung melotot marah, menyentuh perut nya
"Yah enggaklah, ay juga mengingatkan nya"
Tentu saja Ayudia memimpikan nya, tiap lihat couple bawa baby new born kalo lagi jalan sama ardhan dia selalu berfikir kapan mereka bisa punya anak?
"Hanya saja, ay fikir pada akhirnya setiap perempuan yang sudah berkeluarga pasti akan meninggalkan karir nya, lupa dengan ijazah nya dan tetao prioritas utama mereka ke suami, anak-anak,dapur dan kasur"
jawabnya pelan,sambil menundukkan kepala nya
sedetik kemudian sang suami malah memberikan penjelasan di luar ekspektasi nya. pada akhirnya malah membuat matanya berkaca-kaca
"Ingat kata ku di awal, Di balik lelaki yang hebat ada perempuan yang cerdas, dan kamu punya modal itu"
Dia fikir prinsip suaminya akan sama dengan prinsip yang banyak di tanam oleh orang-orang, tapi rupanya dia salah, bahkan malah ngomong dia mirip mutiara, jelas membuat ayudia terharu setengah mati, tetap kekeh Ayudia mesti menyelesaikan pendidikan nya hingga akhir.
dan kalimat terakhir sang suami mampu membuat dirinya tersipu-sipu malu
"tapi.... urusan kasur tetap akan jadi tanggung jawab kamu"
Wajah ayudia Seketika memerah, dia mengulum senyum kemudian menyambar cepat bibir sang suami, memeluknya erat dan tenggelam didalam kubangan cinta yang hangat
"Abang....I love you, i love you, you are my best man, my best husband"
Ahh..bagaimana ngomong nya? dia fikir adakah suami lain sebaik laki-laki ini di dunia ini?dia bersyukur,sangat bersyukur, meskipun menikah Kemarin awalnya karena tragedi, sempat timbul kekhawatiran soal hubungan ini mau dibawa kemana, apakah ardhan akan baik atau mencintainya sama seperti mencintai sang almarhum istri nya kak arletta, pada akhirnya selama menjalani bahtera rumah tangga, laki-laki itu selalu bertindak di luar ekspektasi nya, bahkan selalu mengimbangi dirinya dengan sikap paling dewasa, selalu menghargai dirinya, mencintai dirinya, bersikap begitu lembut dan hangat, bahkan selalu jadi raja terbaik yang mampu memimpin dirinya, menjadi imam yang baik dan membuat dirinya makin jatuh cinta pada laki-laki itu hingga relung hati nya paling dalam.
__ADS_1
Demi Allah, dia selalu berfikir andai kan dia lahir sekali lagi barangkali belum tentu dia bisa mendapatkan kembali sosok laki-laki seperti ini, laki-laki terbaik juga suami terbaik didalam hidupnya.