
Ardhan & Ayudia
pada akhirnya wisuda benar-benar telah selesai, topi toga dilempar semua orang ke atas, dan ardhan sudah menunggu sambil merentangkan lebar-lebar tangannya, menunggu sang istri melesat masuk kedalam dekapannya.
Berapa tahun? coba tanyakan pada hati! Akhirnya kesabaran itu membuahkan hasil luar biasa, acapkali rasa tidak tahan dan kata menyerah hadir di antara mereka, tapi membuang sifat egois membuat mereka bertahan dalam Titik kesabaran paling indah, menghasilkan buah paling terbaik yang sudah pantas mereka petik.
"Maafkan ay karena membuat Abang menunggu begitu lama"
"Terima kasih banyak atas sejuta kesabaran yang Abang berikan untuk ay selama ini"
"Ini untuk mu sayang, tentu saja ini belum seberapa dibandingkan apa yang sudah kamu berikan pada ku, cinta, kasih, sayang, Hanif dan kesabaran dalam menghadapi semua sifat ku"
bisik ardhan lembut, mencium hangat wajah sang istri berkali-kali, memeluknya erat kemudian mengangkat tubuhnya ke atas.
"Wellcome to home sayang"
ucapnya penuh cinta.
********
Big Famili
"Sudah siap?"
"Abang disamping ay"
"Wulan sini"
"byby mana suami kamu?"
"Dilantai bawah kak menuju kemari"
"Masih mual kamu by?"
byby mengangguk pelan, wajahnya agak pucat
"Dari sini langsung ajak Jerry pulang yah"
mama Ainun tampak khawatir, byby lagi masuk trimester pertama, dibandingkan Ayudia, byny benar-benar mabuk parah.
byby mengangguk cepat
"Loh Wulan, Wu Lee mana?"
Kak eta bertanya bingung, saat tunangan Wulan si China tampan belum menampakkan batang hidungnya.
"Katanya lagi di jalan, baru selesai membahas pertemuan dengan pimpinan Hillatop company"
kak eta mengangguk pelan
"Mama, bantu Mikhayla"
gadis kecil itu merengek minta dibenahi pita nya
"sayang tunggu, eta benarin rambut Mikhayla dulu"
eta bicara ke arah suaminya
"nah Koko ganteng wu datang"
sorak aidil senang, melesat masuk ke dalam pelukan Wu Lee
"Come jagoan Koko"
wajah Wulan tampak bersemu merah saat wu Lee menghampiri nya, mendekati Mak lalu menyalami tangan mak, lantas memeluk ardhan,Koba dan Jerry bergantian. menyalami mama Ainun juga papa Cakra.
"Hanif sini"
ayudia bicara sambil melambaikan tangannya pada Hanif yang sejak tadi mondar-mandir Kesana-kemari.
"Mama..mama..lihat"
Hanif bicara sambil menunjuk sesuatu
"Apa sayang?"
ayudia bertanya langsung menggendong nya
"Sudah berat anak mama"
"Hanif sama papa yah"
Seolah tahu kesusahan ayudia yang menggendong tubuh Hanif yang begitu padat berisi, ardhan dengan cepat menawarkan diri. Hanif mengangguk cepat, merentangkan tangannya untuk masuk ke pelukan sang papa.
"Bik Sri, bik Ning sama pak Agus mana?"
Mak bertanya bingung
"Di sesi kedua, masih ganti pakaian itu"
__ADS_1
"Mana mbak elok?"
mama bertanya sambil celingak-celinguk.
"Lagi ngurusin Danisa ma, benerin sepatu nya"
"Papa capek?"
ayudia langsung menoleh ke papa Cakra yang belakangan gampang lelah
"Nggak apa-apa, ini juga duduk di kursi nak"
ayudia cuma mengangguk
"Bang Nanti biar sebelahan aja yah, Danisa Abang yang peluk, Hanif ay yang peluk yah"
"Kamu benaran suka sama danisa"
ayudia terkekeh
"Siapa tahu jadi calon mantu, buat Hanif"
ayudia lagi-lagi terkekeh
"Nanti bikin satu cewek"
ardhan menggoda
"Ish Abang ah"
"Nahhh danisa sayang sini"
baby mungil berusia 1 tahun dengan wajah cantik muncul sambil digendong bik elok, yang pernah jadi pengasuh Hanif waktu Ayudia kuliah, masih keluarga bik Sri.
"Ohhh cantik sekali, bola mata nya cantik bang, bulu matanya lentik kayak punya ay"
ayudia bicara langsung memeluk danisa, mencium baby kecil itu, Hanif sejak tadi menyentuh tangan mungil itu, menatap nya dengan mata berbinar-binar, sesekali tersenyum senang sambil mengajak bayi Italia bicara.
"Hanif suka?"
ardhan bertanya pelan
Hanif mengangguk, masih terus Menyentuh jari mungil itu.
"Kalau Hanif nikah sama dia boleh?"
bocah itu bertanya polos, jelas semua orang tertawa.
"Dedek denisa belum tentu mau"
seloroh kak eta
seketika wajah Hanif berubah mendung
"Boleh-boleh kalau sudah besar yah"
sahut Wulan sambil tertawa.
wajah Hanif kembali ceria, tertawa sambil menyentuh wajah baby danisa.
ayudia mencium baby Danisa beberapa kali.
