
eta
sekuat-kuatnya perempuan, saat melahirkan adalah titik paling lemah dalam hidup mereka, menahan sakit Sangat lama tidak berkesudahan bahkan juga bertarung nyawa. kemungkinan besar hidup dan mati adalah 50 berbanding 50. bisa selamat, bisa tidak,bisa pergi, bisa kembali.
Kenik..matan Karena hasrat yang tercipta dengan pasangan berganti haluan menjadi sebuah siksaan nyata yang membuat para perempuan berfikir stop sudah aku tidak mau lagi bertarung nyawa untuk kedua kalinya demi sebuah ke..nikmatan semata. tapi lucunya setelah selesai berjuang nyawa melahirkan, lagi-lagi mereka mengharapkan mendapatkan buah hati kembali meskipun tahu pernah merasakan siksaan luar biasa itu dulu.
yah itu lah perempuan,mereka dan dia adalah makhluk paling hebat dimuka bumi ini yang diciptakan oleh Allah dengan kelebihan yang tidak bisa dimiliki oleh kaum adam dibalik sejuta kekurangan mereka.
saat Ayudia bertanya
"Bisa nggak kalau lahiran nya di percepat?"
mata anak itu sudah berembun, berkabut siap menangis kapanpun, tapi hebatnya dia tidak menangis meraung seperti anak seumurannya yang acapkali eta temui, Ayudia sejak awal hanya menggeleng dan mengangguk saja, tidak mengeluh saat sang suami tidak ada disampingnya, bahkan tidak terdengar keluhan nya untuk menyebutkan soal ardhan.
dia hanya bisa tersenyum mendengar permintaan ayudia, menyentuh rambut Ayudia sambil berkata
"Nggak bisa, kalau jalur normal harus sampai bukaan 10 baru bisa lahiran, sayang"
dia melihat genangan di pelupuk mata Ayudia, ditahan sedemikian rupa agar tidak tumpah.
eta hanya berfikir, dia terlalu muda untuk menikmati rasa seperti ini.
seandainya usianya lebih dewasa sedikit
fikir eta.
"ini sakit banget kakak"
ayudia kembali meringis, kemudian menarik nafasnya lantas membuangnya
hahhh
fuhhh
hahhh
fuhhhh
berkali-kali bahkan sambil menyebut istiqfar tiada berkesudahan
Astagfirullah hul'adzim
astagfirullah hul'adzim
ya Allah
Subhanallah
"Oh sayang, percaya lah all it's well"
eta cuma bisa memeluk tubuh ayudia erat-erat
*******
mama Ainun
Dia berkali-kali mondar-mandir sejak tadi, panik jelas sekali terpatri diwajahnya. baru bukaan 4, artinya masih lumanyan lama. Ayudia sejak awal sama sekali tidak pernah mengeluh, cuma berkata
__ADS_1
ay baik-baik saja mama, mama jangan khawatir
anak itu sejak awal nikah sama Ardhan memang begitu, mandiri dan enggan menyusahkan orang lain, nggak pernah mengeluh atau bahkan mengadu sama dia.
pokoknya selalu ceria dan kuat untuk anak seumuran itu.
Berkali-kali dia melirik ke arah jam dinding, berfikir kapan waktu tegang ini berlalu? dia hanya bisa memegang erat tangan Ayudia untuk waktu yang lama, bahkan saat tiba-tiba kontraksi datang, Ayudia acapkali menarik erat tangannya sambil menarik dan menghempaskan nafasnya berkali-kali.
hingga akhirnya dia memilih beringsut untuk menunaikan sholat Dzuhur dengan besannya, mematri doa untuk sang menantu kesayangan agar diberi kemudahan, tidak kurang sedikit pun dan semua sehat baik mamanya atau anaknya.
