CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
Tarik nafas dalam-dalam "Proses"


__ADS_3

Ardhan


Saat eta menghubungi ardhan, dirinya tengah berada di Lampung mengurusi proyek konstruksi terbaru milik Abimayu,sang adik berkata jika Ayudia sang istri seperti nya akan segera melahirkan.


Jelas ardhan terkejut, dia menemui jalan buntu untuk keadaan ini. Maju jalan atau tetap di tempat?!


jika dia tetap di sini bagaimana ayudia , jika dia pergi bagaimana proyek nya?


"bang, seperti nya jadwal kelahiran mundur 1 Minggu, ay sudah mulai mengalami kontraksi sejak subuh tadi"


raut wajah ardhan tampak panik, dia fikir semua urusan disini sedang tanggung-tanggung nya, sedangkan Ayudia butuh sosok nya, sosok seorang suami untuk mendampingi nya disana.


"Mama dimana?"


dalam hitungan detik hape eta sudah berpindah ke mamanya


"Ma, semua baik-baik saja?"


"InsyaAllah Bim, kamu jangan khawatir"


"ay butuh Bima, tapi pekerjaan disini belum juga selesai"


ardhan tampak bingung, ini kali pertamanya dia merasa betapa bodohnya dia kemarin saat bersama arletta, dia sama sekali tidak merasa kan panik yang sama,karena dulu dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya tanpa ingat anak istrinya.


dia benar-benar tidak ingin hal yang sama lagi-lagi terjadi.


"Kamu jangan khawatir, mama ay juga ada disini, semua orang bisa mensupport dan menjaga istri kamu Bim"


"Selesai kan dulu pekerjaan disana, baru balik ke Jakarta"


"biasanya berapa lama ta?"


ardhan kembali bertanya pada eta


"Tergantung bang, setiap ibu memiliki pengalaman melahirkan yang berbeda-beda.


ibu hamil yang akan melahirkan akan mengalami kontraksi antara 5 menit hingga 30 menit dan masing-masing berlangsung selama 30-45 detik"


"Di fase awal biasa nya berlangsung sekitar 6-10 jam --karena ini adalah kehamilan pertama ay, Fase awal ini biasanya dimulai dari pembukaan 1 hingga pembukaan 4"


"Dilanjutkan dengan fase aktif yang ditandai dengan adanya kontraksi yang lebih intens atau sering. Biasanya kontraksi akan muncul tiap 3-5 menit sekali. fase aktif akan berlangsung sekitar 3-6 jam"


"Terakhir, baru mengalami kontraksi yang sangat hebat seperti merasa seolah-olah ingin buang air besar karena adanya tekanan seperti ingin mengejan dan biasanya terjadi antara 10 menit hingga 2 jam"


ardhan tampak semakin gusar, baru tahu betapa berat nya perjuangan seorang perempuan untuk melahirkan seorang anak.


"Ay mana?"


pada akhirnya panggilan berubah menjadi Vidio call


"Ay baik-baik saja..sttt...."


Ayudia bicara sembil berdesis menahan sakit, dapat dilihat keringat dingin membasahi kening ayudia dan matanya sudah mulai memerah.


jelas saja Ardhan kelabakan, pada akhirnya dia menutup panggilan dengan perasaan kacau balau.


*******


ayudia


Dia baru tahu sakit nya saat mau melahirkan itu luar biasa, perut terus berputar-putar tidak jelas, persis seperti main mobil balap-balapan di time zone yang bisa kapan saja berputar saat ketemu lawan.


Kemarin masih sempat di Bandung setelah menyelesaikan ujian semester, tapi mama Ainun bilang sebaiknya balik Jakarta lebih cepat saja, sebab waktu mama menyentuh perut ayudia katanya sudah lumanyan turun ke bawah


"Sudah turun benar ini ta,kayaknya balik ke Jakarta saja sekarang"


mama Ainun bicara sambil menyentuh perut Ayudia


karena tidak paham apa yang terjadi, maklum ini untuk pertama kalinya buat Ayudia jelas dia cuma bengong sambil menganggukkan kepalanya waktu di ajak pulang ke Jakarta.

__ADS_1


kak eta pada akhirnya setuju, mereka balik ke Jakarta dengan di jemput pak Agus, bawa mobil dengan istilah alon-alon asal kelakon. Yang jarak tempuhnya 3 jam lebih sama pak Agus bisa jadi 6 sampai 7 jam'an


"Takut si neng terluka, sebab kata Abang mutiara didalam lautan milik Abang"


ahayyyy hahahaha


ucapan pak Agus Seketika membuat Ayudia geli juga bercampur malu, tidak menyangka sang suami selebai itu sekarang.


