
Ayudia
Ternyata Hamil , sekolah, ujian, tes kuliah dan kuliah itu tak seindah yang dibayangkan. apalagi memilih kuliah di Bandung benar-benar menguras perasaan, jauh dari suami cuma ketemu 1 Minggu sekali.
April ujian sekolah,Juni perpisahan langsung nyungsep pendaftaran kuliah sampai ikut tes, Kemudian sudah masuk kuliah mengikuti jadwal yang ada meskipun perut belum membesar, kesana kemari masih bebas, tapi yang bikin sesak nafas karena morning sickness alias mabok di waktu hamil, belum lagi perubahan hormon yang terjadi, temperamental naik turun, bahkan dada acapkali terasa nyeri.
Rasanya pengen nangis-nangis seseguhan saking menyiksa nya, ayudia baru tahu sulit nya jadi calon ibu, sulit nya perjuangan seorang ibu untuk anaknya.seketika dia ingat Mak nya dikampung, pasti seberat ini lah perjuangan Mak nya untuk melahirkan dirinya dan membesarkan nya.
Hari ini pun sepulang kuliah sejak sore mondar-mandir ke kamar mandi hanya demi memuntahkan semua isi perut, mata sudah memerah sejak tadi bahkan Kepala terasa begitu pusing.
"Neng gak apa-apa?"
bik Sri bertanya bingung ke arahnya
ayudia cuma menggelang pelan, rebahan di kasur Kemudian Mencoba untuk tidur.
"buatkan pindang Ogan ya bik"
(Sayur khas orang Palembang, ikan di masak kuah dengan bumbu khusus ditambah nanas)
"Baik neng"
meskipun bik Sri tahu pada akhirnya apa yang disuguhkan bakal dimuntahkan juga, wanita berusia hampir 45 tahun itu tetap setia dan telaten membuat kan apa saja permintaan Ayudia.
Dan benar saja, apa yang dimakan akhirnya keluar lagi juga. 1-1 nya jenis makanan yang bisa diterima adalah buah-buahan.
"Neng mau request masakan apa?"
Ayudia menggeleng-geleng pelan, kemudian kembali tiduran di kasurnya. beberapa kali Ayudia menghela nafas, ternyata tinggal di Bandung jauh dari jangkauan suami sangat menyiksa,belum lagi teman-teman kampus yang tidak tahu status nya karena baru, membuat dirinya tidak nyaman karena terus di goda. untung nya Edo tidak lagi 1 kuliah dengan dirinya, laki-laki itu memilih kuliah di Jakarta, itu berarti mengurangi beban kesusahan dia dalam menjelaskan banyak hal.
di Bandung mereka tinggal di rumah milik mama Ainun, kebetulan dulu pernah beli rumah disini, alasannya kalau pas main dibandung dan cek cabang perusahaan nggak usah repot-repot cari tempat tinggal. mama minta seseorang untuk menempatinya sementara agar tidak kosong, rupanya pada akhirnya rumah ini jadi tempat tinggal sang mantu kata mama.
Sedetik kemudian air matanya tumpah, tidak tahu kenapa Dia hanya rindu sang suami. Ayudia memegangi perutnya sejenak, mengajak bicara sang buah hati yang belum di ketahui jenis kelamin nya itu.
"Sayang jangan nakal yah, mama percaya kamu anak yang pintar, nggak bakal bikin Mama sedih karena nggak mau makan apa-apa hmm.."
__ADS_1
gumam ayudia pelan
Dan kebahagiaan terbesar nya adalah ketika suami tahu-tahu datang, sudah berada dipelukan nya waktu bangun tidur pagi-pagi. seperti biasa ardhan selalu membuat kejutan di dalam hidupnya.
"Masih mual?"
ardhan bertanya lembut ke arahnya, membiarkan Ayudia terus tidur di dalam pelukanku di pagi-pagi buta menjelang subuh.
