
Ayudia
ini kali pertama selama 4 tahun lebih mereka menikah Ayudia melihat ardhan marah dengan sangat luar biasa, memukul seseorang tanpa ba bi bu bahkan menarik tangannya dengan kasar untuk masuk ke mobil.
Seketika air mata Ayudia tumpah menatap ardhan, dan ini kali pertama Ayudia menangis karena ardhan. Dia hanya mampu memeluk Hanif disepanjang perjalanan pulang, sedangkan bik Sri hanya bisa menelan salivanya, tidak berani bertanya apapun soal kejadian tadi.
jika dulu dia pernah menangis karena bapak meninggal, mama ainun sakit atau bahkan Mak bersedih, kali ini dia benar-benar menangis karena takut sang suami membencinya.
Ardhan tidak bicara sepatah katapun sejak dari kafe hingga tiba di rumah, jangankan mengajak sang suami bicara, Ayudia bahkan tidak berani menatap wajahnya.
Saat tadi pun dia hanya mampu bilang maaf beribu kali maaf pada Edo soal status nyatanya, Jika dia dan ardhan sudah menikah jauh sebelum lulus SMA, jelas sekali terlihat gurat marah dan sedih di balik wajah Edo, bahkan saat bik Sri datang membawa Hanif Turin dari mobil dengan panik karena melihat ardhan memukul Edo, jelas membuat Edo semakin kehilangan kata-kata
"Kamu sudah punya anak, ay?"
ayudia hanya bisa mengangguk pelan
"Kapan kalian menikah ay?"
"Sebelum tamat SMA do"
semakin terlihat jelas kekecewaan di wajah Edo saat itu, bahkan ketika Ardhan menarik tangan Ayudia dengan penuh kemarahan, jelas Edo merasa begitu bersalah. seakan-akan berkata seandainya dia tidak ceroboh dan menggali lebih jauh, mungkin dia tidak akan menciptakan perang di antara suami dan istri itu.
Sepanjang makan malam ardhan masih juga diam, bahkan menatap wajahnya pun enggan. ayudia bahkan berulang kali menarik nafas nya karena perasaan cemas.
"Bik Hanif biar tidur sama bibik yah"
ucap Ayudia pelan ke arah bik Sri, wanita itu mengangguk tanda mengerti.
Sejak tadi ardhan sudah menghabiskan beraoa batang rokok, Ayudia paham betul laki-laki itu jarang sekali merokok, namun jika kepulan asapnya sama sekali tidak terputus Seperti asap di gerbong kereta api, jelas jika suami sedang merasa kesal dan stress.
sesaat setelah ardhan menghabiskan sisa rokok terakhir nya, laki-laki ini tampak berdiri di teras kamar atas, menatap ke arah langit malam dalam sejuta keheningan. Ayudia berjalan berlahan mendekati ardhan, memeluk lembut pinggang kokoh itu.
jelas ardhan tersentak kaget, sejurus kemudian dia hanya diam, tidak menolak atau menerima pelukan Ayudia.
"Maafkan ay"
ucap Ayudia pelan, kemudian terdengar isakan tangis dari bibir Ayudia, kali ini tangisan nya benar-benar pecah.
"Maafkan Ayudia hingga membuat Abang marah"
"Ay tidak tahu kalau Edo bakal datang buat nembak ay, dia hanya bilang di telpon kalau dia ada dibandung, mau ketemu ay karena sudah lama nggak silaturahim"
dia kembali terisak, sesaat tubuh ardhan berbalik menatap Ayudia yang menangis sesenggukan dihadapannya
"Ay nggak nyangka kalau Edo sampai bilang cinta segala"
ardhan masih diam mematung memandangi Ayudia tanpa ekspresi
"Bahkan dengan lancang mencium pipi ay didepan Abang"
"Abang jangan gini ke ay, Abang marah nggak apa-apa, atau Abang boleh teriak-teriak karena kesal, jangan diamin ay, ini menyakitkan buat ay"
__ADS_1
dia terus menangis sesenggukan, memukul pelan dada ardhan
"Ini menyiksa Abang"
sedetik kemudian ardhan meraih pergelangan tangan Ayudia lantas dalam hitungan detik dia membenamkan Ayudia ke dalam dadanya.