"Ya Allaha abang mah ada-ada saja sekarang, bisa lebai kayak anak muda sekarang"


ejek eta


"Ay kasih pelet apa itu Bima? sampai nempel sama kamu kayak prangko?"


mama Ainun bicara sambil menggoda Ayudia


"Dia itu yah nggak ada romantis-romantis nya setau kak eta, lah sama kamu kok bisa sampai segitunya ?"


mendengar ucapan kak eta, Ayudia cuma bisa mengulum senyum


itu artinya Alhamdulillah


kalau ingat dulu awal Ketemu, ardhan yang suka dia panggil bapak itu wajah nya dulu begitu datar-datar saja juga begitu cuek, kalau bicara sambil membuat keputusan sesuka-suka hatinya, ingat waktu keputusan nya mau mengembalikan dia ke sekolah gara-gara telat magang di hari pertama dan kedua, wuihhh wajah tak bersahabat nya benar-benar bikin Ayudia kesal. Dia nangis sesegukan sambil ngelendot di lengan laki-laki itu minta jangan dikembalikan ke sekolah, tapi tetap saja tidak dipedulikan. Untung ada kak Rudi yang jadi dewa penyelamat saat itu.


awal nikah juga nggak ada romantis-romantisnya, cuma baik dan hangat, selebihnya mengalir saja seperti air.


Kemudian satu kejadian membuat ayudia mengeluarkan unek-unek nya, protes karena ardhan begitu pasif, takut jika-jika ardhan tidak mencintai dirinya, takut jika-jika ardhan kefikiran untuk menceraikan dirinya, takut... dan yah banyak sekali ketakutan saat itu untuk sang suami.


sejak Ayudia mengeluarkan semua kegelisahan nya,bicara dari hati ke hati bersama sang suami, secara berlahan sikap ardhan berubah, laki-laki itu begitu hangat, memperlakukan dirinya penuh cinta, kadang memberikan kejutan-kejutan kecil yang tidak disangka-sangka.


tiba-tiba perut ayudia terasa sakit .


Awalnya cuma ingin terus ke toilet, tiba-tiba perut terasa di pelintir oleh seseorang,dia fikir mulas Ingin BAB namun setelah sampai toilet malah nggak jadi, tapi dalam tenggang waktu begitu lama nanti balik lagi, lagi, lagi dan lagi.


Alhamdulillah Mak sudah tiba di Jakarta sejak 2 hari yang lalu, kata Mak mesti jauh-jauh hari datang dan membuat persiapan, nama nya mau melahirkan kadang waktu yang terjadi tidak pernah terduga.


Dan benar saja, yang jadwal nya sudah ditetapkan Minggu depan, yang sang suami sudah dengan keyakinan penuh pasti ada disisi nya Minggu depan karena seluruh pekerjaan pasti selesai tepat waktu malah buyar semua, waktu kelahiran malah maju lebih cepat dari prediksi awal.


Dan kak eta bilang yang di alami Ayudia adalah kontraksi.


"hmm kesayangan mama dan papanya sudah tidak sabaran ingin melihat dunia"


kak eta bicara sambil mengelus lembut perut Ayudia.


pada akhirnya mereka sudah berada di rumah sakit......untung ada om Haris tanpa jadwal, ditambah kak eta yang seorang bidan menambah gampang urusan nya, sejak awal kak eta terus mendampingi nya.


Entah berapa jam dia menahan sakit karena kontraksi, membuatnya mendesis tidak karuanan. setelah tiba di rumah sakit, seluruh bajunya sudah berganti dengan pakaian khusus seperti orang sakit, bahkan mal memakaikannya kain dibawah sana. ****** ***** pun bahkan dilepas hingga membuat Ayudia merasa tidak nyaman. Tapi dibalik nyaman tidak nyaman toh pada akhirnya fikiran semacam itu menghilang juga karena kadang rasa sakit mendominasi di perut nya.


"Ok sayang, tiduran dan kakinya di tekuk yah"


kak eta bicara cepat


tampak seorang dokter perempuan seusia mama Ainun tersenyum padanya


"Rupanya menantu jeng Ainun, imut banget wajahnya yah memang pantas buat Bima"


dokter itu bicara sambil menggunakan sarung tangan nya, kemudian salah satu perawat menggunakan masker di wajahnya.


Ayudia hanya bisa tersenyum, Kemudian lagi-lagi meringis, lalu dengan bantuan kak eta dia Membenahi posisi seperti yang kak eta katakan tadi.


