
Ayudia
Setelah melewati perjalanan panjang pak Ardhan akhirnya mendapatkan restu dari orang tua nya, rencananya besok papa Cakra dan mama Ainun ke lubuk Linggau untuk melakukan lamaran resmi nya.
Karena bingung mau menghabiskan waktu kemana, secara keluarga ayudia bukan orang kaya seperti pak ardhan yang kemana-mana bisa bawa mobil, akhirnya Ayudia membawa pak ardhan untuk menghabiskan waktu bersama melihat kota Lubuklinggau dengan motor milik mereka.
"what? ay kamu serius kita lewat sini?"
teriak pak ardhan seketika, Ayudia yang bawa motor dan lucu nya pak ardhan ada di belakangnya
laki-laki itu melotot saat tahu kemana Ayudia akan membawanya
mereka akan menyeberangi sungai melewati jembatan gantung yang ukurannya bisa dilihat sendiri bagaimana, hanya muat 1 motor jadi tiap menyeberang harus saling nunggu antrian.
sambil nunggu antrian yang sudah menyeberang dari depan, mereka akan masuk setelah yang didepan mereka kosong, pak ardhan tampak panik sedang kan ayudia malah biasa-biasa saja
"Gila...ay,nggak ada jalan lain ay?"
suara pak Ardhan terdengar panik dibelakang nya
orang-orang cukup merasa aneh, karena cewek yang harus nyetir motor, sedang kan sang pemuda tampan duduk di belakang dengan perasaan panik
"Ada sih pak, tapi muter-muter nya jauh bapak"
"Nggak apa-apa muter jauh, dari pada mati disini"
suara pak ardhan tampak tercekat
"isshh bapak mana ada saya mau ngajak bapak mati, ini kita mau hidup lah, mau nyeberang buat masuk ke pusat kota, bapak lihat dibelakang kita banyak ngantri, didepan juga rame lagi jalan kesini"
"Gila ay... no stop, ini kalau jatuh bagaimana? "
"Nggak jatuh pak, kalau beruntung aman sampai depan, kalau nggak paling ke jengkang pak, bapak siap-siap aja..."
Ayudia malah menanggapi dengan sejuta candaan
"kamu itu sama orang yang lebih tua bisa nggak serius?"
pak ardhan mengoceh kesal
Ayudia sejak tadi berusaha menahan tawanya
"Oh bapak tua yah ternyata, ay baru sadar wkwkwkwk"
Kali ini tawa Ayudia benar-benar pecah
"Ayudia..."
pak ardhan menggeram
Ayudia mencoba menghentikan tawanya
"Bisa mati kita ay.. saya serius ini"
"pak anggap saja latihan naik jembatan shiratal mustaqim "
bisik ayudia pelan
"Allahuakbar malah di ajak main-main"
"yah udah bapak aja yang bawa motor nya, biar nggak mati kita kalau ay yang yang bawa"
Ayudia pura-pura mau turun
"what?"
teriak pak ardhan Seketika
"jadi yah ay yang bawa bapak diam di belakang aja"
"Astagfirullahhul'adzim..... ay saya masih mau hidup ini, belum mau coba buat kunjungan ke akhirat "
"Kita studi tour aja ke akhirat pak"
Ayudia kembali menanggapi sambil cekikikan
tidak tahu kenapa ayudia jadi suka menggoda pak dirutnya, kalau mengomel terdengar begitu lucu ekspresi nya dan suara berisik pak Dirut bikin telinga nya betah
Pak ardhan melotot
"Oke siap pak, tancapp"
__ADS_1
"Ayudia..."
teriak pak ardhan yang tidak lagi peduli dengan orang-orang di sekitar nya, yang ikut mengantri di belakang untuk nyeberang juga lewat jembatan itu
pada akhirnya laki-laki itu malah memegang erat pinggang Ayudia sambil terus mengucap istiqfar tiada berkesudahan hingga akhirnya mereka tiba di ujung jembatan.
*******
Ardhan
Seketika matanya membulat saat Ayudia tau-tau berhenti di sebuah jembatan yang cukup tua, lebar nya mungkin cukup untuk 2 tubuh manusia yang gempal, panjang nya itu entah berapa puluh meter dan
Damn it
itu tinggi sekali dan ada sungai dibawah nya batin ardhan
gila ini anak mau ngajak saya lewat jalan ini? nggak salah?
dia Seketika tercekat
"Gila...ay,nggak ada jalan lain ay?"
tanya nya panik sambil melongok menatap itu jembatan
Dan sialnya orang-orang cukup merasa aneh, karena melihat Ayudia yang masih anak-anak yang harus nyetir motor, sedang kan dia duduk di belakang menampilkan perasaan panik
"Ada sih pak, tapi muter-muter nya jauh bapak"
"Nggak apa-apa muter jauh, dari pada mati disini"
ya tentu saja dia lebih baik cari jalur aman, mutar saja mau sejauh berapa kilometer fikirnya bukan masalah tapi bukan lewat ini jembatan.
