CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
Berani sekali kau menyentuh istri ku


__ADS_3

Ardhan


Sejak 2 Minggu setelah tahu soal kematian bapak, Ayudia sudah sedikit ceria. Yang awalnya irit bicara sekarang sudah mulai banyak bicara.


Ardhan hampir gila karena perubahan sikap pada ayudia kemarin, bahkan ingin ardhan ajal bicara atau bahkan bercanda pun dia tidak berani.


Dia hanya takut sang istri masih marah atas keterlambatannya dirinya untuk memberitahu kan soal bapak.


Mereka pulang ke Linggau hampir 1 Minggu, Masih terpatri diingatan nya begitu tiba Ayudia langsung ke makam bapak, menangis sesenggukan tanpa mau bicara, semalaman hanya diam di kamar, untung bik Sri ikut jadi Hanif bisa di urus penuh oleh bik Sri. Sepanjang malam dia hanya mendengar isakan panjang milik Ayudia, dia hanya bisa memeluk sang istri yang memunggungi nya hingga pagi. Tidak berani bicara sama sekali, ingin dia berikan Kalimat penghibur paling mujarab, tapi takut malah gagal.


Dia tahu bagaimana rasa nya kehilangan , tapi benar kata mama dulu saat dia ke hilangan arletta


"Berhenti lah hidup dalam keterpurukan, selain mereka yang meninggalkan mu ada orang-orang yang saat ini begitu membutuhkan mu"


Hmm.. ardhan hanya bisa menghela panjang nafasnya


"Ay"


dia bicara lembut sambil menyentuh pelan perut sang istri, melingkari tangan nya di pinggang kecil itu kemudian memeluknya erat.


Hari in lewat 2 hari setelah mereka pulang ke Jakarta.


"Hmm"


ayudia hanya menjawab seadanya, masih sibuk membuatkan sarapan untuk mereka.


"Maafkan Abang yah"


sejenak Ayudia menghentikan kegiatan tangannya, sang istri diam sejenak agak lama, membiarkan Ardhan memeluknya dalam jangka waktu lama.


"Aku yang seharusnya minta maaf"


kali ini suaranya terdengar serak.


"Mengabaikan kalian dalam 2 Minggu ini, terlaku larut dalam kesedihan yang mendalam"


ardhan menarik nafasnya pelan


"Rasa sedih adalah emosi yang normal dan bisa terjadi ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai. Hanya saja aku takut jika-jika kamu kebablasan malah mengalami tingkat kesedihan yang lebih signifikan dan lebih lama hingga menyebabkan depresi ay, apalagi kamu habis melahirkan"


Secara berlahan ayudia membalikkan tubuhnya, menatap dalam bola mata ardhan beberapa waktu.


"Berjanjilah pada ku"


ardhan sejenak mengerutkan alisnya


"Jangan pergi dan menualah bersama, memiliki beberapa anak hingga mereka tumbuh dewasa, melihat mereka menjadi besar dan sukses, memiliki pasangan masing-masing dan membuat kita tenang, jangan pergi lebih dulu dari ku dan..."


seketika air mata Ayana tumpah

__ADS_1


"Ay"


ardhan hanya mampu memeluk erat tubuh istrinya


******


Ayana


Kematian itu tampak mengerikan baginya, saat dia melihat Mak yang hanya diam, larut dalam kesedihan.


Tak ada seorang pun yang tahu akan datangnya waktu kematian mereka maupun orang lain. Semua hanya bisa mengandai-andai.


Seseorang yang tengah dalam kondisi sekarat karena sakit, bisa saja sembuh dengan tiba-tiba. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang tampak sehat atau biasa saja bisa saja mendadak mati.


Tiba-tiba dia merasa takut, takut kematian mendekati dirinya, takut jika semua orang yang dicintai nya pergi satu persatu meninggalkan dirinya karena kematian yang tiba-tiba, dia takut yah begitu takut.


"Ay... semua sudah jadi ketetapan Allah"


ardhan bicara lembut sambil mencium hangat puncak kepalanya, memeluk erat tubuhnya untuk waktu yang sangat lama.


"Kamu tahu ay? Peristiwa yang paling niscaya untuk diingkari adalah kematian. Meski demikian, kenyataannya kematian menjadi salah satu bentuk kiamat kecil yang nantinya akan dialami oleh setiap makhluk hidup"


"orang sakit atau sehat akan mati, orang kuat mati, mahasiswa dan dosen mati, tentara dan polisi mati, semua makhluk akan mati. Mati itu tiba-tiba, tidak ada yang tahu jadwal kapan seseorang akan mati ay. Lalu pertanyaannya adalah apakah orang yang meninggal dalam keadaan tiba-tiba padahah dirinya sehat-sehat saja akan husnul khotimah?"