"Sangat menyiksa"
rengek ayudia
'Itu berarti anak mama ingin meninggalkan moment membekas sama mama nya dikala dia masih di dalam kandungan"
sang suami bicara lembut sambil mendekap erat tubuh nya
"Biar bisa di ingat perjuangan nya"
Ayudia hanya mengangguk pelan
ayudia terus mengangguk
"Bangun, mandi terus sholat subuh biar adem "
ucap ardhan sambil mencium hangat keningnya
Ayudia lagi-lagi menggangguk-anggukkan Kepala nya
*******
Ardhan
Di akuinya semua memang terasa berat, harus berpisah dari Ayudia, meninggalkan ayudia di luar kota untuk kuliah, padahal sang istri tengah hamil, belum lagi dia mesti sibuk dengan perusahaan, ditambah bulan ini perusahaan tengah mengadakan kerja sama dengan perusahaan asing hillatop konstruksi untuk kerja sama pembangunan di Palembang, waktu ardhan semakin banyak tersita mondar-mandir di 3 tempat Jakarta-palembang-bandung.
Dia fikir semua akan lancar seperti rencana, tapi siapa tahu bahkan dia nyaris tidak dapat menghandle waktu. belum lagi mendapat kabt dari bik Sri kalau sang istri mengalami morning sickness parah, mengeluarkan seluruh isi makanan apapun yang masuk ke perutnya.
__ADS_1
Sekarang Dia baru tahu betapa tersiksanya perempuan hamil, dia baru sadar betapa sulit nya arletta dulu waktu hamil, dia selalu mempercayakan semua hal pada arletta karena kesibukannya, sedikitpun tidak mendengar keluhan dari arletta hingga kelahiran Cecilia dan hamil putra ke 2 mereka. Sekarang dia batu menyadari betapa dulu dia tidak punya hati karena terlalu sibuk dengan perusahaan.
Ada sejuta sesal terpatri di wajahnya nya tiap kali dia mengingat soal arletta,dia merasa gagal menjadi suami yang baik dulu untuk arletta, tidak bisa menjadi suami yang diharapkan nya, tidak bisa memperlakukan arletta sesuai impiannya, kadang hanya ada ucapan maaf penuh rasa sedih yang keluar dari bibirnya tiap kali dia mengunjungi makan arletta, atau bahkan air mata penyesalan yang jatuh tanpa bisa dia bendung lagi.
"apa semua baik-baik saja, bik?"
dia bertanya cepat kepada bik Sri sesaat setelah tiba di kediaman Ayudia di Bandung
"Neng tidur bang, sejak pagi tidak ada makanan yang benar-benar masuk ke perut nya, cuma buah-buahan saja yang masuk"
ardhan menghela panjang nafasnya
"dimana ay?"
"Dari sore pulang kuliah masuk kamar tidur, cuma bangun sebentar makan buah pas tadi"
ardhan mengangguk pelan
"Bereskan tas nya bik, aku masuk dulu"
bik Sri hanya mengangguk pelan
Ardhan masuk ke kamar secara berlahan, mendekati sang istri dengan gerakan lembut, takut kalau-kalau tidur Ayudia terganggu karena dirinya. Mencium pelan pipi Ayudia kemudian kembali beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Perjalanan Jakarta-bandung cukup memakan waktu dan menyisakan sejuta lelah mendalam, tapi setelah melihat wajah Ayudia semua perasaan itu sirnah Seketika.
Beberapa kali dia menarik nafasnya pelan, sembari memeluk Ayudia fikiran nya melayang entah kemana. Dia hanya khawatir bagaimana di waktu bulan kelahiran Ayudia, takut jika-jika waktu dikantor menyita kehidupannya,padahal jelas seorang istri sangat butuh suami yang mendampingi nya dalam kelahiran. dia fikir solusi terbaik bagaimana yang harus mereka ambil, tetap dengan rencana awal lahiran dibandung atau kembali ke Jakarta ambil cuti kuliah sejenak di semester ke 2?
mungkin dia lagi-lagi butuh saran eta, si adik yang bijaksana.
dia menatap dalam wajah Ayudia, mengelus hangat pipi ayudia sambil membenahi anak rambut nya, kemudian mencium lembut bibir sang istri beberapa kali lantas merengkuh nya ke dalam dekapannya.
"I love you, InsyaAllah all it's well honey"
bisik nya lembut
__ADS_1
selalu ada jalan