"isshh bapak mana ada saya mau ngajak bapak mati, ini kita mau hidup lah, mau nyeberang buat masuk ke pusat kota, bapak lihat dibelakang kita banyak ngantri, didepan juga rame lagi jalan kesini"
"Gila ay... no stop, ini kalau jatuh bagaimana?"
"Nggak jatuh pak, kalau beruntung aman sampai depan, kalau nggak paling ke jengkang pak, bapak siap-siap aja..."
ealah ini anak malah ngajak bercanda teriak ardhan dalam hati
"kamu itu sama orang yang lebih tua bisa nggak serius?"
dia mengoceh kesal
"Oh bapak tua yah ternyata, ay baru sadar wkwkwkwk"
Kali ini tawa Ayudia benar-benar pecah
umpat ardhan
"Ayudia..."
dia menggeram
akhirnya itu anak berhenti ketawa
"Bisa mati kita ay.. saya serius ini"
Ardhan berusaha menarik nafasnya sepanjang mungkin, anggaplah sepanjang jalan hidupnya
"pak anggap saja latihan naik jembatan shiratal mustaqim "
bisik ayudia pelan
seketika ardhan membulatkan matanya
"Allahuakbar malah di ajak main-main"
"yah udah bapak aja yang bawa motor nya, biar nggak mati kita kalau ay yang yang bawa"
eehhh nggak sopan fikir ardhan, dia malah di suruh bawa motornya
"what?"
teriak nya
"jadi yah ay yang bawa bapak diam di belakang aja"
"Astagfirullahhul'adzim..... ay saya masih mau hidup ini, belum mau coba buat kunjungan ke akhirat "
"Kita studi tour aja ke akhirat pak"
Ayudia kembali menanggapi sambil cekikikan
Dan Ardhan benar-benar kehilangan kata-kata karena ini bocah
__ADS_1
"Oke siap pak, tancapp"
dan tanpa aba-aba saat motor di depan sudah melewati mereka, yang di ujung depan seakan memberikan kode jika ini giliran antrian dari arah dini yang masuk dan jalan, Ayudia dengan santainya tancap gas begitu saja
"Ayudia..."
teriak nya pelan yang tidak lagi peduli dengan orang-orang di sekitar nya, yang ikut mengantri di belakang untuk nyeberang juga lewat jembatan itu
Dan dia malah memeluk erat pinggang Ayudia sambil terus mengucap istiqfar tiada berkesudahan hingga akhirnya mereka tiba di ujung jembatan.
"Gimana pak?"
Ayudia bertanya sambil cekikikan, menoleh ke dirinya melalui kaca spion
bisa ditebak Betapa gemetaran nya dia?
sangat
sialan benar
maki Ardhan dalam hati
baru kali ini dikerjain anak kecil, rasanya benar-benar kehilangan muka karena tampang berwibawa dan maskulin nya musnah Seketika karena jembatan gantung yang mereka seberani itu
"masih lewat jembatan lagi?"
tanya nya kemudian dengan perasaan cukup was-was, tapi pura-pura kuat dihadapan Ayudia. gengsilah kalau panik lagi seperti tadi.
"Iya"
Ayudia mengjawab santai
"what?"
gila, gila, gila
dia fikir bisa gila tinggal di Lubuklinggau lama-lama
"Pas jalan pulang pak, hmmm kalau kemalaman nggak usah deh kita mutar saja"
lanjutnya
"iya sudah pulangnya malam saja"
omelnya Kemudian
"Berhenti,biar saya saja yang bawa, nanti kamu jadi pemandu nya"
seketika ayudia menghentikan laju kendaraan nya, dia turun dengan cepat sambil terus tersenyum geli menatap wajah ardhan
"Berhenti menertawai saya"
ucapnya sambil beringsut maju ke depan
Ayudia memunyungkan bibirnya
"Nggak kok"
kemudian dengan cepat naik ke belakang, duduk dengan nyaman dan
oh suck
tiba-tiba tangan anak itu memeluk pinggangnya erat
"Pak gojekkkk maju jalan"
teriak Ayudia senang
Ardhan hanya menghela nafasnya panjang, menatap 2 tangan mungil itu yang seperti tanpa dosa memeluk erat pinggang nya.
sialnya degup jantung yang tadi karena takut melewati jembatan gantung berubah menjadi jegub'an lain yang tidak dapat dia mengerti.
"Kita kemana?"
tanya nya cepat, membuang semua perasaan yang tidak dia pahami apa.
"Kehati mu pakkk"
lagi-lagi anak itu bercanda sambil terkekeh
"Maju aja nanti ay arahin jalannya"
lanjut anak itu senang
ardhan hanya mengangguk pelan sambil terus menatap senyuman indah Ayudia dari balik kaca spion motor yang dibawanya
__ADS_1
Oh God, Don't make my heart flutter wildly
(Oh tuhan, jangan buat hati ku berdebar liar)