*******
Ayudia
"Alhamdulillah sudah bukaan 6, sudah turun sampai ke panggung, kepala Dedek bayinya sudah terlihat sayang"
ayudia harus bagaimana? senang atau nggak? senag iya, nggaknya karena sakit tetasa semakin menjadi
"Ay sudah enggak tahan, seperti mau ada yang keluar"
ucapnya dengan keringat dingin yang sudah bercucuran, sekali ini dia memegang erat tangan Mak sambil berusaha ingin mengejan.
"Belum boleh sayang, tahan dulu jangan mengejan, tarik nafas, buang"
ayudia berusaha untuk menurut, rasanya dia sudah kehilangan kata-kata, cuma bisa mengucap istighfar sambil menuruti kata Bu dokter tarik nafas, buang, tarik nafas, buang lagi.
ketika buk Dokter datang lagi dia dengan tidak sabaran ingin tahu ini sudah bukaan berapa, sebab rasanya dari tadi benar-benar ingin mati saja rasanya, dia sudah nyaris tidak tahan lagi menahan sakit yang mendominasi.
"Wah Alhamdulillah bukaan 8 ini, sudah dekat waktunya"
"Bisa jalan-jalan dulu sebentar kalau mau buat mengurangi rasa sakit"
jelas otak ayudia mikir nya yang macam-macam, kalau kepala bayi nya sudah terlihat malah di ajak jalan-jalan, kalau dedek nya keluar tiba-tiba gimana? kalau lompat ke lantai bawah gimana?
saat pertanyaan itu terlontar jelas saja eta, mama Sam mak tertawa geli
"Yah nggak lah ay"
"Aduh kamu mah masih sempat ngelucuh ah bikin panik kita menghilang"
kak eta bicara sambil menepuk-nepuk ujung kepala Ayudia
"Bisa jalan-jalan biar jalan bukaan nya lebih gampang, nggak bakal keluar kok dedeknya"
seketika wajah Ayudia memerah, rasa sakit tau-tau berubah jadi malu, maklum yang pertama jadi yah ngggak tahu.
belum lagi beberapa kali terasa mau BAB, doker bilang ga apa-apa BAB saja disana, jelas ayudia malu lah.
saat bukaan 9 rasanya sesuatu dibawah sana benar-benar mendesak untuk keluar sekarang juga, tapi lagi-lagi buk dokter bilang sebentar lagi
"Mak maafin ay kalau pernah membantah kata Mak"
jelas saja tiba-tiba tangis kecil nya pecah, rasa sakit semakin luar biasa, baru tahu inilah rasa paling sakit didunia ini untuk seorang perempuan. Kalau terluka karena pisau di dapur saat memasak belum sesakit ini rasanya, bahkan bertengkar dengan suami pun tidaklah sesakit ini rasanya, kalaupun jatuh ke aspal karena kecelakaan bawa motor juga tidak separah ini, ini sangat .. sakit yang sangat mendominasi, yang rasanya kehebatan yang dimiliki kemarin tidak terlihat berguna.
karena itu tidak heran banyak ibu-ibu berkata, saat anak mulai pintar dan pandai membantah, rasanya hati bagaikan disayat sembilu, karena mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya perjuangan seorang ibu yang melahirkan dengan bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
mendengar perkataan Ayudia, mak cuma bisa menangis, mencium keningnya Ayudia lantas berbisik lembut
__ADS_1
"Semarah-marah nyo emak, selalu ngasih maaf hari itu jugo, ay sudah jadi anak yang berbakti Samo Mak, dak Ado anak sehebat ay didunia ini, insyaAllah lahiran nyo lancar, ay samo cucung Mak sehat Galo (Semarah-marah nya ibu pasti selalu memaafkan anak nya hari itu juga, ay sudah jadi anak yanh berbakti sama Mak selama ini, tidak ada anak sehebat ay didunia ini, InsyaAllah lahirannya lancar, ay dan cucu Mak sehat semua)"
kemudian terdengar doa yang mak panjatkan di atas kening Ayudia, mak mencium kembali kening seta puncak kepala ayudia.
kemudian semua orang pergi, yang tersisa cuma kak eta, dibawah sana terasa semakin mendesak, ayudia beberapa kali menarik dan membuang nafasnya.