"Maafkan aku ay"
ucapnya lembut
"Dari Jakarta milih bawa mobil ngebut-ngebut biar bisa langsung ketemu kamu, memaksa menghilangkan rasa lelah dan penat selama diperjalanan demi ketemu kamu dan melepas rindu"
"Tahu betapa rindunya Abang? sangat menggebu-gebu, sampai rela jemput bik Sri dan Hanif untuk tahu kamu dimana, tapi begitu lihat laki-laki lain tahu-tahu nyentuh kamu, bahkan dengan kurang ajarnya mencium pipi kamu,rasanya seketika rasa lelah, penat dan kesal menyerbu"
"Seketika amarah ku meningkat ay, dan aku tidak bisa mengendalikan emosi ku"
"Aku diam bukan marah, tapi merenungkan apa yang telah terjadi"
Sejenak Ayudia terdiam dalam isakannya, kemudian mendongak menatap wajah ardhan sambil masih berusaha menetralisir tangisannya.
"Ay berhenti kuliah saja, kita pulang ke Jakarta"
sejenak ardhan membulat kan matanya, dia tercengang.
"Ay?"
********
Ada yang lebih membahagiakan ketika dari Jakarta bela-belain ke Bandung Demi orang yang kamu sukai sejak jaman SMK?
Sejak tamat SMA sulit sekali bertemu Ayudia, hanya pernah menelpon Ayudia beberapa kali tanya kabar, itu pun mungkin tidak sampai 5 menit, tidak ada hal yang aneh selama ini, dia tahunya Ayudia kuliah di Bandung sedangkan dirinya kuliah di Jakarta.
meskipun berpisah cukup lama, perasaan nya kepada gadis itu sedikit pun tidak berubah
Dan sejak Minggu kemarin tekadnya sudah bulat untuk menemui Ayudia dan nembak nya. Entah diterima atau tidak, dia tidak begitu peduli.
"Kan belum di coba"
begitu batinnya
Begitu tiba di Bandung,tanpa basa-basi minta bertemu Ayudia, dan benar saja saat ketemu wajah gadis itu jadi semakin dewasa dan cantik, aura indahnya jauh berbeda saat masih SMK, Ayudia terlihat lebih merekah, tubuh nya semakin berisi, wajahnya semakin cantik mempesona.
tekad kemarin pun semakin membulat, karena itu tanpa basa-basi Edo langsung nembak Ayudia sambil memberikan se ikat bunga, mencium pipi gadis itu tanpa izin lebih dulu. Ayudia tampak membeku, dia kaget tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tapi tiba-tiba seseorang berteriak penuh ke marahan dari arah sisi kanan nya
"Ayudia..."
saat Edo menoleh dia mengerutkan dahinya, direktur utama Abimayu group berjalan dengan cepat ke arahnya kemudian memberikannya bogem mentah tanpa basa-basi.
Bugggg
__ADS_1
"Sayang"
teriakan Ayudia menggema, kalimat sayang spontan meluncur dari bibir nya. Edo tampak kaget, sambil meringis karena bibir nya berdarah jelas saja membuat nya langsung bertanya
"Sayang?"
menatap dalam bola mata ayudia
tidak tahu lagi bagaimana situasi di sekitar mereka, semua orang berbisik-bisik sambil beberapa orang lainnya mencoba melerai
"Berani sekali kau menyentuh istri ku hah"
lalu tiba-tiba pak ardhan menarik kasar kerah bajunya
"Istri?"
jelas saja ekspresi Edo terkejut setengah mati
kapan mereka jadi suami istri?
"Pak tenang pak"
"Mas"
beberapa laki-laki mencoba melerai mereka
lalu tiba-tiba seorang ibu-ibu datang membawa seorang anak kecil yang usianya mungkin baru 2 tahuan lebih dan seperti nya anak laki-laki.
"Non ada apa? aduh den jangan begini"
"Abang berhenti, Hanif nangis Abang"
ayudia tampak panik, menggendong anak kecil itu dengan erat. seketika laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Edo.
kemudian anak laki-laki itu memanggil Ayudia dengan sebutan
mama mama mama
"mama?"
kepala Edo benar-benar terasa mau pecah
"ini anak non Ayudia dan den ardhan"
wanita itu mencoba menjelaskan kenyataan
seketika Edo mundur beberapa langkah, terduduk lemas di atas kursi yang ada di belakang nya, Bertanya dalam hati bagaimana bisa?
Astagfirullah hul'adzim
lantas kepingan ingatan soal waktu mereka magang dulu membuat dia mulai mengingat sesuatu, jangan-jangan Ayudia dan direktur utama Abimanyu memang benar telah menikah dimulai dari waktu dimana Ayudia tiba-tiba menghilang tanpa berita berhari-hari bersamaan dengan ketidak munculan direktur Abimayu ke kantor saat itu.
__ADS_1
Dan kenyataan itu begitu sulit rasanya untuk diterima, sejak awal Edo memang sudah kalah telak, tidak pernah punya sedikit pun harapan terhadap Ayudia.