"Coba buka kakinya yah, untuk posisi tubuhnya sudah benar"


Ayudia menurut, membuka kakinya sesuai kata dokter


"sekarang saya coba masuk yah sayang"


dokter itu bicara Kemudian tiba-tiba tangan dokter itu menyeruak masuk ke bawah sana, Ayudia fikir itu sangat mengerikan sekali, rasanya tidak enak...jauh berbeda saat Ardhan melakukan nya.


"Kontraksi nya sudah dari subuh yah? jadwal nya lebih cepat dari perkiraan"

__ADS_1


Ayudia mengangguk begitu juga kak eta


"Dedek bayinya sudah tidak sabaran"


dokter itu bicara kemudian melepaskan sarung tangannya


"Sudah makan bukan sayang?"


dia mengangguk, iya sebelum kesini mama Ainun dan Mak nya meminta dia untuk makan agar perut terisi sempurna, kata 2 mama nya itu saat melahirkan harus punya tenaga ekstra, sebab kalau lemas malah bisa berbahaya, bahkan bisa-bisa di operasi.


Tidak sejak awal Ayudia sudah membicarakan nya dengan ardhan, lahirannya melalui jalan normal, dia tidak mau di operasi. selagi masih ada jalan normal, operasi adalah pilihan diwaktu terjepit.


Ayudia takut dengan alat-alat mengerikan itu, takut perutnya di bedah, takut harus masuk ruang operasi, takut pokoknya, karena itu dia bilang mau lahiran normal saja.


bahkan dia bilang biar kak eta saja yang mengurus lahirannya, kan kak eta juga seorang bidan, tapi kak eta menolaknya, dia bilang kalau sama adik sendiri dia angkat tangan, tidak tega katanya, entah rasanya seakan-akan bertarung nyawa.


"Ini sudah bukaan 2, kita tunggu lagi yah sayang, nanti saya akan kembali"


oh ya Allah apakah masih lama


tidak tahu rasanya mau minta sang bayi keluar sekarang juga, bukan apa-apa saat kontraksi terjadi rasanya sangat menyiksa, saat kontraksi nya hilang Ayudia benar-benar bisa menarik nafasnya lega.


mama Ainun melirik ke arah jam didinding, pukul 1 lebih 35 menit


"Mama sama Mak sholat Dzuhur dulu yah, ay disini Sama kak eta"


Ayudia cuma bisa mengangguk saja


yah hari ini sejak lagi dia hanya bisa mengangguk atau menggeleng saja, sisa nya dia tidak peduli lagi.


yang jelas dia benar-benar berharap waktu cepat berlalu dan dia bisa melihat calon bayi mereka lahir sekarang juga, melepaskan beban di hati atas rasa sakit yang mendominasi.


Beberapa jam kemudian sang dokter kembali, menggunakan sarung tangan seperti tadi kemudian meminta Ayudia kembali ke posisi yang seperti tadi


"Bukaan 4 sayang"


Ya Allah nunggu sampai bukaan 10 sampai kapan?


batin Ayudia


dari bukaan 2 ke bukaan 4 saja selama ini nunggu nya, apalagi saat harus menunggu bukaan 10. rasanya dia mau menangis saja, melahirkan begitu menyiksa, bahkan didalam hati sampai ngomong nggak mau lagi punya anak dan cukup hanya sekali, rasanya seperti mau mati. Benar-benar tersiksa sekali, bahkan otak tidak bisa berfikir lurus.


Rasanya ingin marah sama ardhan, laki-laki itu membuat dia tersiksa dengan keadaan.bisa dengan enteng memberikan dia ke indahan, Kemudian dengan mudah juga memberikan dia siksaan Seperti ini.


"Setiap kontraksi datang bisa tarik nafas lalu buang yah"


buk dokter bicara cepat


"Tapi jangan di dorong atau mengejan karet belum waktunya, cukup tarik nafas kemudian buang"


ayudia hanya mengangguk tanda mengerti


"Ay mau makan lagi?"


kak eta bertanya lembut kearah nya, tahu bagaimana bentuk ke khawatiran ayudia.


ayudia hanya menggeleng, dia tidak lagi bisa berfikir untuk makan.


"Bisa nggak kalau lahiran nya di percepat?"


dia bertanya dengan polos nya ke arah kak eta, matanya berkaca-kaca.


kak eta tersenyum mendengar permintaan ayudia, menyentuh rambut Ayudia sambil berkata


"Nggak bisa, kalau jalur normal harus sampai bukaan 10 baru bisa lahiran, sayang"


pelupuk mata ayudia mulai menggenang


"ini sakit banget kakak"

__ADS_1


"Oh sayang, percaya lah all it's well"


kak eta cuma bisa memeluknya erat


__ADS_2