"jika yang meninggal orang mukmin yang taat kepada Allah maka dapat dikatakan dirinya Husnul khotimah. Namun, jika ia kafir atau orang muslim namun mengingkari Allah maka ia su’ul khotimah atau kembali tanpa keimanan. Kematian adalah keputusan atau ketetapan Allah. Tiap jiwa pasti akan merasakan kematian"


"Bukankah Allah juga telah mengingatkan Rasulullah dalam Q.S. Az-Zumar ayat 30 yang artinya, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” Selain itu dalam sabda Rasulullah mengatakan, “Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya!”


*******


Ardhan


"Besok sudah balik ke Bandung, kamu jangan nakal disana"


ucap ardhan sambil mengacak-acak rambut Ayudia, membantu sang istri mengusun pakaiannya di koper.


Ayudia malah tersenyum geli


"Nakal gimana? Abang yang jangan nakal disini"


sungut nya cepat


entahlah setelah cuti melahirkan habis, Seketika mereka harus berpisah, dia dengan kesibukan nya dan ayudia dengan kesibukan nya. Tiba-tiba saja perasaan tidak Sudi menghinggapi nya, berpisah lagi adalah ujian terberat untuk mereka, hanya ketemu 1 Minggu sekali dan itupun di akhir Minggu.


"Nggak lama lagi kok Bim, sampai ay lulus kuliah"


mama nya coba menghibur


ardhan hanya mengulas senyum getir, jika kemarin dia ngotot minta Ayudia tetap kuliah di Bandung, hari ini rasanya ingin sekali Ayudia pindah saja kuliah di Jakarta.

__ADS_1


Ahh hati kenapa kamu begitu membingungkan


batin ardhan


"Nanti kalau Wulan tamat SMA biar ke Jakarta sama Aidil, Mak juga. Mereka biar tinggal di rumah di kemanyoran aja yah, yang di Lubuklinggau di sewakan saja atau kalau ada keluarga boleh di tempati sementara"


sejak beberapa hari yang lalu mama sekali khawatir soal Mak yang tinggal sendirian di Lubuklinggau, hanya ditemani Wulan dan aidil yang jelas sibuk sekolah. maksud mama kalau di Jakarta seandainya ada apa-apa bisa bergerak cepat, kalau di Lubuklinggau takut nya mereka nggak bisa gerak cepat seperti kejadian bapak.


Ayudia hanya mengangguk, Mak hanya mengambangkan senyum, mungkin masih mikir antara mau atau tidak.


"Nanti Wulan kan bakal sekolah di Jakarta Mak, artinya Mak cuma sama Aidil, itu jadi hal berat meninggalkan Mak di Lubuklinggau"


ucap ardhan cepat


Mak hanya mengangguk-angguk kan kepalanya


******


Ayudia


Kadang apa yang dijalankan acapkali tidak sesuai apa yang di bayangkan, memang semua fasilitas ada, bik Sri yang merawat Hanif dan ada pak Agus yang mondar-mandir mengurusi banyak hal selama Ayudia kuliah di Bandung, hanya saja untuk quality time antara dia dan Hanif apalagi untuk mereka dan ardhan benar-benar berkurang.


Kesibukan Ayudia semakin hari semakin bertambah, bahkan dia tahu seperti nya ardhan mulai ingin mengeluh namun tidak bisa. sang suami hanya berkata insyaAllah semua baik-baik saja, tidak lama lagi kok.


Bagi ayudia ardhan adalah sosok suami palin sabar yang pernah dia lihat dari orang-orang disekitar nya.


Dan semua berjalan sesuai rencana hingga semester 6, tapi tiba-tiba sebuah kejadian mengejutkan terjadi, ketika tiba-tiba Edo datang ke Bandung mengunjungi dirinya di kampus, dan ayudia sama sekali belum cerita kalau dia sudah menikah Dan paling gila adalah tiba-tiba Edo nembak dia waktu makan di salah satu kafe di sana.


Saat itu ardhan tahu-tahu datang menyusul dari Jakarta, Ayudia hanya tidak menyangka jika semua terjadi begitu kebetulan.


Saat ardhan tiba di Bandung mau menjemput nya, Ayudia menyebutkan nama kafe yang mereka datangi, dengan polos berkata ada Edo main dan menemui nya ke sana. tapi saat ardhan tiba Edo tahu-tahu nembak dia dan mencium pipi nya tepat sesaat ketika ardhan tiba.


"Ayudia..."


Teriakan ardhan yang penuh amarah memecah suasana, dalam hitungan detik laki-laki itu melesat maju dan menghadiahkan Edo dengan bogem mentah


Bugggg


"Sayang"


teriakan Ayudia menggema, kalimat sayang spontan meluncur dari bibir nya. Edo tampak kaget, dengan meringis karena bibir nya berdarah langsung bertanya


"Sayang?"


menatap dalam bola mata ayudia


"Berani sekali kau menyentuh istri ku hah"


dengan gerakan cepat ardhan menarik kerah baju Edo dengan sangat kasar

__ADS_1


"Istri?"


jelas saja ekspresi Edo terkejut setengah mati


__ADS_2