"Kita siapkan semuanya yah, sebentar lagi dedeknya sudah bisa lihat mama nya"
buk dokter bicara sambil mendekati dirinya, meminta dia untuk mempersiapkan posisi paling nyaman seperti tadi, tapi tiba-tiba seseorang menyeruak masuk ke dalam ruangan.
Dan seketika Ayudia mencelos, air matanya kali ini benar-benar tumpah
"Abang"
*******
Ardhan
keringat dingin membasahi tubuh ardhan, tidak tahu dia habis berlari seberapa jauh, bahkan bawa mobil dengan sangat tergesa-gesa, meminta Dion mewakilkan semua pekerjaan nya. Dalam hatinya Ayudia yang saat ini paling membutuhkan dirinya, rejeki bisa dicari lagi kalau seandainya hilang, sedangkan moment seperti ini akan hilang selamanya bukan?
ardhan melesat mendekati Ayudia, eta secepat kilat pergi dari sana. Dia menggenggam erat tangan Ayudia, sang istri menangis seseguhan didadanya, dia yakin si gadis kecil ini sudah menahan tangis nya sejak tadi.
"Ketubannya akan kita pecahkan"
entahlah perkataan dokter itu nyaris tidak terdengar lagi karena ditutupi kepanikan yang mendalam.
"Sekarang mengejan yah sayang, dedeknya sudah siap keluar"
buk dokter bicara cepat, sudah siap dibawah sana.
dapat dia lihat betapa sulitnya Ayudia mengejan, membuang, menarik nafasnya, pegangan tangannya semakin erat, dan keringat dingin terus bercucuran, bahkan sesekali air matanya tumpah. tapi wajah cantik itu terlihat semakin indah di mata Ardhan, perjuangan panjang dan hebat di balik wajah cantik itu membuat nya ingin terus menggenggam tangan itu hingga masa tua, tidak ingin melepaskan nya barang sedetikpun, mengajak nya berjuang bersama, tanpa ingin membuat nya terluka bahkan tersiksa, mencoba menjanjikan diri didalam hati, membuat Ayudia terus tersenyum dalam seumur hidupnya, bahkan mencintai gadis kecil itu hingga akhir hayatnya.
oekk
oekk
saat terdengar suara tangisan indah itu memecah keadaan yang terus menegang,ardhan tampak tersenyum bahagia, puncak membuncah betapa dia merasa segala sesuatu didunia ini terkalahkan oleh kehadiran makhluk imut nan mungil itu
"Selamat, anak nya laki-laki sayang"
"kita akan timbang dan ukur yah"
mata nya dan Ayudia berkaca-kaca menatap sosok malaikat kecil itu berlahan dibawa sang perawat untuk di timbang dan di ukur kemudian di bersihkan
"Kita akan keluarkan ari-ari nya yah"
untuk beberapa proses hingga ari-ari dikeluarkan dan jarum serta benang terus bergerak ditangan sang dokter membuat ardhan merasa ngilu, memeluk Ayudia sambil terus mencium keningnya, sang dokter dan perawat hanya tersenyum melihat ekspresi ardhan. hingga seluruh proses selesai dilakukan, dan malaikat mungil itu telah tertidur di atas dada sang istri
"Terima kasih sayang, terima kasih, i love you untuk banyak hal yang tidak bisa aku ucapkan satu persatu"
ardhan bicara terus memeluk 2 sosok paling berharga didalam hidupnya itu.
"Sudah menyiapkan nama?"
eta sempat bertanya
"Hanif, nama depan sang jagoan papa adalah Hanif"
__ADS_1
ucap nya sambil mengulas senyum yang lebar sembari menggendong malaikat kecil itu secara berlahan, mencium nya untuk waktu yang lama.