"Minta tambah satu itu bang"
seloroh Jerry tiba-tiba dari arah samping Ardhan, ardhan tertawa terbahak-bahak mengerti ucapan Jerry
"aman itu"
"Ok semua siap?"
terdengar sang juru foto memberi aba-aba, semua anggota keluarga masuk dalam susunan nya masing-masing.
"Oke"
"1"
"2"
"3"
Lampu flash menyala, beberapa petikan foto terabadikan dengan sangat indah, berbagai pose mereka persembahkan untuk menjadi moment paling berharga, menjadi sebuah album dan akan tersimpan selamanya.
*******
Ayudia & Ardhan
Seperti biasa Hanif tiap akhir Minggu pasti antara Mak dan mama gantian mengambil start membawa Hanif pulang, pada akhirnya ini menjadi moment mereka untuk berduaan menikmati malam Minggu yang panjang.
Hampir 1 tahun ayudia memfokuskan dirinya mengurus Hanif dan ardhan setelah menyelesaikan S1 nya, mengisi seluruh hidup ardhan yang bertahun-tahun di tinggalkan nya selama kuliah di Bandung kemarin.
"Bang"
__ADS_1
"Hmm"
ealahhh yang dipanggil malah sibuk sama tumpukan pekerjaan nya
rutuk ayudia dalam hati
"Abang masih sibuk?"
"bentar lagi sayang"
Sungguh terlalu
yang ditanya malah nggak menoleh, menyahut biasa dengan mata tetap fokus di berkas-berkas nya.
akhirnya dengan inisiatif sendiri, Ayudia menutup tangannya ke semua berkas, duduk di atas meja dimana ardhan duduk.
"Sayang?"
tanpa aba-aba Ayudia langsung menarik leher sang suami, menautkan bibir mereka dalam.
"Oh sayang...kenapa kamu jadi se agresif ini?"
Ardhan tertawa geli
"Abang"
Nggak ngerti banget sih
omelnya dalam hati.
masa bodoh ah, kan mereka pasang suami istri, nggak dosa juga kan kalau minta duluan!
secepat kilat Ayudia naik ke atas paha sang suami.
"ini aku nggak bakal berhenti yah sampai berapa ronde"
goda ardhan sambil memeluk pinggang Ayudia
"Terserah Abang, ay ikhlas dan pasrah"
ardhan terkekeh
"Ini istri Abang kayak nya benaran lagi pengen ini"
"Abang ih"
ayudia ujung-ujung nya ngambek juga, berdiri dengan cepat berniat tidur.
"Loh..loh... ngambek lagi"
ucap ardhan sambil menarik tangan nya
"Tau ah"
kan benaran ngambek
kekeh ardhan
dengan cepat memeluk tubuh Ayudia, Melesat kan ciuman hangat di bibirnya lantas melepaskan ciuman nya, tangan kekar nya dengan gerakan cepat mengangkat tubuh mungil sang istri.
"Abang ih, ay ngambek ini"
"mana ada orang ngambek ngomong sayang"
"Yah sudah nggak ngomong"
sang istri malah pura-pura kesal, secepat kilat Ardhan mencium bibir nya berkali-kali.
"Mau bikin adeknya Hanif"
bisiknya lembut
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Abang"
ayudia merengek manja
lantas dengan lembut Ardhan naik ke atas tubuh Ayudia, menyatukan bibir mereka dengan getaran manja, bertaut luar dalam, memainkan li..dah didalam peran nya, memutar beberapa waktu menciptakan alunan melodi yang merdu.
Di bawah sana tangan Kokok dan hangat itu terus bermain, menautkan jari ketempat-tempat indah yang membuat Ayudia berkali-kali mengeluarkan rengekan kecil nan manja, membuka semua yang menempel didiri mereka hingga tanpa sisa, ciu..man hangat turun ke dagu, menyusup berlahan ke bawah dagu hingga ke leher seputih susu dengan aroma khas paling ardhan sukai selama ini, membiarkan li..dah menyapu lembut disana, kadang menyesap nya dengan suara khusus hingga memecah kesunyian malam, turun ke 2 tempat paling ardhan suka, menyesap bergantian hingga menimbulkan suara era..ngan manja mendayu-dayu.
Pemanasan yang cukup lama terjadi dan mendominasi, hingga menyakinkan diri sang istri telah siap dengan segala keadaan setelah sampai pada titik pelepasan sang istri yang pertama, menyakini diri dibawah telah basah dan siap menerima.
Sebait doa indah terucap disana, dengan awalan bismillahirrahmanirrahim berharap ada penambah pelipur lara setelah Hanif sesudah ini.
Dia melesat masuk secara sempurna, menautkan diri dan kembali membiasakan keadaan, memompa indah Ayudia dengan gerakan lembut nan manja, membawa sang istri terbang melayang mengitari taman surgawi paling indah, mengarungi lautan luas dan terbang melayang membawa nya ke angkasa, membiarkan sang istri terus mengeluarkan suara indah nan menggoda dibalik telinga nya hingga semakin meningkat kan sesuatu dibawah sana agar bergerak lebih cepat dan penuh semangat dalam waktu yang lama, berulang kali hingga pelepasan datang secara bersamaan, kemudian kembali menautkan diri, memompa dan kembali menanti pelepasan, berkali-kali hingga jiwa dan raga terpuaskan dan lelah pada akhirnya mendera.
"Sayang i love you"
"I love you too Abang"
__ADS_1
Pada akhirnya mereka tertidur pulas menunggu waktu mandi wajib menjelang sholat subuh dalam beberapa jam ke depan, saling memeluk diri dan mematri kan doa didalam hati.